• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.2. Struktur Organisasi Kelurahan Matahalasan

Adapun Struktur Organisasi Kelurahan Matahalasan adalah sebagai berikut :

Gambar 4.1 Struktur Organisasi 4.2. Program Beras Sejahtera (RASTRA)

Program Beras Sejahtera (RASTRA) merupakan bagian dari Sistem Ketahanan Pangan Nasional, yang dilaksanakan dalam rangkaian upaya mencapai kemandirian dan kedaulatan pangan, karena merupakan adalah salah satu dari hak asasi manusia sebagai komoditas strategis yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemerintah Indonesia memberikan prioritas yang besar terhadap kebijakan ketahanan pangan nasional, hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk Indonesia

LURAH

mengkonsumsi beras sebagai pangan utama sehingga menjadikan beras sebagai komoditas nasional yang sangat strategis.

Instabilitas perberasan nasional dapat mengakibatkan gejolak dalam berbagai aspek kehidupan baik sosial, politik maupun ekonomi. Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan dengan komoditas bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Komoditas makanan yang berpengaruh paling besar terhadap nilai garis kemiskinan adalah beras. Dengan demikian, beras merupakan komoditas yang sangat penting khususnya bagi masyarakat berpendapatan rendah. Program Rastra merupakan implementasi dari instruksi presiden tentang kebijakan perberasan nasional.

4.2.1. Tujuan Program Rastra

Tujuan Program Rastra adalah mengurangi beban pengeluaran Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui pemenuhan sebagian pangan beras.

4.2.2. Sasaran

Sasaran Program Rastra adalah berkurangnya beban pengeluaran KPM dalam mencukupi kebutuhan pangan beras melalui penyaluran beras bersubsidi yaitu 1.920.600 kg/tahun dengan alokasi sebanyak 15 kg/KPM/bulan atau sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat.

4.2.3. Manfaat

Adapun manfaat dari Program Rastra adalah sebagai berikut :

1. Peningkatan ketahanan pangan di tingkat KPM, sekaligus sebagai mekanisme perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan.

2. Peningkatan akses pangan baik secara fisik (beras tersedia di titik distribusi), maupun ekonomi (harga jual yang terjangkau) kepada KPM.

3. Sebagai Pasar bagi hasil usaha tani padi.

4. Stabilitas harga beras di pasaran.

5. Pengendalian inflasi melalui intervensi Pemerintah dengan menetapkan harga beras bersubsidi sebesar Rp. 1.600,-/kg, atau sesuai dengan kebijkan pemerintah pusat, dan menjaga stok pangan nasional.

6. Membantu pertumbuhan ekonomi daerah.

4.2.4. Dasar Hukum

Adapun perundang-undangan yang menjadu dasar hokum Program Rastra adalah sebagai berikut :

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara LN RI Tahun 2003 Nomor 47, TLN RI Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (LN RI Tahun 2012 Nomor 227, TLN RI 5360);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (LN RI Tahun 2014 Nomor 244, TLN RI Nomor 5587);

4. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (LN RI Tahun 2015 Nomor 244, TLN RI Nomor 5587);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi (LN RI Tahun 2015 Nomor 60, TLN RI Nomor 5680);

6. Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan sebagaimana diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan;

7. Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2017.

8. Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah.

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2010 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Kabupaten/Kota;

11. Peraturan Menteri Sosial Nomor 24 Tahun 2013 tentang Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan;

12. Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor : 188.44/90/KPTS/2017 tanggal 6 Maret 2017 tentang Penetapan Alokasi Pagu Subsidi Beras Sejahtera dan Bantuan Pangan Non Tunai Kabupaten/Kota se- Sumatera Utara Tahun 2017;

13. Keputusan Walikota Tanjungbalai Nomor : 511.1/94/K/2017 tanggal 06 April 2017 tentang Penetapan Alokasi Pagu Subsidi Beras Sejahtera dan Jumlah Keluarga Penerima Manfaat Kota Tanjungbalai Tahun 2017;

14. Keputusan Walikota Tanjungbalai Nomor : 511.1/95/K/2017 tanggal 06 April 2017 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pelaksanaan Program Beras Sejahtera Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah Kota Tanjungbalai Tahun 2017;

15. Pedoman Umum Rastra Tahun 2017.

4.2.5. Mekanisme Pelaksanaan Program Rastra

Adapun mekanisme pelaksanaan penyaluran program Rastra sampai ke Titik Distribusi (TD), Pelaksanaan Penyaluran Rastra dari Titik Distribusi (TD) ke Titik Bagi (TB), Penyaluran Rastra dari Titik Bagi (TB) ke Keluarga Penerima Manfaat (KPM) adalah sebagai berikut:

4.2.5.1. Pelaksanaan Peny1aluran Rastra Sampai Titik Distribusi (TD)

1. Pelaksanaan penyaluran Rastra sampai TD menjadi tugas dan tanggung jawab Perum BULOG.

2. Penyediaan beras untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Rastra dilakukan oleh Perum BULOG dalam kemasan berlogo Perum BULOG dengan kuantum 15 kg/karung dan/atau 50 kg/karung.

3. Rencana Penyaluran Untuk menjamin kelancaran proses penyaluran Rastra, Perum BULOG bersama Tim Koordinasi Rastra menyusun rencana penyaluran bulanan berdasarkan Surat Permintaan Alokasi (SPA).

4. Mekanisme Penyaluran:

a. Berdasarkan Pagu Rastra, Bupati/Walikota/Ketua Tim Koordinasi Rastra Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditunjuk oleh Bupati/Walikota menerbitkan SPA kepada Perum BULOG.

b. Berdasarkan SPA, Perum BULOG menerbitkan Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB)/ Delivery Order (DO) beras untuk masing-masing kecamatan atau desa/kelurahan dengan atau tanpa menunggu peluncuran resmi penyaluran Rastra pada awal tahun.

c. Sesuai dengan SPPB/DO maka Perum BULOG menyalurkan beras sampai ke TD, termasuk apabila terjadi penggantian beras.

d. Sebelum penyaluran dapat dilakukan pengecekan kualitas beras oleh Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi di Gudang Perum BULOG dibuktikan dengan Berita Acara yang ditandatangani oleh Perum BULOG dan Tim Koordinasi Rastra Kabupaten/Kota/ Kecamatan/ Pelaksana Distribusi.

e. Serah terima beras antara Perum BULOG dengan Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi dilakukan di TD dan dibuat Berita Acara Serah Terima (BAST) yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.

f. Pada prinsipnya penyaluran Rastra dilakukan setiap bulan. Jika terdapat kebijakan daerah dan/atau kendala antara lain musim panen, kondisi geografis, iklim/cuaca, dan hambatan transportasi, sehingga penyaluran Rastra tidak mungkin dilakukan secara rutin setiap bulan di Subsidi Pangan (RASTRA) suatu wilayah, maka penyaluran Rastra dapat diatur lebih lanjut di dalam Juklak/Juknis oleh pemerintah daerah setempat.

4.2.5.2.Pelaksanaan Penyaluran Rastra dari Titik Distribusi (TD) ke Titik Bagi (TB) 1. Penyaluran Rastra dari TD ke TB sampai KPM menjadi tanggung jawab pemerintah

daerah (provinsi dan kabupaten/kota).

2. Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi Rastra harus melakukan pengecekan kualitas dan kuantitas beras yang diserahkan oleh Perum BULOG di TD.

3. Apabila kuantitas dan kualitas Rastra tidak sesuai, maka Tim Koordinasi Rastra/Pelaksana Distribusi harus langsung mengembalikan kepada Perum BULOG dan Perum BULOG dalam waktu selambat-lambatnya 2 x 24 jam, harus menggantinya dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai.

4. Penyaluran Rastra dari TD ke TB dan KPM dapat dilakukan secara reguler oleh Kelompok Kerja (Pokja) atau Pelaksana Distribusi, melalui Warung Desa dan Kelompok Masyarakat.

4.2.5.3.Penyaluran Rastra dari TB ke KPM

1. Untuk meminimalkan biaya transportasi penyaluran Rastra dari TB ke KPM maka TB ditetapkan di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau oleh KPM.

2. Pelaksanaan penyaluran Rastra dari TB kepada KPM dilakukan oleh Pelaksana Distribusi Rastra dengan menyerahkan Rastra kepada KPM sebanyak 15 kg/KPM/bulan, selama 12 kali dalam setahun, atau sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat dicatat dalam DPM-2, selanjutnya dilaporkan kepada Tim Koordinasi Rastra Kabupaten/Kota melalui Tim Koordinasi Rastra Kecamatan.

4.3. Kriteria Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

1. Rumah tangga miskin yang memiliki anggota rumah tangga yang lebih besar;

2. Rumah tangga miskin yang memiliki balita dan anak usia sekolah wajib belajar.

3. Rumah tangga miskin yang kepala rumah tangganya perempuan,

4. Rumah tangga miskin yang menanggung anggota rumah tangga lanjut usia non potensial,

5. Kondisi fisik rumah tidak layak huni,

6. Rumah tangga yang berpendapatan rendah dan tidak tetap, 7. Keluarga peserta PKH.

4.4. Evaluasi Program Beras Sejahtera (RASTRA) di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai.

Istilah evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal), pemberian angka (rating) dan penilaian (assessment), kata-kata yang menyatakan usaha untuk menganalisis hasil kebijakan dalam arti satuan nilainya. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan (Dunn, 2003 : 608).

Dalam penulisan ini penulis menggunakan teori evaluasi yang dikemukakan oleh William N

Dunn yang terdiri dari 6 indikator yang berhubungan dengan evaluasi program. Dengan adanya teori ini diharapkan dapat menjelaskan secara jelas tentang evaluasi program beras sejahtera (RASTRA) di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai.

4.4.1. Efektivitas

Untuk mengetahui hasil evaluasi suatu program, ada beberapa indikator yang harus diteliti, yang pertama adalah efektivitas. Efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas menurut Sedarmayanti (2009: 59) merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat dicapai. Secara umum, efektivitas menunjukkan sejauh mana tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam mengukur efektivitas suatu program.

Program Beras Sejahtera (RASTRA) merupakan program pemerintah pusat yang bersifat nasional dan bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga penerima manfaat untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam bentuk beras. Untuk melihat efektivitas program rastra di kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai ini dapat dilihat dari seberapa jauh tujuan program ini tercapai. Berkaitan dengan itu, penulis 1melakukan wawancara mengenai efektivitas program rastra di kelurahan tersebut dengan salah satu anggota dari Tim Koordinasi Rastra dan juga sebagai Kepala Sub Bagian Produksi Pangan dan Agribisnis, yang mengatakan:

“Dalam mencapai tujuannya, program Rastra ini sudah cukup efektif walaupun tingkat kemiskinan cukup tinggi dan kuota Penerima Manfaat Beras Sejahtera ini terbatas, sehingga tidak cukup untuk menampung semua masyarakat miskin yang ada di Tanjungbalai, maka dari itu pihak dari Pemerintah Kota (PEMKO) memberikan penambahan bantuan yang ditujukan untuk masyarakat miskin yang tidak terdaftar dalam penerima Rastra. Meskipun begitu jika dilihat dari tujuan program itu sendiri maka terlihat jelas kalau program ini sudah cukup efektif, karena dengan adanya

program ini banyak masyarakat yang merasa terbantu.” (Hasil Wawancara pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 68).

Menurut informan di atas, program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup efektif jika dilihat dari tujuan program itu sendiri. Hal serupa disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Kota Tanjungbalai, yang mengatakan:

“Menurut saya, program ini cukup efektif dalam mencapai tujuannya. Karena masyarakat pasti sudah sangat terbantu dengan adanya program ini, walaupun dulu masyarakat harus membayar itupun dengan harga yang cukup murah ditambah lagi sekarang program ini udah diubah menjadi Bantuan Sosial, jadi masyarakat tidak perlu membayar lagi untuk mendapatkan beras ini. Masyarakat cukup datang dengan membawa kupon beras yang telah diberikan sebelumnya oleh masing-masing kelurahan.” (Hasil wawancara pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 68).

Pendapat yang tidak jauh beda disampaikan oleh Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (LINJAMSOS) yang mengatakan:

“Sudah efektif, namun karena pemutakhiran datanya kurang update jadi ada juga beberapa penerima sudah mampu, sudah meninggal atau sudah pindah namun tetap terdaftar dalam penerima manfaat program rastra ini. Untuk mengatasi hal seperti ini pihak kelurahan akan melakukan verifikasi data penerima Rastra, tetapi walaupun sudah di verifikasi oleh pihak kelurahan namun kembali lagi setelah diverifikasi maka akan dilakukan penggantian penerima melalui musyawarah kelurahan (MUSKEL) tetapi calon penerima manfaat program ini juga harus terdaftar di Basis Data Terpadu (BDT) tersebut, sementara BDTnya kurang update. Jadi memang masih banyak masyarakat miskin yang seharusnya lebih berhak untuk mendapatkan manfaat dari program pemerintah ini tetapi tidak mendapatkannya, sehingga program ini menjadi tidak tepat sasaran karena kurangnya update BDT tersebut”. (Hasil Wawancara pada tanggal 23 April 2018, Transkrip wawancara, halaman 69).

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan beberapa informan di atas, program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup baik dan cukup efektif dalam mencapai tujuannya untuk meringankan beban pengeluaran keluarga miskin. Namun menurut penulis program rastra di kelurahan ini belum cukup efektif, hal tersebut dikarenakan masih adanya masyarakat yang berhak mendapatkan program ini tetapi tidak mendapatkan manfaat dari program tersebut.

Adapun hasil pengamatan penulis di lapangan pada tanggal 02 Mei 2018 terkait efektivitas program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efektif, hal tersebut penulis amati ketika penulis turun ke lapangan masih terdapat beberapa masyarakat yang seharusnya berhak menerima program ini tetapi tidak terdaftar dalam Keluarga Penerima Manfaat (KPM), masih adanya masyarakat yang miskin yang belum mendapatkan program ini. Hal tersebut dapat menjadi bukti bahwa belum cukup efektifnya program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai ini.

Kemudian penulis juga akan memaparkan hasil dokumentasi terkait efektivitas program rastra di kelurahan ini, yaitu sepanjang tahun 2001-2016 penduduk miskin di Kota Tanjungbalai mengalami peningkatan, walaupun peningkatan tersebut tidak begitu pesat, begitu juga dengan jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Program Rastra ini yang ikut mengalami peningkatan, pada tahun 2016 jumlah KPM di Kelurahan Matahalasan adalah 196 KK, kemudian pada tahun 2017 jumlah KPM bertambah menjadi 214 KK. Hal ini dapat membuktikan bahwa bertambahnya jumlah penduduk miskin di Tanjungbalai mempengaruhi jumlah KPM yang ada di kelurahan tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang telah dikemukakan oleh Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efektif, hal ini dapat dilihat dari masih adanya masyarakat miskin yang tidak terdaftar dalam. Keluarga Penerima Manfaat dari program ini, hal tersebut dikarenakan kurang updatenya Basis Data Terpadu yang ada pada pemerintah. Dan bertambahnya angka kemiskinan di Tanjungbalai juga mempengaruhi jumlah KPM dari tahun 2016 berjumlah 196 KK naik di tahun 2017 menjadi 214 KK. Meskipun jumlah yang bertambah tidak begitu pesat, namun hal itu dapat menjadi bukti bahwa Program Rastra di

Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efektif.

4.4.2. Efisiensi

Efisiensi (efficiency) berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Efisiensi yang merupakan sinonim dari rasionalitas ekonomi, adalah merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha, yang terakhir umumnya diukur dari ongkos moneter. Efisiensi biasanya ditentukan melalui perhitungan biaya per unit produk atau layanan. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya terkecil dinamakan efisien” (Dunn, 2003:430). Efisiensi merupakan ukuran yang digunakan mengukur keberhasilan suatu kegiatan yang dinilai dari segi sumberdaya atau nilai untuk mencapai keberhasilan dari kegiatan tersebut. Lebih sederhananya Dunn mengatakan bahwa efisiensi dapat diketahui dengan menjawab pertanyaan “Seberapa banyak usaha yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan?”.

Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai kurang efisien, hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Kasubbag. Produksi Pangan dan Agribisnis yang memaparkan :

“Hasil itukan bisa dikatakan sebagai ketika tujuan itu sendiri tercapai, dan tujuan dari Program ini sendiri adalah mengurangi beban pengeluaran Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui pemenuhan sebagian pangan beras. Jadi hal yang kami lakukan adalah menyalurkan beras sebagaimana yang ada di dalam pedoman umum Rastra itu sendiri dan memberikan sosialiasi kepada masyarakat setiap setahun sekali.” (Hasil wawancara penulis tentang efisiensi pada tanggal 17 April 2018, Transkrip wawancara halaman 72).

Menurut informan di atas, evaluasi program rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai sudah cukup efisien, hal tersebut karena informan beranggapan bahwa sesuatu dapat dikatakan efisien ketika apa yang menjadi tujuan

dari program tersebut sudah tercapai, dan menurut informan tujuan program rastra ini sudah tercapai dan sangat menguntungkan dan membantu masyarakat yang kesulitan mencukupi kebutuhan pokoknya. Pendapat ini juga sejalan dengan yang disebutkan oleh Kabid Linjamsos yang mengatakan :

“Sejauh ini yang dilakukan pemerintah untuk mencapai hasil yang diinginkan yaitu memberikan edukasi kepada masyarakat dengan memanggil perwakilan dari setiap kelurahan untuk melakukan sosialiasi tentang program ini sehingga masyarakat bisa mengerti dan memahami sedikit banyaknya tentang program rastra ini.” (Hasil wawancara tentang efisiensi pada tanggal 23 April 2018, Transkrip wawancara halaman 73)

Menurut informan di atas, pemerintah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan memanggil perwakilan dari setiap kelurahan sehingga masyarakat bisa mengerti tentang program ini meskipun sosialisasi tersebut sudah tidak rutin lagi dilakukan. Sedangkan informan lain yang termasuk dalam salah satu penerima rastra mengatakan bahwa :

“Ya saya mengetahui tentang program ini, yang saya tahu program rastra adalah program pemerintah pusat yang memberikan bantuan kepada masyarakat miskin berupa beras bersubsidi tapi sekarang bukan beras bersubsidi lagi, melainkan bantusan sosial, jadi beras yang diterima oleh masyarakat itu tidak dibayar lagi masyarakat menerima beras secara gratis seberat 10kg/KK. Kalau pada tahun 2017 yang lalu untuk mendapatkan beras masyarakat harus mengeluarkan biaya sebesar Rp.

25.000/15kg Beras Bulog. ya saya mengetahui harga tebus sebenarnya adalah Rp.

24.000/15kg tetapi memang sudah ada kesepakatan antara kami (masyarakat) dengan pihak kelurahan mengenai penambahan uang tersebut. Saya mengetahui program ini dari masyarakat dan juga sosialisasi yang pernah dilakukan oleh pihak pemerintah, pemerintah pernah melakukan sosialisasi tetapi sekarang sudah jarang, hal itu mungkin karena masih banyak program baru yang lebih belum diketahui masyarakat banyak.” (Hasil wawancara penulis dengan salah satu Keluarga Penerima Manfaat Program Rastra Pada Tanggal 02 Mei 2018, Transkrip wawancara halaman 74).

Menurut informan ini, pemerintah pernah melakukan sosialisasi namun kegiatan tersebut sudah jarang dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan di atas, Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efisien, hal tersebut karena masih kurangnya usaha pemerintah kota untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai program tersebut, sehingga

tidak sedikit masyarakat yang kurang paham apa sebenarnya maksud dan tujuan dari program rastra tersebut.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis di Lapangan, Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai belum cukup efisien, hal ini penulis amati pada saat penulis melakukan komunikasi kepada beberapa informan tentang program rastra ini. Penulis melihat bahwa kurang pemahaman masyarakat mengenai program ini, sebagian masyarakat hanya mengetahui bahwa program ini sebatas beras yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk masyarakat miskin saja. Hal ini membuktikan bahwa kurangnya usaha pemerintah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai program rastra ini, serta keterbatasan akses masyarakat untuk mencari informasi lebih yang sebenarnya telah disediakan pemerintah melui media sosial maupun media cetak.

Kemudian penulis akan memaparkan dokumentasi terkait efisiensi Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai antara lain sebagai berikut :

Gambar 4.2. Alur pembelian rastra

Dokumentasi di atas merupakan salah satu contoh edukasi yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat di seluruh Indonesia, gambar tersebut menjelaskan tentang bagaimana alur pengambilan rastra yang benar, namun kurangnya akses yang dimiliki masyarakat untuk mendapatkan informasi selain dari sosialisasi yang diberikan pemerintah menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai program ini.

Akhirnya, penulis mencoba menarik kesimpulan berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang telah dilakukan oleh penulis bahwa dalam mencapai tujuan yang diinginkan, pemerintah melakukan sosialisasi yang dilakukan satu tahun sekali. Namun, rendahnya partisipasi dan kurangnya akses yang dimiliki oleh masyarakat menjadi salah satu faktor tidak terealisasinya kegiatan sosialisasi yang diadakan oleh pemerintah dan tidak tersebarnya informasi lain yang telah disedikan di media sosial atau media cetak lainnaya, hal tersebut mengakibatkan masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai tujuan, sasaran, dan manfaat dari program itu sendiri.

4.4.3. Kecukupan

Dalam kebijakan publik kecukupan dapat artikan dengan seberapa jauh hasil yang telah tercapai dapat memecahkan masalah. Dunn (2003: 430) menyatakan bahwa kecukupan (adequacy) berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang menumbuhkan adanya masalah. Jadi kecukupan dalam evaluasi kebijakan publik memiliki hubungan dengan efektivitas dalam mengukur seberapa jauh alternatif yang ada dapat mencukupi kebutuhan.

Program Rastra diberikan kepada masyarakat yang perekonomiannya di bawah garis kemiskinan. Pemerintah memberikan bantuan berupa beras dengan berat 15kg/ bulan/KK.

Untuk melihat tingkat kecukupan Program Rastra di Kelurahan Matahalasan Kecamatan

Tanjungbalai Utara Kota Tanjungbalai maka dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Camat Tanjungbalai yang mengatakan:

“Menurut saya sudah tepat karena penerimanya benar-benar masyarakat miskin yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya, jadi dengan adanya program ini masyarakat bisa sedikit terbantulah, yang tadinya uang tersebut disisihkan untuk membeli beras bisa dibelikan untuk kebutuhan yang lainnya”. (Hasil Wawancara tentang kecukupan, Tanggal 23 April 2018, Transkrip wawancara halaman 78)

Pendapat yang sama juga dituturkan Lurah Matahalasan, yang menerangkan bahwa:

“Menurut saya cukup tepat karena beras adalah salah satu makanan pokok yang dikonsumsi secara rutin, jika tidak ada program ini maka masyarakat akan lebih kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. Jadi dengan adanya program ini masyarakat menjadi lebih sedikit terbantu karena mereka tidak perlu lagi memikirkan biaya untuk membeli beras.” (Hasil wawancara tentang Kecukupan, Tanggal 24 April

“Menurut saya cukup tepat karena beras adalah salah satu makanan pokok yang dikonsumsi secara rutin, jika tidak ada program ini maka masyarakat akan lebih kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. Jadi dengan adanya program ini masyarakat menjadi lebih sedikit terbantu karena mereka tidak perlu lagi memikirkan biaya untuk membeli beras.” (Hasil wawancara tentang Kecukupan, Tanggal 24 April

Dokumen terkait