BAB IV : PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA (MOORD)
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DISPARITAS PIDANA E. Pengertian Disparitas Pidana
3. Faktor Eksternal (Diluar Diri Hakim)
memandang hal yang terpenting ialah bagaimana kejahatan tersebut tidak terjadi lagi atau dapat dicegah. Sehingga dalam teori pencegahan, pidana dianggap sebagai upaya yang paling akhir. Sebab yang paling penting ialah pencegahan melalui upaya-upaya tertentu.
Dengan demikian jika segala aspek yang telah diuraikan tersebut masih ada dan terdapat dalam diri hakim, maka disparitas pidana bukanlah yang mustahil terjadi. Justru hal tersebut menjadi hal yang lumrah karena tiap-tiap hakim memutuskan perkara berdasarkan pertimbangan dan keyakinannya masing-masing yang didasarkan pada hukum dan fakta-fakta yang telah terbukti.
Selain faktor internal, hal-hal yang menyebabkan terjadinya disparitas pidana juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang terdapat diluar diri hakim, seperti halnya politik dan sosial yang dikemukakan oleh Loebby Loqman dalam bukunya “HAM Dalam HAP”.92
90 Marlina, Hukum Penitensier, (Bandung : Refika Aditama, 2011), hlm. 43.
91Ibid., hlm. 51.
92 Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia dan The Jawa Pos Insitute Of Pro-Otonomi, Disparitas Putusan Hakim : “Identifikasi dan Implementasi”, (Jakarta : Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia, 2014), hlm. 25. Loebby Loqman mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi putusan hakim ialah intern, undang-undang, penafsiran, politik dan sosial.
Dimana pada kaitannya, faktor ini berbicara tentang penggunaan pidana sebagai bagian dari politik atau kebijakan hukum yang sudah dianggap wajar. Sebab pada praktek pembuatan perundang-undangan juga
tidak terlepas dari aspek politik, seperti hampir selalu dicantumkannya sanksi pidana, baik mengenai jenis pidana (strafsoort), lamanya pidana (strafmaat) dan pelaksanaan pidana (strafmodus) pada setiap kebijakan pembuatan perundang-undangan pidana di Indonesia dengan tanpa adanya penjelasan resmi tentang pemilihan atau penentuannya.93Sehingga dengan demikian keberadaan diskresi tidak dapat dihindari sebagai kewenangan memutus menurut pandangan moral dan politik pemegang keputusan (dalam hal ini hakim).94
Selain faktor politik, faktor sosial juga merupakan hal penting dan hakim juga dituntut harus memahami dan memberi putusan berdasarkan kenyataan sosial yang hidup di dalam masyarakat yang dilakukan dengan cara meminta keterangan para ahli, kepala adat95
Adapun faktor eksternal merupakan faktor yang cakupannya sangat luas karena bersumber dari segala hal yang terdapat diluar diri hakim, sehingga tidak hanya berhenti pada faktor politik dan sosial, melainkan juga turut mencakup aspek lain termasuk yang bersumber dari pelaku. Sebab dalam menjatuhkan keputusan sangat diperlukan pertimbangan yang matang dari berbagai aspek, , hal tersebut bertujuan agar putusan yang dikeluarkan mencerminkan nilai kemanfaatan.
Alasan menempatkan politik dan sosial pada faktor eksternal ialah karena karekteristiknya diluar dari diri hakim, sedangkan jika faktor intern dan penafsiran yang dikemukakan oleh Loebby Loqman berkenaan pada faktor internal, serta faktor undang-undang juga memiliki karakteristik yang berbeda dengan keduanya, yakni faktor internal dan eksternal.
93Ibid., hlm. 183.
94Ibid., hlm. 162.
95Ibid., hlm. 280. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Soepomo.
termasuk ini juga termasuk keadaan pelaku yang memberatkan dan yang meringankan.96
Meskipun tidak ada penjelasan tentang keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa serta tolak ukur terhadap sifat yang baik dan jahat dari terdakwa karena bersifat subjektif. Akan tetapi hal yang diharapkan dari seorang hakim ialah sedapat mungkin dalam pertimbangan putusannya menjelaskan mengapa seorang dijatuhi pidana penjara sekian tahun atau denda sekian rupiah, bahkan pidana seumur hidup atau pidana mati.
Pada Pasal 197 ayat (1) huruf f KUHAP, menjelaskan bahwa surat putusan yang sah ialah jika surat putusan tersebut mencantumkan keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa. Jika hal tersebut tidak dicantumkan, ayat selanjutnya menjelaskan bahwa putusan tersebut batal demi hukum. KUHAP memang tidak menjelaskan tentang hal yang berkaitan dengan keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa. Sehingga tidak ada suatu standar yang dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan hal tersebut.Adapun peraturan lain yang sedikit menjelaskan tentang hal ini ialah terdapat pada Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan bahwa “dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat baik dan jahat dari terdakwa”.
97
96 Dwi Hananta, Pertimbangan Keadaan-Keadaan Meringankan dan Memberatkan Dalam Penjatuhan Pidana, Jurnal Hukum dan Peradilan, Volume 7, Nomor 1, Maret 2018, hlm..
88. 97Ibid.
Sejatinya “keadaan” dalam KBBI diartikan sebagai sifat; perihal (suatu benda) dan suasana; situasi yang sedang berlaku.98
Secara detail Jan Rammelink dalam bukunya yang berjudul Hukum Pidana, menguraikan beberapa hal penting dalam menetapkan hal-hal yang menjadi penyebab berat atau ringannya pidana adalah penilaian dari semua situasi dan kondisi yang relevan dari tindak pidana bersangkutan, seperti :
Sedangkan yang memberatkan dan yang meringankan ialah mencakup segala yang mengakibatkan tidak pidana tersebut menjadi berat ataupun ringan. Adapun keadaan-keadaan tersebut sifatnya cenderung subjektif karena didasarkan pada tiap-tiap pelaku, serta tidak dapat digeneralisasikan.
99
a. Delik yang diperbuat;
b. Nilai dari kebendaan hukum yang terkait;
c. Cara bagaimana aturan dilanggar;
d. Kerusakan lebih lanjut;
e. Personalitas pelaku, umur, jenis kelamin, dan kedudukannya dalam masyarakat;
f. Mentalitas yang ditunjukkannya (misalnya karakter berangasan);
g. Rasa penyesalan yang mungkin timbul; maupun h. Catatan kriminalitas
Berdasarkan uraian tersebut, menunjukkan bahwa dalam menjatuhkan pidana sangat banyak hal harus dipertimbangkan oleh hakim. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat hal-hal yang menjadi pertimbangan hakim, seperti jumlah korban dan pelaku, waktu pelaksanaan tindak pidana, tempat pelaksanaan, dan lain-lain sesuai dengan fakta-fakta yang terungkap pada proses persidangan.
98 KBBI Daring https://kbbi.kemendikbud.go.id/entri/keadaan (diakses Sabtu, 20 April 2019 Pukul 16:10 WIB).
99 Letezia Tobing dalam Hukum Online
https://hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt50c499dabb15c/ancaman-pidana-bagi-pelaku-pembunuhan-berencana-/ (diakses Kamis, 23 Mei 2019, Pukul 14:25 WIB).
H. Dampak Terjadinya Disparitas Pidana dan Upaya Penanggulangannya i. Mencederai Rasa Keadilan
Tujuan hukum yang utama ialah untuk menegakan keadilan.Tetapi dengan adanya disparitas pidana, justru rasa keadilan itu dicederai.Adapun pihak-pihak yang merasakan dampak tersebut mencakup korban, pelaku dan juga masyarakat.
a. Terhadap Korban
Alasan mengapa korban merupakan pihak yang dirugikan terkait dengan adanya disparitas pidana. Hal tersebut dikarenakan jika tindak pidana yang dilakukan adalah sama, seperti pembunuhan berencana. Jika hakim menjatuhkan pidana lebih ringan kepada pidana yang satu, dan kepada pelaku yang lainnya lebih berat. Sedangkan tindak pidana yang dilakukan oleh kedua pelaku sama-sama merupakan pembunuhan berencana, maka bagi korban yang pelakunya mendapat pidana lebih ringan akan merasa dirugikan jika dibandingkan dengan korban yang pelakunya mendapat pidana lebih berat. Sehingga dengan demikian nilai keadilan yang menjunjung kesamarataan semua orang dihadapan hukum dicederai akibat disparitas tersebut.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi ketidakadilan yang dialami oleh korban tersebut, antara lain :
1) Merevitalisasi fokus hukum pidana yang menganut sistem retributive justice yang cenderung melindungi kepentingan si pelaku (offender
oriented) menjadi sistem restorative justice yang lebih berfokus terhadap perlindungan korban tindak pidana (victim oriented).100
2) Memberdayakan lembaga-lembaga yang bergerak dibagian hukum, seperti halnya Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) yang ditujukan untuk untuk memperjuangkan hak masyarakat miskin dan tertindas dalam mencari keadilan.101 Selain itu terdapat juga lembaga lain, yakni LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) yang memang bertugas untuk memberikan perlindungan terhadap saksi dan koban berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
b. Terhadap Pelaku
Sama halnya dengan yang dialami oleh korban, dimana disparitas pidana juga bagi pelaku tindak pidana dianggap merupakan suatu perbuatan atau perlakuan yang tidak adil. Sebab jika memang yang dilakukan adalah tindak pidana yang sama (pembunuhan) dan akibatnya juga sama (matinya orang). Tetapi antara pelaku yang satu dengan yang lain dijatuhkan pidana yang berbeda. Maka dengan demikian, pelaku akan menganggap bahwa putusan tersebut tidak adil dan cenderung tebang pilih.
Upaya yang dapat dilakukan pelaku untuk menanggulangi rasa ketidakadilan yang dialami oleh pelaku juga dapat ditempuh melalui pemberdayaan Lembaga Bantuan Hukum ataupun pengacara. Tujuannya ialah
100 Bintara Sura Priambada, Viktimologi Dalam Sistem Peradilan Pidana Tentang Kepentingan Korban, Varia Peradilan, Majalah Hukum Tahun XXII No. 260, Juli 2017, hlm. 4-5.
101Oleh Adnan Buyung Nasuiton pada beranda YLBHI – Keadilan Untuk Semua, http://ylbhi.or.id/ (diakses Jumat, 21 Juni 2019, Pukul 14:20).
untuk memberikan konsultasi dan pembelaan “mewakili” orang lain atau kliennya yang tidak mengerti mengerti tentang hukum.
c. Terhadap Masyarakat
Dampak yang sangat dikhwatirkan ialah jika dampak dari disparitas pidana tersebut mencederai rasa keadilan yang tidak hanya dirasakan oleh korban dan pelaku saja, tetapi juga terhadap masyarakat luas.Hal tersebut dikarenakan posisi masyarakat dalam peristiwa ini merupakan pihak-pihak yang menjadi saksi yang tidak hanya melihat, bahkan mungkin juga turut merasakan tindak pidana tersebut (mungkin salah seorang anggota keluarganya menjadi korban).Sehingga akibat dari disparitas pidana tersebut, muncul suatu sikap kecemburuan sosial karena hukum tersebut tidak adil, tebang pilih, atau seperti yang sering dikatakan oleh kebanyakan orang bahwa hukum itu tajam kebawah tapi tumpul ke atas.
Disparitas pidana cenderung merupakan perlakuan “yustiabel”.102 Karena memberikan perlakukan yang berbeda terhadap dua orang melakukan kejahatan dengan cara yang sama dan akibat yang yang hampir sama, tetapi diganjar dengan berbeda, dimana yang satu lebih ringan dan yang satu lebih berat. Tetapi hal yang menjadi tugas bagi para aparat penegak hukum maupun akedemisi di bidang hukum ialah memberikan gambaran dan pengertian melalui seminar, penyuluhan hukum dan sebagainya, tentang konsep keadilan sebenarnya yang tidak hanya berbicara tentang kesamarataan yang menyatakan bahwa tiap-tiap orang memperoleh bagian yang sama (keadilan commutatif)103
102 Muladi dan Barda Nawawi Arif, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, (Bandung : Alumni, 2005), hlm. 78.
103 Sudarsono, Ilmu Hukum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), hlm. 51.
, tetapi keadilan yang sebenarnya ialah keadilan yang sesuai dengan pernyataan Aristoteles yang juga
berbicara tentang keadilan yang sesuai dengan porsinya (keadilan distributif), karena sekalipun tidak pidana yang dilakukan sama-sama pembunuhan berencana, seperti tempat, motif, waktu, tempat, cara, peran, kondisi psikis pelaku dan korban dan hal yang lainnya tidak ada yang sama persis. Sehingga dengan demikian masyarakat harus diberikan pemahaman bahwa disparitas pidana juga merupakan bentuk keadilan karena menjatuhkan pidana sesuai dengan perbuatan dan kondisi lain yang menyertai perbuatan tersebut.
ii. Ketidakpercayaan Masyarakat TehadapPenegakan Keadilan
Dampak lainyang sangat dikhawatirkan terkait dengan disparitas pidana ialah ketika kepercayaan masyarakat (public trust) menurun terhadap lembaga pengadilan tersebut, sebab lembaga pengadilan dianggap tidak dapat memenuhi kebutuhan para pencari keadilan. Selain itu, persoalan-persoalan lain seperti halnya administrasi yang rumit, waktu, biaya perkara, hingga persoalan tentang hakim dan aparat penegak hukum lainnya yang terjerat korupsi menyebabkan masyarakat semakin khawatir dan tidak percaya terhadap lembaga pengadilan, bahkan tidak jarang juga kita menemukan banyak orang yang justru lebih senang menyelesaikan suatu perkara diluar pengadilan (secara damai) ataupun dengan
“main hakim sendiri”.
Peter J.P.104
104Abul Khair dan Mohammad Ekaputra, Op. Cit., hlm. 77. Dikutip dalam buku M.
Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.
115-116.
menyatakan bahwa disparitas memang tidak bisa ditiadakan sama sekali karena menyangkut persoalan sampai sejauh mana hal itu sebagai akibat yang tidak terelakkan dari kewajiban hakim untuk mempertimbangkan seluruh elemen yang relevan dalam perkara individu tentang
pemidanaannya.Selain itu Muladi105
1) Mewujudkan keterbukaan dan transparansi yang tidak hanya sekedar dalam hal aksesibilitas putusan tetapi juga dalam hal pemberian pemahaman kepada masyarakat melalui penjelasan-penjelasan dan pertimbangan logis yang terdapat pada putusan tersebut, sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas, termasuk masyarakat awam yang kurang mengerti tentang hukum.
juga menegaskan bahwa yang menjadi pokok permasalahan ialah bukan disparitas pidananya, melainkan apakah disparitas tersebut sudah masuk akal “reasonable”.
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa hal yang paling pokok dan harus diperbaiki dalam meningkatkan kepercayaan publik (public trust) ialah :
2) Diperlukan juga reformasi pengadilan dalam berbagai aspek guna memperbaiki serta meningkatkan kinerja aparatur penegak menjadi lebih baik dan berintegritas melalui berbagai pendidikan pelatihan hukum.106
iii. Kurangnya Efek Jera Terhadap Pelaku Tindak Pidana
Perbedaan penjatuhan pidana yang terjadi dalam disparitas pidana, dapat menimbulkan kurangnya efek jera bagi beberapa pelaku tindak pidana.Sebab karena disparitas pidana, seorang pelaku tindak pidana yang seharusnya mendapat pidana yang sesuai dengan perbuatannya, tetapi justru mendapat pidana yang lebih
105Ibid.
106 Sekretaris Mahkamah Agung, A. S. Pudjoharsoyo dalam “Sekretaris Mahkamah Agung Rebut Kembali Kepercayaan Masyarakat”, dilansir dari halaman website Mahkamah Agung RI
https://www.mahkamahagung.go.id/id/berita/3374/sekretaris-mahkamah-agung-rebut-rebut-kembali-kepercayaan-masyarakat (diakses Jumat, 26 April 2019 Pukul 11:30).
ringan. Hal itu secara tidak langsung akan berdampak dan mempengaruhi kondisi psikis pelaku tindak pidana, serta merasa bahwa perbuatan yang dilakukannya dianggap tidak terlalu merugikan karena tidak mendapatkan pidana yang berat.
Sehingga dengan demikian resiko para pelaku tindak pidana tersebut untuk mengulangi perbuatan semakin besar (recidive).
Adapun upaya yang dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut tidak serta-merta dapat dilakukan ialah dengan memperberat pidana kepada pelaku tindak pidana dengan dalil untuk memberikan efek jera. Akan tetapi, tindakan yang tepat untuk dilakukan untuk memberikan efek jera ialah, dengan tidak terpaku hanya pada pidana mati atau penjara, tetapi hakim juga dapat mengenakan pidana tambahan seperti denda, pencabutan hak tertentu, perampasan barang, dan juga pidana lainnya, bahkan juga hingga kepada sanksi sosial seperti dijauhi atau dikucilkan, dicemooh, diusir.
BAB IV
PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA