POLITIK HUKUM KEWARGANEGARAAN BERDASARKAN UU NO 12/2006 DAN UU NO 62/
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Politik Hukum
Kewarganegaraan
Pada Bab II telah dikemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan politik hukum suatu negara, yakni: dasar dan corak politik; tingkat perkembangan masyarakat; susunan masyarakat; dan pengaruh global.235 Dalam kaitan dengan UU No. 12/2006 dan UU No. 62/1958 terlihat persamaan faktor namun dalam konteks yang berbeda. Politik hukum kedua UU tersebut sangat dipengaruhi oleh dasar dan corak politik serta pengaruh global.
Pembentukan UU No. 12/2006 sangat dipengaruhi oleh nuansa reformasi yang lebih menekankan pada sisi demokratisasi pembentukan suatu rancangan undang-undang. Optimalisasi peran serta masyarakat dalam hal ini menjadi suatu persyaratan yang tidak lagi dapat diminimalisasi. Bahkan keterlibatan masyarakat dalam pembentukan undang-undang telah memperoleh dasar hukum yang kuat melalui Pasal 53 UU No. 10/2004 yang menentukan:
Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang- undang dan rancangan peraturan daerah.
Oleh karena itu, nuansa pembentukan UU No. 12/2006 sangat diwarnai oleh berbagai masukan dari masyarakat, terutama kelompok-kelompok
235
yang mempunyai perhatian pada masalah-masalah perkawinan campuran dan HAM.236
Selain itu, sebagai akibat globalisasi tuntutan terhadap pemajuan HAM menjadi semakin mengemuka. Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan, bahkan, menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang harus dijadikan dasar
pembentukan UU Kewarganegaraan baru adalah „memastikan bahwa
undang-undang ini menganut azas non diskriminasi dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia, terutama bagi perempuan dan anak’.237
Aliansi Pelangi Antar Bangsa juga mengemukakan hal yang sama, khususnya dalam kaitan dengan perkawinan campuran.238 Dikatakannya bahwa:
Perkawinan campuran antar bangsa merupakan salah satu akibat interaksi antar manusia yang tidak dapat dicegah dan semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Hal ini membuat semakin pentingnya kita untuk dapat mengakomodir kebutuhan yang berbeda sebagai akibat dari perkawinan campuran antar bangsa ini. Terutama demi untuk kesejahteraan anak dari hasil perkawinan campur antar bangsa ini perlu diusahakan suatu hukum atau undang-undang yang memungkinkan mereka untuk berkembang secara maksimal.239
Dalam kaitan dengan UU No. 62/1958, faktor globalisasi bersifat lebih terbatas yakni yang berkenaan dengan hubungan antar negara yang
236
Lihat uraian mengenai politik di bidang budaya hukum.
237
Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan, Pandangan Kelompok Perempuan …, op. cit, hm 11.
238
Aliansi Pelangi Antar Bangsa, Rancangan …, op. cit.
239
memiliki asas kewarganegaraan yang berbeda. Hal ini tampak jelas dalam hubungan antara Indonesia dan RRC yang menganut asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran yang berbeda. Akibatnya, proses pembahasan UU ini lebih menitikberatkan pencegahan terjadinya bipatride.
Meskipun pada tahun 1950-an, Indonesia menganut demokrasi parlementer, namun diskusi-diskusi yang mengemuka saat itu, tampaknya, juga tidak banyak mempersoalkan aspek HAM dari kewarganegaraan, terutama dalam kaitan dengan hak-hak perempuan dan anak sebagai akibat perkawinan campuran. Hal ini dapat dimaklumi karena salah satu alasan utama pembentukan UU ini adalah mencegah bipatride, dan bukan difokuskan pada aspek HAM. Selain itu, mungkin terjadi bahwa kasus-kasus kewarganegaraan anak dari perkawinan campuran belum terlalu banyak sehingga perhatian masyarakat dan pemerintah tidak tertuju pada masalah-masalah yang timbul dari perkawinan campuran.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan pada bab – bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Politik hukum kewarganegaraan Indonesia berdasarkan UU No. 12/2006 memiliki sejumlah perbedaan dengan UU No.62/1958, walaupun juga ditemukan sejumlah persamaan, baik dari segi struktur, substansi maupun budaya hukum.
Dalam hal politik di bidang struktur hukum, UU No.12/2006 sejumlah koreksi terhadap ketentuan-ketentuan dalam UU No.62/1958, antara lain: persetujuan (pengabulan) atau penolakkan permohonan pewarganegaraan, kini menjadi kewenangan Presiden; peran DPR dalam naturalisasi luar biasa hanya sebatas memberikan pertimbangan saja sedangkan kewenangan akhir pengabulan atau penolakkan, berada di tangan Presiden; pengucapan sumpah atau janji setia yang sebelumnya dilakukan di hadapan hakim atau perwakilan Republik Indonesia, kini dilakukan di depan pejabat yang ditunjuk Menteri Hukum dan HAM untuk menangani masalah kewarganegaraan.
Dalam politik bidang substansi hukum, baik UU No. 12/2006 maupun UU No.62/1958 telah memenuhi prinsip-prinsip yang melandasi politik hukum kewarganegaraan tentunya dengan disertai beberapa perbedaan dan persamaan sebagai berikut :
a. Prinsip semua orang bangsa Indonesia adalah WNI
Prinsip ini diatur lebih tegas dalam UU No.12/2006 dengan menempatkannya pada batang tubuh disertai dengan penjelasan yang baru sedangkan dalam UU No.62/1958 prinsip tersebut diatur
dalam penjelasan tanpa disertai penjelasan. Pemaknaan “bangsa Indonesia asli” dalam UU No.12/2006 disebut-sebut sebagai pasal yang menghapus diskriminasi karena sebelumnya istilah tersebut
dipersamakan dengan istilah “bumi putra” atau “pribumi” pada
masa Hindia Belanda sehingga tidak mencakup WNI keturunan. b. Prinsip non-immigrant state dan prinsip kebijaksanaan selektif
Kedua prinsip ini, dianut baik dalam UU No.12/2006 maupun UU No. 1962/1958 dengan memberikan pengaturan yang tidak mudah untuk mendapatkan status WNI, bahkan dalam hal naturalisasi luar biasa UU No.62/1958 memberikan syarat yang lebih berat, berupa pertimbangan DPR yang bentuk dapat saja fit and proper test. c. Prinsip sekali WNI tetap WNI
Prinsip ini tercermin dalam kedua UU di atas dengan memberikan syarat-syarat yang ketat dalam hal kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Bahkan UU No.12/2006 mengatur lebih ketat. Dalam hal
pengakuan anak yang belum berumur 18 tahun atau pengangkatan anak di bawah 5 tahun oleh WNA, tidak menyebabkan kehilangan status WNI bagi anak tersebut sesuai dengan asas kewarganegaraan ganda terbatas bagi anak yang belum berumur 18 tahun.
d. Prinsip anti apatride dan bipatride
Prinsip anti apatride dan bipatride, secara konsisten dianut dalam kedua UU di atas, walaupun UU No.12/2006 memberikan pengecualian dengan menerapkan asas kewarganegaraan ganda terbatas bagi anak sebelum berumur 18 tahun. Hal tersebut merupakan salah satu upaya memberikan perlindungan bagi anak hasil perkawinan campuran, anak yang diakui atau diangkat oleh WNA.
e. Prinsip asas ius sanguinis
ada dasarnya prinsip asas ius sanguinis menjadi asas yang dominan dalam kedua UU di atas. Akan tetapi, dilihat dari pihak yang dominan menentukan kewarganegaraan anak, UU No.12/2006 tidak memposisikan salah satu orang tua (baik ayah atau ibu) sebagai penentu kewarganegaraan anak, terutama dalam hal perkawinan campuran. Anak dari hasil perkawinan campuran, berhak mendapatkan status WNI dan status kewarganegaran lain jika negara asal orang tuanya (baik ibu maupun ayahnya) memberikannya kewarganegaraan (asas kewarganegaraan ganda
terbatas). Hal tersebut berbeda dengan UU No.62/1958 yang menempatkan ayah sebagai penentu kewarganegaraan. Dalam pandangan asas kewarganegaraan dari segi perkawinan, UU No.12/2006 cenderung menganut asas persamaan derajat.
f. Prinsip perkawinan tidak menghilangkan kewarganegaraan
Prinsip ini juga dianut kedua UU di atas. Dalam UU No.12/2006 maupun UU No.62/1958, kehilangan kewarganegaraan Indonesia bagi WNI yang kawin dengan WNA merupakan hak yang dapat dilakukan dengan cara menyampaikan pernyataan sepanjang tidak menyebabkan status apatride. Bagi WNA pasangannya, juga dapat melepaskan kewarganegaraan asalnya untuk mendapatkan status WNI dengan syarat bertempat tinggal di Indonesia dalam jangka waktu tertentu. Perbedaannya, UU No.12/2006 memberikan hak tersebut, baik kepada laki-laki atau pun perempuan WNA, sedangkan UU No.62/1958 hanya memberikan hak tersebut kepada perempuan WNA yang kawin dengan WNI.
Dalam hal politik bidang budaya hukum, proses pembentukkan UU No.12/2006 lebih bersifat partisipatif. Hal ini ditandai dengan banyaknya kelompok masyarakat yang terlibat pada proses pembahasan RUU sedangkan proses pembentukkan UU No.62/1958, hanya melibatkan DPR dan Pemerintah. Kenyataan tersebut, akan mendorong penegakkan UU No.12/2006 menjadi lebih efektif karena
masyarakat merasa memiliki produk hukum tersebut. Dari segi implementasi, UU No.12/2006 mengatur pemberian sanksi pidana bagi pejabat yang lalai atau dengan sengaja sehingga menyebabkan
’mengakibatkan seseorang kehilangan hak untuk memperoleh atau
memperoleh kembali dan/atau kehilangan kewarganegaraan Republik
Indonesia’ sedangkan dalam UU No.62/1958, ketentuan tersebut tidak diatur. Adanya sanksi pidana bagi pejabat, tampaknya dimaksudkan untuk menghindari praktek-praktek penyimpangan pada masa UU No.62/1958 berlaku, seperti dalam hal pemberian SBKRI.
2. Politik hukum kewarganegaraan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti dasar dan corak politik; tingkat perkembangan masyarakat; susunan masyarakat; dan pengaruh global. Politik hukum UU No.12/2006 dan UU No.62/1958 dipengaruhi faktor-faktor yang berbeda. Pembentukkan UU No.12/2006 sangat dipengaruhi oleh nuansa reformasi yang menekankan demokratisasi pembentukkan suatu rancangan undang-undang, terutama berupa optimalisasi peran serta masyarakat. Akibat globalisasi berupa pemajuan gagasan HAM, juga sangat mempengaruhi pembentukkan UU tersebut, dengan ditegaskannya asas non-diskriminasi, dan juga penghormatan terhadap HAM, terutama bagi perempuan dan anak.
Pembentukkan UU No.62/1958 sebenarnya juga dipengaruhi oleh faktor globalisasi tetapi hanya terbatas dengan hal-hal yang terkait dengan hubungan antar negara, yakni antara Indonesa dengan RRC yang pada waktu itu mengalami masalah seputar asas bipatride yang diterapkan oleh RRC. Terkait dengan itu, pembentukkan UU No.62/1958 hanya dipengaruhi oleh semangat anti bipatride. Sementara itu, faktor HAM tidak menjadi faktor yang berpengaruh pada pembentukkan UU No.62/1958, karena pada masa itu, diskursus mengenai HAM dalam hal kewarganegaraan, belum mengemuka.
B. Saran
1. Perlu dilakukan sosialisasi materi dan tujuan UU No.12/2006 dan peraturan pelaksananya kepada seluruh administrasi negara di tingkat pusat maupun daerah baik yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan bidang kewarganegaraan.
2. Sebaiknya Menteri Hukum dan HAM membentuk tim yang membantu menyusun pertimbangan yang terdiri berbagai instansi terkait, misalnya: Keimigrasian; Departemen Sosial; Departemen Dalam Negeri; Departemen Hukum dan HAM serta Badan Intelijen Negara, termasuk juga diberi kewenangan untuk menilai syarat- syarat lain, misalnya: kemampuan berbahasa Indonesia.
3. Penerapan sanksi pidana bagi pejabat perlu dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.