• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGKA HARAPAN HIDUP

PRODUKSI TELUR

B. Jumlah UMKM Aktif

2.4.1.4. Industri dan Perdagangan

A. Industri

Sektor industri belum memberikan kontribusi yang berarti terhadap penyediaan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja serta pembentukan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Industri Kabupaten Aceh Barat Daya hanya mengandalkan kepada industri pengolahan dari migas, namun terus mengalami penurunan seiring dengan menurunnya produksi migas Aceh.

Berdasarkan kontribusi nilai tambah PDRB selama lima tahun terakhir, harapan besar tertumpu pada pengembangan industri non migas sedangkan industri migas dalam jangka panjang tidak dapat diandalkan. Dari jenis industri, jumlah usaha industri kecil menengah sampai tahun 2008 adalah 702 unit atau meningkat sekitar 21,66 persen dari tahun 2007 atau sejumlah 577 unit. Demikian pula untuk tahun 2009 populasi industri kecil menengah mengalami kenaikan yang sangat signifikan sebesar 27,20 persen atau 734 unit. Demikian pula untuk tahun 2010 Juga mengalami kenaikan sebesar 28,59 persen (742 Unit), dan untuk tahun 2011 kembali mengalami kenaikan hanya 30,15 persen (751 Unit) sebagaimana dapat dilihat pada di bawah ini.

/ KOTA Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha Usaha

Kecil M Kecil M Kecil M Kecil M Kecil M Kecil M

1 Aceh Barat Daya 898 620 40 3 7 - 4 - - 257 5 4 9 7 - 17 7 - 1.878

898 620 40 3 7 - 4 - - 257 5 4 9 7 - 17 7 - 1.878 Total Mikro Pertambangan Industri SEKTOR Jumlah

Mikro Mikro Mikro Mikro Mikro

Perikanan dan Kelautan Transportasi NO KABUPATEN Perdagangan / Jasa Pertanian

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 130

Tabel 2.72

Perkembangan Industri Tahun 2007 – 2011

No Satuan 2007 2008 2009 2010 2011

1 3 4 5 6 7 8

1. Unit Usaha Unit 577 702 734 742 751

a. Industri Kecil & Menengah Unit 577 702 734 742 751

b. Industri Besar Unit

2. Tenaga Kerja Orang 1.800 2.333 2.477 2.493 2.513

a. Industri Kecil & Menengah Orang 1.800 2.333 2.477 2.493 2.513

b. Industri Besar Orang

3. Investasi Rp/ Juta 17.538.158 43.533.050 47.455.050 50.824.280 56.431.275

a. Industri Kecil & Menengah Rupiah/ Juta 17.538.158 43.533.050 47.455.050 50.824.280 56.431.275

b. Industri Besar Rupiah/ Juta

4. Produksi Rp/ Juta 159.521.988 371.166.991 424.825.541 482.390.231 501.421.310

a. Industri Kecil & Menengah Rupiah/ Juta 159.521.988 371.166.991 424.825.541 482.390.231 501.421.310

b. Industri Besar Rupiah/ Juta

5. BB/ BP Rp/ Juta 126.649.667 191.014.881 230.794.139 272.521.010 310.250.332

a. Industri Kecil & Menengah Rupiah/ Juta 126.649.667 191.014.881 230.794.139 272.521.010 310.250.332

b. Industri Besar Rupiah/ Juta - - - -

-U raian 2

Sumber : Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Aceh Barat Daya

Tabel diatas menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja dibidang industri pada tahun 2007 sejumlah 1.800 orang meningkat menjadi 2.477 orang (2009), pada tahun 2010 terjadi peingkatan penyerapan tenaga kerja sebesar 2.493 seiring dengan perubahan penetapan kriteria terhadap pengelompokan jenis industri. Sedangkan untuk tahun 2011 kembali terjadi peningkatan 2.513 orang.

Selanjutnya, investasi mengalami peningkatan dari 17.538.158milyar rupiah (2007) menjadi 47.455.050milyar rupiah (2009). Kemudian terjadi peningkatan di tahun 2010 menjadi 50.824.280 milyar rupiah dan tahun 2011 juga terjadi kenaikan menjadi 56.431.275 milyar rupiah.

B. Perdagangan

Salah satu sarana untuk mendukung sektor perdagangan di tengah-tengah masyarakat adalah ketersediaanya pasar tradisional dalam mendukung jual beli baik antar desa, kecamatan maupun kabupaten/ kota. Sampai dengan tahun 2010 jumlah pasar yang telah dibangun melalui dana APBN dan APBA sebanyak 6 Unit.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 131

Tabel 2.73

Perkembangan Pembangunan Pasar Tradisional 2009 – 2010

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1. Lembah Sabil 2. Manggeng 1 1 1 1 3. Tangan-Tangan 1 4. Setia 1 5. Blang Pidie 1 1 6. Susoh 1 1 2 1 1 1 1 7. Jeumpa 8. Kuala Batee 1 1 1 9. Babahrot 2 2 1 2 3 4 3 1 5 6

No Kecamatan Jumlah Pasar (Unit)

JUMLAH

Sumber : Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Aceh Barat Daya tahun 2011.

Masalah dan tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh sektor perdagangan adalah semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia sebagai dampak lanjutan dari krisis global, yang akan berakibat pada melemahnya permintaan dunia dan aktivitas produksi global. Akibatnya, tingkat persaingan produk ekspor di pasar global akan semakin ketat dan harga komoditas belum menggembirakan.

Pembentukan IMT-GT dapat dikatakan merupakan tindak lanjut dan pengembangan kerja sama di antara pengusaha-pengusaha swasta dan Indonesia, Malaysia, Thailand yang telah mempunyai hubungan historis karena posisi wilayahnya yang berdekatan. Kerjasama IMT-GT sendiri sudah bermula sejak tahun 1991 dan diresmikan dalam pertemuan di Langkawi pada bulan Juli 1993. Kerja sama IMT-GT dilakukan untuk mengusahakan kompleksitas sumberdaya yang dimiliki ketiga negara sub-wilayah ini.

Tantangan lain adalah adanya kemungkinan serbuan produk impor dari negara lain seperti pemberlakuan ACFTA. Negara-negara ASEAN telah setuju mewujudkan kawasan perdagangan bebas dimana akan membuat pasar kita jadi sasaran empuk bagi negara lain. Disisi lain, daya saing produk luar sangat mendominasi beberapa tahun ini terutama China. Akibatnya, kita pun mengkhawatirkan dominasi produk luar negeri di pasar domestik. Tingginya daya saing produk luar negeri harus diantisipasi dengan peningkatan daya saing produk lokal.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 132 Untuk mendukung ekpor/impor Indonesia wilayah barat, Sabang ditetapkan sebagai pelabuhan bebas dengan undang-undang nomor 27 tahun 2000 tentang Badan pengelolaan Kawasan Sabang, undang-undang nomor 26 tahun 2006 tentang penataan ruang menetapkan Sabang sebagai PKSN, demikian juga dalam undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang pemerintah Aceh bahwa Sabang sebagai hubport internasional. Namun sampai saat ini pelabuhan bebas Sabang belum berkembang secara optimal.

Sejak tahun 1999 sumber daya fiskal Aceh mengalami peningkatan yang signifikan. Aceh merupakan salah satu daerah penerima manfaat desentralisasi. Selama beberapa tahun terakhir Aceh telah menerima arus masuk pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tingkat sumber daya keuangan Aceh diperkirakan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Pendapatan tersebut terutama karena adanya UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang mulai diimplementasikan sejak tahun 2008. Melalui UU tersebut Aceh mendapat hak berupa dana tambahan bagi hasil Migas dan dana otonomi khusus. Akan tetapi hak tersebut terbatas pada masa waktu 20 tahun. Penerimaan Aceh dari dana otonomi khusus yang dimulai sejak tahun 2008 terus meningkat.

Mendorong investasi swasta merupakan salah satu prioritas utama dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Dimana melalui investasi swasta lapangan pekerjaan baru dapat tercipta, demikian juga peningkatan produktivitas serta terjadinya proses ”transfer of knowledge”. Penanganan yang menyeluruh terhadap isu keamanan dan solusi yang kreatif terhadap keterbatasan terhadap pasokan sumber daya listrik di Aceh adalah faktor penting yang dapat mendorong investasi. Akan tetapi rendahnya produktivitas tenaga kerja, minim tenaga kerja terampil dan relatif tingginya UMP masih menjadi masalah yang harus segera diatasi. Penetapan UMP Aceh 1,2 juta rupiah per bulan lebih tinggi dari nasional berdampak terhadap tingkat daya saing Aceh dalam menarik investasi di sektor formal.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 133

2.4.1.5. Pertambangan dan Energi A. Pertambangan

Potensi pertambangan di Kabupaten Aceh Barat Daya terdiri dari potensi bahan galian batuan, mineral bukan logam dan potensi bahan galian logam. Potensi tersebut relatif besar dan menyebardiseluruh wilayah kabupaten, adapun jenis potensi tambang tersebut adalah: