• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor - Faktor penyebab terjadinya bullying

BAB II TINJAUN PUSTAKA

F. Faktor - Faktor penyebab terjadinya bullying

20 Adapun di dapatkan beberapa dampak bullying (Husaini, 2013), antara lain:

a. Gangguan psikologis, misalnya rasa cemas dan takut yang berlebihan, stress, depresi, tertekan, terancam, kesepian, dendam, bahkan membahayakan dirinya dengan keinginan untuk bunuh diri.

b. Konsep diri sosial korban bullying menjadi kurang karena korban merasa tidak diterima oleh teman-temannya, malu, merasa rendah diri dan tidak berharga, sulit berkonsentrasi, ingin keluar sekolah dan membenci lingkungan sosialnya.

c. Gangguan pada kesehatan fisik misalnya sakit kepala, demam, dll.

21 Menurut (Sanders Cherly E, 2004) mengemukakan enam karakteristik faktor latar belakang dari keluarga yang memengaruhi perilaku bullying pada individu, yaitu sebagai berikut;

a) Lingkungan emosional yang beku dan kaku dengan tidak adanya saling memperhatikan dan memberikan kasih sayang yang hangat.

b) Pola asuh yang permissive dengan pola asuh serba membolehkan, sedikit sekali memberikan aturan, membatasi untuk berperilaku, struktur keluarga yang kecil.

c) Pengasingan keluarga dari masyarakat, kurangnya kepedulian terhadap hidup bermasyarakat, serta kurangnya keterlibatan keluarga dalam aktivitas bermasyarakat.

d) konflik yang terjadi antara orangtua, dan ketidakharmonisan dalam keluarga

e) Penggunaan disiplin, orangtua gagal untuk menghukum atau malah memperkuat perilaku agresi dan gagal untuk memberikan penghargaan.

f) Pola asuh orang tua yang otoriter dengan menggunakan kontrol dan hukuman sebagai bentuk disiplin yang tinggi, orang tua mencoba untuk membuat rumah tangga dengan aturan yang standar dan kaku.

22 2. Teman Sebaya

Pada usia remaja, anak lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah. Pada masanya remaja memiliki keinginan untuk tidak lagi terlalu bergantung pada keluarganya dan mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok sebayanya, oleh karena itu salah satu faktor yang sangat besar dari perilaku bullying pada remaja disebabkan oleh teman sebaya yang memberikan pengaruh negatif dengan cara memberikan ide baik secara aktif maupun pasif bahwa bullying tidak akan berdampak apa-apa dan merupakan suatu hal yang wajar dilakukan (Coloroso, 2007).

Pencarian identitas diri remaja dapat melalui penggabungan diri dalam kelompok teman sebaya atau kelompok yang diidolakannya. Bagi remaja, penerimaan kelompok penting karena mereka bisa berbagi rasa dan pengalaman dengan teman sebaya dan kelompoknya. Untuk dapat diterima dan merasa aman sepanjang saat-saat menjelang remaja dan sepanjang masa remaja mereka, anak- anak tidak hanya bergabung dengan kelompok-kelompok, mereka juga membentuk kelompok yang disebut klik. Klik memiliki kesamaan minat, nilai, kecakapan, dan selera. Hal ini memang baik namun ada pengecualian budaya sekolah yang menyuburkan dan menaikan sejumlah kelompok diatas kelompok lainnya, hal itu

23 menyuburkan diskriminasi dan penindasan atau perilaku bullying (Coloroso, 2007).

3. Media

Pada perkembangan pesat Media saat ini menimbulkan banyak dampak baik fostif maupun negatif dikalangan Siswa disekolah, dalam penggunaan media elektronik seperti televisi, telepon genggam (handphone) ataupun laptop / notebook.. Media elektronik pembahasan penting disini berupa telepon genggam (handphone) terlebih pada zaman sekarang ini yaitu penggunaan handphone dengan fasilitas android sangatlah berkembang begitu pesat beberapa tahun terakhir ini, banyak kalangan yang rela untuk menghabiskan waktunya hanya dengan menggunakan fitur android pada handphone nya terlebih juga pada Siswa sekolah.

Dengan Saat ini begitu gampangnya memperoleh jaringan internet yang juga disambungkan dengan handphone atupun laptop / notebook juga dapat dilihat betapa kemajuan teknologi telah

mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir remaja. Mereka banyak berinteraksi dengan beberapa kemajuan terutama Secara pengaruh, merekalah yang paling rentang terkena dampak positif maupun negatif dari perkembangan teknologi tersebut. Jika dulu di tahun-tahun sebelum perkembangan teknologi belum begitu pesat, bisa dilihat dulu para Siswa bersekolah dengan hanya membawa buku –

24 buku pelajaran dan beberapa perlengkapan alat tulis lainnya, tapi kini bisa dilihat sendiri para Siswa sekarang berangkat kesekolah begitu tidak lengkap tanpa adanya telepon genggam (handphone) sebagai kebutuhan pokok yang harus dibawa kesekolah walaupun beberpa sekolah pun masih ada yang menerapkan larangan Siswa membawa handphone ke sekolah tetapi beberapa Siswa masih ada yang membandel yang tetap membawa. Entah apakah handphone tersebut sebagai alat komunikasi dan penunjang pembelajaran atau untuk kepentingan lain, yang jelas bagi sebagian remaja handphone merupakan saran gaul yang mutlak yang mereka miliki untuk merasa gaul dan percaya diri dengan teman – temannya (Ahira, 2009).

Markplus Insight menguatkan bahwa sosial media adalah situs yang peling sering oleh pengguna internet di Indonesia. Situs jejaring sosial adalah suatu media atau saran untuk berbagi data atau informasi personal, di mana dalam beberapa situs jejaring sosial terbuka untuk semua orang, dan ada pula yang dibatasi oleh rentang umur tertentu. Facebook sebagai sosial media terbesar saat ini menempatkan posisi Indonesia sebagai pengguna Facebook ketiga terbesar sedunia. Melihat perkembangan era informasi internet saat ini, usia remaja adalah usia dominan yang sering mengakses internet, khususnya Facebook (Juvonen, 2008).

25 Peran remaja tidak bisa dilepaskan dari internet, termasuk di dalamnya sosial media. Tidak seperti orang dewasa yang pada umumnya sudah mampu mem-filter hal-hal baik ataupun buruk dari internet, remaja sebagai salah satu pengguna internet justru sebaliknya. Selain belum mampu memilah aktivitas internet yang bermanfaat, mereka juga cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka tanpa mempertimbangkan terlebih dulu efek positif atau negatif yang akan diterima saat melakukan aktivitas internet tertentu (Qomariyah, 2011). (Juvonen, 2008) mengungkapkan bahwa berkembangnya penggunaan teknologi komunikasi khususnya pada remaja, dunia maya menjadi wadah baru yang beresiko bagi aksi kekerasan. Efek negatif dalam berinternet yang akhirnya menimbulkan perilaku kekerasan pada dunia maya disebut dengan cyberbullying.

Cyberbullying dalam dunia maya berpengaruh besar pada

kehidupan remaja, dalam (Juvonen, 2008) menyatakan tidak ada jalan keluar dalam cyberbullying (no escape). Juvonen (2008) juga menjelaskan para remaja enggan memberitahu orang tua mereka mengenai insiden-insiden online yang terjadi pada mereka disebabkan mereka tidak mau orang tua membatasi kegiatan online mereka. Oleh karena itu, Juvonen berkesimpulan cyberbullying bisa

26 menjadi beban bagi para remaja karena dapat terjadi untuk waktu yang lama.

Tindakan cyberbullying pada internet khususnya pada media sosial tidak mengarah kepada perempuan saja atau laki-laki saja, dengan kata lain cyberbullying tidak mengenal jenis kelamin (gender). (Juvonen, 2008) dan (Patchin, 2012) menyatakan bahwa cyberbullying tidak mengenal jenis kelamin. Dalam pemaparan beberapa penelitian menunjukan keseimbangan dalam hal siapa yang menjadi korban cyberbullying baik laki-laki maupun perempuan.

Program televisi yang tidak mendidik akan meninggalkan jejak pada benak pemirsanya. Akan lebih berbahaya lagi jika tayangan yang mengandung unsur kekerasan ditonton anak-anak pra sekolah perilaku agresi yang dilakukan anak usia remaja sangat berhubungan dengan kebiasaannya dalam menonton tayangan di televisi (Khaerunnisa, 2008).

Hasil penelitian (Saripah, 2009) memperlihatkan bahwa 56,9%

anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%). %).

Melalui pelatihan yang diselenggarakan terangkum beberapa pendapat orang tua tentang alasan anak-anak menjadi pelaku bullying, di antaranya:

27 1) Karena mereka pernah menjadi korban bullying

2) Ingin menunjukkan eksistensi diri 3) Ingin diakui

4) Pengaruh tayangan TV yang negatif 5) Senioritas

6) Menutupi kekurangan diri 7) Mencari perhatian

8) Balas dendam 9) Iseng

10) Sering mendapat perlakuan kasar dari pihak lain 11) Ingin terkenal

12) Ikut-ikutan.

4. Lingkungan

Menurut (Beane, 2008), dalam bukunya menjelaskan bahwa ; a) Lingkungan Keluarga

Unsur-unsur dari lingkungan rumah dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak menjadi korban bullying juga membully orang lain. Menurut Olweus, lingkungan rumah seperti ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Kurangnya kehangatan dan keterlibatan

28 2. Kegagalan untuk menetapkan batas yang jelas untuk

perilaku

3. Aresif terhadap teman sebaya, saudara, dan orang dewasa 4. Terlalu sedikit cinta dan perhatian, serta terlalu banyak

kebebasan

5. Penggunaan tenaga, terlalu tegas pada anak, metode membesarkan dengan hukuman fisik dan luapan emosi kekerasan

b) Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat tempat tinggal seseorang juga sangat mempengaruhi. Anak-anak yang dikelilingi oleh orangorang dengan moral yang baik akan kecil kemungkinannya untuk menjadi pelaku bullying.

c) Lingkungan Sekolah

a. Moral staf sekolah yang rendah b. Standar perilaku yang tidak jelas c. Metode disiplin yang tidak konsisten

d. Pengawasan yang lemah (baik di taman bermain, ruang, toilet, kafe)

e. Anak-anak tidak diperlakukan sebagai individu yang dihargai

f. Kurangnya dukungan untuk terhadap siswa baru

29 g. Tidak bertoleransi terhadap perbedaan

h. Guru menunjuk dan berteriak kepada siswanya

i. Tidak ada prosedur yang jelas untuk pelaporan yang berhubungan dengan tindakan bullying

j. Bullying diabaikan oleh pihak sekolah

k. Pihak sekolah yang mempermalukan siswa di depan temanteman.

5. Kelompok/Geng

Menurut (Feldman, 2012), bullying merupakan fenomena sosial yang luas yang melibatkan individu dan kelompok, Pada saat usia remaja tidak bisa dipungkiri bahwa remaja termasuk individu yang ingin mencoba segala sesuatu hal masih baru baginya. Pada kegiatan bully membully, remaja biasanya terpengaruh akan kelompoknya, dengan tujuan agar ia bisa bergabung dan diakui dalam kelompoknya tersebut. Akibatnya lama kelamaan remaja akan menjadi pelaku bullying, Bullying dapat dianggap sebagai proses kelompok. Para anggota kelompok dapat merasa dimanipulasi oleh pemimpin kelompoknya dan mungkin mengalami tekanan untuk menyesuaikan perilaku.

30 Apabila remaja sudah terikat dalam suatu kelompok akan cenderung mengikuti aturan apa yang diinginkan dalam kelompoknya karena hanya ingin mendapatkan suatu pengakuan dari kelompoknya, Remaja ingin kehadirannya diakui sebagai bagian dari komunitas remaja secara umum dan bagian dari kelompok sebaya secara khusus (Meilinda, 2013).

31

Dokumen terkait