• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Belajar

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Nurina (2004), hasil belajar siswa merupakan suatu

gambaran dari penguasaan kemampuan peserta didik sebagaimana

ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu. Setiap usaha yang dilakukan

dalam kegiatan pembelajaran baik oleh guru (sebagai pengajar) maupun

peserta didik/siswa (sebagai pelajar) bertujuan untuk mencapai prestasi

yang setinggi-tingginya.

Ada tiga jenis perubahan yang menyangkut hasil belajar, yaitu

Perubahan kognitif terdiri dari pengetahuan atau cara melihat atau

mengerti sesuatu. Perubahan motivasi, yaitu perubahan motif, tujuan, dan

minat. Perubahan tingkah laku yang berbeda dengan yang terdahulu,

karena perubahan tingkah laku dapat dilihat oleh orang lain. Perubahan

kognitif, motivasi, dan tingkah laku berinteraksi saling mempengaruhi

satu sama lain (Soeitoe, 1982, dalam Purwanti, 2005).

Hasil belajar siswa harus meliputi tiga bidang, yaitu bidang

kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan

sikap dan nilai), serta bidang psikomotorik (kemampuan keterampilan

bertindak/berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan

satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan

hierarki. Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiganya harus nampak

sebagai hasil belajar siswa dari proses pengajaran (Sudjana, 1989).

Dalam penelitian ini yang diteliti hanya perubahan kognitif dan

afektif. Tiga aspek yang dikemukakan oleh Benyamin Bloom (dalam

Yulia, 2012) yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik.

Ketiga aspek tersebut dapat diperoleh siswa melalui kegiatan belajar

mengajar.

Menurut Bloom, dkk (dalam Winkel, 2005) hasil belajar terbagi

menjadi tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek

psikomotorik.

a. Aspek Kognitif

Aspek kognitif adalah aspek yang mencakup kegiatan otak,

artinya segala upaya yang mencakup aktivitas otak termasuk dalam

Winkel, 2005) aspek kognitif mencakup pengetahuan, pemahaman,

penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.

1) Pengetahuan (C1) : mencangkup ingatan akan hal-hal yang

pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat

meliputi fakta, kaidah, dan prinsip, serta metode yang

diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali

pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall)

atau mengenal kembali (recognition).

2) Pemahaman (C2) : mencakup kemampuan untuk menangkap

makna dan arti dari bahan yang dipelajari.

3) Penerapan (C3): mencangkup kemampuan untuk menerapkan

suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus/masalah

yang konkret dan baru.

4) Analisis (C4): mencangkup kemampuan untuk merinci suatu

kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur

keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik,

kemampuan ini dinyatakan dengan menganalisis bagian-bagian

dasar, bersama dengan hubungan/relasi antar semua bagian.

5) Sintesis (C5): mencangkup kemampuan untuk membentuk

suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu

sama lain, sehingga terciptakan suatu bentuk yang baru.

6) Evaluasi (C6): mencangkup kemampuan untuk membentuk

suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama

dengan pertanggungjawaban pendapat berdasarkan kriteria

b. Aspek Afektif

Aspek afektif adalah aspek yang berkaitan dengan sikap

dan nilai. Oleh karena itu, sikap seseorang dapat diramalkan

perubahannya apabila ia telah memiliki penguasaan kognitif yang

tinggi (Sudaryono, 2012). Menurut Bloom, dkk (dalam Winkel,

2005) aspek afektif mencakup penerimaan, partisipasi, penilai,

organisasi, dan pembentukan pola hidup.

1) Penerimaan : mencangkup kepekaan akan adanya suatu

perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan ransangan

tersebut, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan

oleh guru atau mendengarkan dan memperhatikan jawaban

teman sekelas.

2) Partisipasi : mencangkup kerelaan untuk memperhatikan secara

aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

3) Penilai/penentu sikap : mencakup kemampuan untuk

memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri

sesuai dengan penilaian itu.

4) Organisasi : mencakup kemampuan untuk membentuk suatu

sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam hidup.

5) Pembentukan pola hidup : mencakup kemampuan untuk

menghayati nilai-nilai kehidupan dari materi yang telah

dipelajari.

c. Aspek Psikomotorik

Aspek psikomotorik adalah aspek yang berkaitan dengan

pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotorik ini

sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif

(memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (kecenderungan

untuk berprilakau) (Sudaryono 2012). Menurut klasifikasi Bloom,

dkk (dalam Winkel, 2005) aspek psikomotorik meliputi persepsi,

kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan

kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan aktivitas.

1) Persepsi : mencakup kemampuan untuk mengadakan

diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih,

berdasarkan perbedaan antar ciri-ciri fisik yang khas pada

masing-masing rangsangan.

2) Kesiapan : terkait dengan konsentrasi dalam menyiapkan diri.

3) Gerakan terbimbing : mencakup kemampuan untuk melakukan

suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang

diberikan.

4) Gerakan yang terbiasa : mencangkup kemampuan untuk

melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena

sudah dilatih secukupnya, tanpa memperhatikan lagi contoh

yang diberikan.

5) Gerakan kompleks : mencangkup kemampuan untuk

melaksanakan suatu keterampilan, yang terdiri atas beberapa

komponen, dengan lancar, tepat dan efisien.

6) Penyesuaian pola gerakan : mencakup kemampuan untuk

dengan kondisi setempat atau dengan menunjukkan suatu

keterampilan yang telah mencapai kemahiran.

7) Kreativitas : mencakup kemampuan untuk melahirkan pola-

pola yang baru, seluruhnya atas dasar prakasa dan inisiatif

sendiri.

Pada penelitian ini yang diukur adalah aspek kognitif dan afektif

saja karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai

materi pelajaran.

Umumnya hasil belajar dinyatakan dengan skor hasil tes atau

angka yang diberikan guru berdasarkan pengamatannya belaka atau

keduanya, yaitu hasil tes dan pengamatan guru pada waktu siswa

melakukan diskusi kelompok. Sukmana (2004) mengatakan bahwa hasil

ulangan atau ujian merupakan hasil belajar selama mengikuti kegiatan

pembelajaran selama satu semester. Satu hal yang harus dihindari oleh

pelajar selama ujian adalah kegiatan menyontek karena hasil menyontek

tidak menggambarkan kemampuan belajar yang sebenarnya. Jadi, untuk

mencapai hasil belajar yang baik, siswa dituntut untuk melakukan

berbagai kegiatan belajar, yang harus diimbangi dengan sikap rajin,

tekun, dan motivasi belajar yang tinggi.

Menurut Djamarah, 2003 (dalam Kurniawati, 2012), faktor-faktor

yang mempengaruhi hasil belajar dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal

a. Faktor-Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang ada di dalam diri individu

yang sedang belajar. Faktor ini dibagi menjadi tiga yaitu faktor

fisiologis dan faktor psikologis.

1) Faktor Fisiologis

Faktor fisologis terdiri dari kondisi fisiologis dan kondisi

panca indera. Kondisi fisiologis umumnya sangat berpengaruh

terhadap kemampuan belajar individu. Siswa dalam keadaan lelah

akan berlainan belajarnya dari siswa dalam keadaan tidak lelah.

Kondisi panca indera merupakan kondisi fisiologis yang

dispesifikan pada kondisi indera. Kemampuan untuk melihat,

mendengar, mencium, meraba, dan merasa mempengaruhi hasil

belajar. Anak yang memilki hambatan pendengaran akan sulit

menerima pelajaran apabila ia tidak menggunakan alat bantu.

Agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus dapat

menjaga kesehatan tubuhnya dengan mengatur jam kerja, belajar,

istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi, dan ibadah. Keadaan

cacat tubuh bisa mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat

belajarnya terganggu, maka perlu perlakuan khusus dengan alat

bantu atau belajar di pendidikan khusus.

2) Faktor Psikologis

Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri individu

yang berhubungan dengan rohaniah, di antaranya adalah : minat,

a. Minat

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa

ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang

memerintah. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan

suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar

diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin

besar minat.

b. Kecerdasan dan Kemampuan Kognitif

Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan siswa

untuk beradaptasi, menyelesaikan masalah dan belajar dari

pengalaman kehidupan. Kecerdasan dapat diasosiasikan

dengan intelegensi. Siswa dengan nilai IQ yang tinggi

umumnya mudah menerima pelajaran dan hasil belajarnya

cenderung baik. Ranah kognitif merupakan kemampuan

intelektual yang berhubungan dengan pengetahuan, ingatan,

pemahaman dan lain-lain.

c. Bakat

Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan

potensi yang masih perlu dilatih dan dikembangkan. Bakat

memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam

bidang tertentu.

d. Motivasi

Motivasi adalah suatu kondisi psikologis yang

b. Faktor-Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang ada di luar individu.

Faktor eksternal dikelompokan menjadi dua faktor yaitu faktor

lingkungan dan faktor instrumental.

1) Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa.

Dalam lingkunganlah siswa hidup dan berinteraksi. Lingkungan

yang mempengaruhi hasil belajar siswa dibedakan menjadi dua,

yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial.

a. Lingkungan Alami

Lingkungan alami adalah lingkungan tempat siswa

berada dalam arti lingkungan fisik. Yang termasuk

lingkungan alami adalah lingkungan tempat tinggal/

keluarga. Keluarga adalah lembaga pendidikan yang

pertama dan terutama serta merupakan lembaga pendidikan

dalam ukuran kecil tetapi bersifat menentukan untuk

pendidikan dalam ukuran besar. Belajar yang baik dapat

dilakukan apabila keadaan rumah tenang dan tenteram,

hubungan keluarga baik sehingga anak betah di rumah dan

faktor ekonomi keluarga terpenuhi. Suasana rumah yang

nyaman membuat siswa akan belajar dengan baik sehingga

mempengaruhi hasil belajar menjadi lebih baik.

b. Lingkungan Sosial

Makna lingkungan dalam hal ini adalah interaksi

atau Homo socius. Sebagai anggota masyarakat, siswa tidak

bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang

berlaku dalam masyarakat tempat siswa tinggal mengikat

perilakunya untuk tunduk pada norma-norma sosial, susila,

dan hukum. Lingkungan sosial siswa meliputi teman

bergaul, kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa

yang memberi pengaruh baik pada siswa, dan lingkungan

masyarakat yang positif. Bentuk kehidupan masyarakat/ lingkungan sekitar dapat mempengaruhi presetasi belajar

siswa. Jika lingkungan siswa adalah lingkungan terpelajar

maka siswa akan terpengaruh dan terdorong untuk lebih

giat belajar.

2) Faktor Instrumental

Faktor instrumental dapat dikatakan sebagai faktor sekolah

yang juga turut mempengaruhi hasil belajar siswa. Setiap

penyelenggaraan pendidikan memiliki tujuan instruksional yang

hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan

seperangkat kelengkapan atau instrumen dalam berbagai bentuk

dan jenis. Instrumen dalam pendidikan terdiri dari kurikulum,

program, sarana dan fasilitas, serta guru.

a. Kurikulum

Kurikulum adalah a plan for learning yang

merupakan unsur substansial dalam pendidikan. Tanpa

kurikulum, kegiatan belajar mengajar tidak dapat

menjabarkan isi kurikulum ke dalam program yang lebih

rinci dan jelas sasarannya, dengan demikian dapat diketahui

dan diukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar

mengajar yang telah dilaksanakan.

b. Program

Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari

baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Program

pendidikan disusun berdasarkan potensi sekolah yang

tersedia baik tenaga pendidik yang profesional (mengajar di

bidangnya), finansial untuk memenuhi segala yang

dibutuhkan sekolah dalam penyediaan fasilitas yang

memadai dan menunjang kegiatan belajar siswa, sarana,

serta prasarana agar tercapainya hasil belajar siswa yang

sesuai dengan yang diharapkan.

c. Sarana dan Fasilitas

Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan.

Gedung sekolah yang dibangun terdiri atas ruang kelas

yang cukup untuk menampung jumlah siswa dan

menunjang kegiatan belajar siswa di dalam kelas,

laboratorium dengan kelengkapan yang cukup, dan lain-

lain. Fasilitas mengajar merupakan kelengkapan mengajar

guru yang harus disediakan oleh sekolah. Hal ini

merupakan kebutuhan guru yang harus diperhatikan seperti

buku pegangan, buku penunjang, serta alat peraga yang

sesuai dengan metode pembelajaran yang akan

dilaksanakan. Adanya sarana dan fasilitas mengajar sangat

membantu guru dalam menunaikan tugas mengajar di

sekolah dan tercapainya hasil belajar siswa yang sesuai

dengan yang diharapkan.

d. Guru

Perbedaan karakter, kepribadian, cara mengajar

yang berbeda pada masing-masing guru, menghasilkan

kontribusi yang berbeda pada proses pembelajaran. Guru

pulalah yang menentukan metode serta strategi mengajar

yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat berjalan efektif

dan efisien, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Dokumen terkait