1. Umur
Umur ibu yang terlalu kecil (<20 tahun) secara fisik dan psikologi kondisi ibu masih belum matang, sedangkan usia >35 tahun ibu sudah memiliki banyak kekurangan baik dari fisik yang mudah lelah dan psikologi karena beban yang semakin banyak (Bustami, 2017:175).
Resiko kematian pada kelompok umur di bawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi dari kelompok umur reproduksi sehat (20-30 tahun),demikian juga dengan kelompok umur 35 tahun keatas (Prawirohardjo, 1991 dalam meylanie, 2010)
2. Pengetahuan
Pengetahuan ibu tentang kehamilan sangat mempengaruhi sikap ibu dalam memnuhi kebutuhan kehamilanya misalnya tentang asupan gizi ibu hamil. (Bustami, 2017:160)
3. Pendidikan ibu
Mempengarhui seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Pendidikan tinggi ibu biasanya akan lebih rasional dari pada ibu yang berpendidikan rendah (Bustami, 2017:160).
4. Paritas
Ibu dengan paritas tinggi (lebih dari 4 kali) mempunyai risiko lebih resiko lebih besar untuk mengalami perdarahan (Depkes, 2008). Kehamilan dengan paritas 6 keatas (Grandemultipara) mempunyai resiko kematian 8 kali
lebih tinggi dari paritas lainnya (Mochtar,1990). Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Risiko pada paritas dapat ditangani dengan asuhan obstetrik yang lebih baik (Sarwono, 2006)
5. Sosial Ekonomi
Tingkat ekonomi keluarga memiliki pengaruh terhadap keputusan ibu dalam memilih tenaga penolong persalinannya. Keluarga dengan pendapatan rendah cenderung memilih tenaga non kesehatan yaitu dukun bayi karena dukun bayi jauh memberikan tarif yang lebih murah jika di bandingka dengan bidan (Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2012)
6. Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang. Pekerjaan seseorang dalam hal ini memiliki keterkaitan dalam hal memilih penolong persalinannya. Jika seorang ibu bekerja maka secara otomatis akan ikut meningkatkan taraf sosioe ekonomi keluarga tersebut sehingga pendapatan keluarga yang mencukupi akan mendorong seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan. Menurut teori pola pemanfaatan pelayanan kesehatan dari Andreson, bahwa pekerjaan ibu juga ada kaitanya dengan arah pencarian dan pemilihan pertolongan persalinan (Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2012)
7. Jarak
Akses kepelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa hal diantaranya jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan, serta
status sosio ekonomi dan bahaya (laporan hasil Riskesdes 2007). Tris Eryando (2007) menyatakan bahwa akses fisik dapat menjadi alasan untuk mendapatkan tempat persalinan di pelayanan kesehatan maupun bersalin dengan tenaga kesehatan. Akses fisik dapat di hitung dari waktu tempuh, jarak tempuh, jenis transportasi dan kondisi di pelayanan kesehatan seperti jenis layanan yang tidak strategis/sulit dicapai menyebabkan kurangnya akses ibu hamil yang akan melahirkan terhadap pelayanan kesehatan (Meylanie, 2010) 8. Sosial budaya
Taylor dalam buku nya Primitive Cultue, memberikan definisi kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan kesenian, moral, hukum adat istiadat dan kemampuan lain serta kebiasan kebiasaan yang di dapat manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Herkovits, budaya sebagai hasil karya manusia sebagai dari lingkunganya (cultur is teh human-made part of the enivronment) artinya segala sesuatu yang merupakan hasil dari perbuatan manusia, baik hasilnya itu abstrak maupun nyata, asalkan merupakan proses untuk terlibat dalam lingkunganya, baik lingkungan fisik maupun sosial, maka disebut budaya (Bustami Sinta EL Lusiana, dkk. 2017:155).
Aspek prilaku keluarga dan masyarakat menurut setyawati (2012) adalah: 1. Dukungan keluarga
Kehamilan melibatkan seluruh anggota keluarga karena nantinya akan hadir seorang anggota keluarga baru, terjadi perubahan hubungan dalam keluarga
2. Dukungan suami
Respon suami terhadap kehamilan istri, memberikan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri. Bentuk dukungan suami :
a. Dukungan psikologi. Contoh : ungkapan empati, kepedulian, dan perhatian seperti menemani istri saat periksa hamil.
b. Dukungan sosial. Dukungan yang bersifat nyata dan dalam bentuk materi, contoh : persiapan finansial khusus untuk persalinan
c. Dukungan informasi. Contoh : mencari informasi mengenai kehamilan, dengan ini akan menjaga kesehatan, kejiwaan istri agar tetap stabil, tenang dan bahagia.
d. Dukungan lingkungan. Contoh : membantu pekerjaan istri (Bustami, 2017:160)
Faktor penentu/determinan perilaku manusia sulit untuk di batasi karena perilaku merupakan resultasi dari berbagai faktor baik internal maupun eksternal (lingkungan). Teori determinan perilaku antara lain :
1. Teori Lawrence Green (1980)
Menurut lawrence bahwa perilaku ditentukan oleh 3 faktor yaitu :
a. Faktor predisposisi (Predisposing Factors) karakteristik ini menggambarkan bahwa setiap individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda dikarenakan adanya perbedaan- perbedaan pada ciri-ciri demografi yang terdiri dari (jenis kelamin, umur pengetahuan, kepercayaan sikap, keyakinan), struktur sosial (tingkat pendidikan,pekerjaan,ukuran keluarga), manfaat kesehatan seperti keyakinan
bahwa pelayanan kesehatan tersebut dapat menolongnya menyembuhkan penyakit (Syafrudin, 2010: 145)
b. Faktor pendukung (Enabling Factors) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia/tidak tersediannya fasilias/sarana kesehatan, sumber daya keluarga (tingkat pendapatan keluarga,asuransi kesehatan) serta sumber daya masyarakat misalnya ketersediaan fasilitas pelayanan, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan (syafrudin, 2010: 145)
c. Faktor pendorong (Reinforcing Factors), terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain (Syafrudin,2010:145)
Menurut Anderson (1995), mengembangkan suatu model tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan dimana pelayanan kesehatan tersebut dipengaruhi oleh faktor predisposisi (jenis kelamin, umur, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, ras agama, dan kepercayaan kesehatan), karakteristik kemampuan (penghasilan, asuransi, kemampuan membeli jasa pelayanan kesehatan, pengetahuan tentang kebutuhan pelayanan kesehatan, adanya sarana pelayanan kesehatan serta lokasinya dan ketersediaan tenaga kesehatan), dan karakteristik kebutuhan penilaian individu dan penilaian klinik terhadap suatu penyakit (Notoatmodjo, 2012).
Setiap faktor tersebut kemungkinan berpengaruh sehingga dapat untuk memprediksi pemanfaatan pelayanan kesehatan. Salah satu faktor determinan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan juga di tuangkan ke dalam katogeri karakteristik kemampuan seseorang untuk melakukan tindakan memenuhi kebutuhanya terhadap pelayanan kesehatan yaitu, sumber daya masyarakat,
termasuk kemampuan dan kemauan membayar pasien. Kemauan membayar suatu keluarga atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dapat di telurusi atau dari pendapatan atau pengeluaran keluarga (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Anderson (1974) yang di kutip Notoadmojo (2012), menjelaskan bahwa ada beberapa model kepercayaan kesehatan dimana ketika setiap individu memanfaatkan pelayanan kesehatan tergantung tiga kategori utama diantaranya : a. Karakteristik predisposisi (Presdiposing characteristics)
Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan bahwa tiap individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu,yang di golongkan kedalam tiga kelompok
1) Ciri-ciri demografi, seperti jenis kelamin dan umur
2) Sturktur sosial seperti tingkat pendidikan, pekerjaan kesukuuan atau ras dan sebaginya.
3) Manfaat kesehatan seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat menolong proses penyembuhan penyakit. Selanjutnya Anderson percaya bahwa :
a) Setiap individu atau orang mempunyai perbedaan karakteristik, mempunyai perbedaan tipe dan frekuensi penyakit dan mempunyai perbedaan pola penggunaan pelayanan kesehatan
b) Setiap individu mempunyai perbedaan struktur social, mempunyai perbedaan gaya hidup, dan akhirnya mempunyai perbedaan pola pelayanan kesehatan.
c) Individu percaya adanya kemanjuran dalam penggunaan pelayanan kesehatan.
b. Karakteristik pendukung (enabeling characteristics)
Karakteristik pendukung ini menggunakan suatu pelayanan kesehatan, memerlukan tindakan untuk menggunakanya. Penggunaan pelayanan kesehatan yang disediakan tergantung pada kemampuan konsumen untuk membayar.
c. Karakteristik kebutuhan ( need characteristic)
Faktor predisposisi dan faktor yang memungkinkan untuk mencari pengobatan dapat terwujud di dalam tindakan apabila itu dirasakan sebagai kebutuhan. Dengan kata lain kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Bilamana tingkat predisposisi dan enabling itu ada. Kebutuhan (need) di bagi dalam dua kategori yaitu preceived need dan evaluated need.
2. Berdasarkan penelitian dari jurnal yang peneliti dapat mengenai faktor- faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pertolongan persalinan adalah sebagai berikut :
a. Berdasarkan penelitian dari Indriyani (2012) tentang determinan ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Muara Saling Kabupaten Empat Lawang Tahun 2010, dengan hasil Penelitian: Variabel tingkat perekonomian keluarga (p=<0,001), pengetahuan (p=0,020), persepsi sehat sakit (p=0,049), peran keluarga (p=0,012) dan biaya persalinan
sebelumnya pada ibu dengan paritas > 1 (p=,0,01) berpengaruh terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan.
b. Donsu (2014), tentang faktor - faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan penolong persalinan pada ibu bersalin di desa Moyongkota Baru Kecamatan Modayag Barat. Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil uji chi square diketahui bahwa faktor pengetahuan (ρ=0,006) dan dukungan suami (ρ=0,001) berhubungan signifikan terhadap pemanfaatan penolong persalinan, sedangkan faktor status ekonomi tidak berhubungan signifikan dengan pemanfaatan penolong persalinan dengan nilai ρ=0,206.
c. Nurhapipah (2015) tentang faktor yang mempengaruhi ibu dalam memilih penolong persalinan di Puskesmas XIII Koto Kampar I. Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sikap (p=0,011), keterjangkauan (p=0,001) dan dukungan keluarga (p=0,042) berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan. Variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap pemilihan penolong persalinan adalah keterjangkauan dengan nilai koefisien regresi 2,702.
d. Alhidayati (2016) tentang bagaimana Perilaku Ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Tembilahan Hulu Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan keputusan ibu memilih penolong persalinan sangat berkaitan dengan pengetahuan, sikap, sosial budaya, akses ke pelayanan kesehatan, dukungan keluarga. Perilaku ibu dalam memilih tenaga penolong persalinan masih banyak ke dukun bayi dibandingkan ke tenaga kesehatan/bidan.
e. Gebregzuer (2019) Penelitian ini adalah dilakukan di Akordet, sebuah kota dataran rendah di Wilayah Gash-Barka, yang bertujuan menilai faktor-faktor yang mempengaruhi pengiriman fasilitas, Hasil: tingkat pengiriman ibu bersalin ke fasilitas dalam pengaturan ini ditemukan menjadi 82,3%. Hampir semua (96,1%) ibu melakukan kunjungan ANC selama kehamilan terakhir mereka, dengan mayoritas (59,7%) mengunjungi klinik ANC selama trimester kedua untuk pertama kali. Ibu yang tingkat pendidikannya rendah dan tingkat pendidikan tinggi (AOR 8.8, CI: 1.18-65.64), yang suaminya berpendidikan levelnya lebih muda dan lebih tinggi (AOR 3.92, CI: 1.03– 14.54), yang melahirkan di fasilitas kesehatan sebelum kehamilan terakhir (AOR 8.16, CI: 3.41–19.48), dan mereka yang mengalami komplikasi selama kehamilan terakhir (AOR 2.24, CI: 1.04–4.82) lebih mungkin terjadi untuk melahirkan di fasilitas kesehatan. Ibu memiliki jumlah anak 4-6 cenderung lebih kecil (AOR 0,24, CI: 0,090.62) untuk melahirkan di fasilitas kesehatan.
f. Husnain (2018) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan kelahiran di rumah dalam konteks karakteristik sosiodemografi ibu di Pakistan. Hasil: Studi ini mengungkapkan bahwa melahirkan di rumah sangat lazim di kalangan ibu di Pakistan (Baluchistan, 74%; Khyber-Pakhtunkhwa, 53%; Gilgit Baltistan, 46%; Punjab, 45% dan Sindh, 34%) karena kesulitan mereka mendapatkan izin untuk mengunjungi fasilitas kesehatan, hambatan keuangan, jarak ke fasilitas kesehatan dan transportasi. Variasi substansial diamati ketika karakteristik geo-demografis dipertimbangkan. Melahirkan di rumah lebih tinggi tingkat telah dicatat di daerah Pedesaan dibandingkan
dengan di daerah perkotaan (OR 1,32; p ≤ 0,000). Kemungkinan kelahiran di rumah tertinggi (OR 2,67; p = 0,000) di antara wanita di provinsi Baluchistan dan terendah (OR 0,48; p = 0,000) di antara para ibu di provinsi Punjab. Setelah mengontrol semua rasio odds dan karakteristik demografis, data tingkat pendidikan orang tua tetap merupakan faktor penting (p = 0,000) yang memengaruhi keputusan perempuan untuk melahirkan di rumah daripada di fasilitas kesehatan.
3. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan Pertolongan Persalinan Menurut Anderson dalam Notoatmodjo (2012) setiap individu mempunyai kecenderungan utuk menggunakan pelayanan kesehatan yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena adanya ciri-ciri individu, yang di golongkan dalam tiga kelompok yaitu ciri-ciri demografi, seperti jenis kelamin dan umur, struktur sosial seperti, tingkat pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan ras.
Meylanie (2010) menyatakaan sosial ekonomi, paritas, pekerjaan, jarak ke fasilitas kesehatan memiliki hubungan yang signifikan terhadap pemanfaatan penolong persalinan
Pendekatan teoritis yang di gunakan dalam penilitian ini yaitu menurut teori Anderson bahwa perilaku di tentukan oleh 3 faktor yaitu, faktor predisposisi (Predisposing characteristics), faktor pendukung (Enabling characteristics), faktor pendorong (Need characteristics).
Bagan 2.1 Kerangka Teori Sumber : Anderson (2012)
Karakteristik Pendukung
sumber daya keluarga (penghasilan, kepemilikan asuransi kesehatan, daya beli dan pengetahuan tentang layanan kesehatan), dan
Sumber daya masyarakat (ketersediaan sarana pelayanan, jumlah tenaga kesehatan, rasio penduduk )
Karakteristik Kebutuhan
Permintaan layanan kesehatan (persepsi sakit, diagnose
Penyakit, kecacatan, status kesehatan)
Perilaku Kesehatan dalam Pemanfaatan Pertolongan
Persalinan Karakteristik Prediposisi
Demografi (umur, seks, status perkawinan),
Struktur sosial (pendidikan, pekerjaan, ras, hobi, agama), dan
Kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan (health belief)
33