• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Upaya Peningkatan Ketetapan Pokok Melalui Verifikasi

3. Hambatan – Hambatan dalam Pelaksanaan Verifikasi

Dari uraian sebelumnya diketahui bahwa KP PBB Jakarta Timur Dua

berusaha memperbaharui data PBB dengan mengadakan pendataan yang

selanjutnya akan meningkatan ketetapan pokok PBB Jakarta Timur Dua.

Namun demikian dalam pelaksanaan pendataan di wilayah KP PBB

Jakarta Timur Dua tidak terlepas dari beberapa masalah yang harus

dihadapi baik dalam pelaksanaan teknis maupun non teknis yang

mengganggu kelancaran pelaksanaannya. Masalah yang dihadapi dapat

diakibatkan karena kondisi wajib pajak dan tingkat pengetahuannya yang

berbeda-beda atau karena faktor lain.

Berdasarkan hasil pengamatan dan dialog dengan petugas pendata,

penulis menemukan beberapa faktor yang menjadi hambatan dalam

pelaksanaan pendataan antara lain sebagai berikut:

a. Faktor hambatan intern

1) Terbatasnya tenaga kerja

Pelaksanaan pendataan dengan verifikasi lapangan

memerlukan aparatur pendata yang berkualitas yang mampu dan

serta memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan pelaksanaan

pendataan sehingga diharapkan kualitas hasil pendataan dapat

dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masalahnya jumlah

pelaksana yang ada pada KP PBB Jakarta Timur Dua tidak

sebanding dengan jumlah objek pajak yang akan didata, untuk

a) Mengikutsertakan dan memanfaatkan tenaga-tenaga pendata

dari mahasiswa yamg sedang melaksanakan PKL.

b) Mengambil tenaga lulusan SMA/ STM Bangunan apabila

pekerjaan ada melebihi kemampuan tenaga yang tersedia.

c) Mengadakan pelatihan secara intensif terhadap tenaga-tenaga

musiman/ harian KP PBB Jakarta Timur Dua oleh tenaga

yang sudah profesional (tenaga fungsional yang sudah

berpengalaman).

2) Terbatasnya waktu dan biaya

Secara garis besar biaya untuk pelaksanaan pendataan dalam

rangka pemeliharaan basis data terdiri atas 5 kelompok, yaitu:

pekerjaan persiapan, pekerjaan lapangan, pekerjaan kantor, sarana

pendukung dan kegiatan pembianaan serta dengan biaya yang

terbatas harus dapat dikelola sebaik-baikanya sehingga efektivitas

dan efisiensi akan tercapai, upaya yang dapat dilakukan

menciptakan efektifitas dan efisiensi tersebut adalah sebagai

berikut:

a) Membuat perencanaan kerja berupa time schedule yang akurat sebelum pelaksanaan pendataan dimulai, sehingga

pada saat pelaksanaan pendataan dilapangan sesuai dengan

yang diharapakan yaitu efektifitas dan efisiensi.

b) Memperhitungkan jumlah tenaga pelaksana dan biaya yang

c) Kurangnya koordinasi antara KP PBB Jakarta Timur Dua

dengan instansi terkait.

Untuk mempermudah pelaksanaan pekerjaan di lapangan

diperlukan koordinasi dengan beberapa instansi pemerintahan

antara lain dalam hal ini yaitu Badan Pertahanan Nasional (BPN),

Pemda Setempat (Jakarta Timur), kelurahan, RT/ RW. Disini

peranan aparat BPN mengambil andil sebagai pendukung dalam

pelaksanaan tugas pendataan di kecamatan Cipayung dirasakan

sangat kurang. Misalnya pada waktu pelaksanaan pendataan

terbentur dengan proses adjudikasi yaitu proses penerbitan

sertifikasi tanah secara massal untuk satu atau sebagian daerah

administrasi tertentu, sehingga RT/RW setempat tidak mau didata

karena mereka takut adanya perbedaan luas tanah hasil pendataan

dengan pengukuran BPN.

Untuk mengatasi hal tersebut, kita harus menunggu hasil

pengukuran di BPN terhadap luas tanah. Apabila hasil pengukuran

tersebut tidak dapat ditunggu maka masyarakat wajib pajak

diberikan penjelasan bahwa tanah dan bangunan masih

menggunakan data yang lama, jika tidak ada perubahan atau yang

berubah hanya komponen material bangunan saja. Dilain pihak

nampak kurangnya koordinasi antara KP PBB Jakarta Timur Dua

dengan aparatur pemerintah dari kecamatan, kelurahan, RT/ RW

dilakukan pendataan. Untuk itu perlu dilakukan koordinasi jauh

hari sebelum dilakukan pendataan agar masyarakat wajib pajak

mempersiapkan segala sesuatunya.

b. Faktor Hambatan Ekstern

Adapun hambatan-hambatan ekstern yang dihadapi dalam

melaksanakan verifikasi lapangan di kecamatan Pasar Rebo dan

kecamatan Cipayung, yaitu:

1) Wajib pajak sulit ditemui.

Pelaksanaan pendataan sering terhambat dikarenakan wajib

pajak sulit ditemu. Penyebab wajib pajak sulit ditemui karena

wajib pajak tersebut berdomisili tetap diluar daerah atau wajib

pajak sibuk dengan pekerjaannya dan selalu pulang malam hari.

Hambatan ini mengakibatkan sulitnya pendataan karena untuk

membubuhkan tanda tangan dan minta keterangan wajib pajak

diperlukan waktu yang cukup lama, disamping itu dalam

pengukuran suatu objek pajak batas-batas bidang miliknya tidak

jelas. Maka upaya yang dapat dilakukan dengan melalui pendektan

dengan ketua RT/ RW atau kader.

2) Objek pajak tidak diketahui pemiliknya

Hal ini sering terjadi karena berubahnya kepemilikan tanah

yaitu pengalihan hak atas tanah seseorang kepada orang lain yang

biasanya dikarenakan jual beli, gadai, sewa, dan sebagainya.

Camat dan Kepal Desa. Tetapi sebagian masyarakat menghindari

biaya yang harus dikeluarkan untuk pembuatan akta di bawah

tangan tanpa melaporkan kepada yang berwenang sehingga sulit

mencari siapa pemilik yang sebenarnya. Keadaan ini banyak terjadi

pada tanah kosong/ kapling dengan batas yang tidak jelas.

3) Kesadaran dan kurangnya pengetahuan wajib pajak

Kurangnya kesadaran dan pengetahuan wajib pajak dalam hal

perpajakan tentu saja akan menyulitkan petugas pendata untuk

memperoleh data yang benar tentang objek pajak yang diukur.

Penyebabnya adalah karena subjek atau wajib pajak merasa

ketakutan didatangi oleh petugas karena takut disalahgunakan

walaupun petugas sudah menjelaskan maksud dan tujuan

pendataan ini secara panjang lebar dan menunjukkan identitas

pendata, disamping itu adapula subjek atau wajib pajak yang

memang tidak mau sama sekali untuk didata karena takut

pembayaran PBBnya terlalu besar kalau benar-benar diukur.

Dalam kasus seperti ini kita dapat mempergunakan asumsi

sebagai seorang penilai untuk memperkirakan luas tanah dan

bangunan tersebut, tetapi diharapkan tidak terlalu jauh berbeda

dengan data yang sebenarnya. Selanjutnya di dalam SPOP tidak

perlu di tanda tangani oleh wajib pajak dan diberi keterangan wajib

4) Sengketa

Sengketa bisa terjadi karena dua sebab yaitu warisan dan

adanya kesalahpahaman terhadap SPPT. Sengketa karena warisan

ini menyebabkan sulitnya pelaksanaan pendataan karena tidak jelas

siapa sebenarnya yang memiliki atau memanfaatkan SPPT sebagai

bukti pembayaran wajib pajak, biasanya terjadi pada masyarakat

pedesaan. Anggapan mereka bahwa SPPT merupakan bukti

kepemilikan ini semakin kuat, dengan ditunjang banyaknya

birokrasi pemerintahan yang dikaitkan dengan SPPT dan STTS.

Untuk sengketa karena masalah warisan, petugas belum bisa

melanjutkan pengukuran, tapi dengan menunggu keputusan baik

dari pengadilan ataupun dari kelurahan. Dalam hal penyebab

sengketa adalah karena perbedaan pemahaman SPPT sebagai bukti

kepemilikan dan dan bukti pembayaran pajak, maka penyuluhan

kepada masyarakat perlu lebih diintersifikasikan dengan dukungan

dari pemerintah daerah dan KP PBB setempat agar SPPT sebagai

C. Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan di KP PBB Jakarta Timur Dua.

Dokumen terkait