BAB V ANALISIS DATA
5.2 Hasil Penelitian
5.2.1 Faktor Dari Dalam Diri Anak
Faktor dalam diri anak merupakan faktor yang berasal dari anak itusendiri.
Anak merupakan individu yang bisa berpikir dalam mengambilkeputusan.
Keterbatasan pemikiran anak terhadap suatu masalah dan resiko darimasalah tersebut menyebabkan anak cenderung berpemikiran pendek dalampengambilan keputusan. Keputusan untuk berhenti sekolah cenderung diambilanak karena mengalami permasalahan dan pertentangan pemikiran untukbersekolah tanpa mempertimbangkan resiko yang akan didapatkannya. Keputusanuntuk berhenti dari bersekolah dapat juga dipengaruhi oleh prestasi anak belajarmaupun karena tidak naik kelasnya anak dan juga karena tenaga pengajarnya yangkurang berkualitas dan suka marah akibat tidak selesainya tugas dari anak-anakyang dapat menggangu mental anak dan tentunya dapat menyebabkan duakemungkinan, yaitu anak akan mengulang pelajaran tersebut dan berusahamemperbaiki diri atau anak tersebut akan meninggalkan pelajarannya danmemutuskan untuk berhenti bersekolah.
Hal lain yang menjelaskan tentang minat belajar siswa, dikemukakan oleh Satria (2009) yang menyatakan bahwa prestasi belajar siswa adalah hasil
lemahnyapartisipasi belajar yang dilakukakan oleh siswa dalam belajar bergantung seberapakuat minatnya dalam belajar. Semakin kuat minat anak belajar tentu semakin kuatpula upaya dan daya yang dikerahkan untuk berpartisipasi dalam belajar.Sebaliknya, lemahnya minat anak akan melemahkan upaya dan daya untukbelajar.
Hal ini dapat terlihat dalam penelitian pada Informan II Mohamad Sidik bahwa keputusan berhenti dari sekolah merupakan keputusan dari dirinya sendiri.
Hal tersebut berawal dari rasa traumanya terhadap permusuhan dengan anak Gang karena pernah melihat temannya di pukuli hingga meninggal dunia saat perkelahian dengan anak Gang tersebut. Sebelum permasalahn tersebut terjadi pada dasarnya Mohamad Sidik memang malas bersekolah. Dalam seminggu dia hanya bersekolah 4 hari sementara 2 hari sisanya dia pasti tidak sekolah dengan berbagai mcam alasan. Kadang karena terlambat bangun kadang juga karena malas. Karena sering tidak masuk sekolah maka Mohamad Sidik mendapat surat panggilan dari sekolah. Namun dengan surat panggilan tersebut tidak diperdulikan Sidik hingga akhirnya dia harus putus sekolah. Mohamad Sidik juga mengatakan dia sudah tidak ingin lagi sekolah karena sudah nyaman dengan kehidupannya yang sekarang.
Informan III Mohamad Dafa Alfarizi putus sekolah karena memiliki rasa malas yang sangat tinggi. Kurangnya minat anak dalam belajar menjadikan Dafa akhinya berhenti dari sekolahnya. Berawal dari rasa traumanya terhadap guru yang mengajar di kelasnya, Dafa trauma karena dia pernah di tampar gurunya di kelas karena lasak sewaktu jam pelajaran. Ketakutan terhadap gurunya tersebut
abang dan kakaknya yang putus sekolah. Melihat kakak dan abangnya yang tidak lagi bersekolah membuat rasa malasnya menjadi terpupuk sehingga dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Dafa mau utuk bersekolah lagi tetapi ingin pindah sekolah dari sekolanya yang lama. Keinginan Dafa tersebut belum bisa di
\penuhi orangtua karena biaya pindah yang tidak murah dan uang belum mencukupi sehingga Dafa tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi.
Informan tambahan I anak dari Ibu Nuraina mengatakan anaknya putus sekolah karena rasa malasnya dan minat anaknya untuk sekolah sangat rendah.
Sewaktu bersekolah anaknya sering tidak mengerjakan tugas sekolah. Menurut anaknya tugas sekolahnya selalu banyak sehingga dia tidak sanggup untuk mengerjakannya. Di kelas juga anaknya sering tidur sewaktu gurunya menerangkan pelajaran di sekolah. Hal tersebut membuatnya sering di marahi gurunya di sekolah. Kejadian tersebut menjadikannya mengalami gangguan psikologis dan mengakibatkan dia malas untuk sekolah dan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti sekolah. Ibu Nuraina sangat ingin anaknya agar bisa sekolah lagi tetapi karena ketidaksanggupan ekonomi membuat anak Ibu Nuraina tidak bisa melanjutkan sekolahnya.
Informan tambahan II anak dari Ibu Nurhasanah putus sekolah karena rasa malas untuk sekolah di sebabkan trauma terhadap perkelahiannya dengan anak Gang yang pernah di alaminya. Ditambah lgi tugas sekolah anaknya yang selalu banyak, malas mengerjakan tugas rumah membuatnya sellau kena marah guru di sekolah. Karena hal tersebut lah anak Ibu Nurhasanah menjadi malas sekolah.
Anak Ibu Nurhasanah juga sudah tidak memiliki niat lagi untuk sekolah karena
waktu. Dia sudah nyaman dengan kehidupannya menjadi seorang nelayan jadi mals untuk sekolah lagi. Namun Ibu Nurhasanah masih tetap ingin anaknya sekolah walupun dengan keterbatasan ekonomi.
5.2.2 Faktor Dari Luar Diri Anak 1. Keluarga
Anak putus sekolah dalam penelitian ini sebagian berasal dari kondisiekonomi keluarga yang lemah namun ada juga bukan karena kondisi ekonomiyang lemah. Faktor ekonomi, kondisi sosial orangtua dan juga perhatian orangtuamerupakan faktor yang paling dominan dalam penelitian ini. Kondisi sosialorangtua dapat menyebabkan anak putus sekolah yang meliputi tingkatpendidikan dan jenis pekerjaan orangtua.Kondisi ekonomi juga tidak terlepas dari penyebab anak putus sekolahkarena kemiskinan adalah faktor yang mendominasi terhambatnya siswa untukmendapatkan pendidikan secara utuh. Hal ini dikarenakan orangtua siswa tidak mampu mampu memberikan fasilitas lengkap kepada anaknya untuk bersekolah.
Tingkat perekonomian keluarga pada kenyataanyamerupakan salah satu aspek penghambat kesempatan proses pendidikan danpembelajaran. Ada banyak anak usia sekolah yang terhambat kerena kondisiekonomi keluarga yang kurang mendukung.Perhatian orangtua adalah kebutuhan yang paling dibutuhkan anak untukperkembangan psikologis anak. Kurangnya perhatian orangtua akanmengakibatkan hilangnya motivasi anak dan cenderung akan rentan terpengaruhterhadap pegaulan yang tidak baik karena cenderung mereka merasa lebih nyamandengan pergaulannya sendiri.
Jelas terlihat dalam penelitian bahwa Informan I yaitu Aidil meninggalkan bangku sekolahnya karena kurangnya perhatian dari orangtuanya. Semenjak ibunya meninggal sekolah Aidil menjadi terabaikan. Ditambah lagi ayahnya pulang seminggu sekali karena ayahnya adalah seorang nelayan. Semenjak ibunya meninggal dunia Aidil di asuh oleh neneknya yang sudah tua dan mengurus banyak cucu. Dari cerita kehidupan Aidil tersebut dapat terlihat bahwa anak ini putus sekolah ada faktor kurangnya pengawasan dari orangtua sehingga mengakibatkan dia menjadi leluasa untuk melakukan apa yang di inginkannya.
Ketika rasa malasnya sekolah timbul dan tidak ada ada yang menasehati atau pun memotivasi dia maka kemalasan tersebut akan semakin tinggi dan mengakibatkan dia putus sekolah.
Informan II yaitu Mohamad Dafa Alfarizi meninggalkan bangku sekolahnya juga karena ada faktor kurangnya perhatian orangtua. Ayahnya yang tidak pernah perduli dengan sekolah anaknya menyebabkan 3 anak nya harus putus sekolah. Setiap ibunya bercerita mengenai persekolahan anak ayahnya tidak memberikan tanggapan yang positif. Beliau seolah-olah tidak perduli dengan persekolahan anaknya. Karena tidak ada yang melarang membuat Dafa semakin tinggi rasa malasnya. Ditambah lagi dengan dia putus sekolah tidak di permasalahkan oleh orangtuanya maka dia juga semakin leleuasa untuk membesarkan rasa malas tersebut sehingga harus membuatnya putus sekolah.
Informan IV yaitu Jihan meninggalkan bangku sekolah juga karena kurangnya perhatian orangtua. Semenjak ayahnya meninggal 10 tahun yang lalu dan ibunya meninggal dunia 3 tahun yang lalu mengharuskan Jihan harus putus
berpengaruh terhadap putusnya Jihan dari sekolah. Karena semenjak orangtuanya meninggal dia harus di asuh oleh kakaknya. Perhatian seorang kakak tidak akan pernah sama dengan perhatian orangtua apalagi kakak Jihan sudah menikah dan memilki anak. Ditambah lagi dia sudah bercerai dengan suaminya padahal usia pernikahannya baru seumur jagung. Dengan demikian otomatis perhatiannya terhadap Jihan tidak akan maksimal karena beban hidupnya juga banyak yang harus di pikirkannya. Maka dari itu Jihan harus terhenti sekolahnya karena kedua orangtuanya sudah meninggal dunia.
Informan tambahan I anak dari Ibu Nuraina harus putus sekolah karena malu dengan ejekan teman-temannya di sekolah yang mengatakan dia anak orang miskin. Hal tersebut terjadi karena dia sering di panggil guru ke kelas untuk menghadap ke kantor karena penunggakan uang sekolah. Karena terus-terusan di ejek oleh teman-temannya membuat psikologisnya tergangu. Sejak saat itu dia memutuskan untuk berhenti sekolah karena malu dengan ejek-ejekan teman-temannya.
Mengenai faktor ekonomi keluarga yang menjadi salah satu faktoe pemicu berhentinya seorang anak bersekolah dalam penelitian ini adalah menjadi faktor utama. Terlihat dari hasil penelitian yang di lakukan bahwa semua yang menjadi informan penelitian ini menyatakan bahwa kesulitan ekonomi lah yang menjadi faktor utama anak-anak tersebut putus sekolah. Walaupun memang di dipicu dengan beberapa faktor yang lain namun semua menyatakan faktor ekonomi selalu berperan terhadap berhentinya seorang anak dari sekolahnya.
Mulai dari Informan I Aidil putus sekolah karena kesulitan ekonomi.
sulit. Informan III Dafa putus sekolah juga di pengaruhi faktor ekonomi. Informan IV Jihan putus sekolah karena kedua orangtua meninggal sehingga tidak ada yang membiayai pesekolahannya. Informan tambahan I Ibu Nuraina anaknya putus sekolah juga karena permasalahan ekonomi dan informan tambahan II ibu Nurhasanah anaknya putus sekolah juga disebabkan rendahnya ekonomi keluarga.
Jadi dapat di simpulkan bahwa ekonomi masyarakat nelayan memang di bawah garis kemiskinan sehingga mengharuskan anak mereka putus dari sekolahnya.