• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

F. Faktor – Faktor Penyebab Perlunya Diadakan

Pajak Bumi dan Bangunan dilaksanakan di wilayah Jakarta Timur Dua.

Dilaksanakannya verifikasi dilapangan tersebut dengan alasan sebagai berikut:

1. Data yang sekarang pada umumnya tidak sesuai lagi dengan keadaan yng

sebenarnya;

2. Semakin pesatnya pembangunan perkotaan yang menyebabkan perubahan

nilai jual terhadap Objek Pajak Bumi dan Bangunan;

3. Semakin berkembangnya sektor ekonomi/ perdagangan sehingga banyak

Untuk memperoleh input yang akan diolah untuk menghasilkan

informasi objek pajak yang akan digunakan sebagai dasar pengenaan PBB

maka dibentuklah suatu basis data yang meliputi pendaftaran, pendataan,

penilaian serta pengolahan data subjek dan objek PBB dengan menggunakan

bantuan komputer yang dilaksanakan oleh KP PBBB Jakarta Timur Dua atau

pihak luar yang ditentukan oleh Dirjen Pajak. Namun data yang terbentuk

sesuai dengan perkembangan kemajuan dan waktu sering mengalami

perubahan sehingga perlu disesuikan dengan keadaan sebenarnya dalam

rangka memberikan pelayanan dan rasa keadilan dengan melakukan verifikasi

atau pendataan ulang. Adapun faktor-faktor penyebabnya adalah sebagai

berikut:

1. Perubahan Pemilikan Objek Pajak.

Perubahan objek pajak yang dimaksud adalah pengalihan hak atas objek

pajak seseorang kepada orang lain yang disebabkan karena berbagai alasan

antara lain:

a. Alasan ekonomi

Pemindahan kepemilikan objek pajak ini didorong oleh faktor

ekonomi, seperti jual beli, gadai, sewa dan tukar menukar.

b. Hibah wasiat, yaitu pemberian hak atas tanah dan atau bangunan pada

orang pribadi atau badan hukum tertentu.

c. Penunjukkan pembeli dalam lelang.

d. Pelaksanaan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum

mempunyai kekuatan hukum yang tetap akan terjadi peralihan hak dari

orang pribadi atau badan hukum salah satu pihak pada pihak yang

telah ditentukan dalm putusan hakim tersebut.

e. Hadiah adalah suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas

tanah dan bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan

hukum kepada penerima hadiah.

Pengalihan hak atas objek pajak diatas menurut Peraturan Pemerintah

Nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah harus dilakukan dihadapan

pejabat yang berwenang atau pejabat pembuat akta tanah, tetapi masyarakat

pada umumnya menghindari prosedur yang ada. Dengan adanya perubahan

pemilikan yang tidak dilaporkan kepada KP PBB tersebut, maka didalam

penetapan pajak selanjutnya masih berdasarkan data yang lama yang otomatis

tidak sesuai lagi dengan keadaan sebenarnya.

2. Perubahan Nilai Jual Objek Pajak

a. Tanah

Dasar pengenaan PBB ditentukan dari nilai jual objek pajak yang

diperoleh melalui deskripsi dan ciri-ciri objek pajak yang bersifat

teknis dan selalu berubah-ubah yang dapat terjadi atas tanah dan

bangunan.

Menurut teori penilaian. Tanah tidak mengalami penyusutan tetapi

nilainya tetap atau bahkan cenderung naik dengan cepat untuk

daerah-daerah tertentu yang strategis atau memiliki tingkat kesuburan yang

tanah yang didasarkan pada kemampuan tanah secara ekonomis dalam

hubungannya dengan produktivitas dan strategis ekonomisnya,

sedangkan harga tanah adalah penilaian atas tanah yang diukur

berasarkan harga nominal dalam satuan uang untuk satu satuan luas

tertentu dari tanah tersebut (Abdul Rahman, 2000: 9)

Dari gambaran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa antara nilai

tanah dan harga tanah akan mempunyai hubungan fungsional. Harga

tanah akan ditentukan oleh nilai tanah, atau harga tanah akan

mencerminkan tinggi rendahnya nilai tanah.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nilai tanah adalah

antara lain:

1) Pertambahan dan pengurangan penduduk

Pertambahan penduduk sangat berpengaruh pada nilai tanah karena

pertambahan penduduk akan membawa peningkatan permintaan

akan lahan untuk melakukan berbagai aktivitas seperti: tempat

kediaman, kegiatan sosial, aktivitas ekonomi dan lain sebagainya,

sehingga dari tekanan permintaan akan meningkatkan nilai tanah.

2) Keadaan lingkungan

Nilai tanah dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitarnya

terhadap bangunan yang sedang dan akan dijalankan

dilingkungannya (Abdul Rahman, 2000:25). Pembangunan jalan,

jalan raya, lapangan udara dan stasiun kereta api akan membawa

perhubungan yang telah terbangun seperti: pembangunan jalan

yang telah selesai dapat meningkatkan nilai tanah disekitarnya.

3) Keadaan ekonomi dan politik

Faktor ekonomi dan politik akan membawa pengaruh terhadap

tingkat permintaan terhadap tanah. Pertumbuhan ekonomi dan

politik yang positif akan meningkatkan kepercayaan masyarakat

dalam negeri dan luar negeri untuk berinvestasi, sehingga

membawa dampak yang positif terhadap pembangunan secara

otomatis mengakibatkan peningkatan terhadap permintaan akan

tanah yang membawa pengaruh terhadap nilai tanah.

b. Bangunan

Sesuai dengan pasal 2 ayat 1 Undang-undang Nomor 12 Tahun

1985 Jo, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1994 objek pajak bumi dan

bangunan adalah: Bumi dan atau Bangunan. Sebagaimana halnya

dengan tanah, objek bangunan juga harus ditentukan nilai jualnya.

Nilai Jual Objek Pajak dihitung berdasarkan biaya pembuatan baru

untuk bangunan tersebut dikurangi dengan penyusutan. Untuk

mempermudahkan perhitungan NJOP harus disusun Daftar Biaya

komponen Bangunan (DBKB). DBKB terdiri dari tiga komponen

yaitu:

1) Komponen utama, meliputi pekerjaan persiapan, pondasi,

2) Komponen material, meliputi atap, dinding, langit-langit dan

lantai.

3) Komponen fasilitas, yaitu komponen yang berfungsi sebagai

pelengkap bangunan seperti: kolam renang, lapangan tenis, AC,

Lift, Eskalator, genset dan perkerasan.

DBKB berlaku untuk setiap daerah tingkat II dan dapat disesuaikan

dengan perkembangan harga bahan dan upah.

Pada dasarnya penetapan NJOP berdasarkan pasal 6 ayat 2

undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 Jo Undang-undang-undang Nomor 12

Tahun 1994 adalah tiga tahun sekali. Namun demikian untuk

daerah tertentu yang karena perkembangan pembangunan

mengakibatkan kenaikan NJOP cukup besar, maka penetapan nilai

jualnya ditetapkan setahun sekali.

Oleh karena ketidakstabilan NJOP tersebut, maka perlu dilakukan

pendataan ulang, agar NJOP yang di data sesuai dengan keadaan

sebenarnya.

3. Perubahan Peruntukkan Tanah

Dengan semakin meningkatnya perkembangan masyarakat

pembangunan dewasa ini, maka kebutuhan akan lahan semakin meningkat

melakukan aktivitas-aktivitas sehingga mengakibatkan terjadinya

pergeseran peruntukkan tanah seperti:

a. Perubahan dari tanah sawah menjadi tanah darat yang dipergunakan

untuk perumahan dan perkantoran.

b. Perubahan dari tanah rawa menjadi tanah darat yang dipergunakan

untuk kegunaan perindustrian dan pemukiman.

c. Perubahan dari peruntukkan tanah perumahan menjadi perkantoran

dan perdagangan dan lain sebagainya.

Perubahan peruntukkan tanah dapat menyebabkan NJOP tanah tersebut

meningkat pula sehingga perlu dilakukan pendataan agar status tanah dan

jenis penggunaannya sesuai dengan keadaan sebenarnya.

4. Perbaikan Administrasi PBB dalam Rangka Peningkatan Pelayanan

kepada Masyarakat.

Dalam rangka mensukseskan tugas penerimaan PBB yang semakin

berat dan penuh tantangan yang ditandai dengan kompleksitas dan ragam

wajib pajak yang semakin pandai dan kritis maka diperlukan layanan yang

serba berkualitas dan profesional, dimana keberhasilannya sangat

dipengaruhi oleh aparat atau karyawan yang bertugas sebagai ujung

tombak pelayanan pada wajib pajak. Peningkatan pelayanan tersebut

ditandai dengan adanya dan PBB dengan tingkat akurasi yang tinggi,

dimana data-data yang terbentuk disesuaikan dengan keadaan di lapangan

dan perkembangan waktu yang terjadi terhadap subjek dan objek pajak.

diperlukan suatu sistem manajemen yang mengatur subjek dan objek pajak

dalam hal ini yaitu SISMIOP, data-data yang terbentuk dalam SISMIOP

sangat tergantung dengan kegiatan pendataan yang dilakukan oleh

petugas.

Basis data subjek dan objek pajak yang telah terbentuk sebelumnya

tidak tertutup kemungkinan masih terdapat kesalahan mengenai subjek

maupun objek pajak yang disebabkan oleh kesalahan pendataan maupun

kelalaian petugas, disamping itu seiring dengan perkembangan masyarakat

dan kemajuan pembangunan suatu wilayah menyebabkan terjadinya

perubahan-perubahan atau penambahan subjek maupun objek pajak,

sehingga basis data yang terbentuk disesuaikan kembali melalui kegiatan

pendataan ulang atau verifikasi. Jadi pendataan merupakan salah satu

langkah awal untuk menghasilkan data adminitrasi PBB, yang

keakuratannya sangat dipengaruhi kualitas pendataan yang lengkap dan

akurat serta dapat dipertangungjawabkan sehingga akan melahirkan

tingkat kepercayaan yang akan menimbulkan kesadaran untuk

melaksanakan kewajiban perpajakannya. Dengan demikian penerimaan

negara dari sektor pajak dalam hal ini yaitu PBB dapat ditingkatkan dan

dioptimalkan setiap tahunnya.

Dokumen terkait