• Tidak ada hasil yang ditemukan

Interaksi Sosial Antar Warga Pondok Pesantren Modern Al-Abraar

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN DAN INTERPRETASI DATA

3. Madrasah Aliyah

4.3 PROFIL INFORMAN dan HASIL WAWANCARA .1 Ustaz Sulaiman Harahap

4.4.1 Interaksi Sosial Antar Warga Pondok Pesantren Modern Al-Abraar

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki ke khasan dan ke khususan sendiri, seperti lembaga ini dikhususkan untuk pelajar yang beragama Islam, lembaga pendidikan pondok pesantren dipimpin oleh seorang kyai dan berstatus sebagai pengasuh pondok pesantren, santri biasanya tinggal dan menetap di asrama atau di gubuk-gubuk kecil, dan buku pelajarannya bisanya didominasi oleh pelajaran tentang agama Islam.

Pondok Pesantren Modern Al-Abraar juga merupakan salah lembaga pendidikan Islam yang terdapat di Desa Sikuik-Huik Dusun Siondop Julu Kecamatan Angkola Selatan Kabupaten Tapanuli Selatan. Lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren Modern Al-Abraar merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ilmu umum yang menjadi kurikulum utamanya dalam pengajarannya. Sistem pendidikan di Pondok Pesantren Modern Al-Abraar dalam perjalanan Pondok Pesantren di Indonesia, Al-Abraar masuk dalam kategori pondok pesantren “Modern”. System pendidikan pondok pesantren Modern adalah lembaga pendidikan yang memodernisasi pendidikan-pendidikan pesantren salafi (tradisional) seperti masuknya kurikulum pendidikan umum, system asrama, dan memasukkan kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler lainnya.

Elemen sosial pondok pesantren pada umumnya adalah Kyai/Ustaz sebagai pigur sentral pondok dan juga sebagai pengasuh pondok pesantren, santri pondok pesantren (santri Mukim dan tidak mukim), pegawai pondok, dan elemen lainnya

118

adalah masjid sebagai tempat pusat aktifitasnya sehari-hari. Elemen sosial pondok pesantren modern Al-Abraar, selain daripada elemen diatas tambahannya adalah komite sekolah dan elemen masyarakat disekitar pesantren.

Dari elemen-elemen sosial pondok pesantren diatas, dalam menjalankan aktifitas kepesantrenan sehari-hari tentu saja terjadi hubungan tindakan sosial satu sama lain antar warga pondok pesantren. Hubungan tindakan sosial antar warga pondok pesantren modern Al-Abraar berjalan setiap harinya, Kyai-Ustaz dengan sesama ustaznya, ustaz dengan santri, santri dengan santrinya, kyai/ustaz dengan pegawai pondok pesantren modern Al-Abraar, dan pondok pesantren dengan anggota masyarakat di sekitar pondok pesantren.

Proses interaksi sosial warga pondok pesantren biasanya berlangsung pada saat pelajaran pesantren berlangsung, pada saat kegiatan ekstrakulikuler pondok pesantren, pada saat makan, dan pada saat shalat berjamaah. Interaksi sosial sesama santri pondok pesantren berlangsung mulai bangun pagi, shalat subuh, kegiatan rutinitas pesantren di pagi hari, dan akan berlangsung lagi disore hari sampai jam 10.30 WIB malam. Interaksi sosial ini berlangsung secara alamiah ibarat interaksi social yang terjadi dalam rumah tangga.

Warga pondok pesantren yang terdiri dari; Ustaz/Ustazah, Santri/Santri Wati, Pegawai/Karyawan Pondok, dan lain-lain setiap harinya saling bertemu dan melakukan komunikasi social untuk kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pribadi dan kegiatan kepesantrenan dipondok pesantren modern Al-Abraar. Ustaz/ustazah pondok pesantren pada umumnya tinggal dilingkungan

119

pondok pesantren begitu juga santri pada umumnya tinggal diasrama yang disediakan oleh pondok sebagai tempat tinggal santri dan santri watinya.

“Ustaz-ustazah pondok itu wajib tinnggal di pesantren, bagi yang sudah berkeluarga dikasih rumah, dan ustaz/ustazah yang belum berkeluarga tinggal bersama diasrama putra bagi yang lakinya dan asrama putri bagi yang ustazahnya (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Abraar; Ustaz Sulaiman Harahap).

Bagi santri/santri wati pondok modern Al-Abraar ustaz/ustazah adalah orang tua kedua pengganti orang tua kandung yang ditinggal dikampung halamannya, ustaz-dan ustazah juga menganggap santri dan santri watinya sebagai anak kandung mereka sendiri. Dalam hal seperti ini interaksi dan komunikasi antara ustaz-ustazah dengan para santri/santri watinya berjalan lancar. Berjalannya komunikasi yang baik memberi dampak positif bagi perkembangan pendidikann santri dan system pendidikan di pesantren modern Al-Abraar.

Interaksi antara santri dengan santri wati pondok pesantren modern al-Abraar diberi batasan guna untuk menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada dipesantren. Interaksi terjadi pada saat ada kebutuhan penting dan itupun harus didampingi oleh salah satu pengurus organisasi pelajar pondok pesantren Al-Abraar. Selain daripada itu karena urusan keluarga santri memiliki saudara kandung santri wati. Begitu juga antara ustaz dengan ustazah yang belum berkeluarga dalam berinteraksi dan berkomunikasi tidak begitu dibebaskan antara ustaz dengan

120

ustazah kecuali karena urusan penting dan itupun harus ditempat tertentu yang telah disediakan pondok, seperti poskow pesantren.

“Pesantren memiliki disiplin yang harus dipatuhi oleh setiap anggotanya seperti batasan antara santri dengan santri wati, usatz dengan ustazah. Demi menjaga nilai dan norma yang ada dipondok maka ustaz sangat menjunjung tinggi aturan itu, bagi yang kedapatan bertindak senonoh sanksinya berat bias-bisa terjadi pengusiran” (wawancara dengan Pimpinan pondok, Ustaz Sulaiman Harahap. Januari 2011)

Bangunan pondok pesantren modern Al-Abraar yang di design dengan cara terpisah dan dibatasi oleh pagar pembatas selain lapangan bola pondok pesantren juga menjadi pemisah bangunan tempat tinggal santri dan santri wati pondok pesantren modern Al-Abraar. Hal ini dilakukan untuk menjaga tindakan-tindakan disosiatif dipondok pesantren modern Al-Abraar. Symbol-simbol pesan komunikasi yang ada dipesantren juga menunjukkan bahwa adanya pembatasan antara santri dan santri wati pondok pesantren modern Al-Abraar (Hasil Pengamatan Peniliti, Januari; 2011).

Dalam hal membangun kebersamaan antara sesame warga pondok pesantren modern Al-Abraar terjadi pada saat adanya kegiatan pondok yang bersifat kegiatan tertentu dan momentum yang terjadi dipondok pesantren modern Al-Abraar seperti, Khutbatul Arsy (Pekan perkenalan Pondok), dan lain-lain.

Santri dan santri wati bias bertatp muka terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan pondok pesantren modern Al-Abraar seperti Khutbatul Arsy, Isra

121

mi’raz dan lain-lain selain itu lagi pada saat liburan pondok (wawancara dengan Pengasuhan Santri, Ustaz HJerman Soni Nasution, Januari 2011). 4.4.2 Interaksi Sosial Antar Warga Masyarakat Desa Sikuik-Huik

Desa Sikuik-Huik Kecamatan Angkola Selatan terdiri dari 10 dusun yang tergabung dalam desa ini. Desa Sikui-Huik memiliki beragam jenis suku dan karakter masyarakatnya. Beragam etnis dan agama juga ada dan tergabung di dalam desa sikuik-huik. Warga masyarakat desa sikuik-huik kecamatan angkola terbagi kedalam dusun-dusun dan di pisahkan oleh letak geografis yang tidak begitu berjauhan akan tetapi, jika dibandingkan dengan bentuk pemukiman di perkotaan desa sikuik-huik memiliki keunikan bentuk tempat tinggal karena daerahnya merupakan daerah perbukitan, oleh karena itu penyebab utama terjadi pemisahan tempat tinggal penduduk antar dusun adalah perbukitan yang ada di desa ini.

Dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara warga manusia yang terikat dalam suatu wadah yang disebut masyarakat itu, terdapat banyak variasi, seperti solider dan kebencian. Dalam sosiologi ada hubungan yang dapat disebut sebagai proses ,mengikut, yaitu mendekati dan bersatu; ada pula yang disebut proses perpisahan, yaitu becerai dan berpisah hidup masing-masing (Abdulsyani. 2007;36).

Hubungan antara anggota masyarakat yang ada di desa sikuik-huik lebih kepada hubungan darah dan hubungan solider mekanik, artinya anggota masyarakat desa sikuik-huik dalam kehidupannya sehari-hari antara satu dengan yang lainnya sering bersua dan bertatap muka, kedekadatan rumah dan hubungan emosionalnya banyak disebabkan oleh faktor hubungan darah, selain itu hubungannya terbangun

122

secara alamiah dikarenakan memiliki kebutuhan yang sama, sama-sama tinggaql dalam naungan pedesaaan, dan pekerjaan masyarakat pada umumnya adalah bertani (Sawit, Padi, Kacang-kacangan, dan lain-lain). Tidak banyak pendatang yang tinggal menetap disana, pendatang kesana biasanya hanya sebatas urusan transaksi hasil kebun dan sebagiannya lagi berkebun di daerah tempat pedesaan sikuik-huik.

“warga desa sikuik-huik pada umumnya saling kenal mengenal” (Kepala desa sikuik-huik, Iskandar Muda siagian), Ibu jaranglah pigi-pigi kedusun sebelah karena, ibu banyak kegiatan disawah gada waktu untuk martandang lagi” (Ibu Purnama), “Biasanya masyarakat ini semua bersua pada saat ada acara-acara siluluton dan siriaon yang terjadi disini” (Kepala dusun siondop Julu).

Hubungan anggota masyarakat di desa Sikuik-huik secara rutin jarang terjadi, penyebab hubungan social tersebut jarang terjadi disebabkan oleh beberapa yaitu; Letak geografisnya antar dusun di desa Sikuik-huik satu sama lainnya terpisahkan oleh perbukitan dan sungai yang membentang diantara dusun tertentu di desa sikuik-huik, tuntutan ekonomi warga desa sikuik-huik yang pada umumnya adalah petani, dan lain-lain. Interaksi sosial lebih sering terjadi biasanya pada saat adanya kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan di Desa sikuik-huik, masyarakat biasanya berkumpul dan bergotong royong dalam mengadakan kegiatan tersebut. Kegiatan sosial yang sering terjadi di desa sikuik-huik yaitu kegiatan siluluton dan siriaon (kemalangan dan pernikahan).

123

Interaksi sosial antar sesama warga di desa Sikuik-huik lebih rutin terjadi biasanya warga yang betempat tinggal satu dusun. Hubungan tindakan social satu sama lain lebih sering berlangsung pada saat di tempat-tempat khusus, seperti; kedai kopi milik warga, antar rumah ke rumah yang lain, dan begitu juga hubungan tindakan yang bersifat personal yang dilakukan anggota masyarakat dusun X dengan individu lainnya yang ada di dusun tertentu di desa sikuik-huik.

Berbagai macam kegiatan kemasyarakatan yang terdapat di desa sikuik-huik; Kegiatan untuk Bapak-bapak yang rutin terjadi adalah pengajian agama yang diadakan seminggu sekali dengan sbertempat di Masjid yang ada di dusun-dusun desa sikuik-huik. Untuk Ibu–ibu terdapat kegiatan wiritan sesame ibu-ibu yang diadakan seminggu sekali dengan sistem bergiliran dari rumah ke rumah. Selain itu ada juga pengajian Ibu-Ibu PKK pelaksanaannya sebulan sekali. Untuk para anak mudanya kegiatan yang rutin terjadi adalah kegiatan malam jumatan ba’da shalat Isya yaitu wiritan bersama. Kegiatan eksidental masyarakat adalah kegiatan kemalangan, peresmian pernikahan, gotong royong, buka lubuk larangan, dan lain-lainnya. Kegiatan ini pada umumnya merupakan sebagai wadah bersama yang dibentuk oleh masyarakat desa sikuik-huik dan desa-desa lainnya yang ada di kecamatan angkola selatan.

4.4.3 Interaksi sosial pondok pesantren dengan masyarakat Desa Sikuik-Huik