• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Integritas Ego

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 38-44)

BAB II. LANDASAN TEORI

B. Integritas Ego

4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Integritas Ego

Nilai-nilai religius yang diinternalisiasi oleh lansia di Panti Wreda menjadi sangat penting terutama dalam mempengaruhi pencapaian integritas ego seseorang. Hubungan dengan komunitas lansia di Panti Wreda, kekuatan diri, dan hubungan dengan kekuatan yang lebih besar dari diri adalah nilai-nilai yang paling umum yang dikenalkan dalam tradisi spiritualitas. Pencarian makna hidup pada lansia di Panti Wreda adalah hal yang paling penting yang diajarkan agama yang relevan dengan kesehatan. Frankl (1959) dan Bown dan Williams (1993) menyatakan bahwa pencarian makna itu sendiri merupakan bentuk dari identitas dan merupakan sumber kekuatan dibalik intelektualitas dan emosi. Selain itu, keyakinan lansia di Panti Wreda terhadap suatu agama dapat mempengaruhi cara pandang dan sikap seseorang.

Worthington at all. (1996) memberikan tujuh penjelasan penting mengenai mengapa kematangan spiritualitas membuat seseorang memiliki pribadi yang lebih matang dan terkait dengan psychological well-being dan dapat menjadi akses bagi lanjut usia untuk mencapai penuaan yang sukses. Tujuh alasan tersebut adalah: 1. Spiritualitas menyediakan serangkaian jawaban bahwa tidak hanya

kehidupan yang berharga, namun kematian juga sesuatu yang berharga.

2. Spiritualitas menstimulasi perasaan optimis dan memunculkan harapan hidup yang positif di segala situasi sulit maupun menakutkan.

3. Pada situasi dimana seseorang kehilangan kontrol diri pada suatu lingkungan, koneksi spiritual menyediakan perasaan pentingnya akan kontrol untuk mengatasi hal-hal keduniawian.

4. Jalan spiritual menyarankan gaya hidup yang meningkatkan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik. Misalnya, tidak minum minuman keras, tidak makan terlalu banyak, menahan diri dari amarah, mensyukuri hidup, menyayangi sesama dan makhluk hidup, dan lain-lain.

5. Kebijaksanaan spiritualitas memberikan norma-norma sosial yang positif dimana hal tersebut dapat meningkatkan penerimaan, dukungan, dan nurturance satu sama lain.

6. Komunitas spiritual memberikan dukungan ketika seseorang membutuhkan bantuan dan mempertanyakan sesuatu.

7. Kematangan spiritualitas menjadi akar dari kepercayaan yang paling dalam atau penting diantara nilai-nilai yang lainnya.

Spritualitas di atas bahwa dapat mendorong lansia di Panti Wreda memberikan makna yang positif dalam hidup. Artinya, tidak hanya pada pengalaman yang menyenangkan saja, namun termasuk juga pengalaman-pengalaman menyedihkan ataupun menyakitkan dalam keseluruhan hidup seseorang. Untuk itu, peran nilai-nilai spiritualitas lansia di Panti Wreda juga penting untuk dilihat untuk menjelaskan proses integrasi ego pada lansia. Maka dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa lansia yang mencapai integritas ego cenderung memiliki pemaknaan yang positif pada serangkaian kisah kehidupannya.

Spiritualitas dibuktikan memiliki peranan yang penting dan korelasi yang kuat dalam psychological well-being lansia. Aldert dan Koenig (2007), menyatakan melalui hasil temuannya bahwa lansia yang memiliki orientasi religious dari dalam dirinya memiliki tingkat psychological well-being yang lebih tinggi dari pada lansia yang tidak memiliki orientasi religious. Penelitian Aldert dan Koenig (2007) juga menunjukan bahwa kematangan spiritualitas membuat lansia lebih

sehat secara psikologis. Hal ini dijelaskan karena spiritualitas membuat seseorang memiliki orientasi dan tujuan hidup yang lebih optimis.

Agama yang yang dianut seseorang memiliki potensi yang besar untuk memperngaruhi cara berpikir dan berperilaku seseorang, yang memungkinkan untuk mempengaruhi variable psikologis, sosial dan fisik (Aldert & Koenig, 2007). Hal ini juga didukung oleh beberapa riset lain. Seperti pada penelitian Tomer & Eliason (2000) yang menyatakan bahwa ketaatan beragama memiliki korelasi positif terhadap perasaan kebermaknaan akan hidup pada lansia. Kebermaknaan hidup menimbulkan kebahagiaan, kepuasan hidup, psychological well-being, dan pemulihan terhadap kedukaan dan perasaan kehilangan (Edmonds & Hooker, 1992). Sedangkan Wong (2000), menyatakan bahwa ciri khas khusus pada lansia yang mengalami penuaan yang sukses adalah mereka memiliki semangat hidup dan perasaan yang jelas akan kebermaknaan dan tujuan hidup, yang mana meliputi sikap positif terhadap kehidupan maupun kematian.

Integritas ego memiliki memiliki beberapa aspek yang sama yang ada dalam psychological well-being. Pada pembahasan sebelumnya, telah dipaparkan bahwa agama memiliki korelasi secara positif terhadap psychology well-being. Ada beberapa penelitian penting yang ditujukan untuk menguji pengaruh yang bervariasi dari

kegiatan – kegiatan keagamaan seperti berdoa secara pribadi, pergi ke gereja, dan studi alkitab terkait dengan depresi, kepuasan hidup, kesehatan fisik, dan relasi sosial (Ellison, 1991; Koenig, George, & Titus, 2004). Aktifitas – aktifitas tersebut juga terbukti memiliki pengaruh agar seseorang dapat mencapai psychological well-being.

Meski aktifitas keagaaman memiliki peranan penting, namun perlu dipertimbangkan pula mengenai aktifitas lain yang mungkin saja memiliki pengaruh terhadap integritas ego.

b. Interaksi Sosial

Banyak studi yang menunjukkan bahwa dukungan sosial (sosial support) sangat berperan pada kesehatan mental. Pada kehidupan lansia sendiri, dukungan sosial dapat membantu lansia mengatasi berbagai stress yang muncul pada masa dewasa akhir seperti kematian pasangan hidup, stress pasca pensiun, penyakit berat, dll. Lansia yang mendapat dukungan sosial mampu memiliki harapan hidup yang lebih tinggi, lebih bahagia, dan mengurangi depresi (Shinn, Lehmann, dan Wong, 1984). Kedua hal tersebut merupakan beberapa indikator dari penuaan yang sukses.

Syarat untuk mendapatakan dukungan sosial adalah melakukan interaksi sosial. Akan tetapi, interaksi sosial yang tidak tepat bisa memiliki dampak negatif psychological well-being (Shinn, Lehmann, dan Wong, 1984). Alih – alih untuk mengatasi stress, terkadang

interaksi sosial dengan teman yang bertujuan untuk mencari dukungan sosial kadang dapat menciptakan jaringan stress (network stress). Seseorang terkadang akan merasa seperti mengalami penderitaan yang sama jika melihat temannya menderita (Eckenrode dan Gore, 1981).

Tidak semua interaksi sosial ternyata mendatangkan dukungan sosial yang bermanfaat terhadap psychological well-being. Shinn, Lehmann, dan Wong (1984) menyarankan bahwa interaksi sosial yang membantu orang untuk mencapai psychological well-being adalah interaksi sosial yang mendatangkan dukungan sosial. Orang harus merasa aman, diterima, didukung, dan didengarkan. Selain itu penting juga untuk menjadi penyedia dukungan sosial bagi orang lain. Artinya selain mencari dukungan sosial, juga perlu untuk menjadi pribadi yang hangat, suportif, dan empatik kepada teman yang membutuhkan support (Eckenrode dan Gore, 1981).

c. Kenangan (Reminiscence)

Banyak studi di barat tengah menyelidiki kenangan

(reminiscence) sebagai salah satu terapi maupun suatu tanda pada penuaan yang sukses. Jenis – jenis kenangan akan masa lalupun beragam. Beberapa diantaranya terbukti terasosiasi dengan penuaan sukses yang juga masih melingkupi integritas ego.

Paul T.P Wong dan Lisa M. Watt (1991), mengklasifikasikan kenangan (reminiscence) ke dalam 6 tipe, yaitu:

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 38-44)

Dokumen terkait