BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham
Pembentukan portofolio berangkat dari usaha diversifikasi investasi guna mengurangi resiko. Bukti menunjukkan bahwa semakin banyak jenis sekuritas yang dikumpulkan dalam keranjang portofolio, maka resiko kerugian saham akan berkurang. Selanjutnya dalam konteks portofolio pasar, harus dipahami adanya resiko investasi yang terdiri dari 2 komponen yaitu 1) resiko tidak sistematis (unsystemic
Dalam pasar modal yang efisien, dana akan teralokasikan dengan tepat sehingga produktivitasnya tinggi. Penawar tertinggilah yang akan berhasil mendapatkan sumber daya yang tersedia. Harga saham tidaklah dapat dikendalikan sendiri oleh pembeli atau penjual. Sebagian besar perdagangan saham tidak cukup kuat untuk mempengaruhi harga saham. Dalam prakteknya dapat kita amati bahwa harga saham sangat rentan dengan informasi yang berkembang, baik informasi yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Sebagaimana dikatakan Usman (1990) bahwa pada dasarnya harga saham dipengaruhi oleh informasi yang diterima oleh para investor. Informasi tersebut berasal dari faktor fundamental perusahaan, faktor teknis dan lingkungan sosial ekonomi.
Dari pendapat tersebut dapat ditarik suatu hipotesa bahwa apabila kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba meningkat, maka harga saham akan meningkat, yang berarti rate of stock return semakin tinggi.
2.1.2.1. ROA
ROA di gunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam
menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini merupakan rasio yang terpenting diantara rasio rentabilitas/profitabilitas yang lainnya. ROA diperoleh dengan membandingkan antara Earning After Tax (EAT) terhadap total asset. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat kembalian semakin besar (Ang, 1997). Secara matematis ROA dapat dirumuskan sebagai berikut:
Return on Assets = r x100% Assets Total Tax after ofit P Net 2.1.2.2. EVA
EVA adalah laba operasional setelah pajak (NOPAT) dikurangi biaya modal
dari investasi atau modal yang digunakan. NOPAT merupakan laba operasi perusahaan setelah pajak dan mengukur laba yang diperoleh perusahaan dari operasional berjalan. Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan perusahaan rata-rata tertimbang (weighted average) dari biaya modal (WACC).
Weigthed averaged cost of capital (WACC) sama dengan jumlah biaya dari setiap
komponen modal – hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham – ditimbang berdasarkan proporsi relatif dalam struktur modal perusahaan pada nilai pasar. Untuk menjadi alat pengukur kinerja dihitung sebagai berikut:
Penjualan Bersih xxx
Biaya operasi (xxx)
Laba operasi xxx
Pajak (xxx)
Laba operasi setelah pajak xxx
Biaya Modal (modal yang diinvestasikan x biaya modal) (xxx)
EVA xxx
EVA = NOPAT – cost of capital
EVA = NOPAT – (WACC x capital invested), atau EVA = (ROA – WACC) x capital invested,
2.1.2.3. Weighted Average Cost of Capital
WACC adalah jumlah dari masing-masing komponen modal perusahaan, baik
yang berasal dari pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang (cost of
debt), maupun yang berasal dari setoran modal (cost of equity) yang diberikan bobot
sesuai dengan proporsinya dalam struktur modal perusahaan. Perhitungan WACC dirumuskan sebagai berikut:
WACC = (Ke x We) + (Kd x Wd)
Di mana, Ke adalah biaya ekuitas (cost of equity) dan Kd adalah biaya hutang (cost of
debt), sedangkan We adalah persentase ekuitas dari struktur modal dan Wd adalah persentase hutang dari struktur modal.
2.1.2.4. Biaya hutang (Kd)
Biaya hutang (cost of debt) atau Kd merupakan tarif yang harus dibayar perusahaan di dalam pasar pada saat ini untuk mendapatkan hutang jangka panjang baru. Perusahaan memiliki beberapa paket surat hutang dengan beban bunga yang beragam dan cara tepat menghitungnya adalah secara tertimbang (weight). Adanya pembayaran bunga oleh perusahaan akan mengurangi besarnya pendapatan kena pajak (PKP). Maka Kd harus dikoreksi dengan faktor tersebut (1-t) dengan t = tingkat pajak yang dikenakan. Sehingga dapat dirumuskan menjadi: Kd = panjang jangka ng hut Total tahunan bunga Biaya a
Menurut Brigham (2001), biaya hutang berasal dari biaya hutang setelah pajak, Kd (1-t). Biaya hutang ini merupakan biaya yang relevan dari hutang baru,
mengingat kemampuan bunga mengurangi pajak digunakan untuk menghitung biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Perhitungan ini sama dengan Kd dikalikan dengan (1-t), di mana t merupakan tarif pajak marjinal perusahaan, t dapat dihitung dengan biaya pajak dibagi dengan laba sebelum pajak.
Biaya komponen hutang setelah pajak = Suku bunga – Penghematan pajak = Kd - Kdt
= Kd (1-t)
Alasan penggunaan biaya hutang setelah pajak dalam menghitung biaya modal rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut, nilai saham perusahaan yang ingin kita maksimumkan, bergantung pada arus kas setelah pajak. Karena bunga merupakan beban yang dapat dikurangkan, maka bunga menghasilkan penghematan pajak yang mengurangi biaya hutang bersih, yang membuat biaya hutang adalah suku bunga atas hutang baru, bukan atas hutang yang masih beredar, dengan kata lain biaya kita perlukan adalah biaya hutang Marginal.
2.1.2.5. Biaya modal sendiri (Ke)
Biaya modal sendiri sering disebut cost of equity atau Ke. Bila para investor menyerahkan dananya berupa equity kepada perusahaan mereka berhak untuk mendapatkan pembagian deviden di masa mendatang sekaligus berkedudukan sebagai pemilik parsial dari perusahaan tersebut. Besarnya deviden tidak ditentukan pada saat investor menyerahkan dananya, akan tetapi bersifat tidak tergantung kinerja perusahaan tersebut di masa datang. Hal ini sangat berbeda dengan modal hutang karena sudah ada kepastian tingkat bunga yang disetujui. Untuk menghitung Ke perlu
pendekatan berdasarkan nilai pasar yang berlaku dan bukan nilai buku.
Menurut Brigham dan Gapenski (1996) ada tiga metode pendekatan untuk menentukan nilai Ke antara lain:
1. CAPM (Capital Asset Pricing Model)
Model yang populer adalah penetapan harga aktiva modal atau CAPM. Metode tersebut dapat dirumuskan:
Ke = Risk free rate + Risk premium
= Krf + ßI (Krm – Krf)
Model ini melihat tingkat hasil yang diharapkan investor dengan rumus Krf = tingkat hasil pengembalian bebas resiko (risk free ratei), Krm = tingkat hasil pengembalian yang diharapkan di pasar, dan ßI = koefisien Beta saham yang merupakan Indeks resiko saham perusahaan ke i.
Komponen biaya ekuitas:
a. Risk Free rate = Krf
Adalah tingkat bunga bebas resiko. Di mana penanaman modal pada instrumen bisnis yang mempunyai tahun bunga bebas resiko. Ini akan dapat dipastikan memperoleh keuntungan seperti yang diharapkan. Sebagai ukuran dipakai tingkat suku bunga obligasi dalam hal ini adalah Sertifikat Bank Indonesia. Data ini diperoleh dari jurnal statistik keuangan dan pasar modal.
b. Market Return = Krm
Adalah tingkat keuntungan portofolio pasar atau nilai keseluruhan pasar. Sebagai pengukuran dipakai tingkat keuntungan rata-rata seluruh kesempatan
investasi yang tersedia di indeks pasar. Indeks pasar yang dipakai adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Data diperoleh dari Capital Market Direktory (ICMD). Cara memperolehnya adalah dengan mengumpulkan nilai IHSG bulanan. Kemudian dihitung sebagai berikut:
Return pasar (Krm) = 1 1 i i i bulan Indeks bulan Indeks bulan Indeks c. Beta = ß
Beta suatu saham adalah suatu ukuran volatilitas saham tersebut terhadap rata- rata pasar saham. Hal tersebut mencerminkan resiko pasar sebagai lawan resiko spesifik perusahaan yang dapat dikurangi dengan diversifikasi. Historical beta ini diperoleh dengan melakukan regresi linier antara tingkat pengembalian (stock return) saham atau excess return saham yang akan dicari nilai betanya terhadap excess return
portfolio pasar/indeks pasar (dalam hal ini indeks yang digunakan adalah IHSG).
Y = ß . X
Di mana: Y = excess return saham dividual (Kri – Krf) X = excess return portofolio pasar (Krm – Krf)
Yang dimaksud Exess return adalah selisih antara tingkat keuntungan dengan tingkat bebas resiko.
2. Discounted Cash Flow Model (DCF)
Model ini melihat Ke sebagai nilai deviden atau harga saham ditambah dengan prosentase pertumbuhan dari deviden tersebut (asumsi pertumbuhan konstan), di mana:
g = b (r), b atau retention ratio diperoleh = (1- Payout ratio), D1 =D0(1+g), Po= harga saham periode ke 0, r = rate of return
Ke = g P D 0 1 Ke = Deviden Yield + b (r)
Ratio antar D1 dan P0 dikenal sebagai Deviden Yield. 3. Bond Yield Plus Risk Premium Approach
Memperkirakan tingkat return yang akan diperoleh dengan menambahkan premi resiko pada obligasi, di mana company bond yield diperoleh dari perusahaan yang memiliki obligasi (Kd) dan risk premium pada pendekatan ketiga ini adalah premi yang diharapkan melebihi nilai bond yield perusahaan (Kd) dengan maksud menarik investor untuk investasi pada obligasi yang lebih beresiko.
Ke Company own bond yield Risk Premium 2.1.2.6. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan
perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu (Sutrisno, 2000). NPM merupakan sebuah alat analisis yang mengukur kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba. Selain sebagai bagian dari rasio profitabilitas perusahaan, NPM juga dapat mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya dengan meminimalkan beban perusahaan dan memaksimalkan laba perusahaan. Dari kedua fungsi tersebut, NPM dapat mempengaruhi nilai perusahaan yang ditunjukkan dengan harga saham pada
perusahaan tersebut. Nilai NPM yang tinggi menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik. Rasio dari NPM dirumuskan sebagai berikut:
Laba Bersih Stelah Pajak
Net Profit Margin (NPM) = x 100% Penjualan Bersih
2.1.2.7. Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share adalah hasil atau pendapatan yang akan diterima oleh
pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dimilikinya atas keikutsertaannya dalam perusahaan. Laba per lembar saham biasanya merupakan indikator laba yang diperhatikan oleh para investor yang umumnya terdapat korelasi yang kuat antara pertumbuhan laba dengan pertumbuhan harga saham (Munawir, 2002). Angka yang ditunjukkan dari EPS sering dipublikasikan oleh perusahaan yang ingin menjual sahamnya kepada masyarakat luas. Investor berpandangan bahwa EPS mengandung informasi yang penting untuk melakukan prediksi mengenai besarnya dividen per saham di kemudian hari, serta relevan untuk menilai efektivitas manajemen dalam membuat kebijakan pembayaran dividen. Earning per Share menggambarkan laba bersih perusahaan yang diterima oleh setiap saham. Meskipun net income dari laporan laba rugi memberikan informasi terhadap keseluruhan keuntungan suatu perusahaan, akan tetapi para investor lebih tertarik terhadap performa perusahaan berdasarkan keuntungan per lembar sahamnya. Rasio dari EPS dirumuskan sebagai berikut:
Laba Bersih
Earning Per Share (EPS) = x 100%
Jumlah Lembar saham 2.1.2.8. Struktur modal
Struktur modal adalah pertimbangan atau perbandingan antara modal asing jangka panjang dengan modal sendiri. Struktur modal merupakan hal yang penting bagi setiap perusahaan, karena baik buruknya struktur modal akan mempunyai efek langsung terhadap posisi finansial perusahaan.