• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Pendidikan Seksualitas bagi Remaja menurut The Mirons

3. Langkah-langkah dalam Menyampaikan Pendidikan

Remaja mendambakan perhatian, pengakuan, penerimaan, persetujuan, cinta, dan respek dari orang-orang di sekitar terutama orangtua. Jika ia tahu bahwa ia memiliki semua itu, ia cenderung lebih mengikuti bimbingan yang disampaikan oleh orangtua.

Orangtua dan pendidik pun harus menunjukkan perasaan kepada remaja dengan tindakan dan sikap secara umum.

Salah satu keahlian yang perlu dikomunikasikan secara efektif dengan remaja adalah kemampuan untuk mendengar. Pembawaan bahasa tubuh juga sangat penting saat berkomunikasi dengan remaja, berdiri atau duduk dengan santai tidak bersikap mengancam, tidak menyilangkan tangan di depan dada ataupun bertolak pinggang, menjaga ekspresi wajah yang tenang dan memperlihatkan bahwa orangtua bersikap terbuka dan welcome serta pertahankan kontak mata untuk menunjukkan bahwa orangtua maupun guru memperhatikan.

b. Maksud, Pesan, dan Dampak

Komunikasi dapat dijabarkan menjadi tiga bagian: maksud, pesan, dan dampak. Pertama, maksud adalah tujuan dibalik apa yang dikatakan oleh si pembicara, ini adalah sesuatu yang ingin si pembicara capai melalu pesan yang ia sampaikan. Kedua¸ bagian dari sebuah komunikasi adalah pesan itu sendiri, kata-kata yang sebenarnya. Ketiga, komunikasi yaitu dampaknya atau bisa diartikan dengan bagaimana pesan itu dirasakan oleh seseorang yang menerimanya. Dalam komunikasi efektif, pesan yang disampaikan memberi dampak sesuai yang dimaksudkan. Kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan bahasa tubuh yang ditunjukkan pun mempengaruhi efektivitas dalam berkomunikasi dengan remaja.

c. Metakomunikasi

Saat dampak dari perkataan tidak sesuai dengan maksud, cobalah metakomunikasi. Ini adalah istilah canggih yang arti sebenarnya adalah sederhana: “mengkomunikasikan tentang komunikasi”.

Pembicara dan lawan bicara berhenti berbicara tentang apa yang sedang dibicarakan dan mulai mengeksplorasi bagaimana si Pembicara berbicara.

Sebagai contoh saat pesan seorang ayah tidak memberi dampak sesuai yang dimaksudkan kepada anak perempuannya, maka ayah mulai memerhatikan adanya masalah dalam percakapan dengan anak perempuannya (seperti sikap, nada suara, dan/atau tingkat energi yang tidak semestinya), ia bisa saja menghentikan apa yang ia katakan dan memfokuskan diri pada prosesnya. Ia bisa berkata,

“tunggu sebentar, tolong bantu Ibu/Ayah mengerti kenapa kamu merasa kesal”.

d. Mengungkap Kemarahan

Umumnya marah adalah perasaan sekunder, hasil dari emosi lainnya seperti frustasi, rasa tidak berdaya, rasa sakit, dan perasaan dikhianati. Saat para pendidik marah kepada remaja, ambil satu langkah mental ke belakang. Cobalah menemukan apa yang ada di balik rasa marah. Ini akan menghalangi para pendidik untuk merespon dengan kemarahan seperti berteriak, mengernyit, mengacung-acungkan jari, dan mengatakan hal-hal yang bisa disesali. Apa yang dilakukan saat seseorang menghampiri dengan marah? Respon yang timbul akan mundur atau melindungi diri dengan cara menyerang. Begitu pula dengan remaja.

Saat marah cenderung keluar pernyataan “kamu” yang bersifat menghakimi dan menuduh. Pernyataan seperti itu bisa termasuk memberi julukan, merendahkan, bahkan mengancam. Sebaliknya, cobalah pernyataan “ibu/ayah sangat sedih karena kamu tidak mengatakan yang sejujurnya.” Pernyataan “ibu/ayah” ini adalah

salah satu cara untuk memfokuskan perasaan daripada mengamuk pada remaja.

e. Menangani Perselisihan

Salah satu tugas menjadi remaja adalah menantang otoritas.

Remaja menguji batasan-batasan, membantah, berselisih dengan orangtua. Remaja mendesak, jika orangtua berbalik mendesak maka orangtua akan terlibat dalam perang keinginan. Perebutan kekuasaan melibatkan dua orang, maka sebagai si Dewasa menyingkirlah dengan anggun. Menyingkir dari perebutan tidak berarti mengesampingkan masalah ini. Orangtua bisa berselisih dengan cara-cara yang tidak mengecilkan pandangan remaja. Berikut beberapa comtohnya:

1) “Ibu/Ayah mendengar apa yang kamu katakan, tetapi Ibu/Ayah tidak setuju karena...”

2) “Sekiranya apa yang kamu katakan memang benar. Lalu, kemana hal itu akan membawa kita dalam diskusi ini?.”

Beberapa contoh pernyataan di atas membuat remaja tahu bahwa orangtua mengakui pendiriannya meski mungkin tidak menyetujuinya. Ini membantu menciptakan lingkungan yang terbuka, yang membuatnya merasa nyaman mengajukan pertanyaan, termasuk pertanyaan seksual. Ini menjadikannya seorang partner yang setara dalam diskusi.

f. Bertengkar dengan Adil

Ada sebuah mitos bahwa keluarga yang bahagia tidak bertengkar.Banyak orangtua merasa bahwa ketika terjadi pertengkaran keluarga pasti ada yang salah. Padahal kenyataannya, semua keluarga bertengkar. Sikap, nilai, pengalaman, kesukaan, dan ketidak sukaan yang berbeda, hal-hal tersebut membuat tiap keluarga menjadi individu yang unik serta mengarah pada terjadinya konflik.

Dalam keluarga bisa bertengkar dengan adil dan konstruktif jika menggunakan model win-win, hal ini adalah sesuatu yang harus

dilatih. Saat membawa model win-lose kedalam sebuah keluarga atau hubungan erat lainnya maka yang akan terjadi adalah timbulnya masalah. Penyelesaian konflik yang efektif membutuhkan model win-win, saat berselisih dengan anggota keluarga, carilah hal yang paling penting. Apakah mendapatkan kemauan orangtua, atau menemukan solusi yang bisa diterima oleh sesama anggota keluarga?

Hal ini tidak berarti harus mengubur perasaan atau secara otomatis menyerah dan mengalah. Bersikap secara tegas namun tetap adil serta terbuka terhadap kemungkinan berkompromi.

g. Pembuka Percakapan

Ketika remaja mengajukan pertanyaan mengenai suatu perilaku seksual, bukan berarti ia pasti melakukannya. Sebaliknya, jika ia tidak mengajukan pertanyaan apa pun, tidak bisa diasumsikan bahwa ia tidak aktif secara seksual. Sebagai orangtua tidak bisa menunggu remaja untuk memulai percakapan karena itu adalah tanggung jawab orangtua.

Berikut adalah daftar topik yang bisa menjadi pembuka percakapan yang menarik dan informatif, yaitu:

1) Bagaimana perasaanmu mengenai seks bebas? Apa yang membuatmu merasa seperti itu?

2) Apakah menurutmu alat kontrasepsi seharusnya bisa diakses oleh remaja?

3) Apakah laki-laki dan perempuan berbeda secara emosi? Jika kamu pikir iya, apa perbedaannya?

h. Pemilihan Kata

Saat sudah siap memulai diskusi tentang topik seksual dengan remaja, tapi tidak menemukan pembuka yang tepat. Kata-kata apa yang harus digunakan? Kata-kata apa yang sebaiknya tidak digunakan? Bahasa seperti apa yang benar dan yang salah?

Dalam seminarnya, The Mirons menyarankan untuk memulai dengan kata-kata teknis tentang hal-hal yang berkaitan dengan seks dan seksualitas kemudian mengenalkan kosa kata yang umum lainnya. Namun The Mirons lebih sering menggunakan kata-kata teknis karena bahasa gaul terus berubah dan sering kali terlalu kasar untuk percakapan yang sopan.

i. Pesan Positif VS Negatif

Banyak orangtua yang mencoba menakut-nakuti remaja agar tidak melakukan hal-hal yang tidak disetujui dengan mengatakan

“Jangan”. Namun, pendekatan berdasarkan ketakutan dan kata-kata

“jangan” tidaklah ampuh. Dampak dari pendekatan berdasrkan ketakutan sering kali hanya berlangsung sebentar. Daripada mengatakan kepada remaja apa yang tidak boleh dilakukan, bantu dia menetapkan tujuan yang ingin dicapai.

j. Dukungan, Dorongan, Hukuman, dan Akibat Logis

Tujuan utama mendidik seorang remaja adalah untuk menjadikannya si dewasa yang bertanggung jawab. Untuk mencapainya, orangtua perlu mengubah fokus dari hal yangdipikirkan sebagai orangtua ke hal yang dipikirkan remaja.

Daripada membimbing si Anak dalam dirinya, orangtua perlu secara bertahap mengalihkan tanggung jawab kepada si Remaja dalam dirinya dan si Dewasa mulai muncul.

Perilaku yang membawa hasil positif cenderung akan diulangi, cobalah untuk memberikan pujian saat remaja melakukan hal-hal yang orangtua hargai dan dukung perilaku tersebut, biarkan ia tahu betapa bangga orangtua padanya. Fokuskan pada cara remaja memandang dirinya sendiri, dorong perasaan positifnya. Tunjukkan kepadanya integritas diri yang remaja bangun dengan berperilaku baik. Inilah yang dinamakan dorongan, dan pengaruhnya berlangsung lama.

k. Bagaimana Jika Remaja Tidak Ingin Berbicara dengan Orangtua?

Jika remaja tidak mau mendiskusikan masalah-masalah seksual, bicarakan ini secara langsung. Orangtua bisa menjelaskan bahwa merasa tidak nyaman boleh-boleh saja, tapi ada sejumlah hal yang perlu remaja katakan atau lakukan bahkan meski merasa tidak nyaman, dan mendiskusikan masalah seksual adalah salah satunya.

Jika remaja tetap menolak untuk berbicara,orangtua bisa menyarankan remaja untuk berbicara dengan orang lain. Orang ini haruslah sosok yang dipercaya, yang memiliki nilai-nilai yang sama atau bersedia menyuarakan nilai-nilai orangtua, dan juga seorang yang disukai dan dihormati remaja. Tentunya orangtua perlu terlebih dahulu menjelaskan urusan ini kepada orang yang dimaksud.

l. Merelakan

Remaja, seperti juga orang dewasa menginginkan kehidupan yang berarti dan bermakna. Bantu ia mengembangkan respek dan ketergantungan terhadap diri sendiri dengan menunjukkan respek padanya. Kapan pun memungkinkan, libatkan remaja dalam membuat keputusan keluarga. Mintalah pendapat remaja kapan pun orangtua bisa, bantu remaja merasa mampu dan penting. Akui suaranya dan beri ia serangkaian pilihan yang bisa orangtua terima.

Berikan pujian saat remaja berhak mendapatkan pujian.

Perhatikan dan akui perilaku remaja, kecil maupun besar. Hindari membandingkannya dengan saudara kandung atau remaja lainnya.

Tekankan hadiah unik yang ia berikan kepada keluarga, sifat dan bakatnya yang membedakannya dan membuatnya istimewa.

Tunjukkan ketertarikan pada hidupnya. Luangkan waktu untuk menanyakan kabarnya dan pelajari apa yang terjadi dengannya.

Selalu ikuti perkembangan minatnya.14

14Ibid, hal.80-93

Setelah menguasai cara berkomunikasi dengan remaja diharapkan nilai-nilai serta informasi yang akan disampaikan dapat diterima dan diaplikasikan oleh remaja. Dengan kesiapan organ reproduksi serta hormon-hormon yang sedang dirasakan oleh remaja, ditambah dengan tumbuhnya ketertarikan dengan orang lain secara romantis, tibalah waktunya menurut The Mirons sebagai orangtua mempertanyakan kembali perilaku seksual apa yang bisa dan tidak bisa diterima. Dalam bukunya, The Mirons memberikan pilihan kepada orangtua tentang model apa yang akan disampaikan kepada remaja, yang sesuai dengan nilai-nilai mereka sebagai orangtua.Berikut ini adalah tiga model perilaku seksual yang terjadi pada remaja saat ini, dari tiga model di bawah ini diharapkan orangtua dapat mempertimbangkan tujuan apa yang ingincapai dari perilaku seksual remaja.

4. Model Perilaku Seksual