• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fenomena Konversi Agama di Amanuban Timur Ditilik dari Perspektif

Setelah melihat beberapa kasus konversi yang ada beserta kondisi yang melingkupinya, berikutnya dalam bagian ini fenomena tersebut akan dikaji lebih jauh dengan berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan sebelumnya.

4.1.Motivasi Beragama

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa tindakan religius pasti didahului dorongan psikologis tertentu, termasuk fenomena konversi agama di Mauleum.

Dalam hal ini para pelaku bisa dipastikan terpengaruh juga situasi dan kondisi yang melingkupi mereka, sebab motif itu sendiri timbul sebagai akibat dari dinamika manusia dengan lingkungan di sekitarnya.82

Pertama-tama dapat dilihat secara umum bahwa lingkungan kehidupan para pelaku merupakan lingkungan yang sulit untuk dijalani apabila dilihat dari sudut pandang sosial-ekonomi. Kondisi ini tentu dapat menimbulkan frustrasi bagi para penduduk secara individual. Kemungkinan mengatasi frustrasi sebagai motif beragama masyarakat Mauleum menjadi terbuka

Selanjutnya terkait latar belakang intelektual, masyarakat Desa Mauleum sendiri sebagian besar hanya berpendidikan dasar atau menengah. Hal tersebut

81 Rumah-rumah bantuan tersebut penulis lihat sendiri dan dapat ditemukan dengan mudah terutama di wilayah Dusun Satu.

82 Dister, Pengalaman dan Motivasi, 72.

23

berlaku pula bagi para pelaku konversi yang semuanya tidak pernah duduk di bangku kuliah. Dengan demikian kendati melalui perpindahan agama seseorang dapat memenuhi hasrat intelektualnya, sulit mengatakan bahwa para pelaku konversi di Mauleum termotivasi untuk beragama demi memuaskan hasrat intelektualnya.

Selain menyangkut aspek internal individu seperti frustrasi dan hasrat intelektual, motifasi beragama juga terkait dengan aspek eksternal yakni tatanan sosial yang ada. Tatanan sosial ini dapat berlangsung secara tertib apabila masyarakat di dalamnya menganut nilai-nilai kesusilaan yang salah satunya dapat ditemukan dalam institusi agama. Motivasi semacam ini umumnya terjadi melalui penurunan tradisi beragama beserta nilai-nilainya dari orang tua kepada anak mereka.83 Hal ini sangat cocok dengan fenomena di Mauleum yakni anak-anaknya beragama seturut agama orang tua atau wali mereka.

Kendati kedua motivasi tersebut dapat dikenakan pada masyarakat Mauleum, tetapi apabila ditempatkan secara spesifik dalam fenomena konversi agama yang terjadi di Mauleum, maka akan ditemukan pula beberapa keunikan yang membuat motivasi beragama para pelaku konversi tidak sama persis dengan teori motivasi beragama yang diungkapkan Dister. Dalam hal ini pada motivasi untuk mengatasi frustrasi yang dipaparkan Dister, beragama menjadi jawaban bagi frustrasi yang dialami individu dengan mengarahkan dirinya kepada sosok ilahi.84 Dengan kata lain segala keterbatasan yang dialami saat ini baru dapat dilampaui saat di akhirat nanti. Namun pada kasus konversi di Mauleum kesan fungsional pada agama menjadi jauh lebih terasa oleh karena keterbatasan tersebut dapat dilampaui pada masa kini. Dua pelaku anak-anak yang diwawancarai semuanya mengarah pada hal ini. Mereka memutuskan melakukan konversi setelah ditawari keuntungan materiel tertentu yang dapat membantu mengatasi keterbatasan mereka untuk mengenyam pendidikan. Sementara itu kesaksian yang diberikan salah seorang narasumber dari Kantor Desa menyebutkan bahwa dari keseluruhan warga yang melakukan konversi agama dalam 5 tahun terakhir semuanya mendapatkan bantuan rumah dan/atau sembako. Dengan demikian keterbatasan penyebab frustrasi yang dialami oleh para pelaku sedikit banyaknya dapat teratasi dengan melakukan konversi agama.

Keunikan fenomena konversi di Mauleum juga ditemukan dalam kaitan dengan motivasi beragama untuk menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat.

83 Dister, Pengalaman dan Motivasi, 100.

84 Dister, Pengalaman dan Motivasi, 75.

24

Dalam paparan yang diberikan Dister, motivasi beragama ini ini terjadi dengan memanfaatkan fungsi kontrol dari agama melalui nilai-nilai moral yang terkandung di dalam institusi agama, sehingga masyarakat yang terhisab ke dalamnya dapat diarahkan ke dalam suasana ketertiban hidup bersama.85 Sementara itu dalam konteks tatanan sosial Indonesia sebagai suatu Negara, yang ke dalamnya masyarakat desa Mauleum juga terhisab terjadi sedikit perbedaan dalam hal keterlibatan agama dengan tatanan sosial, sebab di Indonesia agama selain dimanfaatkan sebagai sumber nilai-nilai moral keyakinan akan Tuhan, juga dijadikan sebagai sebuah konsensus untuk menjamin kerukunan dalam kepelbagaian. Dampaknya Negara melalui perangkatnya juga mengatur kehidupan beragama masyarakat sehingga masyarakat secara tidak langsung cenderung didorong untuk menjalankan kehidupan beragama, termasuk masyarakat desa Mauleum yang secara sadar atau tidak juga termotivasi untuk beragama demi berpartisipasi dalam mewujudkan ketertiban tatanan sosial yang ada.

4.2.Konversi Agama dan Jenisnya

Bertolak dari motif-motif tadi dapat dilihat bahwa sifat fungsional dari agama sangat terasa dalam fenomena konversi yang terjadi di Mauleum dan itu menunjukkan bahwa perilaku beragama para pelaku konversi terkategorikan sebagai religi spontan ketimbang iman yang sejati. Meskipun telah dikatakan bahwa baik aspek psikologi maupun lingkungan sama-sama berperan dalam suatu konversi,86 tak terkecuali yang terjadi di Mauleum, tetapi dengan kuatnya nuansa fungsional dalam motivasi beragama mereka dan kenyataan bahwa perilaku beragama mereka lebih cocok digolongkan sebagai religi spontan, maka aspek lingkungan sosial menjadi lebih dominan dalam fenomena yang terjadi di Mauleum. Hal ini akan membantu dalam mengidentifikasi jenis konversi yang terjadi di Mauleum.

Adapun jenis-jenis konversi sebagaimana yang dipaparkan Lofland dan Skonovd dibagi menjadi enam jenis bertolak dari motif yang memungkinkannya.

Oleh karena itu dengan memperhatikan kecenderungan motif maupun aspek dominan yang ada dalam fenomena konversi agama di Mauleum dapat dipastikan jenis dari fenomena tersebut.

Dengan memperhatikan hal tersebut di atas maka konversi intelektual tidak dapat diidentifikasikan pada fenomena yang terjadi di Mauleum. Pertama-tama tentu karena sebagaimana dipaparkan sebelumnya bahwa motif hasrat intelektual

85 Dister, Pengalaman dan Motivasi, 101.

86 Jalaludin, Psikologi Agama, 362.

25

tidak ditemukan dalam fenomena yang terjadi di Mauleum. Selain itu berdasarkan informasi dari narasumber, sebelum berkonversi ke agama Islam, mereka sering berinteraksi dengan individu atau komunitas agama Islam setempat. Padahal konversi intelektual ditandai dengan ketiadaan kontak sosial dengan individu dan komunitas agama terkait.

Selanjutnya tanda-tanda yang menunjukkan konversi mistis juga tidak ditemukan dalam fenomena yang terjadi di Mauleum. Berdasarkan keterangan para pelaku konversi, tidak ada pengalaman mistis tertentu yang mereka alami sebelum melakukan konversi. Sehingga jenis konversi ini pun dapat dikesampingkan.

Berikutnya konversi eksperimental juga tidak serta merta dapat diidentifikasikan dalam fenomena ini. Hal ini bertolak dari ciri konversi eksperimental yakni adanya akses ke banyak pilihan agama untuk kemudian dipilih salah satu yang dirasa cocok. Sementara dalam kasus Mauluem sendiri pilihan agama yang ada sangat terbatas,87 sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan eksperimen demi memilih agama yang cocok.

Begitu pula dengan konversi kebangunan rohani yang terjadi karena sentuhan emosional melalui khotbah, musik, atau aspek lainnya dalam agama tertentu.

Dalam fenomena di Mauleum, baik melalui observasi penulis maupun keterangan narasumber tidak ada aktifitas keagamaan yang cukup signifikan untuk mempengaruhi seseorang dalam melakukan konversi.

Dari semua jenis konversi, yang paling memungkinkan hanyalah konversi afeksi dan paksaan. Kedua jenis konversi ini sendiri dapat dikatakan memiliki perbedaan yang tipis yakni sama-sama ditandai dengan adanya interaksi antara orang yang nantinya melakukan konversi dengan seseorang yang berasal dari komunitas agama tertentu,. Hal yang membedakan kedua jenis konversi tersebut adalah bila dalam konversi paksaan sudah ada situasi tertentu yang dapat digunakan untuk memaksa seseorang melakukan konversi, maka dalam konversi afeksi tidak dijumpai situasi semacam itu sehingga hubungan personal menjadi dorongan utama bagi seseorang dalam melakukan konversi. Bertolak dari indikator tersebut, maka konversi afeksi dapat dikesampingkan dalam fenomena konversi di Mauleum, sebab meskipun ada interaksi secara personal antara para pelaku konversi dengan orang-orang yang memeluk agama Islam di sana, tetapi ada juga situasi tertentu yang dapat mendorong mereka untuk melakukan konversi seperti kemiskinan dan relasi superior-inferior. Hal ini sejalan dengan yang telah

87 Hanya ada dua yakni Kristen dan Islam.

26

dituliskan sebelumnya bahwa dengan adanya suasana beragama yang bernuansa fungsional dan indikasi religi spontan yang kuat dalam masyarakat maka situasi semacam itu dapat dimanfaatkan untuk memaksa baik secara halus maupun keras agar orang mau melakukan konversi. Dengan demikian fenomena konversi di desa Mauleum paling cocok untuk digolongkan ke dalam konversi Paksaan.

4.3.Faktor Konversi

Dengan melihat jenis dan motif konversi yang terjadi di Mauleum, maka faktor yang menjadi penyebab konversi pun cenderung mengerucut menjadi faktor sosial dan psikologis. Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut terkait faktor-faktor tersebut.

Sebagaimana yang telah diuraikan pada bagian 2, faktor-faktor penyebab konversi agama secara umum terbagi menjadi 4 faktor. Faktor pertama adalah faktor teologis. Dalam fenomena konversi di Mauleum penulis tidak mendapati pengakuan adanya pengalaman supranatural serupa wahyu atau ilham melalui penglihatan, bisikan atau sejenisnya yang menjadi tanda adanya faktor teologis.

Hal ini sejalan dengan uraian sebelumnya bahwa fenomen konversi di Mauleum tidak dapat digolongkan ke dalam jenis konversi mistis. Dengan demikian faktor teologis dapat dikesampingkan dalam tulisan ini.

Selanjutnya apabila memperhatikan ulasan sebelumnya maka faktor psikologis juga bisa dipastikan memiliki peran dalam fenomena di Mauleum. Lebih jelasnya hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa masyarakat di sana, termasuk para pelaku konversi, hidup dalam situasi kemiskinan yang cukup parah. Seturut yang telah dijelaskan situasi kemiskinan semacam ini tergolong situasi yang dapat menekan batin seseorang dan mendorongnya untuk melakukan konversi sebagai salah satu jalan keluarnya.

Kendati demikian dalam fenomena konversi di Mauleum ada sedikit kekhasan yang dapat ditemukan apabila bertolak dari penjelasan yang diberikan Heirich.

Dalam hal ini Heirich memberikan tekanan pada pencarian jalan keluar dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ajaran agama terkait. Dengan demikian dalam proses konversi akan terjadi proses pengenalan terlebih dahulu sebelum mencapai seremoni inisiasi. Namun dalam fenomena konversi di Mauleum, tahapan tersebut dilewatkan begitu saja. Para pelaku yang penulis wawancarai mengaku bahwa keputusan untuk ikut dalam inisasi konversi agama terkait diambil dengan lebih menitik beratkan pada manfaat praktis yang bisa didapat seperti fasilitas pendidikan dan berbagai macam bantuan materiel. Dengan

27

demikian kelakuan beragama mereka dapat dikatakan sebagai religi spontan ketimbang sikap iman sejati, yang akan dilihat lebih lanjut nanti.

Sementara itu terkait faktor pendidikan dapat dilihat dengan memperhatikan pola yang terjadi dalam fenomena di Mauleum. Apabila pendidikan hendak dilihat sebagai suatu faktor, maka persinggungan yang dialami oleh pelaku konversi pastinya berlangsung sebelum seseorang melakukan inisiasi konversi. Namun dalam fenomena di Mauleum aspek pendidikan yang terkait dengan agama tujuan konversi justeru bersentuhan dengan para pelaku konversi setelah mereka resmi memeluk agama terkait. Dengan demikian pendidikan dapat dikatakan tidak menjadi faktor dalam fenomena di Mauleum melainkan lebih berperan sebagai sarana sosialisasi keagamaan bagi mereka yang telah melakukan konversi.

Akhirnya faktor keempat yang disebutkan Heirich yakni faktor sosiologis.

Sebagaimana dijelaskan dalam bagian dua bahwa faktor sosiologis dapat berperan secara langsung maupun tidak langsung. Namun demikian yang lebih ditekankan Heirich dalam faktor sosiologis ini adalah yang secara langsung memaksa orang untuk melakukan konversi. Hal ini pun dapat dibedakan lagi berdasarkan pendekatan yang ditempuh, yakni secara keras melalui berbagai bentuk ancaman fisik atau mental maupun secara halus melalui ragam bentuk bujukan. Dalam kasus di Mauleum penulis tidak menemukan adanya bentuk paksaan yang melibatkan ancaman fisik terhadap mereka yang melakukan konversi. Namun paksaan yang menyasar mental dapat ditemukan dalam anak-anak yang tinggal bersama kaum keluarganya yang berbeda agama. Dalam hal ini mereka terdorong untuk melakukan konversi ke dalam agama yang sama dengan kaum keluarga mereka, sebagaimana yang dialami oleh Akristoni Sementara itu pendekatan halus melalui berbagai bujukan juga dapat dijumpai seperti yang dialami Bapak Otniel maupun Erik. Dalam hal ini mereka diajak untuk berkonversi oleh orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka. Hal yang perlu ditambahkan dalam fenomena di Mauleum tekait pendekatan ini adalah bahwa selain variabel-variabel yang ditunjukkan oleh Heirich ada juga bujukan-bujukan yang melibatkan aspek material, yakni ajakan untuk melakukan konversi dengan iming-iming keuntungan material tertentu.

4.4.Akar Persoalan

Setelah melihat beragam motif dan faktor yang mengitari fenomena konversi di Mauleum, selanjutnya dalam bagian ini akan dilihat lebih jauh akar persoalan dari fenomena tersebut dengan bertolak dari motif dan faktor yang telah dijelaskan

28

sebelumnya. Dalam hal ini akan dilihat bagaimana motif dan faktor tersebut berperan dalam pola proses konversi yang terjadi di Mauleum.

Secara umum berbagai konversi di Mauleum selama satu dekade terakhir terjadi dalam runtutan berikut ini. Pertama-tama masyarakat desa Mauleum sebagian besar hidup dalam situasi sosial-ekonomi yang menghimpit sehingga dapat menimbulkan berbagai frustrasi. Kemudian kurang lebih sejak satu dekade yang lalu kondisi tersebut menarik perhatian sejumlah lembaga swadaya masyarakat untuk memberikan bantuan bagi masyarakat di desa ini. Namun lembaga-lembaga ini memiliki afiliasi keagamaan tertentu dan dalam menyalurkan bantuannya dilakukan dengan memasukkan unsur-unsur keagamaan terkait. Hal ini lantas menjadi persoalan bagi masyarakat yang memiliki agama yang berbeda, sebab untuk mendapatkan berbagai manfaat bantuan yang datang mereka disyaratkan untuk melakukan konversi ke agama terkait.

Dengan hanya melihat runtutan perisitiwa yang demikian dan dengan mengacu pada motif maupun faktor yang telah diuraikan sebelumnya, maka akan timbul kesan umum bahwa akar persoalan fenomena konversi yang terjadi di Mauleum ada pada keinginan untuk memperbaiki kondisi kesejahteraan ekonomi yang bertemu dengan tawaran bantuan yang membonceng agama tertentu. Namun hal ini perlu dipertimbangkan kembali dengan ditemukannya juga beberapa hal di lapangan terkait peran bekas institusi keagamaan para pelaku, yakni Gereja, yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan. Sebagaimana telah dipaparkan dalam bagian 3, peranan Gereja dalam masyarakat di Mauleum dapat dikatakan kurang memadai, terutama dalam menjalankan fungsi edukasi. Hal ini dapat terlihat dari kurangnya tenaga pelayanan yang mumpuni jika dibandingkan dengan jumlah jemaat yang mesti dilayani. Padahal pelaksanaan fungsi edukasi ini penting dalam kaitan dengan sosialisasi nilai-nilai keagamaan sebagai sarana untuk mencapai kematangan iman dalam diri tiap-tiap umat.88

Kematangan iman pada dasarnya merupakan hal yang utama bagi seseorang dalam mempertahankan keyakinan beragama yang dimilikinya, sebab seiring dengan semakin matangnya iman maka semakin kuat pula ketahanan seseorang dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin berbenturan dengan keyakinan beragamanya.89 Sebaliknya apabila sosialisasi keagamaan tidak berjalan dengan baik, maka nilai-nilai keagamaan yang dapat menjadi pelindung iman seseorang tidak dapat meresap ke dalam dasar motivasi sehingga

88 Hendropuspito, Sosiologi Agama, 38.

89 Hendropuspito, Sosiologi Agama, 103.

29

memungkinkan seseorang bisa dengan gampang meninggalkan agama yang telah ia anut.90 Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa akar persoalan dari fenomena konversi agama di Mauleum rupanya terletak pada kurangnya peran gereja lokal dalam pembentukan iman jemaat. Sehingga menjadi penting bagi gereja setempat untuk lebih memaksimalkan serta menambah program-program pelayanan yang dapat meningkatkan sosialisasi nilai-nilai Kristiani ke dalam diri tiap-tiap warga jemaat yang ada.

5. Penutup

Dokumen terkait