• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Konversi Agama dalam Sudut Pandang Sosio-Teologis

2.3. Faktor-Faktor Konversi Agama

Sebagaimana dikutip oleh Hendropuspito, Max Heirich mengemukakan bahwa setidaknya ada empat faktor yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan konversi.60 Masing-masing dari keempat faktor itu dilihat berdasarkan pendekatan tertentu.

a. Secara teologis, kita dapat menemukan kemungkinan adanya pengaruh ilahi yang mendorong orang melakukan konversi. Dalam hal ini seseorang memutuskan untuk berkonversi karena merasa terdorong wahyu atau pencerahan yang didapatnya dari yang ilahi.

b. Secara psikologis, konversi—sebagaimana disebutkan sebelumnya—

mungkin saja terjadi sebagai akibat adanya tekanan. Tekanan batin ini

59 Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), 362.

60 Empat faktor ini terutama merujuk kepada konversi dalam artian masuk atau pindah agama.

Keempat faktor yang akan diuraikan selanjutnya itu disarikan dari Hendropuspito, Sosiologi Agama, 80-83.

14

ditimbulkan oleh berbagai faktor. Pertama, masalah keluarga yang dialami seseorang sebelum ia melakukan konversi. Kedua, keadaan lingkungan yang menekan dan menimbulkan persoalan pribadi. Ketiga, kemiskinan menurut Heirich juga dapat menjadi faktor yang mendorong seseorang.

Heirich sendiri belum sempat melakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan atau memberikan argumentasi yang kuat mengenai faktor yang satu ini.

Meski demikian, terlepas dari adanya tekanan batin atau tidak, faktor ekonomi sendiri—dalam hal ini soal kemiskinan—dapat dikatakan turut berperan dalam suatu konversi. Hal ini dikemukakan sejumlah sarjana Islam barat yang meneliti tentang agama Islam mula-mula. Sebagaimana yang diterangkan Mun’im Sirry, faktor ekonomi juga mendorong masyarakat di kawasan timur tengah untuk memilih bergabung dengan Komunitas Islam yang relatif baru, pada saat mereka (komunitas Islam) mulai berkembang di sana.61

c. Secara pedagogis, pendidikan, khususnya yang berbasis agama tertentu juga memainkan peran yang cukup kuat dalam membentuk kecenderungan pada diri seseorang untuk menjadi lebih religius. Meskipun tidak sampai pada tingkat fanatis tetapi hal ini mungkin saja terjadi mengingat persinggungan dengan ajaran-ajaran keagamaan yang pasti terjadi dalam

61 Pertama, bertolak dari teori bahwa Mekkah merupakan jalur perdagangan barang mewah yang menghubungkan Samudera India dengan Mediterania, Henri Lammens dan kemudian William M.

Watt mengajukan motivasi ekonomi di balik ekspansi Islam di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya. Menurut mereka, jalur perdagangan itu memang membawa dampak keuntungan ekonomi bagi wilayah yang dilaluinya. Namun keuntungan ini hanya dinikmati oleh sejumlah kecil golongan masyarakat, sementara mayoritas masyarakat lainnya tidak menikmati kekayaan yang berlimpah sebagaimana mereka. Lambat laun kondisi ini berdampak pada makin lebarnya kesenjangan ekonomi. Kemudian ketika Islam datang dengan gagasan kesetaraan dan persamaannya, sebagian besara masyarakat Arab pun dengan antusias menyambut dan turut berpartisipasi dalam penyebaran dan bahkan ekspansi Islam untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Selain itu pun ketika Islam sampai ke wilayah Bizantium dan Persia kondisi buruh di dua kerajaaan besar tersebut yang sudah lelah dengan kehidupan mereka juga akhirnya menyambut dan mempermudah ekspansi Islam. Kedua, penjelasan Lammens dan Watt tadi memang terkesan mereduksi perjuangan kaum Muslim mula-mula yang juga berkorban nyawa dalam memperjuangkan keyakinan mereka sebagai urusan duniawi semata. Namun, setidaknya kita tidak dapat menafikan bahwa alasan-alasan ekonomi juga berperan di sana. Bahkan di dalam sumber-sumber kaum Muslim sendiri pun ada catatan mengenai faktor ekonomi. Salah satunya adalah kisah yang dituturkan Muhammad ibn Abdullah al-Azdi mengenai Abu Bakar yang pernah mengajak penduduk Yaman untuk ikut berpartisipasi dalam ekspansi Islam dengan iming-iming harta rampasan perang. Dengan demikian faktor ekonomi juga menjadi salah satu yang patut diperhitungkan, meskipun bukan satu-satunya faktor. Lih. Mun’im Sirry, Kontroversi Islam Awal (Bandung: Mizan, 2015), 271-273.

15

suasana pendidikan yang demikian.62 Meskipun demikian pada dasarnya sedikit saja jumlah naradidik dalam sekolah-sekolah berbasis keagamaan yang memutuskan untuk melakukan konversi. Namun, kenyataan bahwa hal itu juga merupakan suatu fenomena yang benar terjadi membuat kita tidak dapat menafikan bahwa suasana pendidikan pun juga menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya konversi.

d. Secara sosiologis, terdapat juga aneka pengaruh sosial yang dapat membuat orang memutuskan untuk berkonversi. Sebenarnya sama seperti yang dikatakan dalam bagian pendahuluan, bahwa faktor pengaruh sosial dan tekanan batin ini berkaitan satu sama lain, sebab tekanan batin juga disebabkan oleh adanya situasi di sekitar pelaku konversi. Dalam hal ini situasi yang dimaksud adalah bersifat memaksa tetapi tidak terjadi secara langsung. Di samping itu ada juga situasi yang memaksa orang secara langsung untuk melakukan konversi. Paksaan langsung ini dapat lagi dibagi menjadi dua macam, yakni dengan pendekatan yang keras dan lembut. Contoh pendekatan yang keras dapat dilihat dalam penerapan aturan negara-kerajaan yang mewajibkan rakyatnya untuk memeluk agama yang sama dengan raja jika tidak ingin diusir dari wilayahnya. Selain itu pendekatan keras juga dapat dilihat dalam penaklukkan wilayah yang disertai ancaman untuk memeluk agama penakluk jika tidak ingin dibunuh.

Di samping situasi-situasi tadi, yang bersifat memaksa baik langsung maupun tidak, terdapat juga situasi-situasi yang bersifat persuasif. Heirich mencatat lima situasi semacam itu yakni: 1) pengaruh pergaulan antar pribadi, baik dalam lingkup keagamaan maupun profan; 2) adanya teman akrab yang mengajak masuk komunitas keagamaan yang sesuai dengan seleranya; 3) berulang kali diajak menghadiri ibadah dan ceramah agama tertentu; 4) mendapat anjuran dari orang terdekat saat sedang “mencari pegangan baru”; 5) adanya jalinan relasi yang baik dengan pemuka agama tertentu. Pendekatan persuasif semacam ini tentu memiliki pengaruh yang sedikitnya tentu lebih besar, karena terjadi tanpa paksaan yang menimbulkan tekanan pada diri seseorang.

62 Perjumpaan dengan ajaran agama tertentu dapat menimbulkan efek ketertarikan dalam diri seseorang untuk mendalami ajaran tersebut. Hal ini sendiri juga menjadi salah satu faktor pendorong konversi sebagai mana yang dikemukakan oleh Lofland dan Skonovd. Lih. Rambo, Understanding Religious Conversion, 14-16.

16

Keempat faktor di atas tidaklah bekerja sendiri-sendiri. Dalam hal ini salah satu dari faktor tersebut menurut Heirich tidak dapat menjadi faktor tunggal yang mendorong seseorang atau sekelompok orang melakukan konversi. Hanya secara bersama-samalah faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh yang lebih kuat untuk mengubah pendirian orang sehingga memutuskan berpindah atau masuk ke dalam agama tertentu.

Dokumen terkait