ANALISIS ISU – ISUSTRATEGIS
2. Faktor Eksternal
a. Peluang (Opportunity)
1. Tingginya permintaan terhadap komoditas pertanian, perikanan dan perkebunan;
2. Adanya program pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dalam pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan;
3. Adanya kerjasama pemerintaha daerah dengan NGO berkaitan dengan peningkatan kualitas SDM dan penyediaan kebutuhan dasar masyarakat; 4. Adanya kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dalam
peningkatan sektor pendidikan, pelayanan kesehatan, dan infrastruktur; 5. Tersedianya regulasi dalam rangka efektivitas reformasi birokrasi dan
peningkatan sumber daya manusia;
6. Adanya minat investor di bidang industri, pertambangan, perkebunan, perikanan dan kelautan;
b. Ancaman (Treat)
1. Beredarnya produk luar (impor) dengan harga bersaing; 2. Masuknya tenaga kerja terampil dari luar daerah; 3. Sumber daya alam yang semakin terdegradasi; 4. Masuknya pengaruh budaya asing;
5. Pelanggaran batas teritorial; 6. Potensi wilayah rawan bencana; 7. Terjadinya pendangkalan aqidah.
Berdasarkan analisis SWOT di atas, maka dapat diketahui permasalahan-permasalahan pokok dalam membangun Kabupaten Aceh Barat Daya, yaitu :
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 164 1. Belum optimalnya pelaksanaan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan.Reformasi birokrasi dan tata kelola tidak bisa lepas dari kekuatan dan kelemahan sumber daya aparatur pemerintahan dan strukturisasi kelembagaan. Hal ini dapat dilihat dari aspek yang sangat fundamental seperti rendahnya kualitas dan kredibilitas sumber daya aparatur pemerintahan terutama dalam proses administrasi birokrasi dan penguasaan teknologi. Selain itu, pemerintahan diindikasikan belum terbebas dari KKN dan kinerja pemerintahan masih belum aspiratif dan visioner dalam proses perencanaan pembangunan di tengah-tengah tuntutan masyarakat yang dinamis terhadap pemerataan pelaksanaan pembangunan.
2. Masih kurangnya penguatan terhadap pelaksanaan Syariat Islam.
Meskipun pelaksanaan Syariat Islam telah berjalan, akan tetapi penguatan terhadap pelaksanannya masih memerlukan penguatan. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Pengawasan terhadap pelaksanaan Syariat Islam juga masih lemah mengakibatkan meningkatnya pelanggaran syariat yang terjadi.
3. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia.
Sistem pengelolaan pendidikan dan ketersediaan prasarana dan sarana pendukung lainnya yang masih terbatas, menyebabkan kualitas SDM daerah untuk berbagai jenjang pendidikan (formal dan informal) masih relatif rendah.
4. Rendahnya kualitas dan pelayanan kesehatan.
Keterbatasan prasarana dan sarana kesehatan dan masih belum optimalnya upaya pelayanan kesehatan, menyebabkan rendahnya kualitas dan pelayanan kesehatan.
5. Tingginya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka.
Penduduk miskin di Kabupaten Aceh Barat Daya pada tahun 2010 tercatat sebesar 19,94 persen dimana angka ini lebih besar dari penduduk miskin tingkat nasional yang hanya sebesar 12,36 persen. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada tahun 2011 sebesar 6,83 persen, tidak jauh berbeda dengan
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 165 angka pengangguran terbuka nasional sebesar 6,80 persen. Hal ini terjadi karena minim dan terbatasnya ketersediaan lapangan pekerjaan akibat belum maksimalnya upaya untuk mengundang investor menanamkan modalnya di daerah.
6. Belum optimalnya pemberdayaan dan pengembangan sektor UMKM.
UMKM menempati posisi strategis untuk mempercepat perubahan struktural dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sebagai wadah kegiatan usaha bersama bagi produsen maupun konsumen, UMKM berperan dalam meningkatkan posisi tawar dan efisiensi ekonomi rakyat. Namun permasalahan utama yang dihadapi adalah masih terbatasnya akses UMKM kepada sumberdaya produktif. Akses kepada sumber daya produktif terutama terhadap permodalan, teknologi, informasi dan pasar. Dalam hal pendanaan, produk jasa lembaga keuangan sebagian besar masih berupa kredit modal kerja, sedangkan untuk kredit investasi sangat terbatas. Bagi UMKM keadaan ini sulit untuk meningkatkan kapasitas usaha ataupun mengembangkan produk-produk yang bersaing.
7. Belum optimalnya pembangunan prasarana dan sarana infrastruktur.
Pembangunan prasarana dan sarana memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung aktivitas ekonomi, sosial, budaya, serta sebagai modal dasar dalam memfasilitasi interaksi dan komunikasi di antara kelompok masyarakat serta mengikat dan menghubungkan antar wilayah. Masih kurangnya prasarana dan sarana dalam mendukung perkonomian daerah seperti infrastuktur dasar, prasarana dan sarana transportasi (darat, laut dan udara), perumahan layak, infrastruktur energi, komunikasi dan informatika.
8. Kurangnya keterlibatan sektor swasta dan dunia usaha.
Permasalahan utama yang dihadapi daerah pada umumnya di dalam perekonomian adalah masih terbatasnya peran swasta dan dunia usaha dalam proses pembangunan. Rendahnya iklim investasi menyebabkan daearah masih sangat tergantung kepada alokasi anggaran pemerintah (APBN, APBA dan APBK).
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 166 9. Rendahnya pemanfaatan potensi Sumber Daya Alam.
Kabupaten Aceh Barat Daya memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar. Potensi sumber daya alam yang utama adalah potensi pertanian, perkebunan, kelautan dan pariwisata serta pertambangan yang bisa menjadi modal dan pemicu pembangunan wilayah. Namun demikian, pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya alam tersebut masih belum maksimal.
10. Belum optimalnya pengembangan kawasan strategis.
Pembangunan yang berkeadilan adalah pembangunan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, tak terkecuali daerah kawasan pedalaman dan permukiman terpencil. Belum optimalnya pengembangan kawasan strategis ini merupakan kendala bagi daerah di tengah tuntutan masyarakat terhadap pemerataan kesejahteraan.
11. Kota Blangpidie sebagai ibukota Kabupaten yang belum tertata dengan baik. Sebagai ibukota Kabupaten, kawasan Kota Blangpidie selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Barat daya juga sebagai pusat kegiatan perdagangan/perekonomian dan pendidikan. Hal ini merupakan potensi dalam pertumbuhan dan perkembangan pada masa yang akan datang. Namun demikian, dalam perkembangannya selama ini, Kota Blangpidie belum mencerminkan sebagai ibukota Kabupaten yang layak dan modern. Prasarana dan sarana perkotaan masih minim, belum adanya ruang hijau di pusat kota, dan belum tertatanya pusat pemerintahan dan perdagangan masyarakat secara terpadu.
12. Suasana sosial dan politik kemasyarakatan masih belum stabil.
Tingginya partisipasi masyarakat dalam pengawasan pembangunan di daerah merupakan modal awal dalam pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan pemahaman masyarakat tentang pengertian politik yang baik dengan mengedepankan toleransi politik antar masyarakat dan stakeholder dalam pemerintahan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 167
4.2. Isu Strategis
Isu strategis pembangunan Kabupaten Aceh Barat Daya dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:
1. Isu strategis internasional; 2. Isu strategis nasional; 3. Isu strategis daerah.