BAB II LANDASAN TEORI
B. Bullying
5. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Bullying
Remaja melakukan tindakan bullying karena beberapa alasan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan individu, keluarga, teman sebaya,
sekolah dan komunitas memiliki risiko bagi remaja untuk melakukan
tindakan bullying terhadap teman sebayanya. Berikut akan dijelaskan faktor-faktor berisiko bagi remaja untuk terlibat sebagai pelaku bullying. a. Individu
Remaja yang cenderung impulsif, memiliki kepribadian yang
dominan, mudah frustrasi, memiliki kesulitan untuk mematuhi aturan,
serta melihat kekerasan sebagai hal yang positif, serta memiliki simpati
yang rendah terhadap orang lain berpotensi melakukan tindakan
bullying terhadap teman sebayanya (Olweus & Solberg, tanpa tahun). b. Keluarga.
Keluarga memiliki peran penting bagi perkembangan
anak-anaknya. Gordon (1962) mengemukakan bahwa peranan keluarga bagi
anak-anaknya antara lain memberikan afeksi kepada anak-anaknya
yang sedang tumbuh supaya dapat meningkatkan kualitas dirinya lebih
baik karena adanya perasaan hangat, nyaman, dicintai, dan diterima
dalam keluarga. Selain itu, keluarga menjadi agen kebudayaan.
Maksudnya ialah orang tua menyampaikan informasi kepada
anak-anaknya mengenai perilaku dan keyakinan yang sesuai agar anak-anak
dapat tumbuh keluar rumah dengan baik dan mengetahui cara untuk
Di sini, peran komunikasi dalam keluarga sangat penting karena
antara satu anggota keluarga dengan anggota lainnya pasti akan selalu
saling berinteraksi, saling berbagi cerita mengenai hal apapun (Hybels
& Weaver, 2004). Komunikasi dalam keluarga ini bersifat transaksional
dimana setiap anggota keluarga memiliki hubungan dengan anggota
keluarga lainnya sehingga hubungan tersebut mempengaruhi keluarga
secara keseluruhan (Noller, Fitz, & Patrick, dalam Hybels & Weaver,
2004).
Orang tua merupakan sumber utama yang paling berpengaruh
pada komunikasi di dalam keluarga. Komunikasi dengan orang tua
dapat mempengaruhi konsep diri anak karena pesan-pesan yang
disampaikan oleh orang tua dapat menjadi sebuah “script” bagi anak
untuk belajar mengenal kemudian melakukannya (James & Jongeward,
dalam Zeuschner, 1992). Setiap pesan yang disampaikan orang tua
terhadap anaknya seperti harapan-harapan terhadap anak, membuat
anak berasumsi bahwa harapan orang tua merupakan bagian dari
konsep dirinya (Zeuschner, 1992).
Hasil penelitian mengenai komunikasi antara orang tua dan
remaja yang dilakukan oleh Sillars, Koerner, & Fitzpatrick, 2005)
menunjukkan bahwa keluarga yang mendorong adanya sebuah
pertukaran yang terbuka mengenai ide-ide dan perasaan-perasaannya
akan meningkatkan pemahaman dan penyesuaian terhadap perubahan
menggambarkan karakteristik keluarga secara luas. Misal, pemahaman
ayah terhadap anaknya memprediksi pemahaman anggota keluarga lain
terhadap anggota keluarga yang lainnya. Keterbukaan pada komunikasi
memiliki hubungan positif dengan pemahaman orang tua, sedangkan
orang tua yang menekan dan mencela komunikasi anak memiliki
hubungan negatif dengan pemahaman orang tua. Sensitivitas orang tua
terhadap persepsi diri anak dapat meningkatkan hubungan yang kuat
antara orang tua dan anak dan memfasilitasi penerimaan diri anak.
Anak yang memiliki harga diri yang tinggi dan hubungan yang kuat
dengan orang tua juga membuat diri mereka lebih terbuka kepada orang
tua mereka.
Hasil penelitian lain mengenai komunikasi yang dilakukan oleh
Caughlin & Malis (2004) menunjukkan bahwa antara orang tua dan
remaja yang sedang terlibat dalam suatu topik pembicaraan mengenai
suatu masalah penting dapat menunjukkan pola komunikasi dimana
salah seorang menggerutu atau mengkritik seorang lainnya atau
menolak membicarakan sesuatu, dapat membuat remaja memiliki
tingkat penggunaan alkohol dan obatan-obatan yang tinggi serta
memiliki harga diri yang rendah.
Dengan demikian peran keluarga sangat penting bagi
perkembangan anak-anaknya ke arah yang positif atau negatif. Ketika
keluarga kurang memberikan kasih sayang atau kehangatan bagi anak
yang keras, serta berasal dari keluarga yang sering memberikan
hukuman secara fisik kepada dirinya dan diajarkan untuk menyerang
balik secara fisik sebagai cara untuk mengatasi masalah (Batsche,
Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Pearce & Thompson, 1998);
pola asuh orang tua yang permisif; keluarga yang kurang memberikan
kasih sayang atau kehangatan bagi anak-anak, dan kurang terlibat dalam
kehidupan anak (Batsche, Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Pearce
& Thompson, 1998; Dracic, 2009) dapat mempengaruhi remaja untuk
terlibat menjadi pelaku bullying.
Hal serupa dikemukakan oleh Kartono (2006) bahwa sikap hidup,
tradisi, kebiasaan dan filsafat hidup keluarga memiliki pengaruh yang
sangat besar terhadap pembentukan sikap dan tingkah laku remaja
sehingga ketika orang tua menunjukkan perilaku yang menyimpang
maka remaja akan mengadopsi sikap dan tingkah laku orang tua
tersebut dengan terlibat dalam kenakalan remaja, seperti melakukan
tindakan bullying. Selain itu, remaja yang kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, kebutuhan fisik dan psikisnya tidak terpenuhi di
dalam keluarga, serta tidak mendapatkan ajaran dari orang tua untuk
hidup dengan baik sesuai dengan norma akan membuat anak terlibat
dalam kenakalan remaja, seperti tindakan bullying. Hal ini disebabkan karena remaja merasa bingung, risau, sedih, malu, diliputi rasa dendam
benci terhadap orang tua, serta merasa tidak aman dan nyaman berada
kesenangan di luar lingkup keluarga dengan melakukan
tindakan-tindakan yang agresif, seperti menteror, mengancam, mengintimidasi,
serta memeras temannya atau dengan kata lain melakukan bullying. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian orang tua.
Penelitian yang dilakukan oleh Sahin & Sari (2010) juga
menunjukkan pentingnya rasa dicintai, disayangi, dan dihargai oleh
orang tua dalam perkembangan fisik dan psikologis remaja. Orang tua
yang bersikap negatif terhadap remaja membuat remaja merasa tidak
diterima dan dihargai oleh orang tua sehingga cenderung membuat
remaja mengembangkan perilaku bullying. Tindakan ini dilakukan oleh remaja supaya tampak dominan, dihargai oleh teman-teman sebayanya,
dan menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.
c. Teman Sebaya
Pelajar yang terlibat bullying di sekolah disebabkan karena pelajar memiliki teman-teman yang memiliki sikap positif terhadap kekerasan
dan juga cenderung melakukan bullying terhadap orang lain (Olweus, Limber, & Mihalic, dalam Fleming & Towey, 2002).
d. Sekolah.
Sekolah juga dapat mengembangkan terjadinya bullying jika kurangnya pemantauan dari orang dewasa (khususnya selama istirahat
sekolah) dan guru, karyawan-karyawan di sekolah lainnya, dan
siswa-siswa yang memiliki sikap acuh tak acuh atau menerima bullying
C. KOMUNIKASI INTERPERSONAL