BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Pendidikan Seksualitas bagi Remaja menurut The Mirons
5. Masalah-masalah Seputar Seksualitas Remaja
Bagaimana jika tiba-tiba anak perempuan berkata, “Sepertinya aku hamil.” Atau anak laki-laki berkata bahwa pacarnya sedang mengandung bayinya. Apa yang orangtua lakukan jika hal ini terjadi?. Prioritas pertama adalah mendukung anak. Hindari tuduhan, dan hati-hati untuk tidak menyalahkan pacar si remaja. Bersikaplah terbuka terhadap perasaan, rasa takut, dan kecemasan remaja, dan ungkapkan pula kekhawatiran orangtua kepada remaja. Pecahkan masalah bersama dan disertai dengan pemberian cinta dan dukungan
kepada remaja. Sebuah krisis kehidupan bisa memecah belah sebuah keluarga, atau bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan.
Prioritas kedua adalah mencari tahu apakah remaja benar-benar hamil. Apakah remaja hanya panik karena menstruasinya sedikit terlambat? Gunakan alat uji kehamilan dan periksakan ke dokter untuk mengkonfirmasi kondisi remaja.Jelaskan pandangan dan pendirian orangtua mengenai kehamilan tersebut, dibarengi dengan mendengarkan pikiran, perasaan, dan pendirian remaja. Tekankan bahwa orangtua akan tetap mencintainya, apa pun yang terjadi.
Namun, tekankan pula bahwa kehamilan ini memberi remaja tanggung jawab baru dan remaja tidak bisa menghindar dari konsekuensi tersebut.
b. Pornografi
Apa itu pornografi? Definisi dasarnya adalah materi yang eksplisit dan dirancang untuk membangkitkan gairah. Banyak orangtua yang yakin bahwa pornografi tidak pantas untuk remaja dan mungkin untuk mereka sendiri dan pasangan mereka(tergantung pada nilai-nilai pribadi atau agama). Ini kemungkinan benar, khususnya jika bicara tentang pornografi yang menggambarkan seks tanpa kasih sayang, komitmen, respek, dan tanggung jawab.
Melindungi remaja tidaklah mudah, tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan, orangtua bisa bertanya secara langsung kepada remaja apakah pernah melihat pornografi di internet, atau bisa bertanya secara berandai-andai, “Apa yang akan kamu lakukan jika secara tak sengaja menemukan situs porno ketika sedang berselancar di dunia maya?” Bagilah pikiran dan perasaan orangtua tentang pornografi, serta jelaskan alasan di balik keyakinan orangtua.
Tanyakan bagaimana perasaan remaja mengenai isu ini. Orangtua bisa menunjukkan bahwa apa yang ia lihat di situs porno hanyalah satu dari jenis ekspresi seksual (Seks-Cinta, Seks-Kesenangan, dan Seks-Seks). Jika hanya itu jenis yang dilihat, remaja bisa punya
pandangan bias tentang perilaku seksual serta ide yang tidak realistis mengenai hubungan yang bertanggung jawab, bentuk tubuh, dan aktivitas intim. Cobalah untuk tidak membiarkan ketidak nyamanan menghalangi orangtua untuk melindungi remaja.
Ada beberapa cara untuk mengurangi peluang remaja untuk menjelajahi situs-situs porno. Menempatkan komputer pada area terbuka atau membatasi jumlah jam yang dihabiskan di depan komputer (khususnya tanpa diawasi) mungkin bisa membantu. Atau memblokir situs-situs tertentu di internet dan saluran di TV kabel juga dengan cara menanyakan kepada penyedia jasa, metode kontrol apa yang tersedia. Bahkan, ketika sudah mengambil langkah-langkah preventif ini, para orangtua jangan merasa tenang dahulu karena mungkin saja orangtua teman-teman remaja tidak sehati-hati itu. Dan pornografi tersedia dalam berbagai bentuk lain seperti majalah, DVD, film, dan video. Orangtua tidak bisa memblokir semuanya, sebab itulah sangat penting membekali remaja dengan nilai-nilai dan informasi.
c. Predator Seks
Predator seks merupakan seseorang yang menunjukkan ketertarikan khusus pada anak-anak atau remaja. Predator dapat berasal dari semua ras, kelas, agama, dan profesi, biasanya bekerja dalam bidang yang berkaitan dengan anak-anak serta menjadi relawan dalam posisi yang memungkinkan kontak dengan anak muda. Hal ini harus diperhatikan oleh orangtua bahwa siapa saja yang berinteraksi dengan anak memiliki potensi sebagai predator.
Oleh karena itu, bicarakan kepada anak mengenai sentuhan baik dan sentuhan buruk dengan mengatakan “Perhatian itu baik, tapi tidak seharusnya membuatmu merasa tidak nyaman. Jika seseorang menyentuhmu dengan cara atau di bagian-bagian yang tidak kamu suka, tolong katakan pada Ibu/Ayah.” Atau, “Meski sebagian besar orang yang kamu temui aman, kamu tetap perlu menyalakan
radarmu. Beberapa orang memanfaatkan anak dan remaja dalam berbagai cara, termasuk seksual.”
d. Inses
Keluarga seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak.
Sayangnya, ini tidak dialami oleh para remaja yang menjadi korban penganiayaan seksual oleh anggota keluarga. Jika remaja mengatakan kepada orangtua atau guru bahwa seorang anggota keluarga telah bersikap tidak layak secara seksual dengannya, dengarkan baik-baik dan jangan remehkan dia. Dorong remaja untuk berbicara dengan bebas, yakinkan bahwa kekerasan ini bukan salahnya dan memberi tahu orangtua adalah hal yang tepat. Katakan bahwa remaja akan dilindungi, kemudian atur jadwal untuk pemeriksaan medis, serta laporkan kekerasan ini pada pihak yang berwajib.
e. Perkosaan
Hal pertama yang dibutuhkan seorang remaja yang baru saja mengalami perkosaan adalah cinta tanpa syarat. Bentuk kekerasan atau serangan seksual apa pun dapat menghancurkan hidupnya.
Remaja membutuhkan ketenangan dan dukungan di atas segalanya.
Simpan respon-respon yang bisa menambah rasa kehancuran si remaja. Hal yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah segera membawanya ke UGD terdekat, menghubungi polisi, jangan biarkan ia mandi, berganti pakaian untuk menjaga bukti fisik. Beritahu remaja bahwa dokter akan memeriksanya untuk mencari tahu apakah ada cedera.
Banyak korban mengalami gangguan stres pascatrauma (GSPT), remaja akan membutuhkan konseling dan dukungan emosional.
Meski orangtua tidak bisa menghapus hal yang telah terjadi, tetapi
bisa membantu proses penyembuhan dengan cara yang penuh kasih dan suportif.16
D. Komparasi Pendidikan Seksualitas bagi Remaja menurut Yusuf Madani dan The Mirons
Penelitian ini sebuah komparasi antara pemikiran kedua tokoh yaitu Yusuf Madani dan The Mirons. Dengan adanya persamaan dan perbedaan serta kekurangan dan kelebihan dari masing-masing tokoh, penulis melihat dengan adanya perbedaan dalam pemikiran kedua tokoh tersebut, diantaranya terdapat beberapa poin yang dapat dikolaborasikan untuk menyampaikan pendidikan seksualitas kepada remaja. Yusuf Madani pun mengatakan dalam bukunya bahwa tidak dilarang untuk mengambil manfaat dari sebagian pendapat seksolog Barat dengan syarat tidak melanggar prinsip-prinsip Islam.17
1. Konsep Pendidikan Seksualitas menurut Yusuf Madani dan The Mirons
Pendidikan seksualitas merupakan suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan, sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan.
Menurut Yusuf Madani pendidikan seksualitas merupakan pembekalan yang diberikan kepada anak mumayiz dengan kaidah-kaidah yang mengatur perilaku seksual untuk menghadapi sikap-sikap seksual dan reproduksi yang akan mereka alami di kehidupannya nanti, dibarengi dengan mengenalkan konsep-konsep kehalalan dan keharaman.18 Menurut The Mirons pendidikan seksualitas adalah informasi yang disampaikan
16Ibid, hal.98-111
17Yusuf Madani, “Pendidikan Seks untuk Anak dalam Islam: Panduan bagi Orangtua, Guru, Ulama, dan Kalangan Lainnya”, Terj. Irwan Kurniawan, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hal. 45
18Ibid, hal.43
kepada anak mengenai isu-isu seksual, lebih luasnya seputar seksualitas manusia yaitu, hubungan intim, nilai-nilai seksual, pilihan seksual, respek terhadap tubuh sendiri, respek terhadap orang lain, perilaku seksual yang bertanggung jawab, dan ketegasan, kehamilan remaja, infeksi menular seksual, nilai dari menunggu, serta cinta19 karena tidak dapat dipungkiri seorang remaja akan mengalami masa dimana ia jatuh cinta hal ini pun selayaknya menjadi bahan diskusi antara orangtua dan remaja.
Penulis memahami dari kedua pengertian tentang pendidikan seksualitas di atas yaitu para pendidik dapat menyampaikan pendidikan seksualitas dengan dasar nilai-nilai keislaman, mengenalkan konsep kehalalan dan keharaman yang di dalamnya terjadi diskusi aktif antara orangtua dan remaja mengenai isu-isu seputar seksualitas manusia yaitu, hubungan intim, nilai-nilai seksual, pilihan seksual, perilaku seksual yang bertanggung jawab, kehamilan remaja, infeksi menular seksual, nilai dari menunggu, serta cinta. Hal ini disampaikan agar timbul respek dalam diri remaja kepada diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar sehingga mereka dapat membuat keputusan dalam hidupnya dengan tanggung jawab dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Tabel 1.1
Aspek Yusuf Madani The Mirons
Masa Penyiapan
Prinsip Preventif dan Kuratif Aktif secara seksual bertanggung jawab
Metode Penyampaian Diskusi Diskusi disertai
langkah-langkah dalam membangun keahlian berkomunikasi
19Amy G Miron, M.S dan Charles D.Miron, PH.D, “Bicara Soal Cinta, Pacaran, dan SEKS”, (Jakarta: Penerjemah Esensi Erlangga Group, 2006), hal.3
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa persamaan dari pemikiran Yusuf Madani dan The Mirons hanya terdapat pada masa penyiapan seksual bagi remaja, setiap orangtua memposisikan diri dan berkomunikasi kepada anak sesuai dengan usia dan kondisi si anak. Hal ini ditunjukkan dengan keduanya membagi masa penyiapan seksual kedalam tiga masa yaitu masa remaja awal, tengah, dan akhir.
2. Strategi Pencegahan untuk Remaja dalam Aktivitas Seksual Pada saat organ reproduksi remaja sudah berfungsi secara maksimal dan menghasilkan dorongan seksual, The Mirons memberikan pilihan kepada orangtua untuk menentukan prinsip apa yang bisa mereka terima untuk remaja lakukan, yaitu pertama abstinensi, remaja menunda hubungan seksual sampai menikah. Namun, remaja masih mungkin terlibat dalam beberapa percobaan seksual. Oleh karena itu, orangtua harus bersikap spesifik mengenai apa yang diizinkan dan tidak diizinkan. Kedua, ekspresi seksual yang tertunda, remaja menunda hubungan seksual sampai terpenuhinya kondisi tertentu selain pernikahan, seperti pencapaian usia tertentu atau melampaui tenggat sosial tertentu. Dan yang ketiga adalah keterlibatan seksual yang bertanggung jawab. Hal ini menekankan bahwa kapan pun seorang remaja terlibat dalam aktivitas seksual , ia harus berpartisipasi dengan aman. Penekanannya adalah bagaimana seorang remaja akan melakukan suatu aktivitas seks daripada kapan atau dalam kondisi apa. Oleh karena itu, jika orangtua memilih ini, orangtua dapat melakukan diskusi dengan remaja fokus kepada akibat emosional dan tanggung jawab terhadap pilihan seksual.
Pilihan yang diberikan The Mirons merupakan hal yang lumrah dalam pendidikan seksualitas Barat. Dr. Ruth K. Westheimer menyampaikan bahwa memberikan pilihan dan aturan yang jelas tentang ekspresi seksual baik orangtua mendukung premarital sex atau tidak mendukung, hal tersebut penting untuk disampaikan kepada remaja sehingga remaja dapat memahami kemauan dan ketentuan yang ditetapkan
orangtua secara jelas. Saat masa remaja dorongan libido sangat kuat dan saat dua remaja jatuh cinta, hubungan tersebut dapat membawa kepada aktivitas seksual. Orangtua dapat memperlambat terjadinya proses tersebut, tetapi apabila aktivitas seksual akan terjadi maka orangtua tidak bisa melarang karena orangtua tidak bisa setiap saat bersama remaja. Oleh karena itu, tugas orangtua untuk memastikan remaja memahami prosedur seks yang aman.20
Melihat dari pilihan yang The Mirons berikan dan didukung dengan pendapat Dr. Ruth K. Westheimer sudah tentu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Karena dalam Islam hubungan seksual tidak hanya sebagai aktivitas pemenuhan kebutuhan biologis semata tetapi hubungan yang dilakukan dengan tujuan lebih dari itu, yang diawali dengan prosesi yang suci sehingga menjadikan aktivitas tersebut apabila dilakukan menjadikannya pahala dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, pilihannya hanya satu dalam Islam yaitu pernikahan. Apabila remaja belum mampu untuk menikah maka Yusuf Madani memberi kiat bahwa yang harus dilakukan remaja Muslim untuk menahan dorongan seksualnya yaitu menjaga kesucian dirinya (al-isti’raf), untuk bisa menjaga kesucian diri dibutuhkan ketakwaan dan sikap wara’ (berhati-hati) terhadap sesuatu yang diharamkan. Berdzikir adalah suatu bentuk pengawasan jiwa yang mampu menjaga seorang Muslim dari perbuatan yang dilarang.Ini merupakan fondasi awal yang harus dimiliki oleh remaja, tugas para pendidik yaitu orangtua dan guru adalah menumbuhkan dalam jiwa anak perasaan selalu diawasi oleh Allah SWT dan nilai-nilai yang berlandaskan Islam sehingga dapat terjaga dari setiap perilaku seksual yang diharamkan.21
20 Dr. Ruth K.Westheimer, “Sex For Dummies”, ( Indianapolis: Wiley Publihsing, Inc., 2007) Cet-3, hal. 344
21 Yusuf Madani, “Pendidikan Seks untuk Anak dalam Islam: Panduan bagi Orangtua, Guru, Ulama, dan Kalangan Lainnya”, Terj. Irwan Kurniawan, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hal. 150
3. Konsekuensi Aktif Secara Seksual yang Harus Diketahui Remaja Asumsi penulis setelah melihat beberapa video tentang bagaimana tanggapan remaja tentang seks, seksualitas dan aktivitas seks di luar nikah salah satunya video dari channel Youtube Asumsi dengan judul
“Ngomongin Seks Bukan Hal Tabu”, beberapa dari mereka menyatakan bahwa mereka lebih takut dengan IMS yang kemungkinan akan mereka dapatkan dengan melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan dosa yang mereka tanggung. Mengutip salah satu narasumber yang diwawancara, ia mengatakan bahwa “Dosa kan tidak menular, kalo penyakitnya kan menular. Lebih penting untuk mengetahui penyakitnya dan resiko-resiko lainnya. Kalo dosa sifatnya abstrak dan personal, sedangkan penyakit nyata dan bisa menular.”22
Dari tanggapan di atas dapat dilihat bahwa remaja saat ini lebih kritis dengan apa yang terjadi di sekitar mereka. Seiring dengan meningkatnya kemampuan abstraksi dan daya kritisnya, para remaja sering kali melihat agama dari sisi rasio semata-mata, kadang-kadang tanpa melalui penghayatan.23 Namun, sayangnya dalam buku Yusuf Madani tidak ada pembahasan tentang IMS yang dapat dialami oleh remaja Muslim apabila aktif secara seksual serta hanya terfokus pada kaidah-kaidah dalam melakukan hubungan seksual secara praktis yang mana menurut hemat penulis tidak sesuai untuk disampaikan pada masa remaja. Oleh karena itu, selain menanamkan nilai-nilai agama para pendidik juga perlu untuk menginformasikan konsekuensi-konsekuensi nyata yang bisa terjadi apabila melakukan aktivitas seksual apa pun sebelum menikah.
Sebagaimana tokoh Muslim lain yang memberikan perhatian terhadap pendidikan seksualitas yaitu Abdullah Nashih ‘Ulwan
22Asumsi, “Ngomongin Seks Bukan Hal Tabu”, Klip video daring.
https://www.youtube.com/watch?v=YkM6anAwmWg&list=WL&index=55&t=0s. Dipublikasikan 19 Juli 2019. Diakses 28 Oktober 2019
23Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, “Psikologi Pendidikan Islam”, (Depok: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2018), hal. 215
menjelaskan dalam bukunya bahwa ada tiga sarana positif yang harus digunakan oleh para pendidik dalam proses pendidikan seksualitas, yaitu:
a) Memberikan kesadaran
Memberikan kesadaran kepada remaja bahwa kerusakan sosial dan dekadensi moral yang terjadi di masyarakat Islam adalah hasil dari rencana kalangan non-muslim seperti Yahudi, Barat, serta komunis. Apabila remaja menyadari hal ini, remaja dapat memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindar dari mengumbar syahwat dan menolak hal-hal yang dapat merusak dan menjadi fitnah. Adapun sarana yang dapat merusak adalah seks bebas, mode busana, pornografi, dan klub-klub hiburan.
b) Memberikan peringatan
Cara ini digunakan oleh para pendidik untuk mengarahkan dan memberikan kesadaran kepada remaja dengan memberikan gambaran kepada remaja tentang bahaya yang terdapat di balik mengumbar nafsu dan sikap menghalalkan segala hal. Adapun bahaya yang didapat adalah dari segi kesehatan, mental dan moral, sosial, ekonomi, serta terhadap agama dan kehidupan ukhrawi.
c) Memberi ikatan/aturan
Hal yang harus dilakukan oleh pendidik adalah membuat remaja menjadi terikat dengan akidah dan ibadah, memberi guru yang baik, menyarankan teman yang shalih, membiasakan remaja mendengarkan dakwah dan akrab dengan para pendakwah, membuat remaja terbiasa datang ke masjid, melakukan dzikir, merasa selalu diawasi oleh Allah swt, membaca Al-Quran, membuat remaja bangga dengan sejarah dan kejayaan Islam, serta memberikan contoh sirah para Nabi, Sahabat, dan orang-orang shalih terdahulu.24
24 Abdullah Nashih ‘Ulwan, “Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam”, (Solo: Insan Kamil, 2012), hal 455-462
The Mirons dalam bukunya menjelaskan tentang berbagai IMS dari yang disebabkan oleh bakteri hingga virus dan bagaimana pencegahan penularan IMS dan terjadinya kehamilan.Apabila remaja memiliki fondasi agama serta pengetahuan yang cukup dan akibat logis bagi pilihan buruk yang dibuat, maka hal ini dapat menahan remaja untuk melakukan penyimpangan secara sadar. Hal ini dilakukan untuk membangun integritas moral dan membantu remaja bangga terhadap diri sendiri. The Mirons pun menyimpulkan bahwa hal yang paling efektif untuk menghindari tertularnya IMS dan kehamilan yang tidak diinginkan adalah dengan menunda aktivitas seksual sampai menikah atau abstinensi.
4. Langkah-langkah dalam Menyampaikan Pendidikan Seksualitas Hal yang paling sulit dalam menyampaikan pendidikan seksualitas adalah bagaimana cara memulainya. The Mirons menyampaikan bahwa hal yang paling utama yaitu orangtua dan guru harus menunjukkan perasaan bahwa orangtua dan guru sayang dan perhatian kepada remaja.
Karena remaja mendambakan perhatian, pengakuan, penerimaan, persetujuan, cinta, dan respek dari orang-orang di sekitar terutama orangtua. Jika remaja tahu bahwa remaja memiliki semua itu, remaja cenderung lebih mengikuti bimbingan yang disampaikan oleh orangtua.
Membangun keahlian berkomunikasi sangat berpengaruh dalam membina hubungan dengan remaja, karena pada masa itu cenderung menjadikan persahabatan penting dan kurangnya perhatian kepada orangtua bahkan mengeluh apabila orangtua mencampuri kemandirian remaja. Oleh karena itu, seperti pendapat Yusuf Madani bahwa pada periode ini merupakan periode persahabatan, orangtua menjadikan remaja sebagai teman diskusi dan teman setia yang selalu dibimbing dan dituntunnya agar memahami kehalalan dan keharaman.25
25Yusuf Madani, ”Pendidikan Seks untuk Anak dalam Islam: Panduan bagi Orangtua, Guru, Ulama, dan Kalangan Lainnya”, Terj. Irwan Kurniawan, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hal. 101
Hal yang dapat dilakukan oleh para pendidik untuk menyalurkan energi yang terdapat pada diri remaja saat menghadapi dorongan seksual dan belum mampu untuk menikah adalah dengan cara mengarahkannya pada kegiatan-kegiatan peribadatan, sosial, dan mempelajari beberapa keterampilan atau melakukan hobi.26 Namun, semua ini harus dibekali dengan tolok ukur Islam yang dapat membantunya menjaga kesucian diri.
Di dalam Islam tidak ada ketentuan untuk menghilangkan dorongan fitrah atau menghalang-halangi pemuasannya. Islam hanya menentukan pemuasan yang rasional pada waktu yang sesuai atau menangguhkan pemuasan dorongan-dorongan itu hingga waktu tertentu. Pengharaman terhadap akibat buruk dari mengikuti hawa nafsu hanya untuk mengendalikannya, Islam tidak mengharamkan adanya perasaan dan keinginan (seks) kapan pun juga.27
Pendidikan seksualitas bagi remaja tidak bisa dilakukan dengan proses yang terburu-buru. Banyak melakukan percakapan kecil, meluangkan perhatian untuk membina hubungan dengan remaja sangat diperlukan. Kemampuan mengkomunikasikan pendidikan seksualitas yang disertai dengan dasar-dasar metode Rabbani (berdasarkan kaidah-kaidah syariat) merupakan tanggung jawab besar para pendidik.
E. Implementasi Pendidikan Seksualitas dalam Kehidupan Sehari-hari Pada akhirnya, The Mirons sepakat bahwa menunda aktivitas seksual sampai menikah adalah satu-satunya cara yang 100 persen paling efektif untuk menjaga remaja28 sebagaimana pendidikan Islam telah menetapkan sedari awal bahwa menikah merupakan jalan untuk menjaga tidak hanya diri tetapi untuk keturunan selanjutnya nanti (menjaga nasab). Hal ini menunjukkan bahwa secara implementasi pendidikan seksualitas dalam perspektif pendidikan Islam lebih ideal dan bisa diterapkan oleh semua
26 Ibid, hal.151
27 Abdullah Nashih ‘Ulwan, Op.cit, hal 497
28 Amy G Miron, M.S dan Charles D.Miron, PH.D, Op.cit, hal.184
kalangan terutama seluruh umat Muslim di Indonesia dibandingkan dengan pendidikan seksualitas dalam perspektif pendidikan Barat.
Dalam bukunya The Mirons memberikan kebebasan bagi para orangtua dan remaja untuk memilih apakah ingin aktif secara seksual atau menunggu sampai menikah serta cenderung permisif pada hal-hal yang berkaitan dengan LGBT.29 Apabila menerapkan secara keseluruhan pendidikan seksualitas menurut The Mirons yang memiliki konsep terbuka dalam hal membolehkan selama bertanggung jawab beserta asas
“demokrasi”, ini lah yang dapat menjerumuskan remaja Muslim kepada kemaksiatan karena hal ini tentu tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Disinilah pendidik Muslim dituntut untuk lebih kritis dalam menyerap ilmu pengetahuan yang ada. Lain hal nya dengan The Mirons, Yusuf Madani tidak hanya melarang keras penyimpangan seksual tersebut karena selain dilarang oleh agama juga dapat merusak ekosistem umat tetapi juga memberikan solusi untuk mencegah timbulnya sikap penyimpangan pada diri anak dan remaja dengan konsep perbaikan perilaku seksual yaitu langkah, kaidah, dan pemikiran pencegahan dan penyembuhan yang dilakukan pendidik Muslim dalam mendidik generasi Islam dengan penerapan keadilan Islam, dan lingkungan Islami.
Abdullah Nashih ‘Ulwan pun menambahkan bahwa perbaikan dan pendidikan dalam Islam dimulai dengan membersihkan hati, mengarahkan emosi, dan menajamkan perasaan. Selain itu juga, meningkatkan perasaan selalu diawasi oleh Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang ditampakkan dan disembunyikan di dalam hati.30 Begitu sempurnanya Islam telah mengatur semua yang dibutuhkan untuk menjaga kesucian dan keberlangsungan hidup manusia.
Yusuf Madani dalam bukunya telah menjelaskan secara rinci tindakan apa saja yang bersifat preventif yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam mendidik remaja serta tindakan yang bersifat kuratif
29Amy G Miron, M.S dan Charles D.Miron, PH.D, “Bicara Soal Cinta, Pacaran, dan SEKS”, (Jakarta: Penerjemah Esensi Erlangga Group, 2006), hal.146-151
30 Abdullah Nashih ‘Ulwan, Op.cit, hal 463
apabila terjadi penyimpangan yang dilakukan remaja. Namun, bagi penulis sangat disayangkan dalam buku Yusuf Madani terdapat poin-poin yang
apabila terjadi penyimpangan yang dilakukan remaja. Namun, bagi penulis sangat disayangkan dalam buku Yusuf Madani terdapat poin-poin yang