Sebagaimana disebutkan sebelumnya, pada bulan Juli 2018 masyarakat di NTT dihebohkan oleh kabar di media sosial yang menyebutkan tentang aksi konversi agama dari Kristen ke Islam oleh sekelompok orang di Amanuban Timur. Meskipun fenomena ini menjadi viral karena dianggap sesuatu yang tidak biasa oleh masyarakat NTT yang mayoritas beragama Kristen, tetapi fenomena konversi ini sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru di wilayah Amanuban Timur. Bahkan konversi agama secara masal tercatat sudah terjadi sejak tahun 1960-an. Saat itu salah satu bangsawan lokal (fetor/raja muda) di wilayah Amanuban Timur memutuskan untuk berpindah agama yang kemudian dilakukan juga oleh ribuan pengikutnya.63 Sejak saat itu fenomena konversi agama berulang kali terjadi di wilayah Amanuban Timur dalam skala dan intensitas yang berbeda-beda pun dengan dorongan yang berberbeda-beda pula.
Fenomena konversi yang diberitakan tahun 2018 sendiri, khususnya inisiasi untuk masuk ke dalam agama Islam (mengucapkan syahadat) sebenarnya tidaklah terjadi sekaligus melainkan akumulasi dari konversi yang sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya. Menurut informasi yang didapatkan penulis, beberapa orang yang saat itu melakukan ritual inisiasi justru sudah pernah mengucapkan syahadat sebelumnya. Hanya beberapa di antaranya yang memang baru pernah mengucapkan syahadat untuk memeluk Islam. Menurut mereka yang sebelumnya sudah pernah mengucapkan syahadat, hal tersebut mereka lakukan kembali atas permintaan pihak-pihak tertentu demi kepentingan dokumentasi untuk tujuan tertentu. Dokumentasi tersebutlah yang kemudian tersebar dan menjadi viral di media sosial.64 Untuk mengetahui lebih jauh mengenai konversi yang mereka lakukan beserta latar belakangnya, maka penulis melakukan penelitian lapang ke desa Mauleum, Kecamatan Amanuban Timur. Berikut ini akan disajikan berbagai data didapat penulis setelah melakukan penelitian tersebut.
63 Hawu Haba, 70 Tahun: GMIT Berhikmat, 456-458.
64 Wawancara dengan Bapak Luther Isu, tokoh masyarakat Desa Mauleum pada 5 Desember 2019.
17 3.1.Desa Mauleum
Fenomena konversi agama yang diberitakan pada pertengahan tahun 2018 silam persisnya terjadi di Desa Mauleum. Dalam hal ini mereka yang melakukan konversi tidak lain adalah juga warga Mauleum sendiri. Desa Mauleum sendiri masuk dalam wilayah Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dari pusat kabupaten, yakni Kota Soe dibutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan untuk mencapai desa ini. Desa ini berpenduduk 2.191 jiwa yang hampir semuanya berlatarbelakang suku Dawan. Secara tradisional desa ini dulunya juga merupakan pusat salah satu kefetoran yang ada di bawah Kerajaan Amanuban. Adapun yang menjadi penguasa di wilayah kefetoran ini adalah keluarga Isu yang nanti akan kita lihat kaitannya dengan perkembangan Islam di daerah Amanuban.
Desa Mauleum memiliki luas lebih dari 15 km2. Sebagian besar wilayahnya didominasi perbukitan dan lembah. Iklim di desa ini tergolong kering. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa setiap tahun desa ini didominasi musim kemarau yang panjang. Bahkan tahun 2019 lalu kemarau yang dirasakan cukup ekstrim. Kondisi tersebut disaksikan sendiri penulis, di mana saat penulis melakukan penelitian di sana pada pertengahan Desember 2019 yang lalu, hujan bahkan belum turun sama sekali. Ini menyebabkan suasana gersang meliputi desa ini. Ditambah lagi air pun sulit untuk didapat, sebab keterbatasan mata air.
Sementara itu usaha untuk mengadakan sumber air bagi desa Mauleum yang diadakan berbagai LSM sendiri seringkali tidak berhasil.65
Kondisi tadi cukup banyak berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk desa ini menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Dengan adanya kekeringan yang terjadi hampir sepanjang tahun, kegiatan berkebun dan berternak yang dilakukan masyarakat pun tidak dapat memberikan hasil yang maksimal. Akibatnya sebagian besar masyarakat di sana harus hidup di bawah garis kemiskinan.
Adapun yang dapat dikatakan cukup membaik dari berbagai aspek di Desa ini adalah meningkatnya jumlah fasilitas pendidikan. Awalnya di desa ini hanya terdapat satu sekolah yakni SD GMIT Tenlenu. Meskipun masih tergolong tidak memadai mengingat jaraknya yang cukup jauh dari kampung lainnya di Desa Mauleum, yang sudah puluhan tahun ada di sana lebih baik dari pada tidak ada sama sekali. Keberadaan SD GMIT ini kemudian disusul dengan SD Muhamadiyah Mnelabesa. Namun karena jaraknya yang relatif tidak jauh dari SD
65Wawancara dengan Bapak Luther Isu
18
GMIT Tenlenu, maka sebenarnya tidak terlalu membantu karena masih tetap tergolong jauh sehingga kurang begitu terjangkau bagi masyarakat di wilayah lainnya di Mauleum. Kondisi ini baru teratasi setelah dibukanya SD Negeri Oemasi yang berada di sisi lain Desa Mauleum.66
Selain persoalan jarak ke fasilitas pendidikan, persoalan lainnya adalah pada awalnya hanya ada lembaga pendidikan dasar di Mauleum. Hal ini berlangsung hingga tahun 2000-an. Meskipun kemudian ada lembaga pendidikan menengah tingkat pertama yang dibangun tetap saja agak sedikit menyulitkan karena secara ketat berbasis pada sistem pendidikan keagamaan tertentu, yakni berbentuk Madrasah, dalam hal ini MTs Oe’ue. Beruntung saat ini hal tersebut sudah bisa teratasi dengan didirikannya SMP Negeri Satu Atap Oemasi. Selain itu bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang SMA juga sudah dapat bernapas lega dengan adanya rintisan SMA Kristen di Mauleum sejak 3 tahun lalu.67
Di Desa Mauleum sendiri setidaknya ada tiga agama yang dipeluk oleh penduduk setempat, yakni Kristen Protestan, Islam, dan Kristen Katolik. Kristen Katolik hanya dianut oleh beberapa Kepala Keluarga. Sementara baik Kristen Protestan maupun Islam masing-masing dianut oleh kurang lebih separuh dari jumlah penduduk yang ada. Sebenarnya sebagai Atoni (orang dengan latar belakan suku Dawan) secara tradisional masyarakat Desa Mauleum menganut kepercayaan tradisional animisme. Sementara agama-agama yang disebutkan di atas baru masuk di kemudian hari. Agama Kristen Protestan lebih dulu dibawa masuk oleh para pekabar injil dari Belanda. Di bawah pengaruh pemerintah kolonial agama Kristen berkembang pesat sehingga setelah Indonesia merdeka hampir seluruh masyarakat Desa Mauleum telah menganut agama Kristen Protestan. Selanjutnya secara perlahan masuk juga agama Kristen Katolik sebagai hasil migrasi orang-orang Katolik yang masuk dan menetap di Mauleum. Mereka kemudian membentuk komunitas kecil Gereja Katolik yang ada di Mauleum hingga kini.68
Komposisi agama di Mauleum baru berubah pada tahun 1960-an dengan masuknya agama Islam. Orang yang menjadi tokoh masuknya agama Islam tidak lain adalah Gabriel Isu, yang dalam pemerintahan tradisional menduduki jabatan sebagai fetor setempat. Setelah pemerintahan tradisional dihapuskan beliau sempat menduduki jabatan di lingkungan pemerintahan kabupaten TTS. Namun belakangan beliau tersingkir dari lingkungan pemerintahan. Oleh karena kecewa
66 Wawancara dengan Bapak Luther Isu
67 Wawancara dengan Bapak Luther Isu
68 Wawancara dengan Bapak Luther Isu
19
tidak lagi berkesempatan duduk di pemerintahan, ia lalu pergi merantau ke Jawa.
Setelah itu ia kembali lagi ke Timor sebagai seorang mualaf dengan nama Gunawan Isu. Sebagai seorang mantan Fetor yang tentu berpengaruh di wilayahnya, ia kemudian mendorong masyarakat di Amanuban Timur untuk berpindah agama dari Kristen menjadi Islam. Alhasil banyak masyarakat di Amanuban Timur, termasuk Mauleum yang berpindah agama menjadi penganut Islam. Sejak saat itu jumlah pemeluk agama Islam di Mauleum terus berkembang.
Apalagi dengan adanya Fenomena Konversi keagamaan yang terjadi dalam kurun satu dekade terakhir, Kristen Protestan dan Islam menjadi agama yang dominan di Desa Mauleum dengan jumlah pemeluk yang hampir berimbang.69
3.2.GMIT Jemaat Wilayah Anugerah Mauleum
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Kristen Protestan merupakan agama yang cukup besar pemeluknya di Desa Mauleum. Di desa ini sendiri ada dua komunitas pemeluk agama Kristen Protestan, yakni yang merupakan anggota GMIT dan GpdI.70 Namun dibandingkan GMIT, jumlah anggota jemaat GPdI tidaklah signifikan. Sebagian besar penganut Kristen Protestan di Desa Mauleum adalah anggota jemaat GMIT, dalam hal ini Jemaat Wilayah Anugerah Mauleum71 Klasis Amanuban Timur.72
JWAM merupakan salah satu dari sekian banyak Jemaat di lingkup GMIT yang berbentuk Jemaat Bermata-Jemaat. Istilah ini tidak bermakna suatu jemaat mandiri yang memiliki satu atau beberapa mata jemaat di bawah naungannya.
Jemaat bermata-jemaat merujuk pada semacam sistem pengorganisasian jemaat yang berbentuk federal. Dalam hal ini beberapa mata jemaat yang berada pada satu wilayah yang berdekatan bergabung untuk membentuk suatu jemaat.73 Secara sederhana jemaat bermata-jemaat dapat diistilahkan sebagai Federasi Mata Jemaat. Dengan demikian status kemandirian tidak terdapat pada salah satu Mata Jemaat yang ada melainkan pada keseluruhan Mata Jemaat sebagai satu kesatuan
Sebagai Jemaat Bermata-Jemaat, JWAM terbentuk dari 5 mata jemaat.
Masing-masingnya adalah Mata Jemaat Anugerah, Eklesia, Betesda, Nazareth, dan Paulus. Khusus Mata Jemaat Anugerah juga menaungi sebuah Pos Pelayanan (Pospel), yakni Pospel Talitakumi. Dari keseluruhan Mata Jemaat maupun Pospel
69 Wawancara dengan Bapak Luther Isu
70 Gereja Pentakosta di Indonesia.
71 Selanjutnya disingkat JWAM.
72 Wawancara dengan Pdt. Wili Maniley, Ketua Majelis JWAM pada 4 Desember 2019.
73 Penjelasan ini dua kali penulis dapatkan, pertama saat menjalani praktik pendidikan lapangan tahun 2018 silam oleh Wakil Ketua Majelis Mata Jemaat setempat yang juga mempraktikkan sistem ini, dan kedua kalinya pada saat melakukan penelitian lapangan di JWAM dari Ketua Majelisnya sendiri.
20
dalam lingkup JWAM tersebut, yang jaraknya benar-benar jauh dari mata jemaat lainnya hanyalah mata jemaat Paulus dan Eklesia. Dalam hal ini jarak dari mata jemaat paulus atau eklesia ke jemaat lainnya minimal berkisar 3 km dan dipisahkan oleh wilayah aliran sungai. Sementara itu sisanya dapat dikatakan cukup dekat dan berada dalam satu ruas jalan yang sama.74
Sementara itu, semenjak JWAM mendapatkan status kemandiriannya, JWAM hanya dilayani oleh satu orang tenaga pelayan yang berstatus Pendeta. Menurut pendeta yang saat ini melayani, kondisi tersebut membuatnya baru dapat melayani kebaktian utama di masing-masing Mata Jemaat setiap lima minggu sekali.
Selebihnya pelayanan di lingkup JWAM bergantung pada tenaga pelayan non-pendeta75 yang ada.76
Selanjutnya apabila dipandang dari segi penatalayanan maka pelayanan di lingkup JWAM dapat dikatakan belum begitu baik. Hal ini setidaknya penulis simpulkan dari hasil amatan selama di lapangan. Ada beberapa hal yang mengarah pada simpulan demikian seperti koordinasi pelayanan dalam internal majelis gereja yang belum bagus, pelaksanaan program pelayanan yang belum maksimal, serta peran warga gereja yang tidak optimal.77
3.3.Beberapa Kasus Konversi di Lingkup JWAM
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, fenomena konversi di Amanuban Timur telah terjadi sejak tahun 1960-an. Namun fenomena ini baru mendapatkan perhatian publik secara luas pada tahun 2018 yang lalu tatkala terjadi konversi ke agama Islam yang dilakukan secara masal oleh 19 orang di desa Mauleum.
Hampir semua dari ke-19 orang itu adalah anggota JWAM. Penulis berhasil mewawancarai dua di antaranya, yakni:
3.3.1. Konversi Erik Buinlasi
Erik yang saat ini duduk di bangku kelas 8 sebenarnya lahir dari keluarga yang memeluk agama Islam. Namun setelah ayahnya meninggal pada akhir dekade 2000-an. sang ibu yang beragama Kristen sebelum menikah memutuskan untuk kembali memeluk Kristen bersama kedua anaknya. Beberapa tahun kemudian, yakni pada pertengahan 2018, Erik yang hendak melanjutkan pendidikan ke bangku SMP ditawari saudara-saudara almarhum ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di MTs Oe’ue dan jika Erik bersedia segala keperluan sekolah Erik dan kebutuhan sehari-hari akan ditanggung oleh mereka dengan catatan bahwa
74 Wawancara dengan Pdt. Wili Maniley
75 Penatua maupun diaken yang menjadi majelis harian mata jemaat dan/atau Vikaris apabila ada.
76 Wawancara dengan Pdt. Wili Maniley
77 Wawancara dengan Pdt. Wili Maniley dan wawancara dengan Pnt. Yoksan Selan, Sekretaris Majelis JWAM pada tanggal 7 Desember 2019.
21
Erik akan bersedia untuk memeluk agama Islam. Setelah sang ibu mendiskusikan tawaran tersebut dengan Erik, Erik pun setuju dan kemudian masuk ke MTs Oe’ue serta tinggal bersama keluarga ayahnya. Meski jalan yang dipilih Erik (dan ibunya) ini mendapat tentangan dari keluarga ibunya, tetapi hal tersebut tidak dapat menghentikan Erik yang pada akhir Juli 2018 ikut mengucapkan syahadat di Masjid setempat dan menjadi pemeluk agama Islam.78
3.3.2. Konversi Akristoni79
Akristoni merupakan salah satu anak yang ikut mengucapkan syahadat dalam fenomena konversi agama 2018 silam. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini ia duduk di bangku kelas 2 SD. Ayah dan ibunya beragama Kristen Protestan. Dua tahun yang lalu kedua orang tuanya memutuskan untuk merantau ke Kupang. Oleh karena orang tuanya tidak sanggup apabila harus membawa serta kedua anaknya, maka mereka berdua dititipkan ke saudara dari Ibu Akristoni. Paman dan Bibi Akristoni beragama Islam. Pada saat tinggal bersama dengan paman dan bibinya, Akristoni kemudian “dibimbing” untuk menjadi seorang muslim. Selain itu Akristoni juga disekolahkan ke SD Muhamadiyah Mnelabesa. Orang tua dari Akristoni sendiri sebenarnya tahu perihal tersebut. Namun mereka sendiri tidak dapat berbuat banyak karena saat itu sedang berada di Kupang.
3.3.3. Konversi Otniel Fallo80
Beberapa bulan sebelumnya ada juga konversi yang salah satunya dilakukan oleh Bapak Otniel Fallo, seorang lansia berusia hampir 80 tahun. Konversi yang ia lakukan berawal saat ia memenuhi undangan dalam suatu acara/pertemuan yang diadakan oleh komunitas Muslim di Mauleum. Bapak Otniel menyangka bahwa itu hanyalah acara ramah tamah biasa dan memutuskan untuk hadir karena mereka yang terlibat dalam acara tersebut banyak pula yang merupakan sanak saudaranya.
Namun dalam acara tersebut ada juga ajakan untuk memeluk agama Islam bagi peserta Non-Muslim yang hadir dengan janji akan mendapatkan bantuan-bantuan tertentu. Meski tidak langsung mengiyakan, Bapak Otniel kemudian setuju setelah beberapa kali didekati oleh sanak saudaranya yang telah lebih dahulu memeluk Islam.
3.3.4. Konversi Berbonceng Bantuan
Di antara banyak fakta lapangan terkait Fenomena konversi yang terjadi di Mauleum, satu yang cukup mencolok adalah bahwa dalam setiap konversi yang
78 Wawancara dengan Erik Buinlasi, pada tanggal 6 Desember 2019.
79 Wawancara dengan Ibu Santi Nobisa, ibu kandung dari Akristoni, pada 6 Desember 2019.
80 Wawancara dengan Bapak Otniel Fallo, pada tanggal 6 Desember 2019.
22
dilakukan seseorang, selalu ada keuntungan materiel yang bisa didapatkan, dalam berbagai bentuk. Untuk memastikan hal ini, penulis kemudian juga mewawancarai salah seorang yang pernah secara langsung mendapat tawaran bantuan semacam itu, yakni Bapak Soleman Banfatin dan beliau sendiri mengonfirmasi hal tersebut kepada penulis. Beberapa keluarga termasuk beliau diajak untuk berkonversi dengan janji akan mendapat bantuan sembako maupun rumah baru. Namun Bapak Soleman memutuskan untuk menolak tawaran tersebut, meski harus tinggal di rumah yang jauh dari kata layak, sementara keluarga lainnya setuju dan menerima bantuan tersebut.81 Di samping itu ada pula bantuan fasilitas air bersih untuk warga setempat dari pihak luar, tetapi ini pun hanya dinikmati oleh pihak tertentu saja, yakni mereka yang seagama dengan pemberi bantuan, dalam hal ini Islam.
Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa ada banyak hal yang mungkin menjadi pendorong terjadinya serangkaian konversi di Mauleum. Namun, untuk dapat melihat secara lebih jelas, temuan-temuan tersebut akan dianalisa lebih lanjut dalam bagian empat berikutnya.
4. Fenomena Konversi Agama di Amanuban Timur Ditilik dari Perspektif