BAB II LANDASAN TEORI
A. Kecenderungan Berperilaku Agresif
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Agresif
Ada beberapa faktor yang mendasari atau menyebabkan munculnya berbagai bentuk perilaku agresif. Dalam penelitian ini penulis mengambil beberapa penyebab munculnya perilaku agresif, yaitu stimulus agresif, faktor biologis, jenis kelamin, urutan kelahiran, dan lingkungan.
a. Stimulus Agresif
Stimulus agresif diyakini dapat memicu munculnya respon-respon agresi. Berdasarkan pada hipotesa frustrasi-agresi, Berkowitz dan LePage (1967) mengadakan penelitian untuk menyoroti pentingnya stimulus agresif dalam memunculkan respon-respon agresif. Mereka menunjukkan bahwa subjek yang sebelumnya telah dibuat frustrasi lebih
memiliki kemungkinan bertindak agresif terhadap penyebab frustrasinya dengan adanya gambar senjata (objek agresi) daripada dengan adanya gambar raket badminton (objek netral). Stimulus agresif dalam sebuah situasi mengaktifkan skema kognitif yang berhubungan dengan agresi sebagai pilihan respon yang menonjol.
b. Faktor Biologis
Menurut Davidoff (1991) ada 3 faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi, yaitu gen, sistem otak dan kimia darah.
1) Gen
Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang menunjukkan bahwa faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.
2) Sistem Otak
Sistem otak juga dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbic (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah
mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott (dalam Davidoff, 1991) yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan cedera otak karena kurangnya rangsang sewaktu bayi.
3) Kimia Darah
Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan oleh faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikkan hormon testosterone pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosterone dikurangi, hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong anak kelaminnya) akan menjadi jinak, sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya banyak wanita menyatakan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum atau melakukan tindakan agresi pada saat berlangsungnya siklus haid ini.
c. Jenis Kelamin
Bjorkquists, dkk (dalam Pidada, 2003) mengatakan bahwa agresi antara laki-laki dan perempuan berbeda. Laki-laki bersifat lebih agresif daripada perempuan. Dikatakan bahwa laki-laki lebih sering terlibat agresi fisik dan perempuan lebih sering terlibat dalam berbagai jenis agresi tidak langsung yang bentuknya sulit diidentifikasikan oleh korbannya. Atau si korban sering tidak menyadari bahwa ia menjadi sasaran dari suatu tindak agresi. Sebagai contoh, salah satu bentuk perilaku agresi seperi ini pada anak-anak adalah berbohong atau menyebarkan rumor dibelakang orang yang menjadi sasaran, hal itu telah ditemukan sejak anak berusia 8 tahun dan terus berkembang atau meningkat hingga usia 15 tahun dan terus bertahan hingga dewasa.
d. Lingkungan
Ada beberapa bentuk faktor lingkungan yang mempengaruhi munculnya perilaku agresif, yaitu kemiskinan, anominitas, dan temperatur.
1) Kemiskinan
McCandless (dalam Davidoff, 1991) mengatakan bahwa jika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan. Bila terjadi perkelahian di pemukiman kumuh, misalnya ada pemabuk yang memukuli istrinya karena tidak memberi uang untuk beli minuman,
maka pada saat itu anak-anak dengan mudah dapat melihat model agresi secara langsung. Model agresi ini seringkali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi yang dirasakan sangat kritis bagi pertahanan hidupnya dan ditambah dengan nalar yang belum berkembang optimal, anak-anak seringkali dengan gampang bertindak agresi misalnya dengan cara memukul, berteriak, dan mendorong orang lain sehingga terjatuh.
2) Anonimitas
Keadaan dimana terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif yang membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Seseorang yang merasa anonim akan cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain.
3) Urutan Kelahiran
Menurut Alder (dalam Alwisol, 2004) urutan kelahiran mempunyai pengaruh yang penting dalam pembentukan kepribadian, artinya anak yang mempunyai status tertentu dalam keluarga akan cenderung berbeda kepribadiannya. Johnson dan Medinus (1974) juga mengatakan bahwa kepribadian anak dipengaruhi oleh status anak atau
susunan urutan kelahiran anak dalam keluarga. Santrock (2003) menggambarkan individu yang lahir lebih dahulu atau anak sulung sebagai individu yang lebih berorientasi dewasa, penolong, mengalah, lebih cemas, mampu mengendalikan diri, dan kurang agresif dibandingkan dengan saudara kandungnya. Santrock (2003) juga menggambarkan anak bungsu sebagai sebuah bayi di dalam keluarga walaupun sudah bukan bayi lagi, karena dalam menghadapi resiko menjadi terlalu tergantung. Hurlock (1978) kemudian mengatakan bahwa anak kedua mempunyai sifat tergantung, ekstrovert, mudah berkawan atau bergaul, dapat dipercaya, senang bergurau, mempunyai penyesuaian diri yang baik dan agresif.
Berdasarkan pendapat Hurlock (1978) tersebut terlihat bahwa anak urutan kelahiran kedua memang unik, mereka memiliki sifat-sifat posesif tetapi juga ada sifat negatifnya yaitu mereka disebut agresif. Hal tersebut terjadi karena dalam keluarga anak kedua merasa orangtuanya telah mengabaikan dirinya, mereka dituntut untuk dapat mandiri sedangkan orangtuanya terlalu sibuk dengan saudara-saudaranya yang lain. Hal itulah yang kemudian membuat anak kedua ini melakukan perilaku-perilaku menyimpang untuk mencari perhatian dari keluarganya, mereka akan lebih mudah untuk menjadi anak yang nakal dan tidak berprestasi (Verauli, 2005). Verauli (2005) kemudian juga mengatakan bahwa anak kedua yang terabaikan ini secara sosial
justru mudah mencari teman karena proses adaptasinya berjalan lebih cepat. Hal tersebut terjadi kemungkinan karena mereka merasa di dalam rumah tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarganya, sehingga saat mereka keluar dari rumah mereka berusaha untuk mendapat perhatian dari lingkungan sosialnya khususnya teman-temannya, dengan cara menjadi teman yang menyenangkan.
4) Temperatur
Temuan-temuan empiris dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa temperatur udara yang tinggi berpengaruh pada peningkatan agresi. Temperatur udara yang tinggi menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri seseorang. Ketidaknyamanan tersebut menimbulkan afektif negatif yang pada akhirnya memicu munculnya perilaku agresif. Sehingga temperatur udara merupakan salah satu variabel input yang menimbulkan rangsangan afek negatif.