TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Interaksi Sosial
2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial
Di dalam interaksi sosial terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi tersebut, yaitu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya interaksi tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial sebagai berikut :
a. Situasi sosial (The nature of the social situation), memberi bentuk tingkah laku terhadap individu yang berada dalam situasi tersebut. Misalnya, apabila berinteraksi dengan individu lain yang sedang dalam keadaan berduka, pola interaksi yang digunakan jelas harus berbeda dengan pola interaksi yang
36
dilakukan apabila dalam keadaan yang riang atau gembira, dalam hal ini tampak pada tingkah laku individu yang harus dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang sedang dihadapi.
b. Kekuasaan norma-norma kelompok (The norms prevailing in any given social group), sangat berpengaruh terhadap terjadinya interaksi sosial antar individu. Misalkan, individu yang menaati norma-norma yang ada di dalam setiap berinteraksi individu tersebut tidak akan pernah membuat suatu kekacauan, berbeda dengan individu tidak menaati norma-norma yang berlaku, individu tersebut pasti akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan sosialnya, dan kekuasaan norma-norma itu berlaku untuk semua individu dalam kehidupan sosialnya.
c. Their own personality trends Adanya tujuan kepribadian yang dimiliki
masing-masing individu sehingga berpengaruh terhadap perilakunya. Misalkan, di dalam setiap interaksi individu pasti memiliki tujuan, hal ini dapat dilihat seorang anak berinteraksi dengan guru memiliki tujuan untuk menuntut ilmu di dunia sekolah, seorang pedagang sayur dengan ibu-ibu rumah tangga, memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sebagainya.
d. A person’s transitory tendencies (Setiap individu berinteraksi sesuai dengan
kedudukan dan kondisinya yang bersifat sementara). Pada dasarnya status atau kedudukan yang dimiliki oleh setiap individu adalah bersifat sementara, misalnya seorang warga biasa yang berinteraksi dengan ketua RT, maka dalam hubungan itu terlihat adanya jarak antara seorang yang tidak memiliki
37
kedudukan yang menghormati orang yang memiliki kedudukan dalam kelompok sosialnya.
e. Adanya penafsiran situasi (The process of perceiving and interpreting a situation), di mana setiap situasi mengandung arti bagi setiap individu sehingga mempengaruhi individu untuk melihat dan menafsirkan situasi tersebut. Misalnya, apabila ada teman atau rekan yang terlihat murung dan suntuk, individu lain harus bisa membaca situasi yang sedang dihadapinya, dan tidak seharusnya individu lain itu terlihat bahagia dan ceria dihadapannya, bagaimanapun individu harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang dihadapi, dan berusaha untuk membantu menafsirkan situasi yang tidak diharapkan menjadi situasi yang diharapkan (Santoso, 2004 : 12).
Adapun yang mendorong terjadinya interaksi sosial menurut Gerungan (1988 : 58) berdasarkan pada beberapa faktor, yaitu :
a) Faktor peniruan atau imitasi b) Faktor sugesti
c) Faktor identifikasi d) Faktor simpati
Dari keempat macam faktor ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Faktor peniruan atau imitasi, Dalam interaksi sosial, gejala tiru-meniru sangat kuat peranannya di dalam proses sosial. Hal ini tampak jelas pada dunia mode, adat istiadat dan sebagainya. Dalam kamus istilah sosiologi di katakan bahwa imitasi adalah suatu usaha atau hasil usaha dari manusia untuk tampil atau
38
berperilaku seperti pihak lain yang berinteraksi dengan diri (Hasjir, 2003 : 30). Menurut Tarde imitasi berasal dari kata imitation yang berarti peniruan. Hal ini disebabkan karena manusia pada dasarnya individualis, namun dipihak lain manusia mempunyai kesanggupan untuk meniru sehingga di dalam masyarakat terdapat kehidupan sosial. Dalam penelitian ini selanjutnya yang dimaksud dengan imitasi adalah tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik dalam sikap maupun perilaku. Imitasi meliputi : 1. imitasi positif, misalnya sikap hemat, berpakaian rapi, dan menghargai waktu; 2. imitasi negatif, misalnya mabuk-mabukan,, sikap kebarat-baratan, dan pergaulan bebas.
b. Faktor sugesti, Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat di rumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara pengelihatan atau pedomanpedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu (Gerungan, 1988 : 61). Sugesti merupakan tindakan seseorang untuk memberi pandangan atau sikap yang kemudian diterima oleh pihak lain, sugesti mungkin terjadi jika orang yang memberi pandangan adalah orang yang berwibawa atau bersifat otoriter, atau orang tersebut merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan. Contoh dalam menyelesaikan masalah sosial, kebersihan atau gotong royong hari pelaksanaan, selain ditentukan bersama juga wajib di putuskan oleh kepala desa.
c. Faktor identifikasi, Identifikasi merupakan suatu dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain (Walgito, 2000 :72). Menurut kamus istilah sosiologi identifikasi adalah suatu proses atau hasil proses penempatan diri
39
individu pada kedudukan serta peranan orang lain dan mengikuti pengalamanpengalamannya (Hasjir, 2003 : 29). Timbulnya identifikasi sebagai dasar interaksi sosial menurut Freud, bahwa setiap individu mempunyai nafsu untuk menempatkan diri pada situasi tertentu ketika individu itu berada bersamasama individu lain, tetapi tidak semua individu dapat menempatkan diri sehingga sukar untuk berperilaku dan bertingkah laku. Tujuan dari proses identifikasi adalah individu yang bersangkutan ingin mempelajari tingkah laku maupun perilaku individu lain meskipun tanpa disadari sebelumnya dan baru disadari apabila proses ini telah membawa hasil. Imitasi merupakan tindakan seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain, contohnya, seorang anak yang meniru tingkah laku laku ayahnya, seorang remaja meniru gaya berpakaian aktor pujaannya.
d. Faktor simpati, Simpati adalah perasaan yang terdapat dalam diri seseorang individu yang tertarik dengan individu yang lain. Prosesnya berdasarkan perasaan semata-mata tidak melalui penilaian yang berdasarkan resiko, dengan kata lain imitasi adalah suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain (Soekanto, 2001 : 70). Faktor-faktor inilah yang mendorong dalam proses interaksi sosial yang terjadi pada tiap kelompok pergaulan hidup. Dalam penelitian ini selanjutnya yang dimaksud dengan simpati adalah suatu proses di mana seseorang merasa tertarik untuk memahami orang lain dan berkeinginan untuk bekerjasama dengannya, misalkan ada seorang tetangga yang sedang
40
membenahi rumahnya dan ada seorang bapak-bapak yang melihatnya dan merasa tertarik untuk membantu.