• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Remaja

2. Karakteristik Perkembangan

Pada masa remaja, individu mengalami pertumbuhan cepat pada

tinggi dan berat badan, perubahan proporsi tubuh dan bentuk, serta

tercapainya kematangan seksual (Papalia, Olds, dan Feldman, 2008).

Kematangan kerangka dan seksual terjadi pesat terutama pada awal

masa remaja. Periode ini disebut dengan pubertas Santrock, 2002).

Kematangan seksual pada masa remaja ditandai dengan perubahan pada

ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Setiap anak mengalami

urutan kematangan seksual yang berbeda. Di samping itu, anak laki-laki

dan perempuan memiliki ciri-ciri seks primer dan sekunder yang

berbeda (Desmita, 2007).

Ciri-ciri seks primer ini berkaitan dengan proses reproduksi. Pada

anak laki-laki, perkembangan organ-organ seks ditandai dengan mimpi

basah. Sementara itu, pada anak perempuan, perkembangan

organ-organ seks ditandai dengan munculnya periode menstruasi (menarche) (Desmita, 2007).

Perubahan ciri-ciri seks sekunder ini merupakan tanda-tanda yang

membedakan antara laki-laki dan perempuan. Tanda-tanda jasmaniah

yang muncul pada laki-laki antara lain tumbuh kumis dan janggut,

jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, di

dada, di kaki, di lengan, dan sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi

antara lain payudara dan pinggul membesar, suara menjadi halus,

tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan (Desmita, 2007).

Selama masa perkembangan fisik ini disertai dengan adanya

perubahan psikologis remaja. Remaja mulai memperhatikan perubahan

pada bentuk tubuhnya. Kemudian, remaja mengembangkan citra

gambaran tubuhnya (Santrock, 2002).

b. Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget, pemikiran remaja berada pada tahap pemikiran

operasional formal yang berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun.

Remaja memiliki pemikiran yang lebih abstrak dibandingkan pada

masa kanak-kanak dahulu, yang ditandai dengan mampunya remaja

untuk dapat membangkitkan situasi-situasi khayalan,

kemungkinan-kemungkinan hipotesis, atau dalil-dalil dan penalaran yang benar-benar

abstrak. Selain itu, pemikiran remaja juga lebih idealistis. Remaja

berpikir mengenai ciri-ciri ideal bagi diri mereka sendiri dan orang lain

serta membandingkan diri mereka dan orang lain dengan menggunakan

standar-standar ideal tersebut. Remaja juga berpikir lebih logis dengan

mulai menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah dan

menguji permasalahan secara sistematis (penalaran deduktif induktif)

(dalam Santrock, 2002).

Pada masa remaja, perubahan kognisi sosial menjadi ciri

perkembangan remaja. Remaja mengembangkan egosentrisme yakni

dari perspektif mereka sendiri (Elkind, dalam Desmita, 2007).

Egosentrime ini dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu penonton

khayalan (imaginary audience) dan dongeng pribadi (the personal fable). Penonton khayalan (imaginary audience) merupakan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya

remaja memperhatikan dirinya sendiri. Sedangkan, dongeng pribadi

(the personal fable) merupakan bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan unik seorang remaja tentang dirinya (Santrock,

2002).

c. Perkembangan Psikososial

1). Hubungan Remaja dengan Orang Tua.

Pada masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa,

remaja berusaha untuk meraih kemandirian (otonomi), baik secara

fisik maupun psikologis. Remaja lebih banyak meluangkan

waktunya untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas sehingga

remaja menghadapi berbagai macam nilai-nilai dan ide-ide

(Desmita, 2007). Kemudian, nilai-nilai dan ide-ide yang remaja

dapatkan dari dunia yang lebih luas tersebut mulai dibandingkan

dengan standar nilai dari orang tuanya (Santrock, 2002). Remaja

mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang

tuanya (Desmita, 2007).

Hal ini membuat para orang tua kebingungan dengan melihat

tua merasa anak berubah dari seorang anak yang menurut menjadi

seorang anak yang tidak mau menurut, melawan, dan menentang

standar-standar nilai orang tua. Para remaja tampak melepaskan

diri dari orang tua. Di sisi lain, orang tua semakin berusaha untuk

mengendalikan anak remaja dengan keras dan lebih banyak tekanan

supaya remaja menaati standar nilai orang tua (Collins, dalam

Santrock, 2002).

Perselisihan-perselisihan dan perundingan-perundingan yang

terjadi antara remaja dengan orang tua pada dasarnya dapat

berfungsi positif bagi remaja dan dapat membantunya melewati

masa transisi dari ketergantungan anak-anak menuju kemandirian

(otonomi) dewasa (Santrock, 2002). Hal ini dapat dicapai dengan

adanya hubungan yang positif dan suportif antara remaja dengan

orang tua. Hubungan yang demikian dapat memberikan

kesempatan bagi anak-anak untuk mengungkapkan perasaan positif

dan perasaan negatifnya dan orang tua terus memberikan

bimbingan bagi remaja dalam mengambil keputusan yang masuk

akal pada bidang yang remaja masih memiliki pengetahuan terbatas

pada bidang tersebut (Desmita, 2007).

2). Hubungan Remaja dengan Teman Sebaya

Pada masa remaja, pengaruh teman sebaya semakin

meningkat.Pengaruh teman sebaya ini dapat bersifat positif dan

menyatakan bahwa teman sebaya memiliki fungsi positif, seperti

melalui interaksi dengan teman sebaya, remaja belajar untuk

mengontrol impuls-impuls agresif; memberikan dorongan untuk

mengambil peran dan tanggung jawab baru sehingga membuat

ketergantungan remaja pada dorongan keluarga menjadi berkurang;

melalui percakapan dan perdebatan dengan teman sebaya dapat

meningkatkan keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan

penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan dengan

cara yang lebih matang; remaja belajar mengenai tingkah laku dan

sikap-sikap yang diasosiasikan dengan menjadi laki-laki dan

perempuan melalui interaksi dengan teman sebaya; memperkuat

penyesuaian moral dan nilai-nilai; serta dapat meningkatkan harga

diri remaja karena dengan menjadi seseorang yang disukai oleh

teman sebayanya membuat remaja merasa senang akan dirinya.

Di samping itu, teman sebaya juga dapat memiliki pengaruh

yang negatif. Teman sebaya dapat memperkenalkan remaja dengan

berbagai bentuk kejahatan dan perilaku yang maladaptif (Santrock,

2002). Selain itu, remaja yang mengalami penolakan atau

pengabaian dari teman sebaya dapat menyebabkan perasaan

3). Perkembangan Identitas

Selama masa remaja, remaja menghadapi krisis antara

identitas dengan kebingungan identitas. Krisis ini tidak selalu

menunjukkan sebuah ancaman melainkan sebuah “titik balik” bagi

remaja dan menjadi sebuah tahapan yang krusial karena diharapkan

pada akhir periode ini, remaja mencapai identitas yang teguh

(Erikson, dalam Feist & Feist, 2008).

Pencarian identitas ini untuk menemukan siapakah dirinya,

bagaimana dirinya, dan ke mana akan menuju dalam kehidupannya

(Erikson, dalam Santrock, 2002). Remaja mencoba berbagai

macam peran-peran baru dalam hidupnya. Hal ini menyebabkan

para remaja mengalami kebingungan identitas karena remaja

memutuskan untuk menjadi apa dan apa yang diyakini, juga

sekaligus memutuskan untuk tidak ingin menjadi apa dan apa yang

tidak mereka yakini. Kebingungan identitas juga semakin

meningkat saat remaja memutuskan kebijakan orang tua ataukah

nilai kelompok teman sebaya yang harus ditolak (Erikson, dalam

Feist & Feist, 2008).

Kebingungan identitas wajar terjadi selama proses pencarian

identitas. Akan tetapi, apabila remaja tidak dapat mengatasi

kebingungan identitasnya, maka akan mengarah pada penyesuaian

patologis yang berbentuk regresi ke tahap perkembangan

kebingungan identitasnya dengan tepat, maka akan memiliki

kepercayaan pada sejumlah prinsip ideologis, kemampuan dalam

memutuskan untuk bersikap yang sesuai, percaya pada teman

sebaya dan orang yang lebih dewasa yang memberi nasihat

mengenai tujuan dan aspirasi, dan keyakinan pada pilihan

mengenai pekerjaan yang sesuai (Erikson, dalam Feist & Feist,

2008).

Dokumen terkait