BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.4. Faktor –faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba
Perataan laba dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendorong manajer untuk melakukan perataan laba. Secara rasional manajer melakukan perataan laba dengan alasan memperkecil tuntutan perusahaan. Berikut ini beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi peratan laba yang dinyatakan oleh Salno dan Baridwan (2000) :
Tabel 2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba
No. Faktor yang berpengaruh Peneliti (Tahun)
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Besaran perusahaan : Total aktiva Profitabilitas Kelompok usaha Kebangsaan Harga Saham Kebijakan Akuntansi Leverage operasi Moses (1987) Archibald (1967), White (1970), Ashari dkk (1994), Carlson Chenchuamaiah (1997)
Belkoui dan Pincur (1984), Ashari dkk (1994)
Ashari dkk (1994) Ilmainir (1993) Ilmainir (1993)
Zuhroh (1996), Jin dan Machfoedz (1998)
Sumber : Salno, H. M., dan Z. Baridwan, (2000), Analisis Perataan Penghasilan (Income Smoothing) : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan Kinerja Saham Perusahaan Publik di Indonesia, JRAI vol.3 no.1 2000.
Dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba yang dinyatakan oleh Salno dan Baridwan dalam penelitian ini peneliti mencoba meneliti beberapa faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba, yaitu ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage operasi dan total assets turnover perusahaan.
2.2.4.1 Ukuran Perusahaan
Besarnya perusahaan itu bermacam–macam tetapi bukan ukuran yang dipakai untuk menentukan tidak adanya standart ukuran yang berlaku umum, semakin besar suatu perusahaan, maka semakin banyak pula alternatif sumber pembelanjaan yang dapat dipilih oleh perusahaan tersebut.
Ada kecenderungan bahwa semakin besar perusahan semakin besar pula jumlah utang yang dimiliki. Perusahan yang tumbuh pesat cenderung lebih banyak menggunakan utang (Weston dan Brigham, 1994 :175), hal ini disebabkan karena perusahaan yang besar akan lebih mudah mendapatkan pinjaman dari pihak eksternal dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil .
Variabel ukuran perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai aktiva perusahaan, jadi untuk melihat besar atau kecilnya perusahan yang diukur dari total aktiva verdasarkan nilai nuku yang dinyatakan dalam satuan rupiah dan skala pengukurannya adalah rasio.
Ukuran perusahan dapat dilihat dari aktiva perusahaan, jadi dapat dirumuskan:
UP = Log Total aktiva
2.2.4.2. Teori Yang Membahas Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Perataan Laba
Dalam theory akuntansi positif (positive accounting theory) yang menghipotesiskan bahwa ukuran perusahaan cenderung menginvestasikan dananya ke proyek yang mempunyai varian lebih rendah dengan beta yang rendah pula guna menghindari laba yang berlebihan.
Nilai aktiva dipakai sebagai variabel ukuran perusahaan karena selama ini masih terdapat compounding effect yang timbul karena perusahan yang besar selalu diidentikkan dengan nilai aktiva yang besar pula (Salno dan Baridwan, 2000), hal ini membuat para manajer termotivasi untuk melakukan praktik perataan laba karena mereka percaya bahwa para pemakai laporan keuangan masih mendasarkan pada salah satu penilaiannya mengenai perusahaan pada angka nilai aktiva.
2.2.4.3. Profitabilitas
Profitabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
Jumlah keuntungan (laba) yang diperoleh secara teratur merupakan suatu faktor yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian penganalisa didalam manilai profitabilitas dapat diukur dengan berdasarkan perbandingan laba setelah pajak dengan total aktiva perusahaan. Profitabilitas merupakan ukuran penting
untuk menilai sehat atau tidaknya perusahaan yang mempengaruhi investor untuk membuat keputusan (Suwito dan Herawaty, 2005).
Profitabilitas diukur menggunakan Net Profit Margin (NPM), sehingga dirumuskan sebagai berikut :
NPM = Laba Bersih Setelah Pajak Total Penjualan
(Suwito dan Herawati, 2005)
2.2.4.4. Teori Yang Membahas Pengaruh Profitabilitas Terhadap Perataan Laba
Teori pengharapan (expectancy theory) menyatakan bahwa individu mengubah perilaku mereka berdasarkan hasil yang diharapkan dari suatu kejadian. Manfaat yang diturunkan dari suatu hasil yang diharapkan dapat berupa intrinsik (seperti penghargaan atau harga diri) maupun ekstrinsik (upah atau promosi) (Victor H. Vroom, 1964 dalam Robbins, 2003:229).
Profitabilitas diduga mempengaruhi perataan laba, karena sesuai dengan teori pengharapan di atas, pihak manajemen berusaha menampilkan suatu tingkat profitabilitas yang tinggi agar kinerja manajemen terlihat baik.
Menurut Ashari et al (1994, dalam Suwito dan Herawaty 2005:138) menyatakan bahwa tingkat profitabilitas rendah mempunyai kecenderungan lebih besar untuk melakukan perataan laba, hal ini dapat terjadi dikarenakan perataan laba merupakan suatu fenomena umum yang bertujuan untuk mengurangi
variabilitas atas laba perusahaan yang akan dilaporkan guna mengurangi risiko pasar atas saham perusahaan.
2.2.4.5. Leverage Operasi
Leverage dapat didefinisikan sebagai penggunaan aktiva atau dana di mana untuk penggunaan tersebut perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap (Riyanto, 1995:375). Rasio leverage digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang.
Perusahaan dengan rasio leverage tinggi mempunyai risiko rugi besar, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperoleh laba yang tinggi, sedangkan perusahaan dengan rasio leverage yang rendah memiliki risiko rugi yang lebih kecil jika kondisi ekonomi sedang menurun, tetapi juga memiliki hasil pengembalian yang lebih rendah jika kondisi ekonomi membaik.
Leverage operasi dapat dirumuskan : Leverage = Total Hutang
Total Aktiva
2.2.4.6. Teori Yang Membahas Pengaruh Leverage Operasi Terhadap Perataan Laba
Teori akuntansi positif beranggapan bahwa perilaku manajer atau pembuat laporan keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor perilaku manajer dalam pengaturan tingkat keuntungan dikenal dengan 3 hipotesis, yaitu : hipotesis model bonus (bonus scheme hypothesis), hipotesis biaya politis (political cost hypothesis), dan hipotesis rasio hutang terhadap aktiva (leverage hypothesis) (Watts dan Zimmerman dalam Gumanti; JRAI, 2001:167).
2.2.4.7. Total Assets Turnover
Total assets turnover disebut juga rasio aktivitas yaitu rasio untuk mengukur seberapa besar afektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba. Aktiva tersebut diantaranya adalah aktiva lancar, seperti kas, wesel tagih, piutang usaha, dan aktiva-aktiva lainnya baik aktiva tetap maupun aktiva lain-lain.
Menurut Riyanto (1995:334), total assets turnover mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu. Rasio total assets turnover dapat dihitung dengan mambandingkan antara penjualan neto dengan jumlah aktiva. Atau dapat dirumuskan sebagai berikut :
Total Assets Turnover : Penjualan Bersih Total Assets
(Harahap, 2002:309)
2.2.4.8. Teori Yang Membahas Total assets Turnover Operasi Terhadap Perataan Laba
Gordon mengemukakan teorinya tentang perataan laba sebagai berikut: Proposisi 1 : Kriterium yang digunakan manajemen korporat dalam memilih
prinsip akuntansi adalah maksimasi utilitas atau kemakmurannya.
Proposisi 2 : Utilitas manajemen seiring dengan (1) keamanan kerjanya, (2) aras (level) dan tingkat pertumbuhan dalam laba dan (3) aras dan tingkat pertumbuhan besarnya korporasi.
Proposisi 3 : Pencapaian tujuan manajemen yang dinyatakan dalam proposisi 2 sebagian tergantung pada kepuasan pemegang saham terhadap kinerja korporasi, yaitu, jika hal-hal lain sama, makin bahagia pemegang saham, makin besar keamanan kerja, laba dan sebagainya dari manajemen.
Proposisi 4 : Kepuasan pemegang saham terhadap korporasi meningkat seiring dengan rata-rata tingkat pertumbuhan laba korporasi (atau rata-rata tingkat return terhadap modalnya) dan stabilitas labanya.
Teorema : Apabila keempat proposisi di atas diterima atau terbukti benar, maka manajemen dalam lingkup kekuasaannya, yaitu ruang gerak yang diijinkan oleh prinsip akuntansi yang berlaku, akan (1) meratakan laba yang dilaporkan dan (2) meratakan tingkat pertumbuhan laba.
(Belkaoui, 2000:56) Total assets turnover dimaksudkan untuk mengetahui aktivitas perusahaan dengan melihat pada besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya dengan penjualan, sedangkan junlah aktiva dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan malihat pada kecepatan perputaran dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi total assets turnover suatu perusahaan maka semakin tinggi pula penjualan perusahaan, sehingga kemungkinan untuk meraih laba maksimal juga semakin besar, sehingga menarik investasi di perusahaan. Perusahaan dengan total assets turnover yang tinggi kemungkinan mendapatkan investor semakin tinggi pula. Sesuai dengan teori yang dikemukakan Gordon, yaitu kepuasan pemegang saham terhadap korporasi akan meningkat seiring dengan rata-rata tingkat pertumbuhan laba korporasi, sehingga manajer berupaya melaporkan bahwa perusahaan mempunyai tingkat perputaran assets yang tinggi yang menguntungkan.