• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Pekerja Anak

2.2.2 Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Pekerja Anak

Keterlibatan anak dalam dunia kerja tidaklah terjadi dengan sendirinya, melainkan disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor penyebab tersebut ada yang berasal dari dalam diri anak maupun karena pengaruh lingkungan terdekat dengan anak. Secara garis besar faktor penyebab ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu:

a. Faktor Intern

Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari dalam diri anak yang mendorong anak untuk melakukan aktivitas tertentu dan menghasilkan uang. Dengan hasil yang diperoleh anak akan menjadi senang dan dorongan tersebut akan terpuaskan. Adapun faktor intern yang menyebabkan anak memilih menjadi pekerja anak antara lain kemiskinan yang dialami orang tua, adanya budaya dan tradisi yang memandang anak wajib melakukan pekerjaan sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua, relatif sulitnya akses ke pendidikan serta tersedianya pekerjaan yang mudah diakses tanpa membutuhkan persyaratan tertentu.

b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Faktor inilah yang menjadi alasan bagi dunia kerja untuk menerima anak bekerja. Anak dipandang sebagai tenaga kerja yang murah dan cenderung tidak banyak menuntut. Pekerja anak dipandang tidak memiliki kemampuan yang memadai baik secara fisik maupun kemampuan. Dengan demikian para pengusaha akan cenderung memilih anak karena upah yang diberikan akan cenderung lebih murah daripada orang dewasa. Disamping itu anak lebih patuh dan penurut terhadap intruksi yang diberikan oleh orang dewasa (http;//Pekerja-anak<<erka.html).

Selain faktor tersebut, penyebab anak bekerja dapat dilihat dari beberapa faktor-faktor pendorong lainnya yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Ekonomi

Kemiskinan menyebabkan ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pokok. Ditemukan juga munculnya kesadaran di tingkat anak-anak untuk tidak melanjutkan sekolah karena ketidakmampuan orang tua untuk membayar biaya pendidikan. Akibatnya mereka tidak memiliki aktivitas (menganggur) sehingga anak berusaha untuk berkegiatan, terlebih lagi jika kegiatan tersebut dapat menghasilkan uang. Kondisi ini menyebabkan anak dengan kesadaran sendiri atau dipaksa oleh keluarga untuk bekerja, sehingga kebutuhan pokoknya dapat terpenuhi dan membantu keluarga dalam mencari nafkah.

Terdapat beberapa profil rumah tangga miskin yaitu:

a. Sosial Demografi yang meliputi rata-rata jumlah anggota rumah tangga, persentase wanita sebagai kepala rumah tangga, rata-rata usia kepala rumah tangga dan pendidikan kepala rumah tangga.

b. Kemampuan membaca dan menulis, tingkat pendidikan c. Sumber penghasilan utama

d. Tempat tinggal (perumahan) yang dilihat dari luas lantai, jenis lantai, jenis atap, jenis dinding, jenis penerangan, sumber air, jenis jamban, status pemilikan rumah tinggal (Sub Direktorat Analisis Statistik: 2008).

Kemiskinan tidak hanya dilihat dari satu sisi saja, tetapi terdapat beberapa aspek yang disebut kelompok atau keluarga miskin, yaitu:

1. Hidup dibawah garis kemiskinan dimana tidak memiliki faktor produksi sendiri sehingga tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidup

2. Tidak memiliki peluang untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri dimana hanya cukup untuk konsumsi

3. Tingkat pendidikan yang rendah, keluarga miskin rata-rata memiliki tingkat sosial ekonomi rendah yang memiliki jumlah anak lebih besar 4. Setengah menganggur dimana untuk terjun ke sektor formal agak tertutup

rapat karena rendahnya pendidikan dan keterampilan rendah, akibatnya mereka masuk ke sektor-sektor informal atau tidak bekerja sama sekali (Siagian, 2012: 21-23).

b. Faktor Sosial

Ketidakharmonisan hubungan antar anggota keluarga dan pengaruh pergaulan dengan teman merupakan faktor yang menyebabkan anak menjadi pekerja anak. Bagi anak, bekerja bukan sekedar kegiatan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, tetapi juga sebagai palampiasan atas ketidakharmonisan hubungan diantara anggota keluarga. Selain itu pekerjaan dan teman-teman di tempat bekerja merupakan tempat yang dapat dijadikan tempat bergantung bagi anak.

c. Faktor Budaya

Adanya pandangan dari sebagian masyarakat yang lebih menghargai anak yang bekerja merupakan bentuk pengabdian kepada orang tua. Sebagian besar orang tua beranggapan bahwa memberi pekerjaan kepada anak merupakan upaya proses belajar menghargai kerja dan tanggung jawab. Selain dapat melatih dan memperkenalkan anak kepada kerja, mereka juga berharap dapat mengurangi beban kerja keluarga.

d. Faktor Pendidikan

Berawal dari pendidikan orangtua yang rendah, adanya keterbatasan ekonomi dan tradisi maka banyak orangtua mengambil jalan pintas agar anaknya berhenti sekolah dan lebih baik bekerja dengan alasan :

1) Wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi 2) Biaya pendidikan mahal

3) Sekolah tinggi akhirnya jadi pengangguran

Tingkat pendidikan yang rendah dan ketidakberdayaan ekonomi, orang tua cenderung berpikiran sempit terhadap masa depan anaknya sehingga tidak memperhitungkan manfaat sekolah yang lebih tinggi dapat meningkatkan kesejahteraan anak dimasa datang. Situasi tersebut yang mendorong anak untuk bekerja.

e. Faktor ketersediaan lapangan pekerjaan

Tersedianya sumber lokal yang dapat menjadi lahan pekerjaan bagi anak, pola rekruttmen yang mudah dan anak merupakan tenaga kerja yang murah dan mudah diatur, kurangnya pengetahuan masyarakat terutama orang tua tentang hak-hak anak serta masih diskriminatifnya cara pandang masyarakat Indonesia atas “keberadaan” seorang anak (http://analisis-situasi-pekerja-anak.or.id).

Faktor-faktor yang menjadi penyebab anak-anak bekerja dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu penawaran (supply) dan permintaan (demand). Sisi penawaran ditunjukkan untuk melihat faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat yang menyediakan tenaga anak-anak untuk bekerja, sedangkan sisi permintaan untuk

menunjukkan faktor-faktor yang mendukung pengusaha memutuskan untuk menggunakan pekerja anak sebagai faktor produksi (Nachrowi, 2004: 100).

Dari sisi penawaran, menurut berbagai penelitian yang dilakukan di dalam maupun luar negeri, kemiskinan merupakan faktor utama yang membuat anak-anak masuk ke pasar tenaga kerja. ILO dan UNICEF (1994) menyebutkan bahwa kemiskinan merupakan akar permasalahan terdalam dan faktor utama anak-anak terjun ke dunia kerja. Bencana alam, buta huruf, ketidakberdayaan, kurangnya pilihan untuk bertahan hidup, serta kemiskinan orangtua yang membuat semakin buruknya keadaan yang dihadapi oleh keluarga sehingga mereka merasa terpaksa meletakkan anaknya ke dunia kerja.

Fenomena pekerja anak di Indonesia merupakan masalah serius karena mengancam kualitas kehidupan anak, hak-hak mereka dan masa depan mereka sekaligus masa depan bangsa. Oleh karena itulah pekerja anak merupakan salah satu kategori anak-anak yang perlu mendapat perlindungan khusus. Konvensi ILO Nomor 138 (disahkan Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000) mengenai usia minimum untuk diperbolehkan bekerja menyatakan bahwa usia minimum bagi anak untuk diperbolehkan bekerja adalah 15 tahun jika pekerjaan itu tidak mengganggu kesehatan, keselamatan, pendidikan, dan pertumbuhannya. Sementara usia minimum untuk diperbolehkan bekerja atau melakukan pekerjaan yang berbahaya tidak boleh kurang dari 18 tahun. Namun ternyata masih banyak anak berusia kurang dari 15 tahun yang harus bekerja di Indonesia.

Dokumen terkait