BAB V ANALISIS DATA
5.1 Hasil Temuan
5.1.3 Informan III
Informan yang ketiga bernama Muhamad Dafa Alfarizi seorang anak laki-laki berusia 12 tahun. Lahir di Belawan pada tanggal 27 Maret 2005. Dafa merupakan anak ketiga dari 5 bersaudara yaitu 4 orang laki-laki dan satu orang
perempuan, bersuku Melayu dan beragama muslim. Ia lahir dan tumbuh di di Belawan tepatnya di Lorong Melati Kelurahan Belawan 1 Kecamatan Medan Belawan Kota Medan, tinggal dengan kedua orangtua serta saudara-saudaranya.
Ayahnya merupakan seorang nelayan melaut dan pulang seminggu sekali. Ketika ayah mereka pergi melaut Dafa dan saudaranya di urus oleh Ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci gosok. Saudarnya yang pertama adalah seorang anak laki-laki yang juga sudah putus sekolah semenjak setahun yang lalu sedangkan saudaranya yang kedua adalah seorang anak perempuan yang juga sudah berenti sekolah.
Sementara adik-adiknya masih belum bersekolah.
Dafa pernah mengemban pendidikan di salah satu sekolah di daerah Belawan yang mereka sebut dengan sekolah Pajak Baru. Dafa tidak bersekolah hampir setahun lamanya dan memutuskan sekolahnya ketika kelas 5 SD tepatnya di semester ganjil.
“sudah setahun lah kak aku gak sekolah, aku bernti sekolah kelas 5 SD kalau tidak salah waktu semester ganjil”
Berdasarkan hasil wawancara dengan Dafa dia menyatakan putus sekolah karena memang malas bersekolah. Alasan yang pertama karena dia pernah kena tampar guru sewaktu masih sekolah karena sering lasak di kelas. Semenjak dia di tampar oleh gurunya dia menjadi malas sekolah dan takut untuk berjumpa dengan guru tersebut.
“aku pernah kena tampar kak sama guru ku, karna kemaren itu aku lasak di kelas, jadi takut aku liat guru ku itu jadinya malas aku sekolah”
Karena ketakutannya dengan guru kelasnya tersebut membuat Dafa menjadi malas untuk datang ke sekolah. Pada dasarnya memang minat belajar
bisa membaca. Dia hanya mengenal huruf namun belum bisa menyatukan huruf kemudian membacanya. Menurut pengakuan orangtuanya Dafa memang tidak memilki minat untuk bersekolah.
“Dafa ini malas kali sekolahnya, gak mau belajar, baca pun dia sampai sekarang belum tahu, dia hanya kenal huruf tapi gak tahu baca”
Ketakutannya dengan guru di sekolah bukanlah menjadi alasan satu-satunya Dafa memutuskan untuk berhenti bersekolah. Salah satu alasan lain adalah karena dia melihat abang dan kakaknya sudah berhenti sekolah sehingga rasa malasnya seperti terpupuk dengan melihat abang dan kakaknya tidak bersekolah. Dulunya Dafa beserta abang dan kakaknya bersekolah di sekolah yang sama namun ketika kakak dan abangnya berhenti sekolah dia juga ikut-ikutan malas untuk sekolah.
“malas lah sekolah kak, abang dan kakak ku aja berenti sekolahnya, kalau aku sendiri sekolah disitu malas lah aku kak, jauh pula sekolahnya”
Berhentinya abang dan kakaknya dari sekolah itu membuat Dafa menjadi malas untuk sekolah. Ditambah lagi orangtuanya seperti nya tidak begitu mempermasalahkan atas berhentinya ketiga anaknya bersekolah. Menurut pengakuan Ibunya dia sudah menyuruh anaknya untuk bersekolah tetapi anak-anaknya memang yang tidak mau untuk bersekolah.
“kusuruhnya anak-anak ku ini bersekolah, tapi memang gak pala ku paksa karena kalau dipaksapun kalau anaknya yang gak mau susah itu nak”
Ayah mereka juga tidak terlalu peduli dengan pendidikan anak-anaknya.
Ketika pulang dari melaut dia tidak penah menanyakan kepada istrinya mengapa anak-anaknya berenti bersekolah. Ketika waktu pulang ke rumah dia pulang dan
ketika waktu pergi melaut dia pun pergi tanpa pernah menanyakan tentang pendidikan anak-anaknya.
“kalau ayah anak-anak ini gak pernah nanyak tentang sekolah anaknya, ibu pun malas cerita kalau gak ditanya, ibu juga pusing memikirkan sendiri ya sudah biarkan za lah”
Memang mereka tidak pernah bertengkar tetapi ketika dihadapkan dengan permasalahan anak-anaknya ayahnya tidak menunjukan perhatian sebagaimana orangtua lainnya. Ayahnya hanya sekedar mencari uang dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya tanpa memperdulikan tentang pendidikan anaknya.
“kami sama bapak gak pernahnya berantem nak, tapi memang bapak orang ini gak mau tahu kalau masalah anak, apalagi kalau maslah sekolah, dia hanya tahunya cari makan heheh...”
Faktor ekonomi juga menjadi salah satu pemicu berhentinya Dafa dari sekolah. Karena pendapatan yang tidak seberapa sementara banyak kebutuhan yang harus dipenuhi membuat persekolahan Dafa beserta abang dan kakaknya sulit untuk di lanjut kan. Pendapatan ayahnya yang bisa dikatakan sangat jauh dari cukup tidak memungkinkan bagi mereka untuk bersekolah. Ayahnya hanya mampu membawa uang Rp.400.000 - Rp.500.000 selama seminggu bekerja di laut. Sementara mereka harus membiayai keperluan kelima anak mereka.
“gak cukuplah uang segitu untuk biaya sekolah nak, hanya cuup untuk makan za nya, apalagi sekolah orang ini kemaren jauh kan, jadi ongkos setiap hari sama jajannya za udah berapa”
Semenjak Dafa tidak lagi bersekolah tidak ada kegiatan yang dilakukannya. Sepanjang hari kerjanya hanya bermain dengan teman, main warnet dan seseklai menjaga adiknya. Menurut pengakuannya Dafa bisa menghabiskan waktu selama 5 jam bermain di warnet. Ketika di warnet kegiatan yag dilakukannya adalah bermain game PB (Point Blank).
“ga dak kerjaan ku kak, paling sering main di warnet lah, main game PB kak hehehe”
Dafa masih ingin melanjutkan sekolahnya namun permintaannya kepada orangtuanya adalah dia dipindahkan dari sekolah lamanya. Sekolahnya yang lama terlalu jauh jika dia berangkat sendirian maka dia mau sekolah jika dia di pindahkan ke sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Namun permintaannya itu belum bisa dikabulkan oleh orangtuanya karena biaya untuk pindah sekolah bukan lah murah. Dengan pendapatan yang pas-pasan sekolah Dafa tidak dapat di pindahkan secepatnya.
“gimana lah nak Dafa ini minta pindah sekolah tapi kan baiya pindah sekolah bukannya murah, mahal kali. Sementara pendapatan kami hanya cukup untuk makan sehari-hari. Ya harus sabar lah kapan ada duit nanti disitu za sekolahnya”
Berheti sekolah tidak membuat Dafa menjadi minder atau malu dengan teman-teman sepergaulannya. Karena di lingkungan tepat tinggalnya banyak sekali anak yang putus sekolah. Maka dari itu walaupun tidak sekolah dia tidak merasa minder bahkan terlihat dia sangat menikmati hidupnya walaupun sudah tidak bersekolah lagi.
“gak malu lah kak, biasa za nya. Disni itu kak banyak kali anak yang gak sekolah. Banyak kali pun. Bahkan teman-teman ku lebih banyak yang tidak sekolah daripada yang sekolah tiap hari kami main bersama”
5.1.4 Informan IV
Informan yang keempat bernama Jihan seorang anak perempuan berusia 12 tahun, lahir di Belawan 10 Oktober 2005, anak ke empat dari 5 bersaudara ini bertempat tinggal di Lorong Melati Kelurahan Belawan 1 Kecamatan Medan Belawan Kota Medan. tinggal bersama kakak nya dan seorang adiknya. Kedua
sementara ibunya meninggal 3 tahun yang lalu. Ayahnya meninggal di tengah laut ketika menangkap ikan hal itu dikarenakan kapal yang digunakan ayahnya untuk menangkap ikan mesinnya terbakar. Ibunya meninggal karena sakit sehingga membuat Jihan menjadi seorang anak yatim piatu.
Juhan berhenti sekolah sejak setahun yang lalu tepatnya pada semester genap kelas 5 SD. Ia memutuskan sekolah karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan. Semenjak kedua orangtua meninggal dunia Jihan dan adiknya di asuh oleh kakaknya. Kakak Jihan yang pertama sudah menikah dan memiliki anak satu namun sudah bercerai dengan suaminya. Semenjak sudah bercerai dengan suaminya kakak Jihan kembali ke rumah orangtua mereka dan tinggal bersama-sama. Kakak Jihan yang kedua tinggal juga bersama mereka namun kakaknya tersebut juga tidak bekerja. Sementara kakak Jihan yang ketiga bekerja di Malaysia dan kakak nya tersebut yang membiayai kehidupan mereka semua. Jihan juga memiliki seorang adik laki-laki yang masih kecil. Dia sedang bersekolah di salah satu sekolah yang ada di dekat lingkungan tempat mereka tinggal.
“aku putus sekolah semenjak kelas 5 SD kak, pas mau naik kelas 6 waktu itu, sekarang udah hampir setahun lah aku gak sekolah”
Sebenarnya Jihan sangat ingin bersekolah namun karena kesulitan ekonomi membuatnya harus berhenti sekolah. Semasa sekolah Jihan sering sekali berangkat sekolah tanpa uang jajan, walaupun keadaan demikian dia tetap memaksakan diri untuk bersekolah. Namun, ketika di hadapkan dengan permasalahan biaya sekolah Jihan tidak punya pilihan lain selain berhenti sekolah.
Karena kakaknya tidak mampu untuk membiayai persekolahan adiknya.
“sebenarnya aku mau sekolah kak, tapi kek mana lah kak, semenjak mamak meninggal kakak gak sanggup membiayai uang sekolah ku”
Menurut penuturan tetangganya kehidupan keluarga Jihan sangat berubah semenjak kedua orangtuanya meninggal. Ditambah lagi kakaknya yang pertama bercerai dengan suami nya dan kembali ke rumah orangtuanya dengan membawa seorang anak. Mereka sangat kesulitan ekonomi karena kehidupan mereka hanya di biayai oleh kakak Jihan yang bekerja di Malaysia.
“kasihan lah dek si Jihan itu semenjak bapak dan mamaknya sudah meninggal kehidupannya sangat berubah. Dia harus putus sekolah dan kesulitan biaya makan”
Kesulitan ekonomi mengharuskan mereka hidup dalam kekurangan.
Kakak nya yang pertama sebenarnya ingin bekerja untuk bisa menyekolahkan adiknya namun karena anaknya masih kecil sehingga belum bisa untuk ditinggalkan.
“mau sih cari kerja kak tapi anak ku masih kecil belum bisa di tinggal, kalau dibiarkan Jihan yang jaga takutnya dia belum terampil karena kan masih terlalu kecil juga”
Kakaknya sebenarnya sangat ingin menyekolahkan Jihan apalagi Jihan sangat antusias untuk bersekolah namun keinginan itu terhalang karena kesulitan ekonomi. Untuk biaya makan sehari-hari saja mereka harus bersusah payah.
Apalagi biaya sekolah sekarang sangat mahal karena alasan itu lah yang membuat Jihan harus putus sekolah.
”sebenarnya kasihan Jihan kak gak bia sekolah, tapi mau gimana biaya makan kami sehari-hari saja sangat sulit apalagi untuk sekolah, kami benar-benar tidak mampu, makanya ku bilang sma Jihan ini sabar-sabar lah kalau nanti ada uang kan bisa ambil ijasah aja”
Selama Jihan tidak bersekolah dia menjadi malas bergaul dengan teman-temannya. Dia lebih banyak menyendiri dan berdiam diri di rumah. Dia menjadi anak yang pendiam dan pemalu. Ketika berkomunikasi dengan orang lain dia
hari dia memang tidak pernah mendesak kakaknya untuk kembali bersekolah namun dari sikap yang ditunjukkannya Jihan sebenarnya sangat ingin untuk bersekolah lagi.
”ya gitu lah kak, selama gak sekolah Jihan udah banyak berubah, dia menjadi pendiam dan tidak percaya diri, memang dia tidak mendesak untuk sekolah lagi tapi sebenarnya kami tahu dia sangat ingin sekolah. Tapi kembali lagi kak kalau tidak ada biaya mau bilang apa lebih baik gak usah sekolah lah daripada gak makan hehehhe”
Setiap harinya tidak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang Jihan lakukan. Dia hanya membantu pekerjaan rumah dan sesekali menjaga keponakannya yang masih kecil. Namun terkadang dia juga mau jika disuruh cuci gosok oleh tetangganya dan uangnya digunakannya untuk tambah-tambah biaya keperluan sehari-hari. Tetapi pekerjaan itu tidak rutin dilakukan nya karena Jihan masih terlalu kecil untuk bekerja sehingga tetanga-tetangganya pun kasihan untuk menyuruhnya.
“kerjaan ku dirumah itu lah kak, cuci piring, nyapu, kadang-kadang jaga keponakan. Tapi mau juga kadang aku di suruh nyuci sama tetangga di sini kak, upahnya kadang aku pakek untuk beli sayur atau palah yang ga dak di rumah, tapi itu gak sering kak, kalau ada yang suruh za nya itu”
Menurut pengakuannya putus sekoah membuat Jihan menjadi tidak percaya diri dengan teman-temannya dan hal itu membuatnya malas untuk bermain bersama. Dia merasa bahwa dia adalah anak yang paling bodoh karena tidak bersekolah. Memang anak laki-laki sangat banyak yang putus sekolah di lingkungan nya namun anak perempuan sangat sedikit yang putus sekolah. Anak perempuan lebih banyak yang bersekolah jadi ketika Jihan tidak bersekolah dia menjadi tidak percaya diri dengan teman-temannya sehingga hal tersebut membuatnya malas untuk bergaul dan keluar rumah.
“kalau anak cewek disini semua sekolah kak, makanya aku malu karna gak sekolah, aku ngerasa jadi anak yang paling bodoh karena gak sekolah, maka nya jadi malas aku main sama orang ini”