A. Harga diri
4. Penyandang Cacat Tubuh Dewasa Awal
Subyek dalam penelitian ini adalah pria dan wanita dewasa awal penyandang cacat tubuh yang berada dalam rentang usia 18 hingga 40 tahun. Secara kronologis, masa dewasa awal diawali pada usia 18 tahun dan berakhir pada usia 40 tahun (Hurlock, 1999). Batasan dewasa secara fisikologis dan psikologis seperti diungkapkan oleh Mappiere (1983), yaitu: individu-individu yang disebut dewasa adalah individu-individu yang telah memiliki kekuatan
tubuh secara maksimal dan siap bereproduksi dan telah dapat diharapkan memiliki kesiapan kognitif, afektif, dan psikomotor, serta dapat memainkan peranannya bersama dengan individu-individu lain dalam masyarakat.
Penyandang cacat tubuh yang sedang dalam masa dewasa juga diharapkan memiliki ciri-ciri kematangan dewasa menurut Anderson (dalam Mappiere, 1983) berikut ini:
a. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego.
b. Memiliki tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan kerja yang efisien.
c. Mampu mengendalikan perasaan pribadi dan tidak mementingkan dirinya sendiri tetapi juga mempertimbangkan perasaan orang lain.
d. Memiliki sikap obyektif yang berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang sesuai dengan kenyataan.
e. Terbuka menerima kritik dan saran.
f. Memiliki pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi. g. Memiliki penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru.
Menurut Hurlock (1999), masa dewasa awal merupakan suatu periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan dalam harapan-harapan sosial baru. Oleh karena itu, pada masa ini, individu disibukkan dengan sulitnya menyesuaikan diri dalam berbagai aspek kehidupan.
Menurut Hurlock (1999), ciri-ciri masa dewasa awal antara lain: masa usia reproduktif, masa bermasalah, masa ketegangan emosional, masa keterasingan sosial, dan masa perubahan nilai. Ciri-ciri masa dewasa awal ini
juga dialami oleh penyandang cacat tubuh. Adapun ciri-ciri masa dewasa awal yang juga dialami oleh penyandang cacat tubuh adalah sebagai berikut:
a. Masa reproduktif
Bagi sebagian besar orang dewasa awal, menjalani masa reproduktif dengan menjadi orang tua atau sebagai ayah/ibu merupakan satu di antara peranannya yang sangat penting dalam hidupnya. Dalam hal ini, perlu disadari bagi penyandang cacat tubuh dan masyarakat bahwa kebanyakan penyandang cacat tubuh mampu menikah dan melahirkan anak, meskipun pada jenis kecacatan tertentu memiliki kemungkinan yang kecil melahirkan anak normal. Meskipun begitu, mereka bisa mengadopsi anak, sehingga tetap bisa membina hubungan perkawinan. Namun, ada kendala besar bagi penyandang cacat tubuh, terutama yang tinggal dalam masyarakat yang memandang bahwa penampilan fisik menjadi daya tarik utama untuk disenangi dan dicintai orang lain. Akibat dari cacat tubuh yang dialaminya, mereka menjadi merasa bahwa dirinya tidak menarik bagi siapapun (Werner, 2007-2009).
b. Masa bermasalah
Seseorang yang sedang dalam masa dewasa awal ini dihadapkan pada persoalan-persoalan yang berhubungan dengan penyesuaian diri dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam kaitannya dengan penyesuaian diri ini, menurut Meichati (dalam Wrastari, 2003) adanya keterbatasan-keterbatasan maupun hambatan-hambatan sebagai akibat kecacatan yang disandang seseorang seringkali menghambat penyesuaian dirinya, terutama dalam hal penilaian diri dan penerimaan dirinya. Hal ini dikarenakan penyandang cacat
tubuh secara kenyataannya mengalami kesulitan yang lebih besar dalam menjalani kehidupan sosialnya. Akibat adanya hambatan ini, penyandang cacat tubuh yang sedang dalam usia dewasa tidak dapat mencapai keberhasilan maksimum mereka dalam mencapai prestasi, pekerjaan, ataupun pergaulan sosial (Hurlock, 1999).
Dengan adanya kesempatan memperoleh bantuan pemecahan masalah misalnya dari pihak keluarga, lembaga-lembaga bimbingan keluarga dan komunitas sosialnya, para dewasa awal bermasalah ini pun dapat memperoleh kepuasan hidup.
c. Masa ketegangan emosional
Ketegangan emosi yang muncul pada masa dewasa awal ini bertingkat-tingkat selaras dengan intensitas persoalan yang dihadapinya dan sejauh mana seseorang dapat mengatasi persoalan yang dihadapinya tersebut. Ketegangan emosional seringkali ditunjukkan dalam ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran. Ketakutan atau kekhawatiran yang timbul itu pada umumnya bergantung pada ketercapaian penyesuaian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada suatu saat tertentu, dan sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami dalam pergumulan persoalan.
d. Masa keterasingan sosial
Karakteristik kunci dari orang dewasa yang kesepian dan tidak memiliki teman adalah negativitas personal, yaitu kecenderungan umum untuk menjadi tidak bahagia dan tidak puas dengan diri sendiri. Hal ini sangat riskan terjadi pada penyandang cacat tubuh. Akibat kecacatan yang disandangnya,
dia akan menunjukkan reaksi emosi berupa depresi, kemarahan dan rasa kecewa yang mendalam disertai dengan kedengkian dan permusuhan, begitu susah dan frustasi merasa dibenci orang lain, dijauhi dan diasingkan (Yuliani, 2007). Apabila hal ini terjadi secara berulang-ulang, negativitas personal akan mendorong timbulnya belief bahwa orang lain mempersepsikan individu tersebut (dalam hal ini penyandang cacat tubuh) secara negatif, seperti halnya self-perception yang ia miliki, dan interaksi sosial menjadi semakin maladaptif. Selanjutnya, orang lain benar-benar berespon secara negatif, dan hasilnya adalah negativitas personal yang semakin bertambah (Furr & Funder dalam Baron&Byrne, 2003).
e. Masa perubahan nilai
Banyak nilai di masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usianya. Pada masa dewasa, individu mulai merubah nilai-nilai dengan beberapa alasan, dan alasan yang paling utama adalah diterima oleh anggota kelompoknya. Hal ini terkait dengan kecenderungan penyandang cacat tubuh untuk tergabung dalam kelompok sosialnya sesama penyandang cacat tubuh.
Santrock (2002) berpendapat bahwa individu dalam masa dewasa dini termasuk dalam masa transisi, baik secara fisik, intelektual maupun peran sosial. Sebagai individu dewasa, seseorang harus mulai membentuk nilai-nilai baru dan menyesuaikan diri dengan terjadinya perubahan-perubahan dalam hidupnya. Perubahan dalam hidup itu, tentunya harus sesuai dengan harapan
yang ada di masyarakat. Perubahan ini didapatkan berdasarkan proses pengalaman dan hubungan sosial yang dialami oleh masing-masing individu.
Selain memiliki ciri-ciri dewasa awal tersebut di atas, seorang dewasa awal juga memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dijalaninya (menurut Hurlock), yaitu: memilih pasangan hidup, mulai belajar hidup dan mengelola rumah tangga dan keluarga, mulai bertanggung jawab sebagai warga negara, dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan dan seirama dengan nilai-nilainya. Dengan adanya tugas perkembangan ini, baik pria maupun wanita, baik cacat maupun tidak akan berusaha untuk memenuhinya. Tugas perkembangan harus dipenuhi agar individu tidak mengalami hambatan dalam proses perkembangan selanjutnya.