• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Jual

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual sebagai ukuran untuk menilai barang yang dihasilkan barang dan jasa. Harga jual dapat dinilai bahwa produksi barang dan jasa berhasil tidaknya akan laku dipasaran, karena harga merupakan nilai dari suatu barang yang dinyatakan dalam satuan uang. Selain itu juga harga dipakai sebagai patokan atau titik permulaan bagi penentuan harga lainnya atau harga merupakan saran penghubung antara pembeli dan penjual. Artinya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan suatu produk barang atau jasa yang telah disesuaikan.

Mulyadi (2003 : 147) memberikan definisi tentang harga, yaitu harga adalah merupakan jumlah uang atau barang (ditambah beberapa barang kalau memungkinkan) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.

Perusahaan menginginkan harga yang lebih tinggi, akan tetapi masyarakat sudah mengetahui situasi dan harga, pihak produsen perlu menjamin kualitas produksi, sehingga tidak ada tanggapan lain dari konsumen atau kurang puas.

Harga sebagai suatu standar nilai barang dan jasa, sehingga harga itu sangat penting ditentukan. Perlu ditekankan bahwa untuk ingin memiliki suatu barang tersebut seseorang membayar dengan sejumlah uang untuk mengumpulkan barang dan sudah termasuk pelayanan yang diberikan oleh penjual.

Kemudian Nitisemito, dalam bukunya Dasar-Dasar Penganggaran Bagi Eksekutif, (2000 : 11) memberikan batasan mengenai harga yaitu harga adalah suatu barang dan jasa yang diakui dengan sejumlah uang dimana berdasarkan nilai tersebut atau perusahaan bersedia melepaskan barang atau jasa yang dimilikinya kepada orang lain.

Harga menunjukkan pula terlaksananya suatu transaksi pembelian yang dapat terjadi, jika pembeli dan penjual telah secara bersama-sama sepakat pada suatu tingkat harga tertentu dari suatu produk yang dijual, sehingga dengan demikian perusahaan PT Indah Seratama Makassar dalam hal ini melaksanakan kegiatan untuk pemasarannya tidak terlepas diri dari suatu penentuan harga produk yang akan ditawarkan.

Dengan demikian, harga mempunyai peranan serta fungsi yang tidak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi lainnya seperti halnya produksi, pemasaran juga pembelanjaan dan fungsi-fungsi lainnya.

Perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya sesuai dengan obyek penelitian dalam hal penetapan harga jual kepada langganan selalu memperhatikan berbagai pertimbangan seperti harga pada perusahaan lain, daya beli masyarakat, pengawasan dan pengendalian harga oleh pemerintah dan lain pertimbangan tentang biaya produksinya.

E. Metode-metode Penetapan Harga Pokok

Harga pokok merupakan nilai investasi yang dikorbankan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Mulyadi, (2003 : 97) menyatakan bahwa komponen-komponen biaya terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik. Metode pengumpulannya disesuaikan dengan karakteristik system produksi dengan industrinya.

1. Metode harga pokok pesanan

Metode harga pokok dalam system pesanan digunakan dalam produksi yang menghasilkan dalam berbagai produk yang berbeda-beda pada setiap priode.

Termasuk dalam contoh produksi ini adalah usaha meubel, percetakan dan lain sebagainya.

Beberapa karakteristik system penentuan harga pokok pesanan yaitu :

a. Kegiatan produksi atas dasar pesanan, sehingga bentuk barang/ produk tergantung spesifikasi pesanan. Proses produksinya terputus-putus, tergantung ada tidaknya pesanan yang diterima.

b. Biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan sehingga perhitungan total biaya produksi dihitung pada saat pesanan selesai. Biaya per unit adalah dengan membagi total produksi dengan total unit yang dipesan.

c. Mengumpulan biaya produksi dilakukan dengan membuat kartu harga pokok pesanan yang berfungsi sebagai buku pembantu biaya yang memuat informasi umum seperti nama pemesan, jumlah pesanan dan tanggal diselesaikan, informasi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang ditentukan dimuka.

d. Penentuan harga pokok per unit produk dilakukan setelah produk pesanan dengan jumlah unit produk yang diselesaikan.

Dalam system harga pokok pesanan, ketiga elemen biaya produksi dikumpulkan sesuai dengan nomor pesanan yang dikerjakan. Harga pokok barang per unit dengan membagi biaya total pesanan tersebut dengan jumlah unit yang dibuat. Nilai barang jadi adalah seluruh harga pokok dari pesanan yang diolah. Nilai barang dalam proses adalah harga pokok pesanan yang belum selesai.

Kesalahan dari sistem ini adalah bahwa setiap biaya produksi yang dikeluarkan atau yang dibebankan harus dapat diidentifikasikan pada pesanan yang dibuat. Semua harus dapat menampung perhitungan harga pokok pesanan.

2. Metode harga pokok proses

Sistem harga pokok dalam proses digunakan untuk perusahaan yang memproduksi suatu produk tunggal, homogen yang dihasilkan dalam jangka panjang secara berkelanjutan. Berkelanjutan dalam jangka panjang termasuk dalam contoh produksi ini adalah usaha pabrik semen, pabrik terigu dan sebagainya. Untuk menghitung harga pokok barang, perusahaan dapat menggunakan tenaga pada departemen, bagian atau seksi dalam produksi.

Harga pokok proses berkaitan dengan alokasi biaya produksi pada suatu departemen terhadap suatu barang yang diproses di departemen tersebut.

Harga pokok proses mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut :

a. Biaya dikumpulkan pada setiap departemen

b. Setiap departemen mempunyai rekening persediaan barang dalam proses untuk mendebit biaya diterima dan mengkredit harga pokok barang.

Persediaan akhir barang dalam proses akan menjadi persediaan awal periode berikutnya, hal ini dapat menimbulkan dua macam harga pokok dalam suatu departemen, yaitu harga pokok periode sekarang dan harga pokok periode yang lalu.

Dalam sistem harga pokok proses, biaya persediaan barang dalam proses di pisahkan dari biaya yang ditambahkan dalam periode berjalan dan tidak dirata-ratakan dengan ditambah unit yang baru. Biaya untuk menyelesaikan unit-unit dalam proses pada awal periode dihitung terlebih dahulu kemudian diikuti dengan perhitungan untuk biaya unit yang dimulai dan diselesaikan pada periode berjalan.

F. Pengertian Penjualan

Sebenarnya laba yang diperoleh suatu perusahaan merupakan pencerminan diri usaha-usaha perusahaan yang memberikan kepuasan konsumen. Untuk mencapai hal itu, perusahaan harus dapat menyediakan dan menjual barang atau jasa yang paling sesuai menurut konsumen dengan harga yang dapat dijangkau tetapi tidak merugikan produsen artinya dengan harga yang layak.

Dengan demikian, sasaran perusahaan dalam melaksanakan tugas pokok tersebut serta untuk mencapai tujuan sebagai unit usaha adalah meningkatkan volume penjualannya, karena penjualan adalah sumber pendapatan bagi perusahaan.

Stanton, (1999 : 8) memberikan definisi sederhana tentang penjualan, bahwa penjualan adalah bagian pemasaran itu sendiri adalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem pemasaran.

Pengertian penjualan berarti bahwa menyerahkan barang atau jasa aktivitas lainnya dalam suatu periode dengan membebankan suatu jumlah tertentu pada langganan/ konsumen atau pembeli/ penerima barang atau jasa.

Penjualan barang dagangan oleh sebuah perusahaan dagang biasanya hanya disebut (Soemarso, 1999 : 178) jumlah transaksi penjualan yang terjadi biasanya cukup besar dibandingkan dengan jenis transaksi yang lain. Beberapa perusahaan hanya menjual barangnya secara tunai, perusahaan yang lain hanya

menjualnya secara kredit, dan yang lain lagi menjual barangnya dengan kedua syarat jua; beli tersebut.

Penjualan adalah suatu proses pertukaran barang atau jasa antara penjual dan pembeli. Tugas pokok adalah mempertemukan pembeli dan penjual. Hal ini dapat dilakukan secara langsung atau melalui wakil mereka. Fungsi penjualan mencakup sejumlah fungsi-fungsi sebagai berikut :

1. Fungsi perencanaan

2. Fungsi memberi kontrak ( contractual function ) 3. Fungsi menciptakan permintaan (demand creation) 4. Fungsi mengadakan perundingan (negotiation) 5. Fungsi kontraktual (contractual fungtion)

Pada umumnya, para pengusaha mempunyai tujuan untuk mendapatkan laba tertentu (mungkin maksimal), dan mempertahankan atau bahkan meningkatkannya untuk jangka waktu yang lama. Tujuan tersebut dapat direalisasikan apabila penjualan dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan.

Dengan demikian tidak berarti bahwa barang dan jasa yang terjual selalu akan menghasilkan laba. Oleh karena itu pengusaha harus memperhatikan beberapa faktor-faktor sebagai berikut :

1. Modal yang diperlukan.

2. Kemampuan merencanakan

3. Kemampuan menentukan tingkat harga yang tepat.

4. Kemampuan memilih penyalur yang tepat.

5. Kemampuan menggunakan cara-cara promosi yang tepat.

6. Unsur penunjang.

Perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga tujuan umum dalam penjualan yaitu

1. Mencapai tujuan tertentu.

2. Mendapatkan laba tertentu.

3. Menunjang pertumbuhan perusahaan.

G. Cost Plus Pricing

Perusahaan yang berorientasi produksi dan penjualan perlu ditinjau terlebih dahulu apakah kegiatan tersebut dalam jangka panjang atau jangka pendek. Perusahaan yang berproduksi hanya perusahaan musiman, misalnya pabrik payung pada saat hujang. Mulyadi (2000 : 127) menyatakan bahwa kalau jangka panjang, harga jual produk harus dapat memenuhi seluruh biaya. Jika tidak, maka perusahaan tidak mampu mempertahankan hidupnya. Harga jual yang ditetapkan sedikit di atas, biaya variabel saja, jadi harga dapat diterima dalam jangka pendek (tingkat perputarannya cepat).

Sedangkan dalam jangka panjang, seluruh biaya adalah relevan untuk menentukan harga jual dan harus dipertimbangkan secara eksplisit agar tujuan jangka panjang dapat tercapai. Perusahaan yang mempunyai tujuan jangka

panjang tentu proyeksi terhadap biaya-biaya selama dalam proses produksi telah dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum produksi terlaksana dengan baik.

Pendekatan yang lazim mempunyai tujuan jangka panjang, maka untuk menentukan harga jual produk standar adalah menerapkan formula cost plus.

Menurut pendekatan ini, harga jual adalah cost ditambah dengan mar up sebagai prosentase tertentu dari cost plus. Mar up harus ditentukan sebesar prosentase tertentu dari cost plus, karena mar up harus ditentukan sedemikian rupa, sehingga laba yang diinginkan dapat tercapai pada perusahaan, dengan harapan pemilik perusahaan disesuaikan pada tujuan semula.

H. Pentingnya Pengendalian Harga Jual

Usaha pengembangan perusahaan dan untuk menjamin kontinutas perusahaan, maka perlu adanya sejumlah keuntungan diharapkan dapat menunjang kelangsungan hidup perusahaan. Merealisir hal tersebut maka perlu diciptakan antara lain peningkatan volume penjualan hasil produk pengolahan, penekanan biaya produksi, peningkatan kwalitas, perluasan seluruh distribusi.

Tanpa adanya peningkatan perubahan dalam suatu produk perusahaan termasuk dalam hal ini kebijaksanaan peningkatan kualitas produksi, maka akibatnya perusahaan akan mengalami dan menghadapi tantangan atau persaingan yang semakin berat utamanya dalam hal pencapaian tujuan perusahaan.

Disadari bahwa dalam usaha pengembangan mutu produksi, pada tahap tersebut mungkin terjadi penyimpangan yang tidak sesuai dengan rencana semula

maka hal ini mungkin disebabkan oleh adanya keterbatasan tenaga manusia didalam proses produksi, keadaan/ kerusakan peralatan yang digunakan atau mungkin disebabkan faktor-faktor lain.

Menjamin agar kualitas produk yang dihasilkan sesuai dengan standar, maka perlu ada bagian tersendiri yaitu bagian pengawasan mutu, karena tanpa adanya pengawasan mutu, maka besar kemungkinan hasil akhir tidak sesuai dengan sasaran semula (standar).

Terperinci menurut Sofyan Assauri (2002 : 167) tentang pengawasan mutu bahwa :

1. Agar hasil produksi dapat mencapai standar mutu yang telah ditetapkan.

2. Mengusahakan agar biaya inspection dapat menjadi serendah mungkin.

3. Mengusahakan agar biaya desain produk dan proses dengan menggunakan mutu produksi tertentu dapat menjadi sekecil mungkin.

4. Mengusahakan agar biaya produksi menjadi serendah mungkin.

Harold, (1999 : 6) membagi dalam beberapa bagian, sebagai berikut : a. Increase production

b. Lower unit cost

c. Inproved employed morale

d. Better quality.

Berikut ini dalam pengendalian kualitas mempunyai 3 (tiga) tahap pelaksanaan dalam proses produksi barang dan jasa, yaitu :

a. Pengendalian bahan mentah.

b. Pengendalian selama proses produksi.

c. Pengendalian hasil produksi akhir.

Berdasarkan ketiga tahap pengendalian ini juga di gambarkan oleh Elwood S. Buffa, (1998 : 643), membagi 4 (empat) fase umum dari pengendalian kualitas, yaitu :

1. Policy levela in determining desired market level of quality.

2. The engineering design stage during which quality levels spesified to achieve the market target levels.

3. The producing stage whan control over incoming raw materials and produktive overation and mecesary to inplement the policies.

4. The use stage in the field where instalation can effect final quality and where the guarantee of quality and erfotmance must the made effective.

Berdasarkan keempat tingkatan ini dapat dijelaskan hubungan kerjasama secara bersama-sama dapat dilihat dari keempat hal tersebut di atas, dengan beberapa hubungannya. Sesuai dengan penjelasana di atas, menunjukkan empat tahap dalam pengendalian mutu melalui perencanaan, produksi dan distribusi. Hal

yang dijelaskan oleh Buffa ini adalah pengendalian mutu secara keseluruhan dalam perusahaan.

Tahap pertama, menunjukkan pimpinan perusahaan yang seharusnya mengadakan kebijaksanaan mutu terlebih dahulu dalam hubungannya dengan tinjauan pasar, biaya investasi retularen on invesmen (pengambilan investasi) yang potensial serta faktor-faktor saingan.

Tahap kedua, diadakan penentuan mutu yang akan dapat diproduksikan ditentukan oleh designer. Disini tentu di pertimbangkan mengenai bahan baku, cara memprosessing dan jasa-jasa yang diproduksikan.

Pada tahap ketiga, barulah diadakan pengendalian mutu dalam proses produksi yaitu ada tiga, sebagai berikut :

a. Pemeriksaan pengendalian mutu dan bahan baku.

b. Pemeriksaan dan pengendalian mutu bahan baku.

c. Pemeriksaan dalam pengujian produk yang dihasilkan.

Perusahaan yang melaksanakan pengendalian produksi untuk mengarah pada sfesifikasi yang akan ditentukan oleh mutu produk, maka diperlukan suatu ketelitian dalam quality control dan pemeriksaan yang lebih cermat.

Perlu juga diketahui bahwa dalam usaha bagaimana untuk menghasilkan produk, tentu memerlukan sejumlah tenaga kerja. Demikian pula halnya dalam usaha produksi quality control khususnya gula. Analisis pengendalian mutu

produk khususnya gula memerlukan tenaga kerja quafied untuk ditempatkan dalam gudang supaya terjamin dari kontinuitas perusahaan mengenai mutu produk.

Melaksanakan usaha pengendalian dalam produksi khususnya pada gula pasir merupakan sumber pembahasan, sehingga proses kegiatan dari berbagai produksi yang dirubah dalam bentuknya oleh perusahaan yang menggunakan dalam bentuk barang/ jasa atau produksi di mana beberapa barang dan jasa yang disebabkan hasil yang diinginkan perusahaan dapat terjamin dari kontinutas.

Setiap pimpinan memiliki manajemen tersendiri, sehingga kepemimpinan pada bawahannya terarah dan efisiensi. Artinya walaupun faktor-faktor tertentu harus dimilik, tapi manajemen penting untuk dimiliki. Oleh karena itu faktor produksi terdapat kesenjangan produktivitas yang dihasilkan oleh para pelaksana antara produktivitas sekarang dengan produktivitas yang lalu. Pada kenyataannya produksi yang dikaitkan dengan pengendalian memang agak sulit dipisahkan, antara satu dengan yang lainnya.

Pemeriksaan dikaitkan dengan produksi berati harus menggunakan tenaga kerja yang pernah mengadakan pelatihan, atau minimal mempunyai pengalaman kerja pada perusahaan lain.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa hanya ada 3 (tiga) tahap pelaksanaan quality control dalam proses yaitu :

1. Sebelum produksi dimulai.

2. Sebelum proses dimulai.

3. Sesudah produksi dilaksanakan.

Adapun peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan quality control (pengawasan produk) menurut Hoffman, (1997: 209), adalah :

1. Panca indra, misalnya mengetahui mutu tebuh yang baik, dapat dilihat dengan mata.

2. Mempergunakan alat, diukur dengan membandingkan produksi yang lain dengan kapasitas yang sama dan bahan baku.

3. Menggunakan metode statistik, yang lazim disebut statistical quality control.

I. Kerangka Pikir

Dengan memperhatikan uraian kajian pustaka, maka pada bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang akan dijadikan penulis sebagai landasan berfikir selanjutnya. Landasan berfikir yang dimaksud adalah mengarahkan penulis untuk menemukan data data dan informasi dalam penelitian guna memecahkan masalah khas yang dipaparkan. Untuk itu, akan dirinci landasan berfikir yang dijadikan pegangan dalam penelitian ini, adapun rincian adalah sebagai berikut :

1. Penetapan harga jual PT Indah Seratama Makassar yang berusaha untuk memenuhi permintaan konsumen bergerak dalam bidang distribusi dan

penjualan menjadi obyek penelitian penulis. Mengikuti perkembangan dunia sekarang, perusahaan hanya sebagai penyalur.

2. Peningkatan harga jual

peningkatan harga jual pada perusahaan yang diteliti diharapkan dapat membantu penulis untuk mengolah data yang diperlukan agar hasil dari penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk perusahaan kedepannya.

3. Volume penjualan

Adapun untuk menganalisis dan mengevaluasi permasalahan yang ada maka penulis mengumpulkan, mengklarifikasi dan menafsirkan data yang diperoleh secara terperinci untuk menggambarkan peranan starategi pemasaran yang digunakan perusahaan terhadap peningkatan volume penjualan. Dan menarik kesimpulan antara teori yang dipelajari dengan kenyataan yang ada di lapangan.

4. Hasil penelitian

Dari hasil penelitian penulis dapat menggambil keputusan apakah cara ang ditempuh perusahaan dapat meningkatkan harga jual atau belum dengan melihat data-data yang diperoleh dilapangan.

Bagang Kerangka Pikir

J. Hipotesis

Di duga bahwa pentingnya harga jual yang efektif dapat meningkatkan volume penjualan pada PT Indah Seratama Makassar.

PT Indah Seratama Makassar

Penetapan Harga Jual (Berdasarkan Harga Pasar)

Volume Penjualan

Hasil Penelitian

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, maka penulis memilih obyek penelitian pada Perusahaan PT Indah Seratama Makassar Propinsi Sulawesi Selatan. Waktu penelitian penulis memperkirakan kurang lebih 2 (dua) bulan.

B. Metode Pengumpulan Data

Didalam penulisan ini, penulis mengadakan penelitian dengan menggunakan metode pustaka pengumpulan data, sebagai berikut :

1. Penelitian pustaka (library research) adalah penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan peninjauan pada berbagai pustaka dengan membaca atau mempelajari buku-buku lainnya yang erat hubungannya dengan pembahasan skripsi ini dapat mendukung pokok pembahasan.

2. Penelitian lapang (field research) adalah penelitian yang bertujuan untuk memperoleh data yang sehubungan dengan penulisan ini. Untuk perbandingan hal tersebut maka penulis mengadakan :

a. Observasi

Tehnik observasi dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung dalam proses kegiatan pengolahan produksi, agar dapat diketahui harga jual.

b. Wawancara

Tehnik interview dilakukan dengan jalan wawancara secara langsung dengan pimpinan perusahaan kepala bagian pembukuan dan keuangan atau sejumlah personil yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini yang diperoleh dari Perusahaan PT Indah Seratama Makassar.

C. Jenis dan Sumber Data

a. Jenis Data

- Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil perusahaan baik dalam bentuk informasi secara lisan maupun secara tertulis.

- Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan yang diteliti dalam bentuk angka-angka dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut.

b. Sumber Data

- Data primer, yaitu data yang diperoleh dengan jalan mengadakan pengamatan serta wawancara secara langsung dengan Pimpinan

25

Perusahaan PT Indah Seratama Makassar dan sejumlah personil sehubungan dengan data yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.

- Data sekunder, adalah data yang diperoleh dengan jalan mengumpulkan dokumen-dokumen serta sumber lainnya berupa informasi lainnya terutama mengenai prosedur pembayaran yang diperoleh pada Bagian Umum PT Indah Seratama Makassar.

D. Definisi Operasional

Adapun definisi operasional yang dikemukakan, sebagai berikut :

1. Dalam penetapan harga jual pada perusahaan, tentunya memperhingkan dari seluruh biaya yang dikeluarkan hingga proses produksi selesai.

2. Proses produk adalah perusahaan yang membutuhkan bahan baku untuk melaksanakan proses produksi, perusahaan ini megadakan produksi dan juga menjual hasil produknya.

3. Penentuan harga pokok penjualan adalah bagaimana menentukan harga jual sehingga hasil produk bisa bersaing dipasaran dengan memperhitungkan biaya tetap dan biaya variable.

4. Biaya tetap adalah biaya yang tidak berpengaruh walaupun tingkat produksi meningkat/ menurun tidak mengikuti perkembangan biaya yang digunakan.

5. Biaya variabel adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi berpengaruh terhadap perkembangan produksi, artinya biaya ini adakalanya berubah-ubah karena mengikuti perkembangan aktivitas pada perusahaan bila meningkat biaya turut bertambah dan bila aktivitas menurun juga biaya berkurang.

E. Metode Analisis

Adapun metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriktif memberikan gambaran mengenai penetapan harga yang ditetapkan oleh PT. Indah Seratama Makassar dalam meningkatkan volume penjualan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A Sejarah Singkat Perusahaan

Sebagaimana diketahui bahwa perusahaan PT Indah Seratama Makassar adalah salah satu perusahaan bergerak dalam bidang usaha perdagangan umum (alat tulis menulis) yang didirikan sejak tahun 1987 dengan akta pendirian Nomor 11 oleh Endang Ratna Adiaty, Sarjana Hukum di Makassar pada tanggal 17 Oktober 1992.

Pada awalnya perusahaan ini memilih lokasi di Jalan Veteran Selatan Makassar yang merupakan tempat tinggal salah seorang pendiri perusahaan dengan menggunakan tenaga yang berpengalaman (trampil) dan propesional cukup dikenal di daerah utara Kota Propinsi Sulawesi Selatan, dalam melaksanakan usaha kontraktor dan bangunan. Dengan keuletan yang dimiliki perusahaan PT Indah Seratama Makassar saat ini telah menempati bangunan permanen di Jalan cenderawasih Makassar pada salah satu bangunan milik perusahaan sendiri dengan menggunakan peralatan serba modern. Perusahaan ini mencoba untuk mengembangkan usahanya dibidang perdagangan umum (alat tulis menulis).

Perusahaan ini sejak beberapa tahun yang lalu telah memperoleh kepercayaan dari salah satu Bank di Makassar dengan mendapatkan fasilitas kredit berupa

28

kredit modal kerja untuk membantu memperlancar usahanya. Kepercayaan yang diperoleh perusahaan PT Indah Seratama Makassar benar-benar dijaga, dimana kredit yang diberikan sampai saat ini masih berjalan lancar dengan memenuhi seluruh kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi secara tepat waktu baik berupabank maupun kewajiban-kewajiban lainnya yang dibebankan oleh bank kepada perusahaan PT Indah Seratama Makassar

Dengan demikian menjalankan usahanya PT Indah Seratama Makassar dibantu oleh istri dan anak-anaknya serta beberapa tenaga ahli yang trampil dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas perdagangan umum (alat tulis menulis), tapi masih banyak keluarga daripada orang lain, sehingga perusahaan ini dikatakan perusahaan keluarga.

Selanjutnya, perusahaan setiap saat menerima order dengan beberapa aktivitas lainnya, tapi dalam pembahasan ini lebih mengkhususkan diri pada usaha perdagangan umum (alat tulis menulis) sesuai dengan judul skripsi yaitu masalah pengadaan masalah penilaian persediaan bahan baku.

B Struktur Organisasi

Dalam usaha untuk mewajudkan tujuan yang telah ditetapkan oleh

Dalam usaha untuk mewajudkan tujuan yang telah ditetapkan oleh

Dokumen terkait