• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahapan Perkembangan Psikososial Erikson

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 33-38)

BAB II. LANDASAN TEORI

B. Integritas Ego

3. Tahapan Perkembangan Psikososial Erikson

Menurut Keene (2006), delapan Tahapan Perkembangan yang diciptakan oleh Erik Erikson telah banyak digunakan dan diterima secara universal dalam menggambarkan tugas-tugas perkembangan yang terlibat dalam pengembangan sosial dan emosional mulai dari anak-anak sampai menjadi dewasa. Jika diibaratkan, teori psikososial Erikson ini seperti suatu lintasan peluru (Sneed dan Whitbourne, 2003). Sehingga, setiap individu pasti melaluinya. Keberhasihan dalam melalui tugas-tugas disuatu tahap perkembangan ini mempengaruhi tahapan selanjutnya. Tahapan ini berlaku secara universal, artinya tahap perkembangan dan krisis-krisis yang akan dihadapi pada tahapan perkembangan tersebut akan dilalui oleh semua orang di seluruh dunia. Tahap perkembangan Erikson ini akan dilalui oleh semua orang di berbagai variasi kelompok (James and Zarrett, 2005).

Teori ini akan dipakai sebagai konsep kunci untuk menganalisis data, setiap tahap perkembangan akan dijabarkan untuk menganalisis proses terbentuknya integritas pada seseorang sebagai berikut (Feist and Feist, 2008):

a. Basic Trust vs. Basic Mistrust (Percaya vs. Tidak Percaya)

Tahapan ini berlangsung pada awal kehidupan manusia, yaitu pada bayi sejak lahir hingga kira-kira berusia satu tahun. Pada tahapan ini anak sangat bergantung pada pengasuhnya sebagai sumber kehidupannya. Anak membutuhkan pengasuhnya untuk memberikan

rasa aman, kenyamanan, kehangatan, dan yang memberikan makanan ketika dia merasa lapar. Resolusi yang sukses akan membuat anak mengembangkan kemampuan untuk mempercayai dan mengembangkan harapan. Akan tetapi, resolusi yang gaga akan membuat anak memiliki perasaan tidak aman dan selalu merasa curiga pada lingkungannya, merasa bahwa dunia tidak dapat dipercaya (Friedman dan Schustack, 2006:157).

b. Autonomy vs. Shame and Doubt ( Autonomi vs. Malu – Malu dan Ragu)

Tahapan ini berkembang pada usia 1 hingga 3 tahun. Dalam tahap perkembangan ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas tubuhnya, terutama dalam mengontrol otot-ototnya. Peran orang tua yaitu mengajarkan pada anak untuk mengontrol impuls – impulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang kasar. Resolusi yang sukses dalam tahap ini akan mengembangkan keinginan yang kuat dan rasa bangga pada diri anak, serta anak dapat mengetahui perbedaan antara benar dan salah, dan cenderung akan memilih yang menurutnya benar (Friedman dan Schustack, 2006). Resolusi yang gagal akan membuat anak mengembangkan perasaan selalu bersalah sehingga anak akan merasa ragu untuk bertindak dan cenderung pemalu.

c. Initiative vs Guilty (Inisiatif vs. Rasa Bersalah)

Tahapan ini berkembang pada usia 4 – 5 tahun. Usia 4-5 tahun adalah fase pengasuhan dengan memberikan dorongan kepada anak

untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya, sehingga anak akan memiliki inisiatif atau sebaliknya jika anak tidak mendapatkan pengasuhan maka akan menjadi pasif dan perkembangannya mengalami keterlambatan. Tugas orang tua dan pendidik dalam hal ini adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga memungkinkan perkembangan berjalan sesuai usianya (Herlina dkk, 2010). Resolusi yang berhasil akan membuat anak mengembangkan rasa inisiatifnya sehingga memiliki inisiatif untuk mengamil keputusan serta memiliki maksud dan tujuan dalam tindakannya. Resolusi yang gagal akan membuat anak memiliki rasa percaya diri yang rendah, tidak memiliki inisiatif untuk mengambil keputusan, dan tidak memiliki maksud dan tujuan (Friedman dan Schustack, 2006).

d. Industry vs. Inferiority (Produktif vs. Inferioritas)

Tahapan ini berkembang pada usia 6 – 11 tahun. Konsep pada tahap ini serupa dengan konsep tahap laten Freud. Pada masa ini, anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas-tugasnya, terutama tugas akademis. Seorang anak memiliki kepercayaan diri yang bertambah terhadap kemampuannya sendiri untuk menjadi partisipan yang produktif didalam lingkungan sosialnya. Resolusi yang berhasil membuat anak menjadi tekun, rajin, serta memiliki kompetensi atau kecakapan sehingga anak merasa mampu dan menguasai untuk melakukan

sesuatu. Resolusi yang gagal membuat anak memiliki perasaan inferior dan merasa tidak mampu.

e. Identity vs Role Confusion (Indentitas vs. Kebingungan Identitas) Tahapan ini berada pada kisaran usia 12 – 20 tahun. Erikson melihat tahapan ini sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling penting dan paling berpengaruh karena remaja mulai bereksperimen dengan berbagai macam peran yang berbeda, sambil mencoba mengintegrasikan dengan identitas yang dia dapatkan dari tahapan-tahapan perkembangan yang telah dilalui sebelumnya. Resolusi yang berhasil akan membuat remaja memiliki dan mengetahui identitas dan peran dalam kehidupannya serta mampu menyatukan peran-peran yang dimiliki menjadi identitas tunggal dirinya. Resolusi yang gagal akan membuat remaja mengalami krisis identitas yang menyebabkan remaja tidak yakin dan tidak memiliki gambaran yang jelas dalam kehidupan, kemampuan, dan keinginan dalam hidupnya.

f. Intimacy vs. Isolation (Keintiman vs. Keterkucilan)

Tahapan ini berlangsung pada usia 20 – 24 tahun. Pada tahapan ini seseorang memiliki keinginan untuk memiliki relasi percintaan dengan orang lain dan memiliki komitmen dasar dalam bekerjasama dan kemudian mampu konsisten dengan komitmennya.

Orang dewasa awal mulai membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain dan membiarkan orang lain mengenal dirinya dalam cara yang intim. Resolusi yang sukses akan membuat individu dapat menjalin relasi dengan orang lain serta membentuk ikatan sosial. Resolusi yang gagal akan membuat individu cenderung menarik diri dari pergaulan, menghindari hubungan yang dekat, dan mengembangkan perasaan terkucilkan (Herngenhahn, 1990).

g. Generativity vs. Stagnation (Generativitas vs. Kemandegan)

Tahap ini berkembang pada usia dewasa yaitu pada kisaran usia 25 – 64 tahun. Individu mulai memiliki intensi untuk membagikan diri kepada orang lain. Resolusi yang berhasil akan membuat individu mengembangkan generatifitas, sehingga dia akan memiliki perhatian yang lebih besar atau perhatian yang lebih luas yang diwarnai oleh cinta, kebutuhan, atau kebetulan (Erikson, 1964). Resolusi yang gagal menyebabkan individu memiliki perasaan bahwa hidup ini tidak berharga, tidak berguna, atau membosankan. Individu seperti ini mungkin berhasil memperoleh tujuan-tujuan duniawi, tetapi dibalik kesuksesan itu hidupnya terasa tidak berarti dan gagal.

h. Ego Integrity vs. Despair (Integritas Ego vs. Keputusasaan)

Tahapan ini merupakan tahapan terakhir dalam perkembangan hidup manusia dan merupakan fokus dari penelitian ini. Tahap ini berkembang pada masa dewasa akhir yaitu pada kisaran usia 65 – kematian. Pada tahap ini, individu melihat dan merefleksikan kembali

keseluruhan hidupnya. Resolusi yang berhasil menyebabkan individu memiliki Integritas Ego sehingga mereka mampu beradaptasi kepada kesulitan-kesulitan dan penderitaan hidupnya seperti halnya menang dari situasi-situasi buruk dan penderitaan yang menimpa hidupnya. Sedangkan resolusi yang gagal akan menyebabkan individu memiliki rasa putus asa dan kecewa pada kehidupan dan masa lalunya.

4. Faktor – faktor yang mempengaruhi Integritas Ego

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 33-38)

Dokumen terkait