• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Evaluasi Program Beras Sejahtera (RASTRA) di Kelurahan Matahalasan Kecamatan

4.4.1. Efektivitas

Untuk mengetahui hasil evaluasi suatu program, ada beberapa indikator yang harus diteliti, yang pertama adalah efektivitas. Efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas menurut Sedarmayanti (2009: 59) merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat dicapai. Secara umum, efektivitas menunjukkan sejauh mana tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam mengukur efektivitas suatu program.

Program Beras Sejahtera (RASTRA) merupakan program pemerintah pusat yang bersifat nasional dan bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga penerima manfaat untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam bentuk beras. Untuk melihat efektivitas program rastra di kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai ini dapat dilihat dari seberapa jauh tujuan program ini tercapai. Berkaitan dengan itu, penulis 1melakukan wawancara mengenai efektivitas program rastra di kelurahan tersebut dengan salah satu anggota dari Tim Koordinasi Rastra dan juga sebagai Kepala Sub Bagian Produksi Pangan dan Agribisnis, yang mengatakan:

“Dalam mencapai tujuannya, program Rastra ini sudah cukup efektif walaupun tingkat kemiskinan cukup tinggi dan kuota Penerima Manfaat Beras Sejahtera ini terbatas, sehingga tidak cukup untuk menampung semua masyarakat miskin yang ada di Tanjungbalai, maka dari itu pihak dari Pemerintah Kota (PEMKO) memberikan penambahan bantuan yang ditujukan untuk masyarakat miskin yang tidak terdaftar dalam penerima Rastra. Meskipun begitu jika dilihat dari tujuan program itu sendiri maka terlihat jelas kalau program ini sudah cukup efektif, karena dengan adanya

program ini banyak masyarakat yang merasa terbantu.” (Hasil Wawancara pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 68).

Menurut informan di atas, program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup efektif jika dilihat dari tujuan program itu sendiri. Hal serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Kota Tanjungbalai, yang mengatakan:

“Menurut saya, program ini cukup efektif dalam mencapai tujuannya. Karena masyarakat pasti sudah sangat terbantu dengan adanya program ini, walaupun dulu masyarakat harus membayar itupun dengan harga yang cukup murah ditambah lagi sekarang program ini udah diubah menjadi Bantuan Sosial, jadi masyarakat tidak perlu membayar lagi untuk mendapatkan beras ini. Masyarakat cukup datang dengan membawa kupon beras yang telah diberikan sebelumnya oleh masing-masing kelurahan.” (Hasil wawancara pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 68).

Pendapat yang tidak jauh beda disampaikan oleh Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (LINJAMSOS) yang mengatakan:

“Sudah efektif, namun karena pemutakhiran datanya kurang update jadi ada juga beberapa penerima sudah mampu, sudah meninggal atau sudah pindah namun tetap terdaftar dalam penerima manfaat program rastra ini. Untuk mengatasi hal seperti ini pihak kelurahan akan melakukan verifikasi data penerima Rastra, tetapi walaupun sudah di verifikasi oleh pihak kelurahan namun kembali lagi setelah diverifikasi maka akan dilakukan penggantian penerima melalui musyawarah kelurahan (MUSKEL) tetapi calon penerima manfaat program ini juga harus terdaftar di Basis Data Terpadu (BDT) tersebut, sementara BDTnya kurang update. Jadi memang masih banyak masyarakat miskin yang seharusnya lebih berhak untuk mendapatkan manfaat dari program pemerintah ini tetapi tidak mendapatkannya, sehingga program ini menjadi tidak tepat sasaran karena kurangnya update BDT tersebut”. (Hasil Wawancara pada tanggal 23 April 2018, Transkrip wawancara, halaman 69).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan beberapa informan di atas, program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup baik dan cukup efektif dalam mencapai tujuannya untuk meringankan beban pengeluaran keluarga miskin. Namun menurut penulis program rastra di kelurahan ini belum cukup efektif, hal tersebut dikarenakan masih adanya masyarakat yang berhak mendapatkan program ini tetapi tidak mendapatkan manfaat dari program tersebut.

Adapun hasil pengamatan penulis di lapangan pada tanggal 02 Mei 2018 terkait efektivitas program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efektif, hal tersebut penulis amati ketika penulis turun ke lapangan masih terdapat beberapa masyarakat yang seharusnya berhak menerima program ini tetapi tidak terdaftar dalam Keluarga Penerima Manfaat (KPM), masih adanya masyarakat yang miskin yang belum mendapatkan program ini. Hal tersebut dapat menjadi bukti bahwa belum cukup efektifnya program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai ini.

Kemudian penulis juga akan memaparkan hasil dokumentasi terkait efektivitas program rastra di kelurahan ini, yaitu sepanjang tahun 2001-2016 penduduk miskin di Kota Tanjungbalai mengalami peningkatan, walaupun peningkatan tersebut tidak begitu pesat, begitu juga dengan jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Program Rastra ini yang ikut mengalami peningkatan, pada tahun 2016 jumlah KPM di Kelurahan Matahalasan adalah 196 KK, kemudian pada tahun 2017 jumlah KPM bertambah menjadi 214 KK. Hal ini dapat membuktikan bahwa bertambahnya jumlah penduduk miskin di Tanjungbalai mempengaruhi jumlah KPM yang ada di kelurahan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang telah dikemukakan oleh Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efektif, hal ini dapat dilihat dari masih adanya masyarakat miskin yang tidak terdaftar dalam. Keluarga Penerima Manfaat dari program ini, hal tersebut dikarenakan kurang updatenya Basis Data Terpadu yang ada pada pemerintah. Dan bertambahnya angka kemiskinan di Tanjungbalai juga mempengaruhi jumlah KPM dari tahun 2016 berjumlah 196 KK naik di tahun 2017 menjadi 214 KK. Meskipun jumlah yang bertambah tidak begitu pesat, namun hal itu dapat menjadi bukti bahwa Program Rastra di

Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efektif.

4.4.2. Efisiensi

Efisiensi (efficiency) berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Efisiensi yang merupakan sinonim dari rasionalitas ekonomi, adalah merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha, yang terakhir umumnya diukur dari ongkos moneter. Efisiensi biasanya ditentukan melalui perhitungan biaya per unit produk atau layanan. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya terkecil dinamakan efisien” (Dunn, 2003:430). Efisiensi merupakan ukuran yang digunakan mengukur keberhasilan suatu kegiatan yang dinilai dari segi sumberdaya atau nilai untuk mencapai keberhasilan dari kegiatan tersebut. Lebih sederhananya Dunn mengatakan bahwa efisiensi dapat diketahui dengan menjawab pertanyaan “Seberapa banyak usaha yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan?”.

Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai kurang efisien, hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Kasubbag. Produksi Pangan dan Agribisnis yang memaparkan :

“Hasil itukan bisa dikatakan sebagai ketika tujuan itu sendiri tercapai, dan tujuan dari Program ini sendiri adalah mengurangi beban pengeluaran Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui pemenuhan sebagian pangan beras. Jadi hal yang kami lakukan adalah menyalurkan beras sebagaimana yang ada di dalam pedoman umum Rastra itu sendiri dan memberikan sosialiasi kepada masyarakat setiap setahun sekali.” (Hasil wawancara penulis tentang efisiensi pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 72).

Menurut informan di atas, evaluasi program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup efisien, hal tersebut karena informan beranggapan bahwa sesuatu dapat dikatakan efisien ketika apa yang menjadi tujuan

dari program tersebut sudah tercapai, dan menurut informan tujuan program rastra ini sudah tercapai dan sangat menguntungkan dan membantu masyarakat yang kesulitan mencukupi kebutuhan pokoknya. Pendapat ini juga sejalan dengan yang disebutkan oleh Kabid Linjamsos yang mengatakan :

“Sejauh ini yang dilakukan pemerintah untuk mencapai hasil yang diinginkan yaitu memberikan edukasi kepada masyarakat dengan memanggil perwakilan dari setiap kelurahan untuk melakukan sosialiasi tentang program ini sehingga masyarakat bisa mengerti dan memahami sedikit banyaknya tentang program rastra ini.” (Hasil wawancara tentang efisiensi pada tanggal 23 April 2018, Transkrip wawancara halaman 73)

Menurut informan di atas, pemerintah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memanggil perwakilan dari setiap kelurahan sehingga masyarakat bisa mengerti tentang program ini meskipun sosialisasi tersebut sudah tidak rutin lagi dilakukan. Sedangkan informan lain yang termasuk dalam salah satu penerima rastra mengatakan bahwa :

“Ya saya mengetahui tentang program ini, yang saya tahu program rastra adalah program pemerintah pusat yang memberikan bantuan kepada masyarakat miskin berupa beras bersubsidi tapi sekarang bukan beras bersubsidi lagi, melainkan bantusan sosial, jadi beras yang diterima oleh masyarakat itu tidak dibayar lagi masyarakat menerima beras secara gratis seberat 10kg/KK. Kalau pada tahun 2017 yang lalu untuk mendapatkan beras masyarakat harus mengeluarkan biaya sebesar Rp.

25.000/15kg Beras Bulog. ya saya mengetahui harga tebus sebenarnya adalah Rp.

24.000/15kg tetapi memang sudah ada kesepakatan antara kami (masyarakat) dengan pihak kelurahan mengenai penambahan uang tersebut. Saya mengetahui program ini dari masyarakat dan juga sosialisasi yang pernah dilakukan oleh pihak pemerintah, pemerintah pernah melakukan sosialisasi tetapi sekarang sudah jarang, hal itu mungkin karena masih banyak program baru yang lebih belum diketahui masyarakat banyak.” (Hasil wawancara penulis dengan salah satu Keluarga Penerima Manfaat Program Rastra Pada Tanggal 02 Mei 2018, Transkrip wawancara halaman 74).

Menurut informan ini, pemerintah pernah melakukan sosialisasi namun kegiatan tersebut sudah jarang dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan di atas, Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efisien, hal tersebut karena masih kurangnya usaha pemerintah kota untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai program tersebut, sehingga

tidak sedikit masyarakat yang kurang paham apa sebenarnya maksud dan tujuan dari program rastra tersebut.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis di Lapangan, Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efisien, hal ini penulis amati pada saat penulis melakukan komunikasi kepada beberapa informan tentang program rastra ini. Penulis melihat bahwa kurang pemahaman masyarakat mengenai program ini, sebagian masyarakat hanya mengetahui bahwa program ini sebatas beras yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk masyarakat miskin saja. Hal ini membuktikan bahwa kurangnya usaha pemerintah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai program rastra ini, serta keterbatasan akses masyarakat untuk mencari informasi lebih yang sebenarnya telah disediakan pemerintah melui media sosial maupun media cetak.

Kemudian penulis akan memaparkan dokumentasi terkait efisiensi Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai antara lain sebagai berikut :

Gambar 4.2. Alur pembelian rastra

Dokumentasi di atas merupakan salah satu contoh edukasi yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat di seluruh Indonesia, gambar tersebut menjelaskan tentang bagaimana alur pengambilan rastra yang benar, namun kurangnya akses yang dimiliki masyarakat untuk mendapatkan informasi selain dari sosialisasi yang diberikan pemerintah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai program ini.

Akhirnya, penulis mencoba menarik kesimpulan berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang telah dilakukan oleh penulis bahwa dalam mencapai tujuan yang diinginkan, pemerintah melakukan sosialisasi yang dilakukan satu tahun sekali. Namun, rendahnya partisipasi dan kurangnya akses yang dimiliki oleh masyarakat menjadi salah satu faktor tidak terealisasinya kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh pemerintah dan tidak tersebarnya informasi lain yang telah disedikan di media sosial atau media cetak lainnaya, hal tersebut mengakibatkan masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai tujuan, sasaran, dan manfaat dari program itu sendiri.

4.4.3. Kecukupan

Dalam kebijakan publik kecukupan dapat artikan dengan seberapa jauh hasil yang telah tercapai dapat memecahkan masalah. Dunn (2003: 430) menyatakan bahwa kecukupan (adequacy) berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang menumbuhkan adanya masalah. Jadi kecukupan dalam evaluasi kebijakan publik memiliki hubungan dengan efektivitas dalam mengukur seberapa jauh alternatif yang ada dapat mencukupi kebutuhan.

Program Rastra diberikan kepada masyarakat yang perekonomiannya di bawah garis kemiskinan. Pemerintah memberikan bantuan berupa beras dengan berat 15kg/ bulan/KK.

Untuk melihat tingkat kecukupan Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan

Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai maka dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Camat Tanjungbalai yang mengatakan:

“Menurut saya sudah tepat karena penerimanya benar-benar masyarakat miskin yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya, jadi dengan adanya program ini masyarakat bisa sedikit terbantulah, yang tadinya uang tersebut disisihkan untuk membeli beras bisa dibelikan untuk kebutuhan yang lainnya”. (Hasil Wawancara tentang kecukupan, Tanggal 23 April 2018, Transkrip wawancara halaman 78)

Pendapat yang sama juga dituturkan Lurah Matahalasan, yang menerangkan bahwa:

“Menurut saya cukup tepat karena beras adalah salah satu makanan pokok yang dikonsumsi secara rutin, jika tidak ada program ini maka masyarakat akan lebih kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. Jadi dengan adanya program ini masyarakat menjadi lebih sedikit terbantu karena mereka tidak perlu lagi memikirkan biaya untuk membeli beras.” (Hasil wawancara tentang Kecukupan, Tanggal 24 April 2018, Transkrip wawancara halaman 78).

Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Kesejahteraan Sosial yang memaparkan bahwa:

“Menurut saya sudah sangat tepat karena masyarakat sekarang banyak yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangannya, jadi dengan adanya program ini pasti masyarakat sangat terbantu mengatasi salah satu masalahnya yaitu dalam memenuhi kebutuhan karbohidratnya”.(Hasil wawancara Tanggal 23 April 2018, Transkrip wawancara halaman 77).

Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga infoman di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Program Rastra ini cukup tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Pendapat ini juga didukung oleh pernyataan dari beberapa masyarakat penerima manfaat program rastra, salah satu informan mengatakan bahwa:

“Menurut saya program ini sudah cukup tepat dalam membantu saya memenuhi kebutuhan pokok yang semakin lama semakin meningkat jadi dengan adanya program ini saya merasa terbantu dalam meringankan beban pengeluaran keluarga saya sehari-hari.” (Hasil wawancara Tanggal 02 Mei 2018, Transkrip wawancara halaman 79) Masyarakat yang lain juga merasa program ini sudah cukup tepat dalam memecahkan masalah mereka, seperti yang dikatakan oleh informan berikut ini:

“Menurut saya program ini sudah tepat untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya karena beras yang diberikan juga kualitasnya lumayan baik dan layak untuk dikonsumsi.” (Hasil wawancara Tanggal 03 Mei 2018, Transkrip wawancara halaman 79)

Dari hasil wawancara dengan beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat merasa sangat terbantu dan program ini tepat untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka. Hal ini berarti, program ini sudah cukup tepat untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokoknya.

Selanjutnya, berdasarkan hasil pengamatan penulis di lapangan terkait kecukupan program rastra dalam mengatasi permasalahan pokok yang dihadapi masyarakat sudah tepat karena masyarakat sendiri merasa sangat senang dan sangat terbantu, hal ini penulis amati melalui kondisi sosial dan lingkungan yang mayoritasnya adalah masyarakat yang terdaftar dalam Keluarga Penerima Manfaat. Penulis juga melihat bahwa kualitas beras yang didistribusikan oleh pemerintah kepada masyarakat sudah cukup baik dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga masyarakat lebih memilih untuk mengkonsumsi berasa tersebut dari pada menjualnya.

Kemudian, penulis akan memaparkan isi dokumentasi terkait kecukupan dalam evaluasi program rastra, jumlah perkiraan konsumsi beras di Tanjungbalai pada tahun 2015 adalah sekitar 3.710 Ton/ Tahun. Maka dari itu pemerintah memberikan beras bersubsidi seberat 15kg/ KPM/ bulan. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan dari program itu sendiri.

Gambar 4.3. Kualitas Rastra (Dokumentasi Penulis)

Dokumentasi di atas merupakan gambar beras sejahtera yang didistribusikan kepada masyarakat di Kelurahan Matahalasan. Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa kualitas beras yang didistribusikan kepada masyarakat sudah cukup baik dan layak untuk dikonsumsi.

Maka dari itu kebijakan pemerintah untuk memberikan bantuan pangan seperti program rastra ini kepada masyarakat sudah cukup tepat.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang telah dikemukakan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup tepat untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun menurut penulis, jumlah beras yang didistribusikan kepada masyarakat itu kurang tepat kalau 15kg/KPM/Bulan, dengan jumlah beras tersebut tentunya tidak akan cukup untuk memenuhi

kebutuhan keluarga masyarakat tersebut. Meskipun demikian, program ini sudah cukup tepat dalam membantu meringakan beban pengeluaran masyarakat sehari-hari.

4.4.4. Perataan

Perataan dalam kebijakan publik menurut Dunn (2003: 434) yaitu kesamaan (equity) erat hubungannya dengan rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Perataan dalam indikator evaluasi ini harus dapat menjawab pertanyaan tentang “apakah biaya dan manfaat yang didistribusikan dengan merata kepada kelompok-kelompok yang berbeda?”.

Sesuai dengan Pedoman Umum Rastra Tahun 2017, Harga Tebus Rastra (HTR) adalah sebesar Rp. 1.600,00/kg atau sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat di Titik Distribusi (TD). Adapun pembayaran HTR dari KPM kepada Pelaksana Distribusi Rastra pada Prinsipnya dilakukan secara tunai, Pelaksana Distribusi Rastra langsung menyetorkan uang HTR tersebut ke rekening Perum Bulog melalui bank setempat atau disetorkan langsung kepada Perum BULOG setempat. Pada prinsipnya, harga yang dibayarkan KPM sesuai dengan HTR, apabila ada biaya tambahan yang diakibatkan oleh penyaluran dati TD ke Titik Bagi (TB) yang kurang atau tidak dialokasikan dalam APBD dapat dibantu oleh masyarakat secara sukarela dan diatur lebih lanjut di dalam Juknis. Seperti yang dipaparkan oleh Kasubbag Produksi Pangan dan Agribisnis Kota Tanjungbalai yang mengatakan bahwa:

“Ya pasti mengetahui, karena harga tersebut sudah harga nasional yang langsung dipatokkan oleh pemerintah. Untuk mendapatkan Rastra, masyarakat harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 1,600/kg, dan jumlah Rastra yang diterima masyarakat adalah sebesar 15kg. Jadi untuk mendapatkan 15kg beras masyarakat hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp. 24.000. Besaran biaya dan manfaat yang didistribusikan kepada masyarakat itu sama, tetapi di beberapa tempat terkadang ada kesepakatan antara pihak kelurahan dengan masyarakat mengenai biaya tambahan seperti uang timbang atau uang karung.”(Hasil wawancara Pada Tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 81)

Menurut informan di atas, harga tebus rastra yang ditetapkan dari pusat adalah sebesar Rp.24.000/15kg, atau Rp.1.600/kg beras, namun ada biasanya ada kesepakatan antara pihak kelurahan dengan masyarakat mengenai biaya tambahan atau sering disebut uang karung atau uang timbang. Hal ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Lurah Matahalasan yang mengatakan bahwa:

“Harga tebus beras Rastra di Kelurahan ini adalah sebesar Rp. 25.000/15 kg, tetapi sebenarnya harga setor ke Bulog adalah Rp. 24.000/15 kg. Sedangkan sisanya Rp.1.000 sudah menjadi kesepakatan antara masyarakat dan pihak kelurahan sebagai biaya tambahan atau sering disebut uang timbang, karena terkadang beras yang datang dari Bulog itu tidak langsung 15kg tetapi 50 kg jadi pihak kelurahan lah yang harus memasukkan dan menimbang 15 kg untuk masyarakat, maka masyarakat dan pihak kelurahan sepakat untuk membayar Rp. 25.000/15 kg dan sisanya diberikan untuk kelurahan. Kalau di Kelurahan Matahalasan harganya sama, karena sudah kesepakatan harganya dibulatkan menjadi Rp. 25.000 tetapi tidak tahu di Kelurahan lain karena harga dari pusat memang Rp. 24.000/15 kg, jadi tergantung kesepakatan dari pihak kelurahan dan masyarakatnya itu sendiri.”(Hasil wawancara pada Tanggal 24 April 2018, Transkrip wawancara halaman 82)

Menurut informan di atas, harga tebus program rastra di kelurahan ini adalah sebesar Rp. 25.000/15kg, sedangkan harga tebus dari pusat adalah Rp. 24.000/15kg, ini berarti harga yang didistribusikan kepada masyarakat beda Rp. 1000 dengan yang ditetapkan oleh pusat, namun hal ini sudah menjadi kesepakan antara pihak kelurahan dengan masyarakat penerima program ini. Hal senada juga disampaikan oleh Seksi Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat di Kelurahan Matahalasan, yang mengatakan bahwa:

“Kalau harga beras dari Bulog sebenarnya adalah Rp. 24.000/15kg, tetapi untuk di Kelurahan ini sudah ada kesepakatan antara pihak kelurahan dan masyarakat bahwa harga tebus beras itu disepakati menjadi Rp. 25.000/kg, sedangkan Rp.1000 lagi itu digunakan sebagai uang timbang dan masyarakat sudah menyepakati hal tersebut.

Kalau di Kelurahan Matahalasan harganya sama, karena sudah kesepakatan harganya dibulatkan menjadi Rp. 25.000 tetapi tidak tahu di Kelurahan lain karena harga dari pusat memang Rp. 24.000/15 kg, jadi tergantung kesepakatan dari pihak kelurahan dan masyarakatnya itu sendiri.”(Hasil wawancara pada tanggal 24 April 2018, Transkrip wawancara halaman 83)

Pendapat ini dibenarkan oleh masyarakat yang menerima Manfaat Program ini yang mengatakan bahwa:

“Kalau pada tahun 2017 yang lalu untuk mendapatkan beras masyarakat harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 25.000/15kg Beras Bulog. ya saya mengetahui harga tebus sebenarnya adalah Rp. 24.000/15kg tetapi memang sudah ada kesepakatan antara kami (masyarakat) dengan pihak kelurahan mengenai penambahan uang tersebut.” (Hasil wawancara tanggal 02 Mei 2018, Transkrip wawancara halaman 83).

Hal serupa juga dipaparkan oleh salah satu masyarakat yang menerima Manfaat Program yang mengatakan bahwa:

“Yang saya ketahui tentang rastra itu program pemerintah berupa beras yang

“Yang saya ketahui tentang rastra itu program pemerintah berupa beras yang

Dokumen terkait