TINJAUAN PUSTAKA A. Kerjasama tim
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerjasama tim
Ivancevich, dkk (2005) mengungkapkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kerjasama tim adalah:
a. Komposisi
Komposisi tim berhubungan dengan kemiripan anggota tim satu sama lain. Komposisi tim menjadi sangat penting karena komposisi dapat mempengaruhi sejumlah karakteristik lainnya dan hasil yang dapat dicapai oleh tim.
b. Norma
Standar-standar yang diakui bersama oleh anggota di seluruh tim dan norma memiliki karakteristik yang dianggap penting bagi anggota-anggotanya. Karyawan yang telah mengetahui peraturan yang ada di dalam tim akan meminimalisir terjadinya masalah.
c. Kepemimpinan
Peran kepemimpinan menjadi faktor signifikan dalam sebuah tim. Seseorang yang menjadi pemimpin tim biasanya merupakan
28
seseorang yang dihormati dan dipandang sebagai anggota berstatus tinggi yang tindak tanduknya mencerminkan nilai-nilai kelompok, yang membantu kelompok mencapai sasaran-sasarannya, dan memungkinkan para anggotanya memenuhi beragam kebutuhan. d. Kohesivitas
Kohesivitas mengikat seluruh anggota tim agar tetap berada dalam tim dan menangkal pengaruh yang menarik anggota agar keluar dari tim. Tim yang kohesif terdiri dari individu-individu yang termotivasi bersatu agar hasil kerjanya menjadi efektif.
e. Pelatihan
Pelatihan digunakan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan para anggotanya agar dapat bekerja secara efektif. Pelatihan digunakan untuk meningkatkan keterampilan penyelesaian masalah, berpikir kreatif dan keterampilan-keterampilan interpersonal. f. Komunikasi
Anggota-anggota tim membutuhkan komunikasi dalam mendapatkan informasi agar dapat mencapai tujuan tim. Karyawan yang dapat berkomunikasi dengan baik kepada karyawan lain diharpkan dapat menjalankan kerjasama yang baik.
g. Pemberdayaan
Tim memiliki wewenang untuk mengambil keputusan dan
bertindak secara otonom. Setiap karyawan memiliki hak untuk berpendapat dan mengambil keputusan sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing di dalam tim.
29 h. Penghargaan
Tim yang berkinerja baik masing-masing anggotanya harus mendapatkan penghargaan. Penghargaan dapat meningkatkan produktifitas anggotanya. Hal ini sesuai bahwa tim mendapatkan penghargaan atas sumbangsihnya pada pencapaian sasaran perusahaan.
Robbins dan Judge (2008) berpendapat ada enam faktor penting yang sangat berhubungan secara signifikan dalam kerjasama tim, antara lain:
a. Sumber daya memadai.
Semua tim mengandalkan sumber daya yang memadai untuk efektivitas kerjasama tim. Kurangnya sumber daya akan secara langsung juga mengurangi kemampuan tim untuk menyelesaikan pekerjaan dengan efektif.
b. Kepemimpinan dan struktur.
Anggota tim harus setuju siapa yang harus melakukan apa dan memastikan bahwa semua anggota menyumbang secara sama dalam berbagi beban kerja. Selain itu, tim perlu menentukan jadwal, keterampilan yang perlu dikembangkan, cara tim dalam menyelesaikan konflik, serta cara tim dalam mengambil dan memodifikasi keputusan. Menyepakati mengenai hal-hal yang spesifik dari kerja dan bagaimana hal itu cocok dalam memadukan
keterampilan-keterampilan individual menuntut kepemimpinan dan struktur tim.
30
Para anggota tim yang efektif harus saling mempercayai. Kepercayaan antar personal diantara para anggota tim memudahkan kerjasama, mengurangi kebutuhan untuk mengawasi perilaku satu sama lain, dan membatasi anggota-anggota di sekeliling kepercayaan bahwa orang lain dalam tim tidak akan memanfaatkan rekannya. d. Evaluasi kinerja dan sistem penghargaan.
Melakukan evaluasi kinerja dan memberikan penghargaan pada setiap anggota tim akan meningkatkan kerjasama di dalam sebuah tim. Manajemen hendaknya mempertimbangkan penilaian berdasarkan hasil kerja dan komitmen tim.
Berdasarkan penjelasan diatas, penulis menyimpulkan faktor yang mencangkup kerjasama tim antara lain; tim mempunyai komposisi yang sama pada setiap anggotanya, memiliki norma, adanya kepemimpinan yang baik, adanya kohesivitas antar anggota, sering diadakannya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan, komunikasi yang terjalin baik antar anggotanya, pemberdayaan tim, dan pemberian penghargaan.
Salah satu faktor kerjasama tim ini memiliki keterkaitan dan variabel bebas yaitu komunikasi antar anggota tim. Kemampuan ini termasuk dari individunya,antara lain karyawan berkemampuan untuk berkomunikasi dengan karyawan lainnya. komunikasi yang dibutuhkan adalah komunikasi interpersonal yaitu komunikasi secara langsung dengan cara bertatap muka. Hal ini dibutuhkan agar menimbulkan rasa percaya antar karyawan dan berdampak positif bagi
31
B. Pelatihan Komunikasi Interpersonal 1. Definisi Pelatihan
Pelatihan adalah sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan kinerja pekerja dalam melakukan tugas yang diserahkan kepada mereka (Hardjana, 2001) dan pelatihan mencakup pembelajaran untuk melakukan sesuatu dan jika berhasil maka akan terlihat pada outputnya (Suryana, 2004). Dessler (2004), mendefinisikan pelatihan sebagai sebuah proses belajar yang digunakan untuk memberikan karyawan baru atau karyawan lama keterampilan yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan.
Mangkuprawira (2007) menyatakan bahwa pelatihan merupakan sebuah proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik, sesuai dengan standar kerja. Pada dasarnya pelatihan merujuk pada pengembangan keterampilan kerja yang dapat digunakan dengan segera.
Munandar (2011) menjelaskan pelatihan merupakan suatu kegiatan melatihkan pengetahuan dan keterampilan tertentu, keterampilan yang dimaksud adalah dengan menggunakan peralatan dan mesin-mesin dan keterampilan manajerial, yang berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Di dalam perusahaan, pelatihan dan pengembangan dapat berlangsung pada pekerjaan (on the job) dan juga dapat berlangsung di luar pekerjaan (off the job) yang berarti pelatihan diselenggarakan oleh perusahaan swasta atau dari luar perusahaan itu sendiri.
Sumantri (2000) mengartikan pelatihan sebagai: “proses pendidikan
32
terorganisir. Para peserta pelatihan akan mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang sifatnya praktis untuk tujuan tertentu”. pelatihan adalah proses
sistematis mengubah tingkah laku pegawai untuk mencapai tujuan organisasi. Pelatihan berkaitan dengan keahlian dan kemampuan pegawai dalam melaksanakan pekerjaan saat ini.
Munandar (2011) menjelaskan tujuan dari pelatihan dan pengembangan meningkatkan taraf prestasi dan peningkatan dari produktivitas. Salah satu unsur keluaran adalah prestasi kerja. Pelatihan dan pengembangan yang tepat tidak saja meningkatkan kuantitas dari keluaran tetapi juga meningkatkan kualitas/mutu dari keluaran. Tenaga kerja yang berpengetahuan dan berketerampilan baik hanya akan membuat sedikit kesalahan, dan cermat dalam melaksanakan perekjaan. Pelatihan dan pengembangan yang tepat juga dapat membantu perusahaan untuk memenuhi keperluannya akan tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan tertentu di masa yang akan datang. Selain itu Iklim dan suasana organisasi pada umumnya menjadi lebih baik jika perusahaan mempunyai program pelatihan yang tepat. Pendidikan atau pelatihan merupakan bagian dari imbalan jasa (compensation) dari perusahaan terhadap karyawan. Pelatihan dan pengembangan diperlukan secara terus menerus supaya para tenaga kerja dapat mengikuti perkembangan terakhir bidang kerja mereka masing-masing. Ini berlaku baik untuk tenaga kerja pekerja (nonmanajerial) maupun untuk tenaga kerja manajerial. Pelatihan dan pengembangan tidak
hanya menguntungkan perusahaan, tapi juga menguntungkan tenaga kerja sendiri.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah suatu pendidikan jangka pendek yang terencana guna meningkatkan
33
kualitas sumber daya manusia yang meliputi mutu, semangat kerja, pengetahuan dan kesejahteraan sumber daya manusia itu sendiri.