BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode TAI
Pembelajararan dengan metode TAI (Team Assisted Individualization)
ini dikembangkan oleh Slavin. Menurut Slavin (2005) terdapat tiga alasan
memperkenalkan metode pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization):
a) Metode ini mengkombinasikan keampuhan kooperatif dan
program pengajaran individual
b) Memberikan tekanan pada efek sosial dari belajar kooperatif
c) TAI (Team Assisted Individualization) disusun untuk
memecahkan masalah dalam program pengajaran, misalnya dalam
hal kesulitan belajar siswa secara individual.
Metode pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization) pada
proses belajar mengajar dan memeriksa pengetahuan siswa dalam materi
pelajaran yang dipelajari.
Metode pembelajaran TAI (Team Assisted Individualization)
merupakan metode pembelajaran secara berkelompok di mana terdapat
seorang siswa yang lebih mampu, berperan sebagai asisten yang bertugas
membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam satu
kelompok dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan
jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Dalam hal ini peran pendidik
hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar.
Pengajar/guru cukup menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif
bagi peserta didik.
TAI (Team Assisted Individualization) merupakan salah satu metode
dalam pembelajaran kooperatif. Pada metode pembelajaran TAI (Team
Assisted Individualization), siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok
kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan
pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukan. Melalui
pembelajaran kelompok, diharapkan para siswa dapat meningkatkan pikiran
kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.
Salah satu ciri model pembelajaran kooperatif adalah kemampuan
siswa untuk bekerja sama dalam kelompok memiliki tugas setara. Oleh
karena itu, pada pembelajaran kooperatif, keberhasilan kelompok sangat
diperhatikan, maka siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan
dan keterampilannya, sedangkan siswa yang kurang pandai akan terbantu
Secara umum ada delapan komponen dalam model pembelajaran
kooperatif dengan metode TAI (Team Assisted Individualization) (Slavin,
2005) yaitu pembentukan kelompok, tes penempatan, materi kurikulum,
kelompok belajar, skor tim dan rekognisi tim, kelompok pengajaran, tes
fakta, dan mengajar seluruh kelas.
1. Pembentukan Kelompok
Pembentukan kelompok bersifat heterogen yang terdiri atas 4
sampai 5 siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja
akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Fungsi utama dari tim ini
adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, dan
lebih khususnya lagi adalah mempersiapkan anggotanya untuk dapat
mengingat dan mengetahui materi yang nantinya digunakan dalam
persiapan mengerjakan latihan. Dalam hal ini, biasanya siswa
menggunakan cara pembelajaran diskusi tentang masalah-masalah yang
ada, membandingkan soal dan jawaban yang ada, dan mengoreksi tiap
pengertian apabila anggota tim ada yang membuat kesalahan.
2. Tes Penempatan
Para siswa diberi tes pada awal program pembelajaran. Hasil dari
tes awal digunakan untuk membuat kelompok berdasarkan poin yang
mereka peroleh.
3. Materi Kurikulum
Proses pembelajaran harus menggunakan materi yang terdapat
4. Kelompok Belajar
Berdasarkan tes maka dibentuk kelompok belajar. Siswa dalam
kelompoknya mendengarkan presentasi dari guru dan mengerjakan
lembar kerja. Jika ada siswa yang belum mengetahui, tentang materi
dapat bertanya pada anggota tim lainnya atau ketua yang telah ditunjuk,
kalau belum mengetahui juga baru meminta penjelasan dari guru.
5. Skor Tim dan Rekognisi Tim
Skor diberikan terhadap hasil kerja kelompok dan pemberian
kriteria penghargaan diberikan terhadap kelompok yang berhasil dalam
menyelesaikan masalah.
6. Kelompok Pengajaran (Mengajar Kelompok)
Secara singkat guru menjelaskan tentang materi pembelajaran
menjelang pemberian tugas kelompok. Materi yang belum diketahui oleh
suatu kelompok dapat ditanyakan kepada guru dan guru menjelaskan
materi kepada kelompok tersebut. Pada saat guru mengajar, siswa dapat
mempelajari materi baik secara individual dan kelompok dengan
kebebasan tetapi bertanggung jawab. Keaktifan siswa sangat diutamakan
pada pengajaran dengan metode TAI (Team Assisted Individualization).
7. Tes Fakta (Lembar Kerja)
Pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh peserta
didik.
8. Mengajar Seluruh Kelas
Setelah akhir dari pembelajaran, guru menjelaskan konsep-konsep
yang belum dimengerti oleh siswa dengan strategi pemecahan masalah
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif dengan metode
TAI dapat dilihat pada tabel berikut .
Tabel 1. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode TAI
Langkah Kegiatan
1
Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru. 2 Guru memberikan pretest secara individual
kepada siswa untuk mendapatkan skor awal.
3
Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan jender.
4
Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
5
Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari.
6 Guru memberikan post-test kepada siswa secara individual.
7
Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari pretest ke skor post-test berikutnya (terkini).
Cara-cara atau langkah-langkah penentuan nilai penghargaan
kepada kelompok adalah sebagai berikut :
1. Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai
dasar (awal) dapat berupa nilai tes/kuis awal atau
menggunakan nilai ulangan sebelumnya.
2. Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah
siswa bekerja di dalam kelompok yang disebut nilai kuis
3. Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya
ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar
(awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria
berikut ini.
Tabel 2. Kriteria dan Hasil Peningkatan Nilai Belajar Siswa Kriteria Nilai Peningkatan Nilai kuis/tes turun lebih dari
10 poin di bawah nilai awal 5 Nilai kuis/tes terkini turun 1
sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal
10
Nilai kuis/tes terkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal
20
Nilai kuis/tes terkini lebih
dari 10 di atas nilai awal 30
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilai
peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan
memberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna.
Kriteria untuk status kelompok :
- Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15 (rata-rata
nilai peningkatan kelompok < 15)
- Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20 (15 ≤ rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20)
- Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 20 dan 25
(20 ≤ rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25)
- Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atau sama
Model pembelajaran kooperatif dengan metode TAI (Team
Assisted Individualization) memiliki kelebihan dan kekurangan (dalam
http://3ekelompok8.blogspot.com/2012/11/metode-tai.html). Kelebihan yang
dimiliki oleh metode TAI (Team Assisted Individualization) adalah sebagai
berikut.
1) Meningkatkan hasil belajar.
2) Meningkatkan motivasi belajar pada siswa.
3) Dapat membantu siswa yang lemah.
4) Siswa diajarkan bekerjasama dalam suatu kelompok.
5) Menimbulkan rasa tanggung jawab dalam kelompok dalam menyelesaikan
masalah.
Adapun kekurangan yang dimiliki oleh metode TAI (Team Assisted
Individualization) adalah sebagai berikut.
1) Dibutuhkan waktu yang lama untuk membuat dan mengembangkan
perangkat pembelajaran.
2) Guru mengalami kesulitan dalam memberikan bimbingan pada siswa,
karena dengan jumlah siswa yang banyak dalam kelas maka akan semakin
banyak kelompok yang terbentuk.
3) Tidak semua materi dapat diterapkan menggunakan metode pembelajaran
TAI.
4) Menimbulkan ketergantungan siswa, dimana siswa yang kurang pandai
secara tidak langsung akan bergantung pada siswa yang pandai.
5) Menimbulkan sikap pasif kepada siswa tertentu, karena dia hanya