• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGKA HARAPAN HIDUP

PRODUKSI TELUR

B. Jumlah UMKM Aktif

3. Sebaran Penggunaan Air Bawah Tanah

2.4.1.7. Sumber Pendanaan

- Pemandian Air Terjun

- Panton Cut - -

Pantai Lama Muda

Situs Peninggalan Bersejarah

Portugis

- Makam Tgk.Djakfar Lailon

8. Babahrot - Krueng Babahrot - Raja Malaka Wisata Alam dan

Sejarah

- Wisata Perkebunan - Krueng Seumayam

- Perkebunan Sawit

Sumber : Draf RTRW Kabupaten Aceh Barat Daya, 2012 (diolah)

Dari tabel potensi wisata di atas terlihat bahwa Kabupaten Aceh Barat Daya memiliki daya tarik dan objek wisata yang unik dan beragam. Pembangunan pariwisata tidak hanya turut andil dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), tetapi lebih dari itu, pariwisata merupakan spektrum fundamental pembangunan yang luas bagi suatu daerah. Pembangunan pariwisata ditunjukan, antara lain a) pembukaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan; b) pembangunan berkelanjutan (suistainable development); c) pelestarian budaya (culture preservation); d) peningkatan ekonomi dan industri; dan e) pengembangan teknologi. Sebagai kegiatan ekonomi, di harapkan pengembangan dan pemanfaatan objek wisata tersebut dapat bermanfaat bagi daerah dan masyarakat di sekitar objek wisata. Penataan dan pengelolaan objek-objek wisata dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan adat istiadat (kearifan lokal) yang berlaku dalam masyarakat, serta yang lebih penting adalah pengembangan dan pengelolaan objek wisata yang memperhatikan nilai-nilai syariat Islam.

2.4.1.7. Sumber Pendanaan

Sumber pendanaan untuk pembangunan di Kabupaten Aceh Barat Daya yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, Dana Otonomi Khusus yang sesuai dengan UUPA, dan lain-lain pendapatan yang sah harus dimanfaatkan secara optimal dengan menerapkan prinsip efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Secara khusus Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya harus memanfaatkan ketersediaan dana pembangunan yang berasal dari TDBH Migas dan dana otsus secara optimal.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 138 Berdasarkan ketentuan Pasal 181 ayat (3) Undang-Undang Pemerintahan Aceh Kabupaten Aceh Barat Daya mendapatkan pengalokasian TDBH Migas dan Otsus sebesar 60 persen yang ditujukan untuk membiayai pembangunan terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan serta pendanaan pendidikan, sosial dan kesehatan dalam rangka pelaksanaan keistimewaan Aceh yang sesuai amanah Qanun Aceh Nomor 2 tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus.

Kedua sumber dana tersebut digunakan untuk membiayai program pembangunan di Kabupaten Aceh Barat Daya yang disepakati bersama antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya yang tujuan akhirnya adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya. Secara rinci berbagai sumber pendanaan pembangunan di Kabupaten Aceh Barat Daya ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel 2.76

Perkembangan Sumber Pendanaan Pembangunan di Kabupaten Aceh Barat Daya Tahun 2008 – 2012

SUMBER

DANA 2008 2009 2010 2011 2012

Dana Alokasi Khusus 40.199.000.000 38.035.000.000 29.083.100.000 42.593.700.000 46.517.310.000 Dana Alokasi Umum 226.924.281.000 231.876.760.000 233.168.314.000 282.299.103.400 327.572.527.000

Dana Bagi hasil 64.802.476.824 48.944.670.827 32.604.403.111 32.434.438.685 28.524.192.275

Pendapatan Asli

Aceh Barat Daya 15.000.000.000 15.000.000.000 16.125.000.000 25.000.000.000 30.250.000.000

APBN 339.743.674.607 335.697.204.696 335.657.038.210 437.524.355.753 -

Dana Otsus 78.300.000.000 78.300.000.000 85.673.554.517 94.471.359.985 107.873.209.046

TDBH Migas - - 6.209.074.305 7.360.514.052 -

Total 764.969.432.431 747.853.635.523 738.520.484.143 921.683.471.875 540.737.238.321

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 139

2.4.1.8. Prasarana Transportasi 1. Transportasi Darat

Kabupaten Aceh Barat Daya sangat mengandalkan transportasi darat untuk menunjang berbagai macam kegiatan ekonomi dalam wilayahnya. Sehingga apabila terjadi kendala pada transportasi darat, maka dipastikan daerah akan mengalami kesulitan mengembangkan daerahnya. Menurut statusnya, jalan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu : Jalan Negara yang pembinaannya dilakukan oleh Departemen PU, Jalan Provinsi yang pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan Jalan Kabupaten/Kotamadya yang pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah Kab/Kota. Adapun menurut kondisi jalan terbagi menjadi 4, yaitu : Jalan Baik, Sedang, Rusak dan Rusak Berat. Dikatakan Baik adalah Jalan yang dapat dilalui kendaraan 60km/jam dan selama 2 tahun mendatang tanpa pemeliharaan jalan. Jalan Sedang adalah Jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan 40-60km/jam dan selama setahun mendatang tanpa ada rehabilitasi, sedangkan jalan rusak adalah jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan hanya 20-40 km/jam dan perlu segera direnovasi.

a. Kondisi Jaringan Jalan

Kondisi umum sistem transportasi jalan berdasarkan pengamatan dan data-data mengenai sistem jaringan jalan di Kabupaten Aceh Barat Daya adalah jaringan jalan regional di Propinsi Aceh yang menunjukan ruas-ruas jalan utama yang menghubungkan Kabupaten Aceh Barat Daya dengan kota-kota regional ke Utara, Barat dan Selatan.

Dengan melihat pola jaringan jalan tersebut mengindikasikan bahwa Kabupaten Aceh Barat Daya tidak hanya melayani arus lalu lintas internal, tetapi juga melayani arus lalu lintas eksternal. Lalu lintas eksternal yang dimaksud adalah lalu lintas yang masuk/keluar Kabupaten Aceh Barat Daya dan lalu lintas yang hanya melintas Kabupaten Aceh Barat Daya. Sedangkan lalu lintas internal adalah lalu lintas yang terjadi dalam Kabupaten Aceh Barat Daya itu sendiri. Bangkitan lalu lintas sebagian besar disebabkan oleh aktivitas guna lahan yang ada serta keterkaitan dengan jumlah penduduk yang menempati aktivitas-aktivitas pada guna lahan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 140

b. Status dan Fungsi Jalan

Menurut fungsinya jalan dibedakan atas jaringan jalan primer dan sekunder, yang masing-masing dibedakan menjadi arteri, kolektor, dan lokal. Jaringan jalan di Kabupaten Aceh Barat Daya berdasarkan fungsinya dapat diklasifikasikan menjadi :

 Jalan Arteri, yaitu jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jauh. Jalan arteri ini dapat dibagi menjadi arteri primer dan arteri sekunder. Sedangkan Jalan arteri sekunder pada prinsipnya adalah jalan-jalan yang membentuk struktur utama kota (selain fungsi primer), yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah kota, khususnya dari pusat utama (CBD/Central Bussines District) dengan pusat-pusat kegiatan kota.

 Jalan Kolektor, yaitu jalan yang berfungsi sebagai pengumpul atau penyalur jalan-jalan lokal ke jalan arteri dengan ciri-ciri perjalanan sedang. Sementara itu jalan kolektor adalah pendukung terhadap jalan-jalan arteri primer yang ada. Jalan kolektor primer menghubungkan pusat-pusat bagian kota dengan pusat-pusat bawahnya (sub pusat kota).

 Jalan Lokal, yaitu jalan yang melayani angkutan setempat, dengan mempunyai ciri-ciri perjalanan pendek.

Jaringan arteri primer di Kabupaten Aceh Barat Daya terhubung dengan jaringan arteri sekunder. Dari sebagian arteri sekunder ini terletak juga diluar wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya, sehingga terdapat sebagian jalan arteri sekunder ini yang menyambung ke luar wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya. Untuk jaringan jalan kolektor sekunder pada prinsipnya terletak di dalam wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya, tapi mengingat konfigurasi disekitar wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya maka terbuka kemungkinan jaringan jalan tersebut keluar wilayah Kabupaten Aceh Barat Daya (seperti halnya jalan arteri sekunder).

c. Pola Pergerakan

Secara garis besar pola pergerakan orang dan atau barang menggambarkan kekuatan/potensi disuatu wilayah, dimana kekuatan atau potensi itu dapat berupa jumlah penduduk yang tinggi, perekonomian yang

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 141 kuat, pelayanan transportasi yang prima dan lain sebagainya. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar suatu daerah melayani pergerakan orang dan atau barang, maka daerah tersebut merupakan daerah yang mempunyai potensi untuk membangkitkan dan atau menarik aktivitas masyarakat dalam segala bidang.

Untuk memeratakan pergerakan orang dan atau barang, maka daerah-daerah yang merupakan simpul-simpul bangkitan dan tarikan perjalanan membutuhkan prasarana transportasi untuk menghubungkan satu sama lain dalam membuka wilayah-wilayah potensial yang masih terisolasi sehingga tercapai pemerataan pembangunan.

d. Kinerja Angkutan Umum

Menurut lokasi pelayanan, trayek angkutan kota di Kabupaten Aceh Barat Daya terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu trayek dalam kota dan trayek pinggir kota dan trayek antar kota. Untuk jenis angkutan kota, kebutuhan yang ada masih dapat dipenuhi dengan penyediaan yang ada saat ini. Hal ini dapat dilihat dari belum ditemuinya kelebihan muatan penumpang dalam pelayanannya. Secara garis besar, permasalahan angkutan umum di Kabupaten Aceh Barat Daya adalah sebagai berikut:

1. Rendahnya disiplin pengemudi angkutan umum

2. Orientasi pengemudi angkutan umum untuk mengejar keuntungan 3. Terkonsentrasinya rute angkutan umum pada ruas-ruas jalan tertentu 4. Sistem manajemen angkutan umum yang belum optimal

5. Tingginya harga suku cadang

e. Modal Angkutan Dan Aksesibilitas

Adapun trayek angkutan umum yang ada secara umum telah dapat menjangkau kecamatan-kecamatan yang ada, armada angkutan umum yang beroperasi di Kabupaten Aceh Barat Daya berupa minibus dan armada bus besar yang merupakan milik perusahaan swasta dan armada yang disediakan oleh pihak pemeritah daerah. Armada minibus angkutan perdesaan merupakan armada terbanyak yang ada di Kabupaten Aceh Barat Daya yang telah mampu menjangkau hampir seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya 142 Aceh Barat Daya dan jalur aksesnya terpusat di terminal induk Kota Blangpidie. Armada umum yang saat ini disediakan oleh Pemerintah daerah berupa bus sekolah yang juga telah mampu menjangkau hamper seluruh kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya.