Diagnosis Asma
EXERCISE-INDUCED ASTHMA (EIA)
Ida Bagus Suta
Divisi Paru, Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK UNUD / RSUP Sanglah
Denpasar
Pendahuluan
Asma adalah kelainan inflamasi kronik saluran nafas dimana inflamasi kronik ini berkaitan dengan hiperresponsif saluran nafas. Obstruksi saluran nafas bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Asma adalah penyakit multifaktorial dan heterogen. Faktor risiko meliputi predisposisi genetik, atopi dan hiperresponsivitas. Karakteristik asma adalah inflamasi pada bronkus, sejumlah besar sel radang, antara lain sel mast, eosinofil, limfosit T, makrofag dan neutrofil terlibat dalam proses inflamasi. Inflamasi dapat terjadi setelah pajanan terhadap alergen dan obstruksi terjadi karena otot polos bronkus yang mengalami konstriksi, edema, remodeling dan peningkatan produksi mukus.1
Exercise-Induced Asthma (EIA) dikenal juga sebagai Exercise-Induced Bronchotictionco (EIB) adalah suatu keadaan penyempitan saluran nafas yang terjadi setelah aktifitas fisik. Prevalensi EIB tidak ketahui dengan pasti, tetapi latihan fisik diketahui sebagai salah satu pencetus serangan asma.
Pengurangan aktivitas fisik adalah hal yang wajar pada individu asma. Hal ini disebabkan oleh obstruksi saluran nafas dan meningkatnya sensitivitas terhadap berbagai rangsangan (termasuk aktivitas fisik). Aktivitas fisik berguna dan perlu untuk individu asma karena dapat memperbaiki kapasitas fisik, mengurangi sesak nafas dan memperbaiki kesulitasn bernafas terkait aktivitas fisik. Individu dengan derajat obstruksi saluran nafas ringan sampai sedang dapat melakukan latihan fisik sama seperti orang sehat. Latihan fisik sebaiknya meliputi latihan ketahanan dan latihan fleksibilitas. Aktivitas yang baik dan dianjuran adalah berenang, jalan, bersepeda, olahraga dengan bola, serta latihan aerobik.1.2
Patogenis
Kebanyakan individu dengan asma merasakan kesulitan bernafas selama latihan fisik yang diebabkan menyempitnya saluran nafas. Hal ini disebut obstruksi yang disebabkan oleh latihan fisik (exercise-induced airway obstruction). Obstruksi saluran nafas yang disebabkan oleh latihan fisik diartikan sebagai keadaan dimana Arus PuncakEekspirasi (APE) lebih besar atau sama dengan 15% atau Volume Ekspirasi Paksa (VEP) lebih besar atau sama dengan 10% bergantung pada latihan fisik. Obstruksi muncul saat latihan fisik atau umumnya 5-15 menit kemudian dan bertahan selama 30-60 menit. Terkadang gejala menghilang dengan sendirinya. Derajat obstruksi saluran nafas terkait latihan fisik bervariasi tergantung pada intensitas latihan, tipe aktivitas, dan lingkungan sekitar dimana latihan fisik dilakukan. Sebagai contoh, berlari menimbulkan lebih banyak
gejala dibandingkan jogging ataupun berjalan. Didapatkan gejala lebih sering muncul apabila latihan fisik dilakukan pada lingkungan yang dingin, udara kering dibandingkan pada lingkungan yang hangat dengan udara yang lembab. Polusi udara juga ternyata dapat meningkatkan derajat obstruksi saluran nafas terkait latihan fisik. Pada sekitar 20-50% individu dengan asma, obstruksi saluran nafas terkait latihan fisik ini juga dapat diamati beberapa jam setelah latihan fisik. Hal ini disebut sebagai reaksi
fase lambat.1,3
Ada dua teori berkaitan dengan asma terkait latihan fisik, teori
hiperosmolar dan teori airway rewarming. Teori hiperosmolar
berpendapat bahwa saat latihan fisik terjadi peningkatan ventilasi yang mengakibatkan membran mukosa bronkus kering karena udara yang melewati saluran nafas harus dilembabkan dan akibatnya saluran nafas kehilangan kelembabannya. Hal ini menimbulkan rangsangan hiperosmolar yang mengaktifkan sel sekitarnya seperti sel mast, sehingga terjadi bronkokonstriksi. Teori airway rewarming berpendapat bahwa saat latihan fisik terjadi peningkatan ventilasi udara yang suhunya lebih dingin daripada suhu tubuh yang menyebabkan vasokonstriksi dari membran mukosa bronkus. Setelah latihan fisik terjadi vasodilatasi dan pembuluh darah yang mengalami vasodilatasi terisi oleh darah, membengkak dan mengobstruksi
Diagnosis
Keluhan yang muncul pada asma terkait latihan fisik biasanya adalah batuk, mengi, sesak nafas atau dada terasa berat selama atau setelah latihan fisik. Dapat diasumsikan bahwa seorang individu akan merasakan gejala abnormal ini dan akan mencari pertolongan medis, namun banyak individu tidak mengenali gejala ini dan baru mencari pertolongan medis saat didesak oleh orang lain. Terdapat gejala ringan lain selain batuk, mengi dan sesak nafas yang dialami oleh individu dengan asma terkait latihan fisik seperti tidak enak badan, nyeri kepala, nyeri
perut, kram otot, kelelahan atau pusing.2.4,
Tes provokasi bronkus penting pada beberapa keadaan seperti :
1. Untuk mengkonfirmasi diagnosis asma terkait latihan fisik saat
meragukan,
2. Untuk menapis atlet pada bidang olahraga yang didapatkan
insidensi tingkat asma terkait latihan fisik tinggi,
3. Untuk studi epidemiologi untuk mengetahui insidensi asma terkait
latihan fisik.
Tes provokasi yang sering digunakan terutama untuk penegakan diagnosis pada atlet adalah tes inhalasi metakolin. Selain itu tes eucapnic voluntary hyperventilation (EVH) dengan udara kering juga digunakan pada atlet Olympic namun tes ini memerlukan peralatan
yang mahal dan relatif kompleks. Tes lain seperti tes inhalasi mannitol dapat digunakan sebagai gantinya.3
Pengobatan
Saat diagnosis asma terkait latihan fisik Exercise-Induced Asthma (EIA)
ditegakkan atau disimpulkan, pengobatan asma direkomendasikan untuk diberikan. Contohnya pada atlet olahraga, pengobatan EIA meliputi pertimbangan jenis latihan yang menyebabkan asma. Namun pada beberapa jenis atlet, hal ini tidak memungkinkan karena mereka berlomba pada bidang tersebut. Untuk atlet beberapa olahraga rekreasional maka mereka dapat mengatur jenis latihan dan dapat menghindari kondisi- kondisi tertentu yang dapat memperberat keadaan seperti cuaca, banyak, polusi. Sebagai tambahan, latihan pemanasan tertentu dapat mengurangi derajat keparahan asma terkait latihan fisik. Contohnya seorang atlet harus melakukan pemanasan hingga 80-90% kapasitas maksimum mereka sebelum memulai latihan formal. Hal ini dapat mengurangi derajat keparahan asma namun tidak sepenuhnya mencegah terjadinya asma terkait latihan fisik.
Farmakoterapi diberikan untuk mencegah terjadinya Exercise-Induced Asthma terutam sebelumlatihan fisik. Terapi paling efektif adalah short- acting beta agonist dalam 15 menit sebelum memulai latihan fisik. Inhalasi kromolin dapat ditambahkan bila SABA saja tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada individu dengan asma kronis persisten (FEV 1 kurang
dari 80% prediksi dan gejala muncul lebih dari 2x/minggu), obat-obatan kontroler harian harus dimulai dan obat pencegahan sebelum latihan fisik juga harus diberikan.3,4.5
Ringkasan
Exercise-Induced Asthma (EIA) adalah suatu keadaan t erjadinya pnyempitan saluran pernapasan saat latihan fisik. Bisa terjadi pada penderitan asma dengan pencetus latihan fisik, tetapi juga bisa terjadi pada penderita bukan penderita asma. EIA mudah ditegakkan tetapi sering tidak terdiagnosis dengan baik. Pasien EIA harus dianjurkan untuk melakukan pemanasan sebelum latihan fisik. Pengobatan farmakologi SABA hendaknya diberikan terutama sekali sebelum latihan fisik. Pengobatan secara konfrehensif hendaknya didiskusikan dengn penderita agar mendapatkanhasil yang memuaskan.
Daftar Pustaka
1. GINA. Global strategy for asthma management and prevention,
Global Initiative for Asthma (GINA); 2015. Availeble at: http://www.ginasthma.org/local/uploads/files/GINA_Report_2015_ Aug11.pdf
2. Jonathan P, Parsons, Teal S , Hallstrad, John G, Mastronarde, David A Kaminsky. An Official American Thoracic Society Clinical Practice Guideline: Exercise-induced Bronchoconstriction. Am J Respir Crit Care Med Vol 187, Iss. 9, pp 1016–1027, May 1, 2013
3. Hayden, Mary Lou, MS, Stuart W. Stoloff, MD Gene L. Colice, MD, Nancy K. Ostrom, MD, Nemr S. Eid, MD , Jonathan P. Parsons, MD. Exercise-induced bronchospasm: A case study in a nonasthmatic patient. Journal of the American Academy of Nurse Practitioners 24
(2012) 19–23
4. T.H. Lee*, S.P. O'Hickey, Exercise-induced asthma and late phase
reactions, EUR Respir J 1989, 2, 195-197
5. Emtner, Margareta. Asthma. professional associations for physical
activity, sweden. http://www.fyss.se/wp-content/uploads/2011/02/ fyss_2010_english.pdf
Asthma COPD Overlap Syndrome (ACOS) IB Ngurah Rai
Divisi Paru Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK UNUD / RSUP Sanglah
Pendahuluan
Asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia saat ini. Kedua penyakit obstruktif di atas memiliki prevalensi yang tinggi dan kecenderungan untuk terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, mortalitas dan morbiditas, serta beban sosio-ekonomik kedua kelainan tersebut juga tinggi.1
Keluhan dan gejala asma biasanya muncul sejak usia muda, sementara PPOK mulai terlihat setelah usia empatpuluh-an. Dalam praktek klinis sehari-hari, kriteria penatalaksanaan asma dan PPOK telah dikenal luas dan memiliki panduan internasional yang baku.2 Pada litearatur- literatur terdahulu, asma merupakan diagnosis banding dari PPOK, demikian pula sebaliknya. Tetapi pada kenyataannya, banyak pasien PPOK yang mengalami gejala asma atau sebaliknya pada pasien asma usia tua yang sering tidak menunjukkan hasil pengobatan yang optimal. Keberadaan kedua jenis kelainan ini (asma dan PPOK) pada satu pasien inilah yang mencetuskan banyak review dan penelusuran lebih mendalam dari para ahli di seluruh dunia dalam lima tahun terakhir.
Asthma COPD Overlap Syndrome (ACOS) merupakan terminologi yang dipilih untuk mengelompokkan pasien-pasien seperti tersebut di atas. Menemukan angka kejadian ACOS dari kepustakaan menjadi hal yang agak kompleks. Penelitian-penelitian di bidang asma dan PPOK biasanya mengeksklusi salah satunya, karena masih menganggap asma merupakan diagnosis banding PPOK. Guerra3 dalam penelitiannya mendapatkan 40% kejadian koeksistensi asma dan PPOK pada satu pasien dengan menggunakan kombinasi kriteria diagnostik keduanya. Sementara Soriano, dkk.4 menunjukkan estimasi prevalensi ACOS yang meningkat sesuai umur pasien. Prevalensi ACOS pada usia kurang dari 50 tahun adalah 10%, dan meningkat menjadi >50% pada usia 80 tahun ke atas.
Satu hal yang telah disepakati oleh para ahli, apabila koeksistensi asma dan PPOK terjadi pada seorang pasien, maka pasien tersebut memiliki prognosis lebih buruk daripada hanya menderita salah satu kelainan ini. Pasien akan mengalami perburukan penyakit yang lebih cepat, kualitas hidup yang lebih buruk, lebih sering mengalami eksaserbasi, meningkatnya komorbid, serta sering mengunjungi fasilitas kesehatan akibat penyakitnya. Untuk itulah dirumuskan kriteria diagnostik tersendiri dalam mendiagnosis kondisi ini, dan diberi terminology ACOS oleh GINA- GOLD.5,6
Berikut ini akan disampaikan secara ringkas karakteristik ACOS dan kriteria klinis yang dipakai berdasarkan consensus bersama GINA-GOLD tentang ACOS ini.
Definisi dan Karakteristik Klinis
Asma menurut GINA 2015 merupakan kelainan heterogen yang ditandai oleh inflamasi kronis jalan nafas. Hal ini bisa didapatkan dari riwayat keluhan respirasi seperti mengi, sesak nafas, rasa berat di dada, dan batuk yang bervariasi dalam waktu dan intensitas, seta ditemukannya hambatan aliran udara ekspirasi yang juga variabel.7
Asma merupakan penyakit inflamasi pada jalan nafas besar dan kecil. Secara karakteristik, biasanya terjadi saat anak-anak dan sering disertai alergi, walaupun banyak kasus juga dapat terjadi saat dewasa. Gejala klinis khas pada pasien terjadi akibat obstruksi jalan nafas secaramenyeluruh. Hal ini mengakibatkan penurunan udara, khususnya kapasitas vital dan volume ekspirasi paksa detik pertama, tetapi akan kembali menjadi normal setalah serangan. Obstruksi jalan nafas ini secara umum disebabkan oleh spasme otot polos. Karakteristik lain adalah dasar hiperresponsivitas bronkus pada pasien asma akibat rangsangan inhalan pada jalan nafas.8
Definisi Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menurut GOLD 2015 adalah penyakit yang dapat dicegah dan dikontrol, ditandai oleh hambatan aliran udara persisten yang progresif. Hal ini berhubungan dan diperburuk oleh respons inflamasi kronik jalan nafas dan paru akibat pajanan bahan dan gas berbahaya. Kondisi komorbid dan eksaserbasi mempengaruhi tingkat keparahan penyakit ini.9
PPOK juga merupakan penyakit inflamasi jalan nafas seperti halnya asma, perbedaannya pada PPOK lebih mengenai saluran nafas kecil. Pada
pasien PPOK akan didapatkan infiltrasi sel-sel inflamasi pada saluran nafas kecil dan jaringan mukus sekretori, serta kerusakan jaringan alveolar. PPOK biasanya mulai menimbulkan gejala pada pasien emur di atas 40 tahun. Gejala yang dering dikeluhkan adalah batuk kronik, produksi sputum, serta sesak nafas dan mengi. Obstruksi jalan nafas yang terjadi pada PPOK berhubungan dengan kontraksi otot polos, mucus jalan nafas, kerusakan jaringan alveolar, serta kombinasi dengan hilangnya elastic recoil yang menyebabkan penutupan jalan nafas. Karakteristik penting lainnya dari PPOK adalah perjalanan penyakit yang progresif dan keterlibatan asap rokok, polusi udara, serta pajanan lingkungan dan pekerjaan.8
Asthma COPD Overlap Syndrome (ACOS) ditandai dengan hambatan aliran udara persistendengan beberapa karakteristik yang biasanya berhubungan dengan asma dan karakteristik lain yang berhubungan dengan PPOK. Secara klinis praktis, ACOS ini didiagnosis bila pasien menunjukkan karakteristik-karakteristik asma dan PPOK.5
Perjalanan klinis pasien PPOK biasanya dimulai dengan penurunan minor fungsi paru (FEV1) usia 20-30 tahun-an. Penurunan ini terus terjadi sejalan dengan pajanan bahan berbahaya dan asap rokok yang dialami pasien sampai hanya 50% dari fungsi paru normal pada usia 60 tahun-an. Setelah itu terus terjadi perburukan fungsi paru akibat inflamasi kronik jalan nafas dan kerusakan arsitektur paru. Pada asma perburukan fungsi paru terjadi secara gradual dan cenderung reversibel. Pasien asma yang mengalami perburukan fungsi paru progresif saat usia 50-60 tahun-an kemungkinan besar mengalami ACOS. Pada kondisi ini sangat sulit
menentukan secara tegas pasien tersebut menderita asma atau PPOK karena membawa karakteristik kedua kelainan tersebut, seperti terlihat pada Gambar 1.8
Gamba 1. Perjalanan Klinis Asma, PPOK, serta ACOS dilihat dari perburukan fungsi paru.8
Patogenesis
Pada penyakit obstruktif paru, terdapat tiga karakteristik klinis umum, yaitu inflamasi jalan nafas, obstruksi jalan nafas, dan hiperresponsivitas bronchus. Inflamasi kronik jalan nafas dibagi 2, yaitu inflamasi eosinofilik pada asma yang diakibatkan oleh CD4, serta inflamasi netrofilik pada PPOK yang diakibatkan oleh CD8. Pada beberapa populasi khusus seperti pasien asma perokok, didapatkan peningkatan netrofil jalan nafas seperti pada PPOK, sehingga lebih resisten terhadap steroid. Sebaliknya pada PPOK juga dapat terjadi inflamasi eosinofilik yang biasanya ditandai oleh variasi reversibilitas obstruksi jalan nafas setelah mendapat terapi steroid.6
Secara klasik, hiperresponsivitas bronchus sejak lama merupakan tanda patognomonis asma yang menjadi predictor seseorang menderita asma di kemudian hari. Definisi-definisi asma terbaru tidak mencantumkan hiperresponsivitas bronchus lagi sebagai penanda asma, karena hal ini tidak sepenuhnya menjadi pembeda asma dan PPOK. Hiperresponsivittas bronchus diakibatkan berbagai faktor, seperti penyempitan diameter jalan nafas, penebalan dinding jalan nafas, peningkatan massa dan reaktivitas otot polos jalan nafas, peningkatan vaskularitas peri-bronkhial, kehilangan elastic recoil, inflamasi jalan nafas, cedera epitelial, dan peningkatan aktivitas neurogenik.8
Hiperreaktivitas bronchus juga dapat menjadi risiko terjadinya PPOK. Pada beberapa penelitian terakhir, semakin berat hiperreaktivitas bronchus akan meningkatkan volume residual, sehingga memperburuk air- trapping pada PPOK. Salah satu implikasi klinis lain hiperreaktivitas bronchus pada PPOK adalah dalam menurunkan fungsi paru (FEV1). Perburukan penurunan FEV1 pada pasien PPOK dengan hiperreaktivitas bronchus, terutama pada perokok juga menjadi prediktor kematian pada pasien PPOK.10
Postma dan van den Berge8 juga menggarisbawahi hiperresponsivitas jalan nafas ini. Pada review yang ditulis, mereka mendapatkan 98% pasien ACOS mengalami hiperresponsivitas jalan nafas dibandingkan 15% pada PPOK. Pada kasus ACOS dengan FEV1 rendah, hiperresponsivitas bronchus ini semakin nyata terlihat. Hal ini juga menimbulkan asumsi bahwa perburukan fungsi paru berhubungan dengan
hiperresponsivitas bronchus pada kasus yang telah terdokumentasi sebagai ACOS.
Hiperresponsivitas jalan nafas pada pasien PPOK dapat dilihat dengan melakukan tes provokasi dengan agen yang sesuai, seperti methacoline, histamine, manitol, adenosine, dan salin hipertonis. Hiperresponsivitas jalan nafas meningkat pada pasien perokok dan usia tua. Banyak konsensus menganjurkan hiperresponsivitas jalan nafas tidak hanya sebagai faktor risiko asma, tetapi PPOK juga. Hiperresponsivitas jalan nafas juga berhubungan dengan perburukan gejala klinis yang memberi respons terhadap pemberian terapi steroid.6,8,11
Gambar 2. Faktor risiko asma dan PPOK serta pengaruh lingkungan dan penuaan8
Setelah melihat berbagai faktor risiko bersama untuk terjadinya asma dan PPOK, seperti penuaan, merokok, hiperresponsivitas jalan nafas, serta inflamasi, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana proses terjadinya overlap dari kedua kelainan ini. Dutch Hypothesis menyatakan bahwa asma dan hiperresponsivitas jalan nafas menjadi predisposisi terjadi PPOK di kemudian hari. Asma, PPOK, hiperresponsivitas jalan nafas, bronchitis kronik, dan emfisema merupakan ekspresi berbedadari satu kelainan pada jalan nafas. Munculnya ekspresi ini dipengaruhi faktor host dan lingkungan.6
Kriteria Klinis ACOS5
Konsensus bersama GINA dan GOLD telah merilis pedoman diagnosis ACOS. Pada consensus ini, langkah diagnosis dan manajemen ACOS dibagi menjadi lima langkah (step) utama. Step 1 mengidentifikasi penyakit jalan nafas kronik. Step 2 memilah temuan klinis pasien untuk menilai kecenderungannya ke arah asma atau PPOK. Step 3 panduan penilaian fungsi paru dengan spirometri. Step 4 berisi panduan pemberian terapi inisial. Step 5 memuat tentang panduan rujukan, bila diperlukan. Step 1
Kesimpulan yang harus didapat pada step 1 adalah keberadaan penyakit jalan nafas kronik. Langkah pertama ini sangat penting karena menentukan apakah investigasi dilanjutkan ke langkah berikutnya atau tidak. Step 1 ini dapat dilewati setelah melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan radiologis.
Pada anamnesis penting digali tentang riwayat gejala respirasi seperti batuk kronik, produksi dahak, sesak nafas, atau mengi serta kejadian infeksi saluran nafas berulang. Riwayat diagnosis asma atau PPOK sebelumnya, riwayat pengobatan dengan terapi inhalasi, riwayat merokok atau pajanan gas dan partikel berbahaya. Pada pemeriksaan fisik penting diidentifikasi tanda penyakit paru kronis dan hiperinflasi. Sementara pada pemeriksaan radiologis bias dengan rentang hasil normal hingga kelainan paru berat.
Step 2
Pada langkah kedua ini, dilakukan pengelompokan gejala, tanda, dan karakteristik klinis pasien apakah mengarah ke asma atau PPOK. Pada langkah ini dapat digunakan tabel ceklist yang terstandar (Gambar 3). Setelah dilakukan pengisian ceklist tadi, kemudian dihitung berapa checkbox yang terisi dari masing-masing kolom asma dan PPOK. Apabila pada salah satu kolom didapatkan 3 atau lebih checkbox terisi, maka diagnosis lebih cenderung ke kolom kelainan yang bersangkutan. Sedangkan bila pada kedua kolom terdapat checkbox yang terisi, diagnosis ACOS dapat dipertimbangkan pada pasien tersebut.
Step 3
Pemeriksaan spirometri sangat esensial pada asesmen pasien kelainan jalan nafas kronik. Waktu yang tepat untuk melakukan spirometri idealnya pada awal diagnosis, sebelum serta setelah initial treatment. Spirometri Gambar 3. Checkbox untuk diisi sesuai dengan temuan klinis pasien.
pada awal pasien datang dapat menjadi kriteria eksklusi, sehingga pasien tidak perlu mendapat initial treatment dan bisa menghemat waktu untuk langsung menjalani pemeriksaan lain sesuai dengan kelainan yang dideritanya. Sebaliknya bila diagnosis terkonfirmasi, dapat langsung menerima initial treatment. Karakteristik pengukuran spirometri untuk ACOS antara lain FEV1/FVC post bronkodilator < 0,7, test reversibilitas positif (peningkatan FEV1 post bronkodilator >12% atau 400ml dibandingkan baseline.
Step 4
Pemberian terapi disesuaikan dengan kecenderungan diagnosis yang didapat. Pada kasus asma diberikan terapi sesuai standar dari GINA. Sedangkan kasus PPOK diberikan terapi sesuai standar GOLD. Sementara terapi inisial apabila ACOS teridentifikasi adalah pemberian inhalasi kortikosteroid IC“ de ga ko i asi lo g a ti g β ago ist LABA) dengan/atau tanpa long acting muscarinic antagonist (LAMA). Terapi untuk faktor risiko eksaserbasi dan kondisi komorbid secara komprehensif juga diberikan pada pasien ACOS. Sementara penanganan non farmakologis seperti aktivitas fisik, stop merokok, rehabilitasi paru, serta vaksinasi juga tetap diberikan sesuai indikasi.
Step 5
Seperti halnya asma, pasien ACOS sebenarnya dapat ditangani pada fasilitas kesehatan primer. Beberapa kondisi berikut dapat menjadi
pertimbangan untuk merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi atau dokter spesialis terkait, yaitu:
Keluhan persisten dan sering eksaserbasi
Diagnosis tidak jelas
Pasien dengan asma atau ppok atipikal yang mengarah pada tambahan diagnosis kelainan respirasi lain
Kondisi komorbid yang mempengaruhi manajemen jalan nafas pasien
Masalah yang terjadi waktu pengobatan Ringkasan
Asthma COPD Overlap Syndrome (ACOS) merupakan sindrome kelainan jalan nafas kronis yang khusus. ACOS memiliki komponen asma dan PPOK secara bersama. Patogenesis ACOS merupakan gabungan pathogenesis asma, terutama dengan hiperresponsivitas jalan nafasnya, dan PPOK dengan air trapping dan progresifitas inflamasinya. Identifikasi sindrom ini pada kasus asma atau PPOK sangat penting dilakukan untuk memberikan penanganan yang lebih mengena dan berkaitan dengan faktor prognostik pasien ini ke depannya.
Daftar Pustaka
1. de Marco R, Pesce G, Marcon A, et al. The Coexistence of Asthma and Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD): Prevalence and Risk Factors in Young, Middle-aged and Elderly People from the General Population. PLoS ONE 2013;8(5): e62985
2. Postma DS, van den Berge M. The different faces of the asth a−COPD o erlap s dro e. Eur Respir J ; : –590. 3. Guerra S. Overlap of asthma and chronic obstructive pulmonary
disease. Curr Opin Pulm Med. 2004;11: 7–13.
4. Soriano JB, Davis KJ, Coleman B, et al. The proportional Venn diagram of obstructive lung disease: two approximations from the United States and the United Kingdom. Chest 2003;124:474-81. 5. GINA and GOLD joint project. Diagnosis of Diseases of Chronic
Airflow Limitation: Asthma, COPD and Asthma-COPD Overlap Syndrome (ACOS). 2015.
6. Papaiwannou A, Zarogoulidis P, Porpodis K, et al. Asthma-chronic obstructive pulmonary disease overlap syndrome (ACOS): current