BAB V ANALISIS DATA
5.1 Hasil Temuan
5.1.6 Informan Tambahan II
Informan tambahan yang kedua yang peneliti jadikan dalam penelitian ini
Melati Kelurahan Belawan 1 Kecamatan Medan Belawan Kota Medan yang bernama Ibu Nurhasanah. Alasan peneliti memilih Ibu Nurhasanah adalah karena beliau memiliki anak yang putus sekolah, dan beliau memahami mengapa anaknya putus sekolah.
Ibu Nurhasanah adalah salah satu warga di Lingkungan Lorong Melati, lahir di Belawan 03 Juli 1983. Yang sekarang sudah berusia 33 tahun, beliau tinggal di lingkungan Lorong Melati sudah sejak lahir dan memang orangtuanya juga tinggal di lingkungan tersebut. Suami Ibu Nurhasanah bekerja sebagai seorang nelayan dan bekerja menangkap ikan ke laut. Suaminya bekerja untuk orang lain dan biasanya pulang melaut seminggu sekali. Sementara Ibu Nurhasanah hanya bekerja sebagai Ibu rumah tangga dan sesekali bekerja cuci gosok di rumah-rumah tetangga di sekitar rumahnya.
Ibu Nurhasnah tinggal bersama suami dan anaknya di rumah yang sangat sederhana dan tidak layak huni. Rumah tersebut adalah rumah mertuanya.
Diperkirakan rumah tersebut hanya berukuran 2 x 3 m dan di tinggali oleh 6 orang. Keadaan dapur dan kamar mandi juga sangat buruk. Lantai nya sudah buruk karena terbuat dari papan dan dinding-dinding rumahnya hampir roboh. Di tempat ini lah keluarga Ibu Nurhasanah tinggal beserta keluarganya.
Ibu Nurhasanah memiliki 4 orang anak, 2 orang anak laki-laki dan 2 orang lagi anak perempuan. Anaknya yang pertama adalah seorang anak laki-laki berusia 16 tahun anaknya yang pertama ini adalah anaknya yang mengalami putus sekolah. Anaknya yang kedua adalah seorang anak perempuan yang sedang bersekolah di slah satu sekolah yang ada di daerah Belawan dan duduk di bangku kelas 4 SD. Anaknya yang ketiga adalah seorang anak perempuan sedang
bersekolah di salah satu Paud yang ada di dekat lingkungan mereka. Sementara anak nya yang ke empat masih berusia dua setengah tahun.
Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Nurhasanah pendapatan yang diperoleh suami nya per bulan nya tidak dapat di tafsirkan. Pendapatan suaminya tergantung hasil tangkapan ikan di laut. Biasanya setiap pulang dari melaut suaminya membawa uang berkisar Rp.200.000 - Rp.250.000 itu ketika hasil tangkapan banyak. Namun pernah juga suaminya hanya membawa penghasilan hanya Rp.25.000 hal ini di karenakan tidak ada hasil tangkapan di laut. Sementara penghasilannya ketika bekerja mencuci tidak lah seberapa sekali menggosok hanya mendapatkan penghasilan Rp.30.000 itu pun jika cucian banyak tetapi jika cucian hanya sedikit maka hanya mendapatkan Rp.15.000 sekali mencuci. Namun pekerjaan itu hanya sesekali di lakukannya karena anaknya yang paling kecil masih usia 2 tahun setengah jadi belum bisa untuk tinggal-tinggal. Dari penghasilannya mencuci hanya cukup sebagai tambahan untuk jajan anaknya dan digunakannya juga untuk tambahan-tambahan untuk keperluan sehari-hari.
“kalau ayahnya gak menentu penghasilannya nak tergantung hasil tangkapan di laut lah. Biasanya bapak bawa uang sekitar 200 ribu sampai 250 ribu lah tapi pernah juga waktu itu hanya bawa uang 25 ribu, kalau udah kek gitu udah lemas lah ibu heheh. Kalau penghasilan cuci gosok gak seberapa lah, paling banyak dapat 30 ribu pernah juga hanya dapat 15 ribu tergantung cucian lah nak, itu pun gak setiap hari bisa ibu lakukan karna kan anak ibu yang paling kecil masih 2 tahun setengah jadi belum bisa ditinggal”
Menurut penuturan Ibu Nurhasanah dari pendapatannya bersama suami sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi dengan pendapatan yang tidak menentu sementara mereka harus menghidupi dan
sekolah yang tidak murah. Baik itu uang sekolah, uang buku, ongkos sekolah, dan jajan anak-anak. Itulah sebabnya anak pertamanya tidak dapat melanjutkan sekolahnya sehingga harus putus sekolah.
“penghasilan ibu sama bapak sangat tidak cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari nak, apalagi masalah biaya uang sekolah, itu makanya anak ibu yang pertama putus sekolah salah satunya karena kesulitan ekonomi kami”
Dari hasil wawancara dengan Ibu Nurhasanah anaknya putus sekolah sudah 3 tahun. Putus sekolah ketika masih kelas 6 SD kira-kira pada semester ganjil. Seharusnya jika sekolah anaknya sekarang kelas 3 SMP. Sebelumnya anaknya pernah bersekolah di SDN 69 Belawan.
“sudah 3 tahun anak ku gak sekolah, terahir kemaren kelas 6 SD semester ganjil. Harusnya kalau tadi dia sekolah sekarang udah SMP 3 dia. Kemaren sekolahnya di SD 69”
Selain karena faktor kesulitan ekonomi anak Ibu Nurhasanah juga kurang minatnya untuk bersekolah. Dari pengakuan anaknya dia putus sekolah karena takut dengan anak Gang yang pernah mengejarnya karena berantem. Dia juga pernah melihat temannya di bunuh oleh anak Gang sehingga menimbulkan rasa trauma di dalam dirinya. Selain itu anaknya juga malas sekolah karena selalu banyak tugas dan malas jumpa guru. Gurunya di sekolah sering memarahinya karena tidak mengerjakan PR di rumah sehingga hal tersebut membuatnya malas untuk sekolah. Jadi faktor yang menyebabkan anak beliau putus sekolah tidak hanya masalah ekonomi tetapi di dukung oleh banyak faktor.
”udah malas sekolah kak, uang mamak pun gak dak terus kemaren juga ada masalah di sekolah kawan ku ada yang di bunuh anak Gang jadi takut aku. Kemaren aku juga di kejar orang itu tapi untung gak dapat nya. Terus aku juga malas sekolah kak karena gurunya kejam kali. Aku sering di marahi karena gak ngerjain tugas rumah”
Menurut Ibu Nurhasanah dia sudah memotivasi anaknya untuk tetap bersekolah. Menurutnya kalau masalah biaya masih tetap bisa di usahakan walaupun keadaannya sangat sulit. Tetapi suaminya mendukung anaknya tidak bersekolah karena kesulitan ekonomi. Menurut ayahnya lebih baik tidak sekolah karena biaya sekolah tersebut bisa digunakan untuk keperluan makan sehari-hari.
Selain itu juga memang anak mereka yang sudah tidak ingin bersekolah.
Walaupun sering di paksa sama Ibunya anak tersebut sudah tidak ingin bersekolah lagi.
“kalau ibu masih mau dia sekolah nak, menurut ibu kalau masalah biaya masih bisa di usahakan. Tapi kalau ayahnya memang suruhnya gak usah sekolah karena ga dak uang. Anaknya juga udah gak mau sekolah nak jadi memang payah lah udah ibu bujuk-bujuk pun tetap aja dia gak mau”
Semenjak tidak bersekolah anak Ibu Nurhasanah sudah banyak melakukan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Salah satunya adalah ikut ayahnya ke laut menangkap ikan. Pekerjaan itu memang tidak sering dilakukannya hanya sesekali bila di ajak oleh ayahnya. Selain itu juga anak beliau juga sering mencari botot di sekitaran rumahnya hal ini dilakukannya di sela-sela pekerjaannya melaut. Dari penghasilan yang di dapatnya digunakannya untuk kebutuhannya sendiri. Anak ibu Nurhasanah tidak pernah memberikan kepada beliau hasilnya dari bekerja.
Dari hasil wawancara dengan anaknya Ibu Nurhasanah dia memang sudah tidak ingin bersekolah. Dia sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang.
Kedepannya dia ingin menjadi nelayan seperti ayahnya. Karena kalaupun di suruh sekolah dia sudah tidak minat. Karena sekolah menurutnya hanya buang-buang
uang danhanya membuang waktu. Menurutnya sekolah adalah hal yang membosankan dan bukan pendidikan yang menentukan masa depan seseorang.
“udah malas sekolah kak, lebih baik jadi nelayan aja. Sekolah itu hanya buang-buang uang dan membosankan. Lagian aku udah nyaman dengan hidup seperti ini”
Namun menurut Ibu Nurhasanah pendidikan sangat lah penting untuk masa depan anaknya. Jika tidak sekolah maka kehidupannya tidak akan bisa maju.
Walaupun tidak seijin suaminya Beliau tetap memotivasi anaknya agar mau bersekolah lagi. Beliau tidak ingin kehidupannya sama sepertinya kelak beliau masih berharap agar anaknya bisa bersekolah dan tidak menjadi nelayan. Karena menurutnya pekerjaan nelayan adalah pekerjaan yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak.
”masih ku motivasi anak ku ini untuk sekolah, karena sekolah itu kan penting untuk masa depan. Kalau bisa jangan lah dia jadi nelayan karena nelayan ini gini-gini aja kehidupannya ga dak majunya”