BAB IV : PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA (MOORD)
TINJAUAN UMUM TERHADAP PENYERTAAN PIDANA (DEELNEMING) DAN TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN
E. Pengertian Penyertaan Tindak Pidana (Deelneming)
Penyertaan tindak pidana (deelneming) adalah pengertian yang meliputi semua bentuk turut serta/terlibatnya orang atau orang-orang baik secara psikis maupun fisik dengan melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu tindak pidana.37Prof. Wirjono Prodjodikuro dalam mengartikan penyertaan (deelneming) dengan istilah yang berbeda, yakni dengan istilah “pesertaan”.
Menurutnya “pesertaan” berarti turut sertanya seorang atau lebih pada waktu seorang yang lain melakukan suatu tindak pidana.38
Berdasarkan hal ini dapat dilihat bahwa dalam suatu tindak pidana pelakunya tidak hanya seorang diri saja, melainkan dapat dilakukan secara bersama-sama atau lebih dari satu orang. Penyertaan tindak pidana tersebut juga akan mempengaruhi pertanggungjawabannya. Sehingga dengan demikian bersesuaian dengan yang dikemukakan oleh van Hamel dalam Moch. Anwar dan dikutip kembali oleh Mohammad Ekaputra dan Abul Khair39
37 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 3, (Jakarta :Rajawali Pers, 2002), hlm. 71.
38 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, (Bandung : Refika, 2002), hlm. 108.
39 Mohammad Ekaputra dan Abul Khair, Percobaan dan Penyertaan, (Medan : USU Press, 2015), hlm. 39.
, bahwa penyertaan adalah ajaran pertanggungjawaban atau pembagian pertanggungjawaban dalam hal suatu tindak pidana yang menurut pengertian perundang-undangan dapat dilaksanakan oleh seorang pelaku dengan tindakan secara sendiri. Hal tersebut adalah benar, sebab pelajaran tentang turut serta (penyertaan) ini justru dibuat
untuk menghukum mereka yang bukan melakukan (bukan pembuat)40
Dalam buku Mohammad Ekaputra dan Abul Khair dijelaskan bahwa untuk menggolongkan bahwa suatu tindak pidana termasuk kedalam penyertaan, serta menentukan pertanggungjawabannya tidaklah mudah.Sebab ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni keterlibatan
, karena pada dasarnya mereka juga turut bertanggung jawab atau dapat dituntut pertanggungjwabannya atas suatu peristiwa pidana. Sebab tanpa mereka peristiwa pidana atau dalam hal ini tindak pidana tersebut tidak pernah terjadi.
41
F. Dasar Hukum Penyertaan Tindak Pidana (Deelneming)
dan juga peran masing-masing.Karena hal tersebutlah yang dilihat dan dijadikan dasar sejauh mana pertanggungjawabannya.
Pengaturan mengenai penyertaan tindak pidana (deelneming) terdapat pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tepatnya pada Buku Kesatu tentang Aturan Umum dan mencakup seluruh bagian dari Bab V tentang Turut Serta Melakukan Perbuatan Yang Dapat Dihukum yang dimulai dari Pasal 55 sampai pada Pasal 62. Meskpiun pengaturan tentang penyertaan (deelneming) terdiri dari 8 (delapan) pasal, tetapi secara garis besar rumusan mengenai hal tersebut terlihat pada pada Pasal 55 dan Pasal 56.42 Adapun masing-masing bunyi dari Pasal 55 dan Pasal 56 adalah sebagai berikut :43
40Ibid.,Merupakan pendapat Utrecht tentang penyertaan.
41Ibid.,Keterlibatan yang dimaksud dapat berupa psikis maupun fisik.
42 Wirjono Prodjodikuro, Loc. Cit.
43 R. Soesilo,Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bandung : Karya Nusantara,1986), hlm. 72-75.
“Pasal 55 : (1) Dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana : 1e. orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan atau turut melakukan perbuatan itu;
2e. orang yang dengan pemberian, perjanjian, salah memakai kekuasaan atau pengaruh, kekerasan, ancaman atau tipu daya atau dengan memberi kesempatan, daya-upaya atau keterangan, sengaja membujuk untuk melakukan sesuatu perbuatan.
(2) Tentang orang-orang yang tersebut dalam sub 2e itu yang boleh dipertanggungkan kepadanya hanyalah perbuatan yang dengan sengaja dibujuk oleh mereka itu, serta dengan akibatnya.
Pasal 56. : Dihukum sebagai orang yang membantu melakukan kejahatan : 1e. barangsiapa dengan sengaja membantu melakukan kejahatan itu.
2e. barangsiapa dengan sengaja memberi kesempatan, daya-upaya atau keterangan untuk melakukan kejahatan itu.”
G. Bentuk-Bentuk Penyertaan Tindak Pidana (Deelneming)
Berdasarkan rumusan Pasal 55 dan 56 KUHP, bentuk-bentuk penyertaan tindak pidana terbagi atas dua yakni Dihukum Sebagai Orang Yang Melakukan dan Dihukum Sebagai Orang Membantu Melakukan. Akan tetapi khusus untuk Dihukum Sebagai Orang Yang Melakukan, pesertanya terdiri dari Orang Yang Melakukan Tindak Pidana (Pleger), Orang Yang Menyuruh Melakukan Tindak Pidana (Doen Pleger), Orang Yang Turut Serta Melakukan Tindak Pidana (Medepleger) dan Orang Yang Membujuk Melakukan Tindak Pidana (Uitlokker).
1. Dihukum Sebagai Orang Yang Melakukan
a. Orang Yang Melakukan Tindak Pidana (Pleger)
Loebby Loqman dalam buku Mohammad Ekaputera dan Abul Khair, mengemukakan bahwa dalam ilmu pengetahuan pidana, pelaku dibedakan atas dua, yakni pelaku dalam arti sempit dan dalam arti luas.Kedua pelaku tersebut memiliki perbedaan, dimana pelaku dalam arti sempit adalah hanya mereka yang melakukan tindak pidana.Sedangkan pelaku dalam arti luas meliputi keempat klasifikasi pelaku, yaitu mereka yang melakukan, mereka yang menyuruh
melakukan, mereka yang ikut serta melakukan dan mereka yang menggerakkan/membujuk.44
Terkadang banyak orang mengalami kesulitan dalam membedakan pelaku tunggal (dader) dengan orang yang melakukan tindak pidana (pleger).Alasan yang menyebabkan kesulitan dalam membedakan keduanya ialah karena undang-undang tidak menjelaskan lebih jauh tentang siapa yang dimaksud dengan mereka yang melakukan tindak pidana (pleger).45Adapun dalam menentukan seorang pelaku tunggal (dader) tidaklah sukar, yakni jika memenuhi kriteria dimana perbuatannya telah memenuhi semua unsur tindak pidana.Untuk tindak pidana formil, wujud perbuatannya telah memenuhi semua unsur tindak pidana.Sedangkan untuk tindak pidana materiil perbuatan yang dilarang tersebut telah menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang.46
Kesulitan dalam memahami pleger bukan hanya karena penjelasan tentang pleger tidak ada dalam undang-undang, tetapi juga karena pleger juga memliki kesamaan dengan dader. Meskipun begitu, tidak berarti bahwa pleger dengan dader sama. Adapun perbedaan diantara keduanya ialah bahwa pleger masih membutuhkan keterlibatan minimal seorang lainnya, baik secara fisik maupun
Akan tetapi bagi seseorang yang melakukan tindak pidana (pleger), yang menjadi perhatian ialah perbuatannya.Sebab karena perbuatannyalah suatu tindak pidana dapat terwujud. Jadi jika tanpa perbuatan dari orang yang melakukan (pleger) tersebut, maka tidak pidana tersebut tidak akan terwujud. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam hal ini syarat seorang pleger dan seorang dader adalah sama, karena keduanya harus memenuhi semua unsur tindak pidana.
44Mohammad Ekaputra dan Abul Khair, Op. Cit., hlm.43- 44.
45 Adami Chazawi, Op. Cit., hlm.82.
46Ibid.
psikis yang sedemikian rupa, sehingga perbuatannya itu tidak menjadi penentu dalam terwujudnya tindak pidana yang dituju.47
b. Orang Yang Menyuruh Melakukan Tindak Pidana (Doen Pleger) Pengertian mengenai orang yang menyuruh melakukan tidak dijelaskan di dalam KUHP, tetapi terdapat keterangan yang ada pada MvT KUHP Belanda yang menyatakan bahwa, yang menyuruh melakukan adalah orang yang melakukan tindak pidana tetapi tidak secara pribadi, melainkan dengan perantaraan orang lain, yakni dengan syarat perantara (manus ministra) tersebut berbuat tanpa kesengajaan, kealpaan atau tanpa tanggung jawab karena keadaan yang tidak diketahui, disesatkan atau tunduk kepada kekerasan.48Jadi orang yang berbuat sebagai perantara tersebut adalah orang tidak mampu bertanggung jawab atau tidak tahu, bahkan D. Schaffmeister49
Berdasarkan MvT yang terdapat dalam KUHP Belanda tersebut, unsur-unsur dari bentuk orang yang menyuruh melakukan tindak pidana (doen pleger) ialah :
mengatakan bahwa perantara tersebut adalah “alat tak berkehendak”.
50
1. Melakukan tindak pidana dengan perantaraan orang lain sebagai alat di dalam tangannya.
2. Orang lain atau perantara (manus ministra) tersebut melakukan : a. Tanpa kesengajaan;
b. Tanpa kealpaan;
c. Tanpa tanggung jawab, karena sebab keadaan : 1. Yang tidak diketahuinya;
2. Karena disesatkan; dan
3. Karena tunduk pada kekerasan.
47Ibid., hlm. 83.
48Ibid., hlm. 85.
49Mohammad Ekaputra dan Abul Khair., Op. Cit., hlm. 47.
50 Adami Chazawi, Loc. Cit.
Pada unsur-unsur tersebut terdapat dua hal yang dapat ukuran, dan ukuran tersebut terbagi atas ukuran subyektif dan objektif.Ukuran subyektif ialah menunjuk kepada sikap batin manus ministra yang tidak mengetahui atau tersesatkan yang tidak dapat dipastikan merupakan keadaan yang sebenarnya (objektif) karena pandangan atau perasaan manus ministra itu sendiri.Sedangkan ukuran objektif ialah didasarkan pada kenyataan ataupun keadaan yang sebenarnya bahwa manus ministra tersebut melakukan suatu tindak pidana karena adanya unsur kekerasan yang membuatnya tidak berdaya.51
Selain itu hal terpenting yang harus diperhatikan berdasarkan keterangan MvT KUHP Belanda tersebut ialah bahwa perantara (manus ministra) tidak dapat dipidana.
Meskipun penekanan dalam perbuatan menyuruh melakukan (doen pleger) cenderung lebih merujuk kepada unsur objektif, tetapi unsur subjektif tersebut juga harus tetap diperhatikan.
52
c. Orang Yang Turut Melakukan Tindak Pidana (Medepleger)
Hal tersebut karena manus ministra tersebut berbuat hanya sebagai alat yang dikendalikan oleh orang yang menyuruhnya (manus domina).
Dalam MvT dijelaskan bahwa orang yang turut serta melakukan tindak pidana (medepleger) adalah setiap orang yang dengan sengaja berbuat (meedoet) di dalam melakukan suatu tindak pidana.53
51Ibid., hlm. 86.
52Ibid.
53Ibid., hlm. 96.
Akan tetapi keterangan tersebut tidak memberikan kejelasan mengenai orang yang turut melakukan tindak pidana.Sebab keterangan tersebut hampir serupa dengan keterangan dader dan pleger.Selain itu,
Mohammad Ekaputra dan Abul Khair54
Menurut Loebby Loqman dalam Mohammad Ekaputra dan Abul Khair juga menerangkan bahwa sering sekali terjadi kekeliruan dalam memahami turut serta dengan penyertaan, dimana kedua hal tersebut merupakan hal yang berbeda.Sebab turut serta merupakan bagian dari penyertaan, dan penyertaan itu sendiri terjadi jika dalam suatu tindak pidana terlibat lebih dari satu orang.
55
Syarat-syarat maupun kriteria yang harus dipenuhi agar suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai suatu medeplegen menurut P.A.F. Lamintang
, undang-undang tidak memberikan rumusan defenitif tentang turut melakukan.Sehingga dalam hal ini kita dituntut harus mencari rumusan dalam doktrin yang dikemukakan oleh para ahli hukum.
56 ialah harus ada kesadaran kerja sama dari setiap peserta dan kerja sama tersebut harus secara fisik. Sedangkan Jan Rammelink57 mengatakan bahwa dalam turut serta melakukan harus ada kerjasama yang disadari (dalam hal ini kesengajaan untuk melakukan kerjasama harus dibuktikan keberadaannya).Kesengajaan tersebut menurut Adami Cahazawi58
Terdapat dua pandangan dalam memahami medepleger, yakni pandangan sempit dan pandangan luas.Dalam pandangan sempit Van Hamel berpendapat bahwa turut serta melakukan terjadi apabila perbuatan masing-masing peserta dibagi atas dua fokus, yakni ditujukan dalam hal kerja samanya dan ditujukan dalam hal mewujudkan perbuatannya menuju penyelesaian tindak pidana.
54Mohammad Ekaputra dan Abul Khair, Op. Cit., hlm. 55.
55Ibid., hlm. 57.
56Ibid.
57Ibid., hlm. 58.
58 Adami Chazawi, Op. Cit., hlm. 100.
memuat semua unsur tindak pidana.59Pandangan tersebut memiliki kecondongan pada ajaran objektif. Akan tetapi dengan memandang pembuat peserta sesempit itu, akan menimbulkan masalah. Sebab pada kenyataannya dengan memandang bahwa perbuatannya harus sama akan menimbulkan kesulitan dalam menentukan siapa pembuat pelaksananya. Seperti halnya contoh yang dikemukakan oleh Adami Chazawi antara A dan B yang mencuri sebuah televisi di sebuah rumah60
Berdasarkan pada pandangan sempit tersebut dalam contoh A dan B, maka akan terjadi dua kemungkinan. Jadi peran dari salah satu dari kedua pihak tersebut dapat dipandang dari dua sisi, yakni A dapat dipandang sebagai pembuat peserta dan juga dapat dipandang sebagai pembuat pelaksana (pleger). Sedangkan dalam pandangan luas terdapat perbedaan dengan pandangan sempit, dimana pandangan luas menyatakan bahwa pembuat peserta tidak melakukan perbuatan yang sama dengan seorang pembuat (dader).
, A dan B melakukan kejahatan tersebut secara bersama-sama, mulai dari masuk melalui jendela dan mengangkat televisi hingga kedalam mobil.
61Adapun perbuatannya cukup memenuhi sebagian rumusan tindak pidana saja dan tidak harus memenuhi semua rumusan.
Hanya saja yang perlu diperhatikan ialah unsur kesengajaan pembuat peserta harus sama dengan kesengajaan dari pembuat pelaksana. Jika disimpulkan, pandangan luas tentang pembuat peserta condong mengarah kepada pandangan subjektif karena menitikberatkan unsur kesengajaan dari diri pembuat peserta (batin).
59Ibid., hlm. 96.
60Ibid.
61Ibid., hlm 97.
d. Orang Yang Membujuk Melakukan Tindak Pidana (Uitlokker)
Dalam mengartikan orang yang membujuk melakukan tindak pidana Adami Chazawi62
Untuk memahami uitlokker perlu dicermati rumusan mengenai hal tersebut secara lengkap, dimana orang yang membujuk melakukan ialah mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.
memakai istilah sebagai pembuat penganjur. Orang yang membujuk melakukan pada dasarnya serupa dengan orang menyuruh melakukan (doen plegen), dimana dalam hal ini tindak pidana tidak dilakukan dengan sendiri, melainkan dilaksanakan melalui orang lain.
63
Berdasarkan rumusan tersebut terdapat dua unsur, yakni unsur-unsur objektif dan subjektif.64
1. Unsur objektif ialah menganjurkan orang lain melakukan perbuatan;
Unsur-unsur objektif terdiri dari :
2. Caranya :
a. dengan memberikan sesuatu;
b. dengan menjajikan sesuatu;
c. dengan menyalahgunakan kekuasaan;
d. dengan menyalahgunakan martabat;
e. dengan kekerasan;
f. dengan ancaman;
g. dengan penyesatan;
h. dengan memberi kesempatan;
i. dengan memberi sarana;
j. dengan memberi keterengan.
Sedangkan unsur subjektif ialah dengan sengaja. Adapun berdasarkan rumusan tersebut terdapat 5 (lima) syarat dari seorang pembuat penganjur, antara lain :
62Ibid., hlm.108.
63Ibid.
64Ibid., hlm. 109-110.
1. Pertama, tentang kesengajaan orang yang membujuk melakukan harus ditujukan kepada 4 (empat) hal, yaitu :
a. ditujukan pada digunakannya upaya-upaya penganjuran;
b. ditujukan pada mewujudkan perbuatan menganjurkan beserta akibatnya;
c. ditujukan pada orang lain untuk melakukan perbuatan (apa yang dianjurkan); dan
d. ditujukan pada orang lain yang mampu bertanggung jawab atau dapat dipidana.
2. Kedua, dalam melakukan perbuatan menganjurkan harus menggunakan cara-cara menganjurkan sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 55 ayat 1 angka 2;
3. Ketiga, terbentuknya kehendak orang yang dianjurkan (pembuat pelaksananya) untuk melakukan tindak pidana sesuai dengan apa yang dianjurkan adalah disebabkan langsung oleh digunakannya upaya-upaya penganjuran oleh si pembuat penganjur (adanya psychische causaliteit);
4. Keempat, orang yang dianjurkan (pembuat pelaksananya) telah melaksanakan tindak pidana sesuai dengan yang dianjurkan (boleh pelaksanaannya itu sampai selesai atau dalam hal ini tindak pidana sempurna, selain itu boleh juga terjadi percobaannya);
5. Kelima, orang yang dianjurkan adalah orang yang memiliki kemampuan bertanggungjawab.
Pada kesimpulannya, membujuk melakukan ialah merupakan perbuatan dalam ajaran deelneming yang serupa dengan menyuruh melakukan.Akan tetapi yang keduanya jauh berbeda, sebab dalam membujuk melakukan orang dibujuk dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya karena tidak berada dibawah kekerasan yang membuatnya tidak berdaya.Jadi orang yang dibujuk atau perantara melakukan tindak pidana dapat dihukum. Hal tersebut dikarenakan kedudukan antara orang yang membujuk dengan yang dibujuk ialah sama.
2. Dihukum Sebagai Orang Yang Membantu Melakukan (Medeplichtige) Orang yang membantu melakukan merupakan orang yang melakukan pembantuan (medeplichtige) dalam pelaksaan suatu tindak pidana. Pembantuan terdapat pada bab yang sama dengan kajian sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan medeplichtige dengan kajian sebelumnya merupakan suatu hal yang sama, yakni
merupakan bentuk dari penyertaan tindak pidana (deelneming), dimana dalam suatu tindak pidana terlibat lebih dari satu orang. Orang-orang yang berperan dalam tindak pidana tersebut dibedakan atas orang yang melakukan dan orang membantu melakukan.65
Sesuai dengan bunyi Pasal 56 KUHP, “Dipidana sebagai orang yang membantu melakukan kejahatan atau tindak pidana”.Bunyi pasal tersebut memiliki arti bahwa orang atau orang-orang dapat dihukum jika membantu melakukan kejahatan.Jadi perlu digarisbawahi bahwa pembantuan tersebut hanya berlaku pada kejahatan dan tidak termasuk pelanggaran.66Alasan mengapa membantu melakukan pelanggaran tidak dapat dihukum karena menurut Simons67
Adapun bentuk-bentuk pembantuan dibedakan atas dua, antara lain :
, karena hal tersebut merupakan suatu onzelfstandige deelneming atau suatu penyertaan yang tidak berdiri sendiri.Sehingga yang menjadi penentu apakah seseorang dapat dihukum atau tidak, tergantung pada kenyataan apakah pelakunya telah melakukan suatu tindak pidana atau tidak.
68
1. pemberian bantuan sebelum dilaksanakannya kejahatan; dan
2. pemberian bantuan pada saat berlangsungnya pelaksanaan kejahatan.
Bentuk-bentuk pembantuan tersebut uraian dari Pasal 56 KUHP, dimana pembantuan yang dilakukan dalam melaksanakan tindak pidana dalam 2 (dua) kategori waktu, yakni : sebelum kejahatan dilakukan dan pada saat melakukan kejahatan tersebut. Untuk waktu setelah kejahatan dilakukan, hal tersebut tidak termasuk dalam medeplichtige. Sebab R. Soesilo69
65Mohammad Ekaputra dan Abul Khair, Op. Cit., hlm. 89.
66 Adami Chazawi, Op. Cit., hlm. 137.
67Mohammad Ekaputradan Abul Khair, Op. Cit., hlm. 90.
68 Adami Chazawi, Loc. Cit.
69 R. Soesilo,Op. Cit., hlm. 75-76.
dalam bukunya “Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal”, pada bagian komentar Pasal 56 menerangkan bahwa hal tersebut sudah tidak termasuk kedalam medeplichtige, karena pembantuan yang diberikan setelah dilakukannya kejahatan menunjuk pada ketentuan tindak pidana lain, yakni perbuatan tadah (heling) yang diatur dalam Pasal 480 atau juga berkenaan dengan Pasal 221 KUHP.
Menurut Simons dalam Mohammad Ekaputra dan Abul Khair70
1. Unsur objektif : perbuatan itu telah dilakukan dengan maksud untuk mempermudah atau mendukung dilakukannya suatu kejahatan. Hal ini berarti bahwa apabila alat-alat yang oleh seorang medeplichtige telah diserahkan kepada seorang pelaku itu ternyata tidak dipergunakan oleh pelakunya untuk melakukan kejahatannya, maka medeplichtige tersebut juga tidak dapat dihukum.
, agar seorang membantu melakukan dapat dihukum, maka perbuatannya harus memenuhi dua unsur, yaitu :
2. Unsur subjektif : perbuatan yang dilakukan oleh medeplichtige tersebut benar-benar telah dilakukan dengan sengaja, dalam arti bahwa medeplichtige tersebut memang mengetahui bahwa perbuatannya itu dapat mempermudah atau mendukung dilakukannya suatu kejahatan oleh orang lain, dan perbuatan mempermudah atau mendukung itu juga dikehendakinya.
Berkaitan dengan pidana yang dijatuhkan bagi pembantu pembuat memiliki karaktersistik sendiri, dimana pada Pasal 57 ayat (1) KUHP dijelaskan bahwa orang tersebut dijatuhi pidana pokok yang dikurangi sepertiganya. Pada ayat (2), diterangkan bahwa bagi pembantu pembuat dijatuhi pidana penjara selama-lamanya 15 (lima belas) tahun jika kejahatan yang dilakukannya diancam pidana mati atau penjara seumur hidup. Sedangkan pada ayat (3) berbicara tentang pidana tambahan bagi pembantu pembuat yang dipersamakan dengan kejahatan itu, dan yang terakhir pada ayat (4) berkaitan dengan pembatasan penjatuhan
70Mohammad Ekaputra dan Abul Khair, Op. Cit., hlm. 91.
pidana bagi pembantu pembuat hanya sebatas tindak pidana yang sengaja dilakukannya dan menimbulkan akibat hukum.
H. Tindak Pidana Pembunuhan 1. Pengertian Pembunuhan
Menurut KBBI pembunuhan adalah proses, cara, perbuatan membunuh.71Sedangkan arti membunuh itu sendiri adalah menghilangkan (menghabisi; mencabut) nyawa; mematikan.72
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pembunuhan merupakan perbuatan yang menyebabkan orang lain mati, terlepas dari bagaimana cara atau metode dan lain sebagainya. Sebab menjadi tolak ukur terjadinya pembunuhan ialah adanya kematian yang menyebabkan orang atau orang-orang kehilangan nyawanya.
Jadi dalam hal ini, istilah pembunuhan dan membunuh mirip tapi tidak serupa. Hal tersebut dikarenakan pembunuhan menunjuk kepada proses, cara, atau perbuatan membunuh yang merupakan nomina (kata benda). Sedangkan membunuh merupakan verba (atau kata kerja).Meskipun predikat dari kedua kata tersebut berbeda, tetapi kesamaan yang dimiliki dari kedua kata tersebut ialah mengkehendaki adanya kematian.
73
71KBBI Daring https://kbbi.kemendikbud.go.id/entri/pembunuhan (diakses Senin, 25 Maret 2019 Pukul 18:20 WIB).
72KBBI Daring https://kbbi.kemendikbud.go.id/entri/membunuh (diakses Senin, 25 Maret 2019 Pukul 18:20 WIB).
73 KKBI Daring https://kbbi.kemendikbud.go.id/entri/mati (diakses Senin, 25 Maret 2019 Pukul 19:10 WIB).
2. Pengaturan Tindak Pidana Pembunuhan Di Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Pembunuhan adalah tindak pidana yang diatur dalam KUHP, tepatnya pada Bab XIX tentang Kejahatan Terhadap Jiwa Orang, dimulai dari Pasal 338-350 KUHP.Adami Chazawi74
a. Tindak Pidana Pembunuhan Yang Disengaja
menguraikan pembunuhan kedalam dua kelompok, yakni yang dilakukan dengan sengaja dan yang dilakukan dengan tidak sengaja.
i. Pembunuhan Biasa Dalam Bentuk Pokok (Dodslag)
Pembunuhan biasa merupakan kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja (pembunuhan) dalam bentuk pokok yang dimuat dalam Pasal 338 KUHP. Dalam pembunuhan biasa terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi, yakni adanya suatu perbuatan, adanya suatu kematian (orang lain), adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara perbuatan dan akibat kematian (orang lain).
ii. Pembunuhan Yang Diikuti, Disertai Atau Didahului Dengan Tindak Pidana Lain
Pembunuhan yang dimaksudkan ini berkenaan dengan rumusan Pasal 339 KUHP, dimana pembunuhan tersebut diikuti, disertai atau didahului suatu tindak pidana yang lain, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan tindak pidana lain, mempermudah pelaksanaan tindak pidana lain, menghindarkan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan dan untuk
74 Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 55.
memastikan penguasaan benda yang diperolehnya secara melawan hukum (dari tindak pidana lain itu). Pasal 339 KUHP tindak pidana pokoknya adalah pembunuhan khusus yang disertai dengan pemberatan (gequlificeerde doodslag).Selain itu pembunuhan dalam pasal ini tidak merupakan suatu perbarengan, karena perbarengan bukan merupakan suatu tindak pidana, melainkan suatu sistem penjatuhan pidana.
iii. Pembunuhan Berencana (Moord)
Pembunuhan berencana dirumuskan pada Pasal 340 KUHP, dimana letak yang membedakan pembunuhan ini dengan pembunuhan lainnya ialah bahwa pembunuhan ini dilakukan dengan rencana terlebih dahulu. Jadi dengan demikian pembunuhan ini hampir sama dengan pembunhan pada Pasal 338 KUHP, hanya saja pada pembunuhan Pasal 340 terdapat unsur dengan rencana terlebih dahulu.
iv. Pembunuhan Oleh Ibu Terhadap Bayinya Pada Saat Atau Tidak Lama Setelah Dilahirkan
Bentuk pembunuhan oleh ibu terhadap bayinya di dalam KUHP ada dua macam, yakni masing-masing dirumuskan pada Pasal 341 KUHP (pembunuhan bayi yang dilakukan dengan tidak berencana atau disebut dengan kinderdoodslag) dan Pasal 342 KUHP (pembunuhan bayi yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu atau disebut dengan kindermoord).Kedua pembunuhan terhadap bayi
tersebut sama-sama dilakukan pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan, bukan sebelum melahirkan atau dengan perbuatan mematikan atau menggugurkan kandungan (abortus provocatus) yang
tersebut sama-sama dilakukan pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan, bukan sebelum melahirkan atau dengan perbuatan mematikan atau menggugurkan kandungan (abortus provocatus) yang