• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Hipotesis Kerja

Hipotesis kerja dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah dalam penulisan. Menurut Suryabrata (2000: 49) pengertian hipotesis kerja dapat ditinjau dari beberapa hal, yaitu:

1. Secara teknis, hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penulisan.

2. Secara statistik, hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji melalui statistik sampel.

3. Ditinjau dalam hubungannya dengan variabel, hipotesis merupakan pernyataan tentang keterkaitan antara variabel-variabel.

4. Ditinjau dalam hubungannya dengan teori ilmiah, hipotesis merupakan deduksi dari teori ilmiah (pada penulisan kuantitatif) dan kesimpulan sementara sebagai hasil dari observasi untuk menghasilkan teori baru.

Penulis merumuskan hipotesis kerja dalam penulisan ini yaitu “Evaluasi Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai meliputi efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan program.

BAB III

METODE PENULISAN 3.1 Bentuk penulisan

Bentuk penulisan yang digunakan penulis dalam penulisan ini ialah metode penulisan deskriptif dengan analisis data kualitatif. Hal tersebut untuk memusatkan perhatian pada masalah-masalah atau fenomena-fenomena yang ada serta mampu menggambarkan secara baik mengenai fakta yang terdapat di lapangan yang ada sehingga penulis memberikan informasi apa adanya.

Metode penulisan kualitatif seperti yang dijelaskan oleh Sugiyono (2007:1) adalah metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana penulis adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data bersifat induktif, dan hasil penulisan kualitatif lebih menekankan makna pada generalisasi obyek penelelitian kualitatif adalah obyek yang alamiah atau natural setting.

Penulisan deskriptif ialah penulisan yang memusatkan perhatian terhadap

masalah-masalah yang ada pada saat penulisan dilakukan, kemudian menggambarkan fakta-fakta dan menjelaskan keadaan dari objek penulisan yang sesuai dengan kenyataan sebagaimana adanya dan mencoba menganalisis untuk memberikan kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh (Danim, 2002:41).

Dengan demikian penulisan ini akan mengumpulkan data tentang permasalahan yang diteliti lalu diuraikan, digambarkan, diinterpretasikan secara rasional dan diambil kesimpulan dari penulisan tersebut. Lebih jelasnya, penulis akan mengumpulkan informasi melalui penulisan terkait dengan efektivitas, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketetepatan dari program Rastra tersebut.

3.2 Lokasi Penulisan

Untuk memperoleh data sebagai bahan untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan, Penulisan ini dilakukan di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai. Penulis memilih lokasi ini karena Kelurahan Matahalasan termasuk salah satu Kelurahan di Kecamatan Tanjungbalai Utara yang jumlah penduduk miskinnya cukup tinggi yaitu sekitar 2099 Jiwa dan juga termasuk Kelurahan yang mempunyai jumlah penerima Rastra yang cukup banyak yaitu sekitar 214 Keluarga Penerima Manfaat (Daftar Penerima Rastra, 2017, Kasubag Produksi Pangan dan Agribisnis).

3.3 Informan Penulisan

Untuk mendapatkan data-data dan informasi yang dibutuhkan dalam suatu penulisan, dapat diperoleh melalui informan penulisan. Seperti yang dijelaskan (dalam Suyanto, 2005:108) bahwa dalam penulisan kualitatif subyek penulisan yang telah tercermin dalam fokus penulisan ditentukan secara sengaja. Subyek penulisan tersebutlah yang akan menjadi informan yang dapat memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penulisan.

Informan penulisan merupakan evaluator dari kebijakan yang dapat memahami informasi yang berkaitan dengan objek penulisan. Untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai masalah yang sedang dibahas, maka dalam penulisan ini menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan informan penulisannya. Sehingga kemudian dapat

diperoleh informasi yang jelas dan dapat dipercaya berupa pernyataan-pernyataan, keterangan ataupun data-data yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, maka yang menjadi informan dalam penulisan ini terdiri atas : 1. Kasubbag. Produksi Pangan dan Agribisnis pada Bagian Perekonomian Setdako

Tanjungbalai.

2. Kepala Dinas Sosial Kota Tanjungbalai.

3. Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (LINJAMSOS).

4. Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial.

5. Camat Tanjungbalai Utara.

6. Lurah Matahalasan.

7. Seksi Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Matahalasan.

8. Keluarga Penerima Manfaat.

1. Keefektifan dan efisiensi program Rastra di Kota

1. Keefektifan dan efisiensi program Rastra di Kota

Rastra dalam membantu

1. Keefektifan dan efisiensi program Rastra di Kota

1. Keefektifan dan efisiensi program Rastra di Kota

3. Pemerataan dalam

1. Keefektifan dan efisiensi program Rastra di Kota

program Rastra.

1. Keefektifan dan efisiensi program Rastra di Kota

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pada teknik pengumpulan data, menggunakan multi sumber bukti (triangulasi) yang artinya penulis menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Seperti yang dijelaskan oleh Sugiyono (2012:83) teknik pengumpulan data menggunakan multi sumber bukti yaitu dengan melakukan observasi, wawancara, partisifatif, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Teknik Pengumpulan Data Primer

Teknik Pengumpulan data primer adalah teknik pengumpulan data dengan mengambil data secara lansung pada lokasi penulisan. Dalam penulisan ini teknik pengumpulan data primer melalui :

a. Wawancara

Metode wawancara yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan atau pihak yang berhubungan dan memiliki relevansi terhadap masalah yang berhubungan dengan penulisan. Wawancara yang dilakukan termasuk wawancara mendalam (in-depth interview) yaitu dengan terlibat secara tatap muka dengan menggunakan wawancara yang bersifat semi struktur (semistructure interview). Maka dari itu, sebelum ke lapangan penulis harus menyusun pedoman wawancara.

b. Observasi

Metode observasi yakni pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung terhadap fenomena-fenomena yang menjadi obyek penulisan dan mencatat segala gejala-gejala yang ditemukan di lapangan untuk mempelajari data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkesan dengan topik penulisan. Sebelum ke lapangan penulis harus menyusun pedoman observasi.

2. Teknik pengumpulan data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari catatan tertulis maupun dokumen-dokumen yang ada dilokasi penulisan sebagai sumber data kedua untuk mendukung data primer. Hal tersebut dapat dilakukan metode dokumentasi yakni pengumpulan data yang diperoleh menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang ada pada lokasi penulisan serta sumber-sumber lain yang relevan dengan masalah penulisan. Sebelum ke lapangan, penulis harus menyusun pedoman dokumentasi.

3.5.Teknik Analisis Data

Sesuai dengan metode penulisan, teknik analisis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah teknik analisis data kualitatif. Teknik analisis data kualitatif seperti yang dijelaskan (dalam Moleong, 2006:247) dilakukan dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul, menyusunnya dalam satuan-satuan yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya, dan memeriksa keabsahan data serta menafsirkan dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya nalar penulis untuk membuat kesimpulan penulisan. Menurut Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2007:243), terdapat beberapa langkah dalam melakukan analisis data yaitu :

1. Reduksi data

Reduksi data dilakukan dengan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, dan memfokuskan pada hal-hal yang penting tentang penulisan dengan mencari tema dengan pola hingga memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah penulis dalam melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data

Bermakna sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan penarikan tindakan. Setelah langkah pertama selesai, maka langkah selanjutnya ialah menyajikan data dalam penulisan dengan teks yang bersifat naratif, bagan maupun dalam bentuk tabel sehingga memudahkan penulis dalam memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami.

3. Penarikan kesimpulan

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat pada tahap pengumpulan data berikutnya. Namun, apabila kesimpulan pada tahap awal didukung oleh

bukti-bukti yang valid dan konsisten saat penulis kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dilakukan merupakan kesimpulan yang kredibel.

3.6.Teknik Keabsahan Data

Menurut Moleong (2012: 330) triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Ada empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber data, metode, penyidik, dan teori menurut Denzin (dalam Moleong, 2012: 330). Dalam penulisan ini penulis menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data triangulasi dengan sumber data dan triangulasi metode.

Teknik triangulasi sumber data dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara antara subjek penulisan yang satu dengan yang lain. Teknik triangulasi metode digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dengan hasil pengamatan penulis yang berkaitan dengan Evaluasi Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Kelurahan Matahalasan

Kelurahan Matahalasan merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara, kelurahan ini dibentuk pada tahun 1993 dengan luas wilayah 17 Ha. Jumlah penduduk penduduk di Kelurahan Matahalasan adalah sebesar 2394 Jiwa dengan jumlah penduduk dewasa sebesar 1785 jiwa, jumlah penduduk laki-laki sebesar 1223 jiwa, jumlah penduduk perempuan sebesar 1171 jiwa, dan jumlah masyarakat miskinnya adalah sebesar 2099 jiwa.

Secara administratif kelurahan Matahalasan terdiri atas 5 lingkungan, dan lurah pertama pada kelurahan ini bernama Alm. Drs. M. Idris. Adapun batas-batas dari kelurahan Matahalasan tersebut adalah sebagai berikut :

Batas Sebelah Utara : Sungai Silau

Batas Sebelah Selatan : Kelurahan TB. Kota 4

Batas Sebelah Barat : Kelurahan Kuala Silo Bestari Batas Sebelah Timur : Kelurahan TB. Kota 3

4.1.1. Visi dan Misi Kelurahan Matahalasan Visi:

“Terwujudnya Pelayanan Prima yang Profesional, Cepat, Bersih, dan Efektif”.

Misi:

 Mewujudkan Pelayanan Prima yang Efektif

 Mewujudkan Lingkungan Kerja yang Tertib dan Bersih

 Meningkatkan Kualitas Kelurahan yang Profesional

 Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat dan Sosial

 Mewujudkan Pelayanan Kepada Masyarakat Lebih Cepat, Transparan, Murah dan

Memuaskan Masyarakat.

4.1.2. Struktur Organisasi Kelurahan Matahalasan

Adapun Struktur Organisasi Kelurahan Matahalasan adalah sebagai berikut :

Gambar 4.1 Struktur Organisasi 4.2. Program Beras Sejahtera (RASTRA)

Program Beras Sejahtera (RASTRA) merupakan bagian dari Sistem Ketahanan Pangan Nasional, yang dilaksanakan dalam rangkaian upaya mencapai kemandirian dan kedaulatan pangan, karena merupakan adalah salah satu dari hak asasi manusia sebagai komoditas strategis yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemerintah Indonesia memberikan prioritas yang besar terhadap kebijakan ketahanan pangan nasional, hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Indonesia

LURAH

mengkonsumsi beras sebagai pangan utama sehingga menjadikan beras sebagai komoditas nasional yang sangat strategis.

Instabilitas perberasan nasional dapat mengakibatkan gejolak dalam berbagai aspek kehidupan baik sosial, politik maupun ekonomi. Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan dengan komoditas bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Komoditas makanan yang berpengaruh paling besar terhadap nilai garis kemiskinan adalah beras. Dengan demikian, beras merupakan komoditas yang sangat penting khususnya bagi masyarakat berpendapatan rendah. Program Rastra merupakan implementasi dari instruksi presiden tentang kebijakan perberasan nasional.

4.2.1. Tujuan Program Rastra

Tujuan Program Rastra adalah mengurangi beban pengeluaran Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui pemenuhan sebagian pangan beras.

4.2.2. Sasaran

Sasaran Program Rastra adalah berkurangnya beban pengeluaran KPM dalam mencukupi kebutuhan pangan beras melalui penyaluran beras bersubsidi yaitu 1.920.600 kg/tahun dengan alokasi sebanyak 15 kg/KPM/bulan atau sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat.

4.2.3. Manfaat

Adapun manfaat dari Program Rastra adalah sebagai berikut :

1. Peningkatan ketahanan pangan di tingkat KPM, sekaligus sebagai mekanisme perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan.

2. Peningkatan akses pangan baik secara fisik (beras tersedia di titik distribusi), maupun ekonomi (harga jual yang terjangkau) kepada KPM.

3. Sebagai Pasar bagi hasil usaha tani padi.

4. Stabilitas harga beras di pasaran.

5. Pengendalian inflasi melalui intervensi Pemerintah dengan menetapkan harga beras bersubsidi sebesar Rp. 1.600,-/kg, atau sesuai dengan kebijkan pemerintah pusat, dan menjaga stok pangan nasional.

6. Membantu pertumbuhan ekonomi daerah.

4.2.4. Dasar Hukum

Adapun perundang-undangan yang menjadu dasar hokum Program Rastra adalah sebagai berikut :

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara LN RI Tahun 2003 Nomor 47, TLN RI Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (LN RI Tahun 2012 Nomor 227, TLN RI 5360);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (LN RI Tahun 2014 Nomor 244, TLN RI Nomor 5587);

4. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (LN RI Tahun 2015 Nomor 244, TLN RI Nomor 5587);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi (LN RI Tahun 2015 Nomor 60, TLN RI Nomor 5680);

6. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan sebagaimana diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan;

7. Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2017.

8. Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah.

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Kabupaten/Kota;

11. Peraturan Menteri Sosial Nomor 24 Tahun 2013 tentang Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan;

12. Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor : 188.44/90/KPTS/2017 tanggal 6 Maret 2017 tentang Penetapan Alokasi Pagu Subsidi Beras Sejahtera dan Bantuan Pangan Non Tunai Kabupaten/Kota se- Sumatera Utara Tahun 2017;

13. Keputusan Walikota Tanjungbalai Nomor : 511.1/94/K/2017 tanggal 06 April 2017 tentang Penetapan Alokasi Pagu Subsidi Beras Sejahtera dan Jumlah Keluarga Penerima Manfaat Kota Tanjungbalai Tahun 2017;

14. Keputusan Walikota Tanjungbalai Nomor : 511.1/95/K/2017 tanggal 06 April 2017 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pelaksanaan Program Beras Sejahtera Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah Kota Tanjungbalai Tahun 2017;

15. Pedoman Umum Rastra Tahun 2017.

4.2.5. Mekanisme Pelaksanaan Program Rastra

Adapun mekanisme pelaksanaan penyaluran program Rastra sampai ke Titik Distribusi (TD), Pelaksanaan Penyaluran Rastra dari Titik Distribusi (TD) ke Titik Bagi (TB), Penyaluran Rastra dari Titik Bagi (TB) ke Keluarga Penerima Manfaat (KPM) adalah sebagai berikut:

4.2.5.1. Pelaksanaan Peny1aluran Rastra Sampai Titik Distribusi (TD)

1. Pelaksanaan penyaluran Rastra sampai TD menjadi tugas dan tanggung jawab Perum BULOG.

2. Penyediaan beras untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Rastra dilakukan oleh Perum BULOG dalam kemasan berlogo Perum BULOG dengan kuantum 15 kg/karung dan/atau 50 kg/karung.

3. Rencana Penyaluran Untuk menjamin kelancaran proses penyaluran Rastra, Perum BULOG bersama Tim Koordinasi Rastra menyusun rencana penyaluran bulanan berdasarkan Surat Permintaan Alokasi (SPA).

4. Mekanisme Penyaluran:

a. Berdasarkan Pagu Rastra, Bupati/Walikota/Ketua Tim Koordinasi Rastra Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota menerbitkan SPA kepada Perum BULOG.

b. Berdasarkan SPA, Perum BULOG menerbitkan Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB)/ Delivery Order (DO) beras untuk masing-masing kecamatan atau desa/kelurahan dengan atau tanpa menunggu peluncuran resmi penyaluran Rastra pada awal tahun.

c. Sesuai dengan SPPB/DO maka Perum BULOG menyalurkan beras sampai ke TD, termasuk apabila terjadi penggantian beras.

d. Sebelum penyaluran dapat dilakukan pengecekan kualitas beras oleh Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi di Gudang Perum BULOG dibuktikan dengan Berita Acara yang ditandatangani oleh Perum BULOG dan Tim Koordinasi Rastra Kabupaten/Kota/ Kecamatan/ Pelaksana Distribusi.

e. Serah terima beras antara Perum BULOG dengan Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi dilakukan di TD dan dibuat Berita Acara Serah Terima (BAST) yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.

f. Pada prinsipnya penyaluran Rastra dilakukan setiap bulan. Jika terdapat kebijakan daerah dan/atau kendala antara lain musim panen, kondisi geografis, iklim/cuaca, dan hambatan transportasi, sehingga penyaluran Rastra tidak mungkin dilakukan secara rutin setiap bulan di Subsidi Pangan (RASTRA) suatu wilayah, maka penyaluran Rastra dapat diatur lebih lanjut di dalam Juklak/Juknis oleh pemerintah daerah setempat.

4.2.5.2.Pelaksanaan Penyaluran Rastra dari Titik Distribusi (TD) ke Titik Bagi (TB) 1. Penyaluran Rastra dari TD ke TB sampai KPM menjadi tanggung jawab pemerintah

daerah (provinsi dan kabupaten/kota).

2. Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi Rastra harus melakukan pengecekan kualitas dan kuantitas beras yang diserahkan oleh Perum BULOG di TD.

3. Apabila kuantitas dan kualitas Rastra tidak sesuai, maka Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi harus langsung mengembalikan kepada Perum BULOG dan Perum BULOG dalam waktu selambat-lambatnya 2 x 24 jam, harus menggantinya dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai.

4. Penyaluran Rastra dari TD ke TB dan KPM dapat dilakukan secara reguler oleh Kelompok Kerja (Pokja) atau Pelaksana Distribusi, melalui Warung Desa dan Kelompok Masyarakat.

4.2.5.3.Penyaluran Rastra dari TB ke KPM

1. Untuk meminimalkan biaya transportasi penyaluran Rastra dari TB ke KPM maka TB ditetapkan di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau oleh KPM.

2. Pelaksanaan penyaluran Rastra dari TB kepada KPM dilakukan oleh Pelaksana Distribusi Rastra dengan menyerahkan Rastra kepada KPM sebanyak 15 kg/KPM/bulan, selama 12 kali dalam setahun, atau sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat dicatat dalam DPM-2, selanjutnya dilaporkan kepada Tim Koordinasi Rastra Kabupaten/Kota melalui Tim Koordinasi Rastra Kecamatan.

4.3. Kriteria Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

1. Rumah tangga miskin yang memiliki anggota rumah tangga yang lebih besar;

2. Rumah tangga miskin yang memiliki balita dan anak usia sekolah wajib belajar.

3. Rumah tangga miskin yang kepala rumah tangganya perempuan,

4. Rumah tangga miskin yang menanggung anggota rumah tangga lanjut usia non potensial,

5. Kondisi fisik rumah tidak layak huni,

6. Rumah tangga yang berpendapatan rendah dan tidak tetap, 7. Keluarga peserta PKH.

4.4. Evaluasi Program Beras Sejahtera (RASTRA) di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai.

Istilah evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal), pemberian angka (rating) dan penilaian (assessment), kata-kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan nilainya. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan (Dunn, 2003 : 608).

Dalam penulisan ini penulis menggunakan teori evaluasi yang dikemukakan oleh William N

Dunn yang terdiri dari 6 indikator yang berhubungan dengan evaluasi program. Dengan adanya teori ini diharapkan dapat menjelaskan secara jelas tentang evaluasi program beras sejahtera (RASTRA) di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai.

4.4.1. Efektivitas

Untuk mengetahui hasil evaluasi suatu program, ada beberapa indikator yang harus diteliti, yang pertama adalah efektivitas. Efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas menurut Sedarmayanti (2009: 59) merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat dicapai. Secara umum, efektivitas menunjukkan sejauh mana tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam mengukur efektivitas suatu program.

Program Beras Sejahtera (RASTRA) merupakan program pemerintah pusat yang bersifat nasional dan bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga penerima manfaat untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam bentuk beras. Untuk melihat efektivitas program rastra di kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai ini dapat dilihat dari seberapa jauh tujuan program ini tercapai. Berkaitan dengan itu, penulis 1melakukan wawancara mengenai efektivitas program rastra di kelurahan tersebut dengan salah satu anggota dari Tim Koordinasi Rastra dan juga sebagai Kepala Sub Bagian Produksi Pangan dan Agribisnis, yang mengatakan:

“Dalam mencapai tujuannya, program Rastra ini sudah cukup efektif walaupun tingkat kemiskinan cukup tinggi dan kuota Penerima Manfaat Beras Sejahtera ini terbatas, sehingga tidak cukup untuk menampung semua masyarakat miskin yang ada di Tanjungbalai, maka dari itu pihak dari Pemerintah Kota (PEMKO) memberikan penambahan bantuan yang ditujukan untuk masyarakat miskin yang tidak terdaftar dalam penerima Rastra. Meskipun begitu jika dilihat dari tujuan program itu sendiri maka terlihat jelas kalau program ini sudah cukup efektif, karena dengan adanya

program ini banyak masyarakat yang merasa terbantu.” (Hasil Wawancara pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 68).

Menurut informan di atas, program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup efektif jika dilihat dari tujuan program itu sendiri. Hal serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Kota Tanjungbalai, yang mengatakan:

“Menurut saya, program ini cukup efektif dalam mencapai tujuannya. Karena masyarakat pasti sudah sangat terbantu dengan adanya program ini, walaupun dulu masyarakat harus membayar itupun dengan harga yang cukup murah ditambah lagi sekarang program ini udah diubah menjadi Bantuan Sosial, jadi masyarakat tidak perlu membayar lagi untuk mendapatkan beras ini. Masyarakat cukup datang dengan membawa kupon beras yang telah diberikan sebelumnya oleh masing-masing kelurahan.” (Hasil wawancara pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 68).

Pendapat yang tidak jauh beda disampaikan oleh Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (LINJAMSOS) yang mengatakan:

“Sudah efektif, namun karena pemutakhiran datanya kurang update jadi ada juga beberapa penerima sudah mampu, sudah meninggal atau sudah pindah namun tetap terdaftar dalam penerima manfaat program rastra ini. Untuk mengatasi hal seperti ini pihak kelurahan akan melakukan verifikasi data penerima Rastra, tetapi walaupun sudah di verifikasi oleh pihak kelurahan namun kembali lagi setelah diverifikasi maka akan dilakukan penggantian penerima melalui musyawarah kelurahan (MUSKEL) tetapi calon penerima manfaat program ini juga harus terdaftar di Basis Data Terpadu (BDT) tersebut, sementara BDTnya kurang update. Jadi memang masih banyak masyarakat miskin yang seharusnya lebih berhak untuk mendapatkan manfaat dari program pemerintah ini tetapi tidak mendapatkannya, sehingga program ini menjadi

“Sudah efektif, namun karena pemutakhiran datanya kurang update jadi ada juga beberapa penerima sudah mampu, sudah meninggal atau sudah pindah namun tetap terdaftar dalam penerima manfaat program rastra ini. Untuk mengatasi hal seperti ini pihak kelurahan akan melakukan verifikasi data penerima Rastra, tetapi walaupun sudah di verifikasi oleh pihak kelurahan namun kembali lagi setelah diverifikasi maka akan dilakukan penggantian penerima melalui musyawarah kelurahan (MUSKEL) tetapi calon penerima manfaat program ini juga harus terdaftar di Basis Data Terpadu (BDT) tersebut, sementara BDTnya kurang update. Jadi memang masih banyak masyarakat miskin yang seharusnya lebih berhak untuk mendapatkan manfaat dari program pemerintah ini tetapi tidak mendapatkannya, sehingga program ini menjadi

Dokumen terkait