BAB IV HASIL PENELITIAN
B. Pendidikan Seksualitas bagi Remaja menurut Yusuf Madani
1. Faktor-faktor Pendidikan Seksualitas yang keliru
Terjadinya penyimpangan seksual yang dilakukan oleh remaja terdiri dari berbagai faktor yang berkaitan dengan lingkungan. Berikut faktor-faktor pendidikan seksualitas yang keliru:
a. Ketidaktahuan Ayah akan Pendidikan Seksualitas
Yusuf Madani menekankan disini bahwa apabila kalangan orang dewasa khususnya Ayah, tidak mengetahui konsep Islam, konteksnya, dan model pendidikan seksual, maka hal ini akan berimplikasi pada kepribadian anak. Lebih jelasnya bahwa kelemahan seorang Ayah dalam menguasai masalah kaidah-kaidah tentang aturan perilaku seksual dan perkembangannya, akan menyebabkan munculnya beberapa penyimpangan seksual yang akan berkembang di kalangan para remaja Muslim. Dengan demikian, kebodohan seorang anak terhadap konsep Islam dalam masalah seksual disebabkan oleh lemahnya kalangan dewasa dalam melatih anak-anak tersebut mengenai hukum halal dan haram tentang masalah ini.
b. Rangsangan Seksual dalam Keluarga
Faktor ini merupakan akibat dari kecerobohan orang dewasa terhadap hukum-hukum Islam mengenai aturan seksual.
Menghadirkan stimulus-stimulus secara tidak sengaja, dapat merusak pandangan anak dan remaja serta tidak menutup kemungkinan hal ini akan mendorong anak dan remaja untuk mengikuti jejak orang
dewasa dengan menjadikannya sebagai acuan dalam perilaku seksual.
c. Anak Tidak Terlatih untuk Meminta Izin
Tidak adanya pelatihan bagi anak dan remaja untuk selalu meminta izin ketika akan masuk ke kamar orangtua, kakak, atau bahkan adik yang telah memasuki usia balig menjadi sumber terbukanya rahasia karena tidak menutup kemungkinan saat remaja memasuki kamar tersebut salah satu dari anggota keluarganya sedang menanggalkan pakaian sehingga terlihat auratnya. Oleh karena itu, anak dan remaja harus dilatih untuk meminta izin saat memasuki kamar orang dewasa, terutama kamar kedua orangtua pada tiga waktu, yaitu sebelum terbit matahari, saat tidur siang, dan sesudah waktu isya. Untuk remaja, hendaknya meminta izin dalam berbagai kondisi jika akan memasuki kamar orang lain. Hal itu untuk menghormati privasi masing-masing individu.
d. Tempat Tidur yang Berdekatan
Membiarkan remaja tidur dalam satu ranjang, atau dalam satu selimut, atau tempat tidur yang saling berdekatan dengan sesama saudaranya sehingga saling bersentuhan. Hal ini dapat menyebabkan remaja dapat melihat aurat sebagian lainnya dan menjadi stimulus-stimulus seksual. Dampak yang timbul dari hal ini bagi remaja perempuan adalah berkurangnya kesadaran dalam menjaga aurat khususnya pada saat tidur. Sedangkan dampak yang timbul saat remaja laki-laki selalu terikat dengan saudara perempuannya tidak menutup kemungkinan akan condong pada sifat-sifat keperempuanan. Oleh karena itu, menjauhkan tempat tidur remaja laki-laki dengan remaja perempuan sangatlah penting untuk mencegah adanya pengaruh seksual.
e. Peniruan Perilaku Seksual
Pada pembahasan sebelumnya telah ditunjukkan tentang bahaya adanya rangsangan seksual dalam keluarga, remaja tidak dilatih
untuk meminta izin, dan bahaya dari berdekatannya tempat tidur diantara remaja. Semua itu memunculkan sikap ikut-ikutan (bukan kesengajaan) perilaku seksual yang akan menimbulkan kemudaratan bagi remaja di masa mendatang salah satunya adalah dorongan untuk melakukan perbuatan seksual dini.
Sesungguhnya remaja akan lebih banyak terpengaruh oleh bahasa nonverbal (gerakan) daripada bahasa verbal yang diterimanya. Oleh karena itu, beberapa faktor yang telah disebutkan sebelumnya memiliki pengaruh yang besar terhadap kepribadian anak. Apa yang dilihat anak dan remaja akan terus membekas dan dapat mempengaruhi kepribadian mereka.
f. Melarang Remaja Bertanya Masalah Seks dan Seksualitas Banyak orangtua Muslim yang melarang para remaja untuk bertanya mengenai masalah seks dan seksualitas, sehingga larangan tersebut dapat membuat remaja semakin penasaran. Bagaimana pun juga, sesuatu yang samar tidak akan menyurutkan remaja untuk terus mencari tahu walaupun hal tersebut dilarang. Hal itu sesuai dengan ungkapan: “Sesungguhnya setiap perkara yang dilarang pasti disukai.” Selanjutnya, akibat lain dari pelarangan tersebut adalah bahwa hal itu akan membunuh keistimewaan dan naluri menyelidik yang dimiliki remaja.
g. Perhiasan Perempuan
Seorang perempuan hendaknya berhati-hati dalam berhias (harus senantiasa menutup auratnya) untuk menjaga kesucian diri khususnya dan menjaga pandangan remaja di rumah. Yusuf Madani berpendapat bahwa seorang remaja akan terbiasa dengan keadaan melihat aurat orang lain, hal ini berawal dari melihat sang Ibu ketika di rumah dengan aurat terbuka. Hal itu berlangsung terus-menerus walau pandangan tersebut tanpa disertai kenikmatan seksual, kemudian remaja akan terbiasa, dan pemandangan tersebut akan tertanam dalam dirinya.
h. Keluarga Mengabaikan Pengawasan terhadap Media Informasi
Lantaran kesibukan sebagian orangtua sehingga terjadinya kelalaian dalam memberikan pendidikan seksualitas kepada remaja dapat menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap perilaku para remaja. Hal ini disebabkan, media massa akan mendahului para orangtua untuk memberikan wawasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan seksual. Oleh karena itu, pengawasan orangtua terhadap penggunaan media informasi serta meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan remaja sangat diperlukan.
i. Teman Berakhlak Buruk
Remaja akan menghadapi situasi yang sulit dalam memilih teman. Hal ini disebabkan adanya perubahan dalam pertumbuhan remaja yang begitu cepat yang muncul di tengah-tengah gejolak kejiwaan remaja. Pada situasi ini, emosi seseorang mengalahkan daya pikir. Seorang teman yang buruk akan menciptakan lingkungan yang buruk, seperti mengarahkan remaja untuk melakukan berbagai tindakan yang menyimpang, sehingga memudahkan terjadinya penyimpangan seksual. Pada kondisi ini, remaja sudah bukan lagi melakukan sesuatu dari rasa sukanya untuk meniru tetapi sudah dipengaruhi oleh dorongan seksual yang dirasakan.7
Setelah mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan dalam memberikan pendidikan seksualitas diharapkan para pendidik dapat mempersiapkan langkah-langkah selanjutnya guna menghasilkan pendidikan seksualitas Islami yang efektif. Pendidikan seksualitas Islami yang diberikan kepada anak-anak dan remaja memiliki karakteristik tertentu, berikut karakteristik yang disebutkan Yusuf Madani dalam bukunya:
7Yusuf Madani, “Pendidikan Seks untuk Anak dalam Islam: Panduan bagi Orangtua, Guru, Ulama, dan Kalangan Lainnya”, Terj. Irwan Kurniawan, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hal. 47-57