• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

5. Faktor-Faktor Penentu Kebijakan Struktur Modal

Keputusan Struktur Modal tercermin dari perubahan keputusan pendanaan, maka penelitian ini menggunakan perubahan Leverage untuk mengukur keputusan pendanaan perusahaan. Penelitian ini menggunakan variabel untuk menentukan struktur modal pada emiten syariah di JII (Jakarta Islamic Index) bedasarkan hipotesis Pecking Order Theory. Berikut adalah penjelasan masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain :

a. Profitabilitas

Profitabilitas menurut Riyanto (2008) adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Keuntungan yang diraih dari investasi yang akan ditanamkan merupakan pertimbangan utama bagi sebuah perusahaan dalam rangka pengembangan bisnisnya.

Profitabilitas menurut Sartono (2008) adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam penjualanya.

Rasio profitabilitas yaitu mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. (Rodoni dan Herni Ali, 2010). Dengan pengukuran profitabilitas, maka dapat diketahui kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba yang akan menentukan struktur modal yang dimiliki

24 perusahaan. Perolehan laba yang besar diduga akan mengurangi jumlah modal yang berasal dari hutang, begitupun sebaliknya.

Sujoko (2007) dalam Fadli (2010) mendefinisikan profitabilitas adalah kemampuan perusahan untuk menghasilkan profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dalam rasio laba operasi dengan penjualan dari data laporan laba rugi akhir tahun. Untuk mengetahui profitabilitas yaitu dengan membandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode dengan jumlah aktiva atau jumlah pada perusahaan tersebut.

Profitabilitas diukur dengan menggunakan rasio profitabilitas, yaitu rasio-rasio yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan bagi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Salah satu rasio yang sering digunakan adalah Return on Investment (ROI), yang merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan investasi yang tersedia di dalam perusahaan. Bila investasi yang digunakan adalah keseluruhan jumlah aktiva yang ada, maka Return on Investment sering juga disebut Return on Assets (ROA). (Riyanto, 2008)

Konsep ROA merupakan kriteria penilaian yang sangat luas dan dapat dianggap paling valid untuk dipakai sebagai alat ukur tetang hasil pelaksanaan untuk mengukur sampai sejauh mana efektifitas penggunaan modal dalam perusahaan yang bersangkutan.

25 b. Struktur Aktiva

Struktur aktiva adalah penentuan berapa besar alokasi untuk masing – masing komponen aktiva, baik dalam aktiva lancar maupun dalam aktiva tetap (Riyanto, 2008). Aktiva lancar adalah aktiva yang habis dalam satu kali berputar dalam proses produksi, dan proses perputarannya adalah dalam jangka waktu yang pendek (umumnya kurang dari satu tahun). Sedangkan aktiva tetap adalah aktiva yang tahan lama yang secara berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi (Riyanto, 2008).

Struktur aktiva dapat dipandang dari aspek operasional yang pada dasarnya menggolongkan aktiva dalam perbandingan tertentu untuk keperluan operasi utama perusahaan. Kebanyakan perusahaan industri dimana sebagian besar modalnya tertanam dalam aktiva tetap (fixed asset). Dari keseluruhan jumlah aktiva tetap ada, maka ada beberapa yang merupakan “keharusan” dalam perusahaan– perusahaan industri, karena tanpa aktiva tersebut proses produksi tidak akan mungkin berjalan. Ada perusahaan–perusahaan yang menggunakan aktiva tetap dalam jumlah yang relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi. Perusahaan yang menggunakan aktiva tetap yang relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja disebut sebagai perusahaan yang “capital intensive”, sedangkan perusahaan–perusahaan yang memperkerjakan jauh lebih banyak tenaga kerja dibandingkan dengan mesin-mesin, disebut sebagai

26 perusahaan yang “labour intensive”. Penelitian yang dilakukan oleh Pujiani dan Prasetiono (2012) menyatakan bahwa Struktur Aktiva mempunyai hubungan Negatif terhadap Financial Leverage. Sehingga sesuai dengan Hipotesis Pecking Order yang Artinya Ketika perusahaan memiliki proporsi aktiva berwujud yang lebih besar, penilaian asetnya jadi lebih mudah. Sehingga, permasalahan asimetri informasi menjadi lebih rendah. Dengan demikian, perusahaan akan mengurangi penggunaan hutangnya ketika proporsi aktiva berwujud meningkat dan lebih memilih untuk menerbitkan saham.

c. Sales Growth

Menurut Rodoni dan Ali (2010), mengtakan bahwa petumbuhan secara tidak langsung berpengaruh pada pendanaan ekuitas yang signifikan, walaupun pada keadaan dimana biaya kebangkrutan rendah. Jadi perusahaan dengan pertumbuhan yang tinggi akan memiliki debt ratio yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang pertumbuhanya rendah. Pertumbuhan pada intinya adalah fitur dari dunia nyata, sebagai hasilnya pendanaan hutang tidak optimal.

Perusahaan dengan penjualan relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingan dengan perusahaan dengan tingkat penjualan yang tidak stabil (Brigham dan Houston, 2010)

Menurut Pujiani dan Prasetiono (2012) Rasio Sales Growth adalah rasio yang mengukur pertumbuhan penjualan perusahaan dengan

27 mengukur perbedaan nilai penjualan pada suatu periode. Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan penjualan yang tinggi akan membutuhkan lebih banyak investasi pada berbagai elemen aset, baik aset tetap maupun aset lancar. Pihak manajemen perlu mempertimbangkan sumber pendanaan yang tepat bagi pembelanjaan aset tersebut. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan yang tinggi akan mampu memenuhi kewajiban finansialnya seandainya perusahaan tersebut membelanjai asetnya dengan utang, begitu pula sebaliknya.

d. Ukuran Perusahaan

Menurut Brigham dan Houston (2010), ukuran perusahaan adalah rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun kemudian. Pada perusahan yang besar di mana saham akan tersebar luas, setiap perluasan modal saham akan mempunyai pengaruh yang kecil terhadap terhadap hilangnya atau tergesernya pengendalian dari pihak yang dominan terhadap pihak yang bersangkutan (Riyanto, 2008).

Sebaliknya perusahaan yang kecil dimana saham tersebut berada dilingkungan perusahan yang kecil, penambahan jumlah saham akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemungkinan kontrol pihak dominan terhadap perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar memiliki akses untuk mendapatkan sumber pendanaan dari berbagai sumber, sehingga untuk mendapat pinjaman dari kreditur akan lebih mudah karena perusahaan dengan ukuran besar

28 memiliki probabilitas lebih besar untuk memenangkan persaingan dalam industri, sebaliknya perusahaan dengan skala kecil akan lebih menghadapi ketidakpastian, karena perusahaan kecil lebih cepat bereaksi terhadap perubahan yang mendadak. Oleh karena itu, memungkinkan perusahaan besar tingkat leverage akan lebih besar dari pada perusahaan yang berukuran kecil.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa besar kecilnya ukuran perusahaan akan berpengaruh terhadap struktur modal dengan didasarkan pada kenyataan bahwa semakin besar suatu perusahaan akan mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi.

Dalam penelitian ini, total penjualan digunakan sebagai alat ukur ukuran perusahaan, dengan mempertimbangkan bahwa nilai penjualan relatif lebih stabil. Jika nilai dari total aktiva, penjualan, atau modal itu besar, maka digunakan natural logaritma dari nilai tersebut (Miswanto dan Husnan, 1999) dalam Arief (2011).

Ukuran Perusahaan mempunyai Hubungan Positif dengan Leverage, ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pujiani dan Prasetiono (2012). Serta sesuai dalam Hipotesis Pecking Order yang memilih untuk menggunakan dana Internalnya karena perusahaan yang kecil memiliki kecendrungan untuk terlikuidasi ketika mereka berada pada financial distress. Lebih lanjut lagi, perusahaan besar cenderung terdiversifikasi sehingga menurunkan risiko kebangkrutan dan pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas hutang ketika ukuran perusahaan yang

29 diproksikan dengan total asset yang dimiliki semakin besar maka perusahaan dapat dengan mudah untuk mendapatkan pinjaman, dengan asumsi bahwa pemberi pinjaman (lenders) percaya bahwa perusahaan mempunyai tingkat likuiditas yang cukup.

e. Likuiditas

Penggunaan rasio lancar untuk likuiditas akan diketahui seberapa besar kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya. Menurut Rodoni dan Herni Ali (2010) rasio likuiditas yaitu mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo. Dari pengertian tersebut, likuiditas mempengaruhi struktur modal dimana melihat kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutangnya, semakin kecil kemampuan memenuhi hutang kemungkinan menggunakan modal dengan hutang juga berkurang atau sedikit. Disisi lain, rasio lancar akan menunjukkan kepada investor bahwa perusahaan telah mampu memenuhi kewajiban lancar yang dimilikinya. Maka akan menambah kepercayaan kepada investor bahwa investasi di perusahaan akan menjamin resiko perusahaan tidak gulung tikar karena mampu memenuhi kewajibannya atau likuiditasnya tinggi. Likuiditas merupakan pertimbangan yang diperlukan investor dalam menilai perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usahanya tidak tertanggu dengan lilitan hutang yang ditanggungnya. Investor tidak khawatir dengan adanya hutang yang timbul karena likuiditas yang mencukupi yang menandakan

30 perusahaan mampu membayar hutang tersebut. Menurut pecking order theory, perusahaan yang mempunyai likuiditas yang tinggi akan cenderung tidak menggunakan pembiayaan dari hutang. Hal ini disebabkan perusahaan dengan likuiditas yang tinggi mempunyai dana internal yang besar, sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya terlebih dahulu untuk membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan eksternal melalui hutang. Ini Artinya likuiditas mempunyai Hubungan negatif terhadap Leverage.

B. Pengaruh Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen

Dokumen terkait