A. Harga diri
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Diri
Harga diri tidak dibawa sejak lahir, namun merupakan faktor yang terbentuk sepanjang pengalaman hidup individu dalam relasinya dengan dirinya sendiri dan orang lain. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri, yaitu :
a. Lingkungan keluarga
Pembentukan harga diri dimulai dari lingkungan keluarga. Kaluarga merupakan lingkungan pertama dan ter-utama bagi seorang individu. Di tengah sebuah keluarga seorang anak pertama kali belajar berhubungan dengan orang lain selain dirinya, seperti orang tua, kakak/adiknya dan anggota keluarganya yang lain. Hurlock (1999) mengungkapkan bahwa membangun rasa harga diri harus dilakukan pada saat seseorang masih berada pada usia anak-anak. Hal ini dikarenakan apa yang sudah tertanam dalam diri individu ketika masa kecilnya akan terus dibawa sampai individu tersebut beranjak dewasa.
Menurut Hurlock (1999) seseorang akan belajar menilai dirinya melalui sikap orang tua dan anggota keluarga yang lain. Dengan demikian, di dalam kehidupan keluarga, sikap orang tua terhadap anaknya akan mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak. Seorang dewasa yang ketika masa kecilnya mendapat perhatian, penerimaan, merasa dimengerti dan dihargai oleh orang tuanya, sehingga ketika dewasa akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan merasa dirinya berharga. Sedangkan anak yang
ditolak dan tidak diperhatikan oleh orang tuanya akan merasa gagal dan cenderung menjadi anak yang bermasalah (Mappiere, 1983).
Dalam Coopersmith (1967) pengaruh orang tua terhadap harga diri anak bukan hanya karena siapa mereka dan apa yang mereka percayai, namun yang terpenting adalah apa yang mereka lakukan. Orang tua yang sering memuji anaknya, lebih demokratis, penuh penerimaan dan pengungkapan cinta, tidak mudah menghukum anak, akan cenderung mempengaruhi perkembangan harga diri anak kearah harga diri yang relatif tinggi. Sedangkan, pada orang tua yang menerapkan aturan yang kurang jelas, acara mendidik yang kasar, menunjukkan emosi yang tidak stabil, akan cenderung mempengaruhi harga diri anak ke arah harga diri yang rendah.
b. Lingkungan sosial
Coopersmith (1967) mengatakan bahwa harga diri dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Seorang individu akan mengevaluasi dirinya melalui respon yang diberikan oleh orang lain. Adanya penerimaan dari kelompok terhadap seseorang akan memberikan perasaan bangga yang bisa meningkatkan harga dirinya (Hurlock, 1999). Sedangkan penolakan bisa membuat seseorang frustasi, kecewa, yang akhirnya menunjukkan perilaku pengunduran atau penarikan diri maupun agresif (Mappiare, 1983). Penarikan diri menunjukkan adanya perasaan rendah diri dan tidak percaya diri. Hal tersebut bisa menurunkan tingkat harga diri seseorang.
c. Kondisi psikologis individu
Rosenberg (dalam Coopersmith, 1967) mengungkapkan bahwa adanya beberapa variabel dalam harga diri yang dapat dijelaskan melalui konsep nilai (value), aspirasi, mekanisme pertahanan diri, pengalaman hidup, dan nilai-nilai kebajikan.
Nilai adalah sesuatu yang dianggap penting dan berharga dan telah terinternalisasikan dalam diri individu. Individu akan merasa berharga apabila mampu melakukan sesuatu sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya.
Aspirasi merupakan penilaian obyektif, jadi apabila seseorang mempunyai harga diri yang tinggi, orang tersebut akan menilai sesuatu secara logis, realistis dan obyektif. Akibatnya, jika seseorang menghadapi suatu masalah dia tidak akan menggunakan mekanisme pertahanan diri.
Pengalaman akan keberartian dan keberhasilan akan membawa individu kearah harga diri yang tinggi. Individu yang berhasil melakukan sesuatu sesuai dengan harapan dan keinginannya maka akan menilai dirinya secara lebih positif.
Nilai-nilai kebajikan yang dimaksud yang berpengaruh dalam pembentukan harga diri berupa ketaatan individu terhadap standar moral, etika dan prinsip yang diyakininya. Harga diri yang tinggi akan terbentuk apabila masyarakat memberi penghargaan terhadap perilaku individu yang menaati moral, prinsip atau etika dalam masyarakat.
d. Kondisi fisik individu
Seseorang yang berpenampilan menarik akan lebih percaya diri dalam bergaul dan merasa berharga, sedangkan orang yang berpenampilan tidak menarik dapat menghambat pergaulannya (Hurlock, 1999). Hal ini juga dijelaskan oleh Mathes&Khan sebagai berikut:
“Dalam interaksi sosial penampilan fisik yang menarik merupakan potensi yang menguntungkan dan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh berbagai hasil yang menyenangkan bagi pemiliknya. Salah satu keuntungan yang sering diperoleh ialah bahwa ia mudah berteman. Orang-orang yang menarik lebih mudah diterima dalam pergaulannya dan dinilai lebih positif oleh orang lain dibandingkan teman-teman lainnya yang kurang menarik. Melalui banyaknya hal-hal positif yang disebabkan oleh penampilan yang menarik ini, sehingga mereka pun lebih berbahagia dan lebih mudah menyesuaikan diri daripada mereka yang kurang menarik. Dengan demikian, sangat mungkin pula banyaknya orang yang menyukainya terpantul dalam harga diri yang tinggi.” (dalam Hurlock, 1999)
Masalah penampilan ini berkaitan dengan bentuk tubuh, misalnya cacat, terlalu gemuk, terlalu kurus, terlalu tinggi, terlalu pendek, dan sebagainya (Mappiere, 1983). Dalam hal ini penampilan fisik yang kurang menarik tidak selalu cenderung berpengaruh negatif terhadap harga diri seseorang tetapi lebih tergantung pada mampu tidaknya seseorang menerima dirinya apa adanya.
e. Hubungan individu dengan teman/sahabatnya
Dimulai pada masa anak-anak, sebagian besar dari kita membangun pertemanan dengan teman-teman/sahabat yang memiliki minat yang sama. Hubungan awal ini, cenderung dari rasa suka yang didasarkan pada efek positif. Menurut Hartup&Steven (dalam Baron&Byrne, 2003), secara umum,
memiliki teman adalah positif sebab teman dapat mendorong self esteem dan menolong individu dalam mengatasi stres.
f. Konformitas individu terhadap kelompok sosialnya
Sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, sudah pasti setiap individu membutuhkan keberadaan orang lain. Hal ini tercermin dalam kehidupan bermasyarakat ketika seorang individu membentuk kelompok dan membagi tugas di dalam kelompok. Melalui kelompok itulah individu dapat memuaskan keseluruhan kebutuhan yang fundamental dan memperoleh kesempurnaan yang besar (Ahmadi, 1991). Dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada, sebagai individu yang tergabung di dalamnya timbul perasaan-perasaan untuk menegaskan diri bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok tersebut atau perasaan tidak ingin berbeda dari yang lain. Terkadang dari perasaan tersebut, timbullah tingkah laku yang disebut dengan konformitas sosial, yaitu perubahan perilaku atau keyakinan individu ke arah kelompok sosial sebagai akibat dari tekanan atau tuntutan kelompok, baik tuntutan nyata maupun tuntutan yang dibayangkan (Kiesler&Kiesler dalam Ahmadi, 1996).
Konformitas berkaitan dengan pembentukan harga diri seseorang. Individu yang memiliki taraf harga diri yang tinggi akan menyukai dirinya dan melihat bahwa dirinya mampu menghadapi lingkungan sedangkan individu dengan taraf harga diri rendah mudah dihinggapi rasa takut. Makin tinggi harga diri maka makin berkurang konformitasnya terhadap kelompoknya (Sahma, 2008)
g. Kondisi sosial ekonomi
Coopersmith (1967) berpendapat bahwa ada hubungan antara harga diri dengan status sosial. Individu dengan harga diri tinggi lebih banyak ditemukan pada kalangan sosial ekonomi tinggi. Hal ini disebabkan karena status sosial ekonomi yang dimiliki seseorang akan memberikan prestise tertentu dalam masyarakat yang akan mempengaruhi harga diri individu tersebut.
h. Jenis kelamin
Adanya perlakuan lingkungan yang berbeda terhadap pria dan wanita bisa berpengaruh terhadap kualitas harga diri seseorang. Pandangan yang menganggap bahwa wanita lebih rendah daripada pria dapat menyebabkan harga diri wanita lebih rendah dari pada pria. Hal tersebut terjadi karena wanita merasa dirinya lebih rendah, kurang mampu dan harus dilindungi oleh pria (Bachman&O’Malley, 1977).