BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.5. Pembahasan
Dari hasil pengujian dengan menggunakan uji regresi logistik metode enter ditemukan bahwa dari variabel bebas yang diteliti dalam penelitian ini yang terdiri dari ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage operasi dan total assets turnover, hanya variabel leverage operasi yang berpengaruh signifikan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur pada tahun 2004 – 2008.
1. Pengaruh Variabel Ukuran Perusahaan Terhadap Perataan Laba
Variabel ukuran perusahaan berpengaruh tidak signifikan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur, hal ini dikarenakan besar kecilnya suatu perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap laba dari perusahaan
tersebut, karena memang ada kecenderungan bahwa semakin besar perusahan semakin besar pula jumlah utang yang dimiliki. Perusahan yang tumbuh pesat cenderung lebih banyak menggunakan utang. akan tetapi pada perusahaan manufaktur pada tahun 2004 – 2008 mereka tidak melakukan suatu usaha yang sengaja untuk menekan fluktuasi laba sampai pada tingkat laba yang dianggap normal bagi suatu perusahaan, usaha yang dilakukan ini harus masih dalam batas-batas yang diijinkan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, sehingga besar kecilnya perusahaan tersebut tidak mempengaruhi perataan dari laba perusahaan. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Watts dan Zimmerman dalam Gumanti; JRAI, 2001) dalam theory akuntansi positif (positive accounting theory) yang menghipotesiskan bahwa ukuran perusahaan cenderung menginvestasikan dananya ke proyek yang mempunyai varian lebih rendah dengan beta yang rendah pula guna menghindari laba yang berlebihan.
2. Pengaruh Variabel Profitabilitas Terhadap Perataan Laba
Variabel profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur, dengan tidak berpengaruhnya profitabilitas ini dapat dikarenakan memang profitabilitas hanya menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber daya yang ada, seperti penjualan kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, tidak ada pengaruhnya terhadap perataan laba, karena memang jumlah keuntungan (laba) yang diperoleh secara teratur merupakan suatu faktor yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian penganalisa didalam manilai profitabilitas dapat diukur dengan berdasarkan perbandingan laba setelah pajak dengan total aktiva
perusahaan. Profitabilitas merupakan ukuran penting untuk menilai sehat atau tidaknya perusahaan yang mempengaruhi investor untuk membuat keputusan. Akan tetapi, para analis tetap tetarik terhadap profitabilitas perusahaan karena profitabilitas mungkin merupakan satu-satunya indikator yang paling baik mengenai kesehatan keuangan perusahaan, karena memang profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh Ashari et al (1994, dalam Suwito dan Herawaty 2005:138) yang mengatakan bahwa tingkat profitabilitas rendah mempunyai kecenderungan lebih besar untuk melakukan perataan laba, hal ini dapat terjadi dikarenakan perataan laba merupakan suatu fenomena umum yang bertujuan untuk mengurangi variabilitas atas laba perusahaan yang akan dilaporkan guna mengurangi risiko pasar atas saham perusahaan.
3. Pengaruh Variabel Leverage Operasi Terhadap Perataan Laba
Berdasarkan hasil pengujian ditemukan bahwa variabel leverage operasi berpengaruh signifikan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur, hal ini dikarenakan dengan memperbesar tingkat leverage hal ini akan berarti bahwa tingkat ketidakpastian (uncertainty) dari return yang akan diperoleh akan semakin tinggi pula, tetapi pada saat yang sama hal tersebut juga akan memperbesar jumlah return yang akan diperoleh. Tingkat leverage ini bisa saja berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya, atau dari satu periode ke periode lainnya di dalam satu perusahaan, tetapi yang jelas, semakin tinggi tingkat leverage akan semakin tinggi risiko yang dihadapi semakin besar tingkat return
atau penghasilan yang diharapkan dengan berpengaruhnya leverage terhadap perataan laba hal ini dikarenakan leverage memiliki hubungan kausal searah dengan perataan laba. Hubungan kausalitas ini menunjukkan hubungan subtitusi antara kebijakan leverage dengan perataan laba yang dilakukan perusahaan dalam mengurangi konflik keagenan. Penggunaan hutang tinggi meningkatkan risiko kebangkrutan sehingga manajer mengurangi proporsi kepemilikan saham. Pada kondisi ini diperlukan pembatasan terhadap penggunaan hutang untuk mengurangi masalah keagenan antara stockholder dan bondholder, hal ini sesusai dengan teori yang dikembangkan oleh (Watts dan Zimmerman dalam Gumanti; JRAI, 2001:167) dalam teori akuntansi positif yang beranggapan bahwa perilaku manajer atau pembuat laporan keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor perilaku manajer dalam pengaturan tingkat keuntungan dikenal dengan 3 hipotesis, yaitu : hipotesis model bonus (bonus scheme hypothesis), hipotesis biaya politis (political cost hypothesis), dan hipotesis rasio hutang terhadap aktiva (leverage hypothesis).
4. Pengaruh Variabel Total Assets Turnover Terhadap Perataan Laba
Dari hasil pengujian membuktikan bahwa variabel total assets turnover tidak berpengaruh nyata terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur, dengan tidak berpengaruhnya total assets turnover terhadap perataan laba, saat ini memang dengan melihat aktivitas perusahaan akan sangat berdampak pada laba yang diinginkan dan memang saat ini hal itu sangat penting terhadap perkembangan perusahaan untuk meningkatkan pendapatannya tetapi dalam suatu
perusahaan mereka tidak melihat perkembangan suatu perusahaan untuk melakukan perataan laba, karena perkembangan ini hanya milik perusahaan itu sendiri dan bagi suatu perusahaan perkembangannya merupakan sesuatu yang harus dimaksimalkan. Bila perkembangan perusahaan meningkat maka pangsa pasar dan keuntungan perusahaan meningkat pula. Karena memang pada prinsipnya total assets turnover dimaksudkan untuk mengetahui aktivitas perusahaan dengan melihat pada besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya dengan penjualan, sedangkan junlah aktiva dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan malihat pada kecepatan perputaran dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi total assets turnover suatu perusahaan maka semakin tinggi pula penjualan perusahaan, sehingga kemungkinan untuk meraih laba maksimal juga semakin besar, sehingga menarik investasi di perusahaan. Perusahaan dengan total assets turnover yang tinggi kemungkinan mendapatkan investor semakin tinggi pula, hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh gordon, yang mengemukakan bahwa kepuasan pemegang saham terhadap korporasi akan meningkat seiring dengan rata-rata tingkat pertumbuhan laba korporasi, sehingga manajer berupaya melaporkan bahwa perusahaan mempunyai tingkat perputaran assets yang tinggi yang menguntungkan.