• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Menurut Syah (1999), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu sendiri, karena

dari faktor-faktor yang mempengaruhi belajarlah muncul siswa-siswa yang

high-achiever (berprestasi tinggi) dan under-achiever (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

tersebut dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

• Faktor Internal siswa

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek,

yakni: 1) aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah); 2) aspek

psikologis (yang bersifat rohaniah).

a. Aspek Fisiologis

Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai

tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat

mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti

pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai

pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah

cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajaripun kurang atau

tidak berbekas.

Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera

pendengaran dan penglihatan, juga sangat mempengaruhi

kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan

khususnya yang disajikan di kelas. Daya pendengaran dan

penglihatan siswa yang rendah akan menyulitkan sensory register

dalam menyerap item-item informasi yang bersifat echoic dan

iconic (gema dan citra). Akibat negatif selanjutnya adalah terhambatnya proses penyerapan informasi yang dilakukan oleh

sistem memori siswa tersebut.

b. Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat

mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran

siswa. Namun, diantara faktor-faktor tersebut yang dipandang

sangat esensial itu adalah sebagai berikut:

• Inteligensi siswa

Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan

psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri

dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Tingkat kecerdasan

atau inteligensi (IQ) sangat menentukan tingkat keberhasilan

belajar siswa. Ini bermakna semakin tinggi kemampuan

inteligensi seorang siswa, maka semakin besar peluangnya

meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan

inteligensi seorang siswa, maka semakin kecil peluangnya

untuk memperoleh sukses.

• Sikap siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa

kecenderungan untuk bereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun secara

negatif. Sikap (attitude) siswa yang positif merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya,

sikap negatif siswa dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa

tersebut. Selain itu, sikap terhadap ilmu pengetahuan akan

menimbulkan prestasi yang dicapai siswa kurang memuaskan.

• Bakat siswa

Secara umum bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki

seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan

datang. Dengan demikian sebetulnya setiap orang pasti

memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi

sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas

masing-masing. Jadi, bakat itu secara umum mirip dengan inteligensi.

Itulah sebabnya seorang anak yang berinteligensi sangat cerdas

(superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga dengan talented child, yakni anak berbakat.

Dalam perkembangan selanjutnya, bakat diartikan sebagai

kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa

banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.

Seorang siswa yang berbakat dalam bidang elektro misalnya,

akan jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan

keterampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut

dibandingkan dengan siswa yang lainnya. Inilah yang

kemudian disebut bakat khusus (specific aptitude) yang merupakan karunia inborn. Sehubungan dengan hal di atas, maka bakat dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi

belajar bidang-bidang tertentu.

• Minat siswa

Secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan

kegairangan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap

sesuatu. Menurut Reber (1988 dalam Syah, 1999), minat tidak

termasuk istilah yang populer dalam psikologi karena

ketergantungannya yang banyak terhadap faktor-faktor internal

lainnya, seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi,

dan kebutuhan. Namun terlepas dari populer dan tidaknya,

minat seperti yang dipahami dan dipakai oleh orang selama ini

dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa

dalam bidang-bidang studi tertentu.

• Motivasi siswa

Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme,

baik manusia maupun hewan, yang mendorongnya untuk

berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti

pemasok daya (Energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. (Gleitman, 1986; Reber, 1988 dalam Syah, 1999).

Dalam perkembangannya, motivasi dapat dibagi menjadi dua

macam, yaitu: 1) motivasi intrinsik, 2) motivasi ekstrinsik.

Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari

dalam diri siswa yang dapat mendorongnya melakukan

tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik adalah

perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi

tersebut.

Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang

datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk

melakukan kegiatan belajar. pujian dan hadiah, tata tertib

sekolah, suri teladan orang tua, guru, dan seterusnya

merupakan contoh dari motivasi ekstrinsik. Kekurangan atau

ketiadaan motivasi, baik yang bersifat internal maupun bersifat

eksternal, akan menyebabkan kurang bersemangatnya siswa

dalam melakukan proses pembelajaran baik di sekolah maupun

di rumah.

Dorongan mencapai prestasi dan dorongan memiliki

pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan, memberi

pengaruh yang lebih kuat dibandingkan dengan dorongan

hadiah atau dorongan keharusan dari orang tua dan guru.

• F

aktor self-efficacy

Selain dari faktor-faktor yang dikemukakan di atas tersebut,

dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif)

memainkan peran penting. Faktor person yang ditekankan Bandura ini adalah self-efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil

positif. Bandura mengatakan bahwa self-efficacy berpengaruh besar terhadap perilaku. Misalnya, seorang siswa yang self-efficacy-nya rendah mungkin tidak mau berusaha belajar untuk mengerjakan ujian karena dia tidak percaya bahwa belajar akan

membantunya mengerjakan soal (Santrock, 2007: 286).

Bandura percaya bahwa self-efficacy merupakan faktor penting yang mempengaruhi prestasi siswa. Siswa dengan self-efficacy

yang tinggi setuju dengan pernyataan “saya tahu bahwa saya

akan mampu menguasai materi ini” dan “saya akan bisa

mengerjakan tugas ini” (Santrock, 2007: 523).

Schunk (1991, 1999, 2001 dalam Santrock, 2007: 523)

mengaplikasikan konsep self-efficacy ini pada banyak aspek dari prestasi siswa. Menurutnya, konsep ini mempengaruhi

pilihan aktivitas oleh siswa. Siswa dengan self-efficacy yang rendah mungkin menghindari banyak tugas belajar, khususnya

yang menantang dan sulit. Sedangkan siswa dengan level self-efficacy yang tinggi mau mengerjakan tugas-tugas seperti itu. Siswa dengan level self-efficacy yang tinggi mungkin lebih tekun berusaha menguasai tugas pembelajaran ketimbang siswa

yang berlevel rendah.

• Faktor goal orientation

Selain itu, Matuga (2009) dalam penelitiannya mengemukakan

bahwa banyak faktor yang mempengaruhi pengembangan yang

dapat membantu pencapaian prestasi akademik. Salah satu

faktor tersebut adalah persepsi diri siswa sebagai motivasi

intrinsik atau ekstrinsik untuk terlibat dalam kegiatan belajar;

dalam lingkungan pendidikan yang biasa dikenal siswa sebagai

orientasi tujuan atau yang disebut goal orientation (Barron & Harackiewicz, 2001; Elliot & Thrash, 2001 dalam Matuga,

2009).

Hal tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan Schunk.

Schunk (1996 dalam Brown & Mathews, 2003: 107)

memimpin sebuah studi pada setting kelas untuk menyelidiki pengaruh prestasi goal orientation pada suatu bidang kemampuan tertentu. Sama halnya dengan sebuah penelitian

pada setting laboratorium, guru memberikan instruksi yang berbeda untuk learning dan performance goal. Hasil menunjukan bahwa siswa dengan learning goal memiliki motivasi dan orientasi lebih tinggi dari pada siswa dengan

performance goal. Hasil tersebut menunjukan bahwa bermacam-macam goal yang ada dalam kelas dapat mempengaruhi goal perception dan prilaku prestasi akademik. 2. Faktor eksternal siswa

Faktor eksternal siswa terdiri dari dua macam, yaitu: faktor

lingkungan sosial dan lingkungan non sosial.

a. Lingkungan sosial

Lingkungan sosial sekolah sepertu guru, para staf administrasi,

teman-teman sekelas, dapat mempengaruhi semangan belajar

seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukan sikap dan

perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik

dan rajin khususnya dalam hal belajar.

Selanjutnya yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah

masyarakat, tetangga, serta teman-teman sepermainan disekitar

perkampungan siswa tersebut. Kondisi masyarakat di lingkungan

sosial siswa, dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kondisi

belajar siswa ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat

orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan

demografi keluarga dapat memberi dampak baik ataupun buruk

terhadap kegiatan belajar dan hasil yang akan dicapai oleh siswa.

b. Lingkungan nonsosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non-sosial adalah gedung

sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal siswa dan keluarga,

alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan

siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat

keberhasilan belajar siswa.

3. F

aktor pendekatan belajar

Disamping faktor-faktor internal dan eksternal siswa, faktor

pendekatan belajar juga dapat berpengaruh terhadap taraf

keberhasilan proses pembelajaran siswa tersebut. Seorang siswa yang

terbiasa mengaplikasikan pendekatan belajar deep misalnya, sangat dimungkinkan untuk meraih prestasi belajar yang bermutu dari pada

siswa yang menggunakan pendekatan belajar surface atau

reproductive.

2.1.3. Dimensi-dimensi prestasi belajar

Pengukuran keberhasilan siswa dalam ranah kognitif, afektif, dan

psikomotorik dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu caranya

adalah dengan melakukan evaluasi belajar melalui Tes Prestasi Belajar.

Menurut Tardif (1989 dalam Syah, 1999: 176) evaluasi berarti proses

penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai

dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kunci pokok untuk memperoleh

ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar

indikator dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diukur atau

diungkapkan.

Aspek-aspek dan indikator yang hendak diukur dalam prestasi belajar

siswa meliputi:

1. Ranah kognitif

Indikator

• Pengamatan: dapat menunjukkan, dapat membandingkan, dapat menghubungkan

• Ingatan: dapat menyebutkan, dapat menunjukkan kembali

• Pemahaman: dapat menjelaskan, dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri

• Penerapan: dapat memberikan contoh, dapat menggunakan secara tepat

• Analisis: dapat menguraikan, dapat mengklasifikasikan

• Sintesis: dapat menghubungkan, dapat menyimpulkan, dapat mengeneralisasikan (Syah, 1999).

2. Ranah afektif

Indikator

• Penerimaan: menunjukkan sikap menerima, menunjukkan sikap menolak

• Sambutan: kesediaan berpartisipasi, terlibat, kesediaan memanfaatkan

• Apresiasi: menganggap penting dan bermanfaat, menganggap indah dan harmonis, mengagumi

• Internalisasi: mengakui, meyakini, mengingkari (Syah, 1999). 3. Ranah psikomotorik

Indikator

• Mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya

• Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal: mengucapkan, membuat mimik, gerakan jasmani (Syah, 1999).

2.2 Goal Orientation

2.2.1 Pengertian goal orientation

Teori goal orientation dikembangkan secara khusus untuk menjelaskan perilaku prestasi. Teori ini diciptakan oleh ahli psikologi perkembangan,

motivasi, dan pendidikan untuk menjelaskan kondisi belajar siswa dan

kinerja pada tugas-tugas akademik dan pengaturan sekolah. Dengan

demikian, teori goal orientation sangat relevan dengan pembelajaran dan pengajaran. (Anderman & Wolters, 2006; Pintrich, 2000a, 2000c, 2000d

dalam Pintrich & Schunk, 2008: 183).

Goal orientation adalah tujuan atau alasan untuk terlibat dalam perilaku prestasi (Pintrich, 2003 dalam Pintrich& Schunk, 2008: 184).

Berbeda dengan Locke dan Latham's (1990 dalam Pintrich& Schunk,

2008: 184), goal orientation berkaitan dengan mengapa individu ingin

didiskusikan tentang fokus pada bagian-bagian yang kemungkinan banyak

perbedaan goal yang dapat membimbing perilaku, dan goal orientation

tetap terfokus pada tujuan untuk pencapaian tugas (dalam Pintrich &

Schunk, 2008: 184).

Teori achievement goal menyatakan bahwa individu terlibat dalam kegiatan akademis untuk memenuhi tujuan yang berbeda. Beberapa

siswa termotivasi untuk berbuat baik karena mereka ingin mendapatkan

nilai "A" dalam belajar, sehingga ingin menunjukkan kepada diri mereka

sendiri, rekan mereka, profesor, dan orang tua, bahwa mereka pintar.

Beberapa siswa lainnya berusaha menghindari untuk memperlihatkan

kepada orang lain ketidakmampuan mereka untuk menjadi sesuatu.

Sedangkan siswa lain kurang peduli dengan menunjukkan kemampuan

mereka pada orang lain dan lebih fokus dengan pemahaman tentang materi

pelajaran dan mengembangkan kemampuan mereka dalam suatu domain

atau matery goal (Mattern, 2005: 27).

Menurut Stipek (2000), goal orientation merupakan bagian dari faktor kognitif dalam motivasi yang menjadi penggerak bagi individu

untuk mendekat dan menjauh dari suatu objek. Dengan demikian dapat

dinyatakan bahwa goal orientation merupakan faktor kognitif yang harus dimiliki oleh siswa. Goal orientation mempengaruhi pemilihan aktivitas dalam tugas-tugas akademik dan pemilihan pendekatan belajar (dalam

Suprayogi, 2007: 311).

Menurut Ames, goal orientation disebutkan sebagai gambaran integrasi pola belief yang memiliki peranan penting untuk membedakan pendekatan yang dipakai, cara menggunakan, dan respon terhadap situasi

prestasi (dalam Pintrich & Schunk, 2008: 184). Dua tipe dari goal orientation yang berkaitan dengan aktivitas dalam prestasi yaitu: mastery

(atau learning) goal dan performance goal. Ames mengatakan bahwa tipe

mastery dan performance ini menunjukkan perbedaan cara mencapai kesuksesan dan perbedaan alasan untuk ketertarikan dalam belajar (dalam

Ford, Smith, Weissbein, Gully, & Salas, 1998: 222).

Goal orientation adalah alasan mengapa mastery goal dikejar, tidak hanya performance goal (Urdan, 1997 dalam Pintrich & Schunk, 2008: 184). Goal orientation mencerminkan jenis standar dengan mana individu-individu menilai kinerja diri sendiri, keberhasilan atau kegagalan

dalam mencapai tujuan (Elliot, 1997; Pintrich, 2000a, 2000C, 2000d

dalam Pintrich & Schunk, 2008: 184)

Dapat disimpulkan bahwa goal orientation dalam penelitian ini adalah faktor kognitif yang dimiliki siswa yang menggambarkan integrasi

pola belief yang dimiliki sehingga dapat membedakan pendekatan belajar yang mereka pakai, cara menggunakan, yang mengarah pada berbagai cara

dalam merespon situasi berprestasi. Goal orientation merupakan orientasi yang mewakili keinginan untuk mengembangkan, mencapai, atau

menunjukkan kompetensi.

Siswa yang memiliki goal orientation yang berbeda dalam belajar, akan memiliki pandangan yang berbeda pula terhadap situasi

untuk berprestasi. Dalam penelitian ini, teori dari Ames digunakan sebagai

teori utama yang mengatakan bahwa goal orientation dapat dibedakan atas

mastery goal dan perfomance goal yang akan dibahas dalam sub selanjutnya.

2.2.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi goal orientation

Faktor-faktor yang mempengaruhi goal orientation dapat dibagi dalam dua faktor, yaitu faktor pribadi dan faktor lingkungan.

1. Faktor pribadi

• Penerimaan tujuan: Erez dan Zidon (dalam Suprayogi, 200: 313) mengatakan bahwa jika siswa mau menetapkan tujuan ataupun

mau menerima tujuan yang ditetapkan orang lain, motivasi

belajar akan muncul.

• Motivasi berprestasi: Motif ini merupakan motif unidimensi untuk mencapai performa yang sangat baik (Harackiewicz et. Al.,

1997 dalam Suprayogi, 2007: 313).

• Jenis kelamin: Masih banyak pertentangan mengenai jenis kelamin mana yang cenderung mengadopsi goal orientation

sehingga penelitian tentang jenis kelamin masih perlu terus

dilakukan (Pintrich & Schunk, 1996 (dalam Suprayogi, 2007:

313)

Self-efficacy: Bandura mengatakan bahwa siswa yang memiliki

self-efficacy yang tinggi cenderung menetapkan orientasi yang tinggi, tidak takut gagal, dan mampu bertahan ketika menemui

kesulitan dalam menguasai tugas yang sedang dikerjakan atau

tugas-tugas yang akan dibebankan selanjutnya (dalam Suprayogi,

2007: 313).

2. Faktor lingkungan

• Orang tua: Woolfolk, Locke, dan Latham mengatakan bahwa harapan, aspirasi, dan contoh dari orang tua akan mempengaruhi

perkembangan orientasi anak (dalam Suprayogi, 2007: 314).

• Kelompok etnik : penelitian mengenai hal ini masih sedikit dilakukan, namun ditemukan adanya perbedaan goal orientation

dari kelompok etnik yang berbeda (Pintrich & Schunk, 1996

dalam Suprayogi, 2007: 314).

• Iklim kelas: Ames mengenalkan enam area iklim kelas yang dapat mempengaruhi terbentuknya orientasi yang dimiliki siswa.

Keenam area tersebut adalah:

1). Tugas yang harus dikerjakan (Task)

2). Otonomi yang diberikan kepada siswa ketika sedang

mengerjakan tugas (Autonomy).

3). Pemberian penghargaan bagi prestasi belajar (Recognition) 4). Pengorganisasian kelas sehingga siswa dapat saling bekerja

sama dan berinteraksi (Grouping). 5). Pelaksanaan evaluasi (Evaluation)

6). Penggunaan waktu di kelas yang berkaitan dengan

penentuan waktu penyelesaian tugas oleh siswa dan

fleksibilitas jadwal kegiatan (Time) (dalam Suprayogi, 2007: 314).

Schunk (1996 dalam Brown & Mathews, 2003: 107)

memimpin sebuah studi pada setting kelas untuk menyelidiki pengaruh prestasi goal orientation pada suatu bidang kemampuan tertentu. Sama halnya dengan sebuah penelitian pada setting laboratorium, guru memberikan instruksi yang berbeda untuk learning dan performance goal. Hasil menunjukan bahwa siswa dengan learning goal memiliki motivasi dan prestasi lebih tinggi dari pada siswa dengan performance goal. Hasil tersebut menunjukan bahwa bermacam-macam goal yang ada dalam kelas dapat mempengaruhi goal perception dan prilaku prestasi akademik.

Prestasi goal orientation sangat penting sebagai prediktor hasil belajar siswa pada di lingkungan pendidikan. Para peneliti telah

memberikan perhatian yang lebih pada variabel lingkungan kelas yang

dibutuhkan untuk menguji learning goal orientation dengan

performance goal orientation (Church, Elliot, & Gable, 2001 dalam

Brown & Mathews, 2003: 107). Para peneliti telah menganjurkan

sebuah variabel seperti suatu instruksi dan manajemen praktik yang

digunakan guru dapat mempengaruhi tipe tujuan prestasi yang dimiliki

siswa (Ames & Ames, 1981; Kaplan & Maehr, 1999; Meece, 1991

dalam Brown & Mathews, 2003: 107). Salah satu dari instruksi dan

manajemen praktik yang digunakan guru di kelas adalah struktur

evaluasi yang digunakan guru pada praktik sehari-hari di kelas.

Dari penelitian di atas dapat dilihat bahwa struktur evaluasi

belajar yang digunakan di kelas juga dapat mempengaruhi goal orientation. Selanjutnya goal orientation yang berbeda tersebut dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar dan prestasi akademik siswa di

lingkungan sekolah. Siswa yang memiliki orientasi penguasaan

memiliki motivasi dan prestasi belajar yang lebih tinggi dari siswa

dengan orientasi pada kinerja. Hasil penelitian ini dapat menunjukan

bahwa struktur evaluasi yang digunakan guru di kelas harus di setting

sedemikian rupa agar siswa dapat menggunakan goal orientation yang mereka miliki dan kemudian menjadi salah satu faktor yang

mendukung prestasi belajar mereka.

Walaupun demikian, penelitian dari Printrich yang telah

dikemukakan sebelumya juga patut perhatikan. Hasil penelitian

tersebut mengungkapkan hasil bahwa siswa yang memiliki orientasi

tujuan ganda akan lebih baik dalam belajar dari pada siswa yang

memiliki satu orientasi tujuan saja. Karena dengan demikian, siswa

dapat meraih kedua tujuan secara sekaligus. Menguasai materi yang

diberikan guru secara mendalam dan mendapatkan nilai yang tinggi

pada hasil akhirnya. Hal ini tentu saja lebih baik dari pada siswa yang

memiliki satu orientasi tujuan saja.

2.2.3 Dimensi-dimensi goal orientation

Ada banyak teori dimensi goal orientation yang berbeda, tapi dua yang selalu diwakili dalam dimensi goal orientation adalah learning dan performance goal (Dweck & Leggett, 1988; Elliot & Dweck, 1988 dalam Pintrich & Schunk, 2008: 184) yang juga disebut sebagai task involved dan ego-involved goals (Nicholls, 1984 dalam Pintrich & Schunk, 2008: 184), mastery and

performancegoals, dan task-focused dan ability-focusedgoals.

Ada beberapa perbedaan pendapat di antara para peneliti tentang

apakah semua pasangan ini mewakili goals dengan konstruksi yang sama (Nicholls, 1990 dalam Pintrich & Schunk, 2008: 184), tetapi itu merupakan

konseptual yang cukup tumpang tindih dalam memperlakukan hal yang

serupa. Sebagai contoh, Pintrich dan rekan-rekannya mengukur goal orientation ekstrinsik dimana fokusnya adalah untuk mendapatkan nilai bagus, bersekolah untuk mendapatkan penghargaan dan hak istimewa, atau

menghindari masalah, juga dibahas peran goal orientation ekstrinsik dalam belajar dan prestasi. Nicholls dan koleganya menemukan dua goals lain, di

luar ego dan task-involved goals, yang mereka namakan work avoidance and academic alienation (Pintrich & Schunk, 2008: 186).

Tokoh-tokoh yang berbicara tentang goal orientation mengemukan dimensi-dimensi yang berbeda. Meskipun dimensi yang dikemukakan

berbeda-beda, namun inti dari setiap dimensi tersebut hampir sama, yaitu

orientasi pada penguasaan dan orientasi terhadap kinerja. Tokoh-tokoh yang

mengemukakan teori goalorientation diantaranya (Pintrich & Schunk, 2008: 185) :

• Dweck, dimensi yang dikemukakan adalah learning goal dan performance goal

• Ames, dimensi yang dikemukakan adalah mastery goal dan performance goal

• Midgley dan Colleagues, dimensi yang dikemukakan adalah task-focused, performance approach, dan performance avoid

• Nicholls, dimensi yang dikemukakan adalah task orientation dan ego orientation

Berdasarkan beberapa istilah goals yang telah dikemukakan yang hampir sama maksudnya dalam penelitian ini, peneliti mengambil dimensi

dari grandtheory yang dikemukakan oleh Ames yang menyatakan bahwa goal orientation memiliki dua dimensi, yaitu mastery goals dan performance goals.

1) Mastery goals (Orientasi Penguasaan)

Mastery goal orientation didefinisikan sebagai fokus pada pembelajaran, menguasai tugas sesuai dengan aturan standar diri atau peningkatan diri,

mengembangkan keterampilan baru, meningkatkan atau mengembangkan

kompetensi, berusaha untuk mencapai sesuatu yang menantang, dan

mencoba untuk mendapatkan pemahaman atau wawasan. Mastery atau

performance goals umumnya diukur dengan instrumen laporan diri yang meminta siswa untuk menilai dalam skala tipe Likert berapa banyak

mereka setuju dan tidak setuju dengan deskripsi tertentu. Terlihat jelas

dari tabel yang telah dikemukakan di atas bahwa ada sedikit tumpang

tindih, paling tidak dalam hal pengukuran, istilah yang berbeda antara

mastery, learning, dan task orientation (Pintrich & Shcunk, 2008: 184). Menurut Ames (dalam Arias, 2004), hal ini disebut sebagai task goal atau mastery goal. Pintrich (dalam Arias, 2004) mengatakan bahwa jenis ini mengarahkan tujuan siswa ke arah pendekatan pembelajaran

yang ditandai oleh kepuasan atas penguasaan atau penyelesaian tugas,

dengan tingkat keberhasilan yang lebih besar, nilai tugas, emosi positif,

upaya positif, ketekunan yang lebih besar, penggunaan kognitif dan

strategi lebih besar, dan berkelakuan baik.

Dweck (dalam Arias, 2004) mengatakan bahwa mastery goal

memungkinkan individu mencari peluang untuk meningkatkan

kompetensi dan menguasai tantangan baru. Siswa yang mengejar mastery goal memperhatikan pengembangan kemampuan mereka dari waktu ke waktu dan memperoleh keterampilan yang dibutuhkan untuk menguasai

suatu tugas tertentu. Ketika individu dengan mastery goal mengalami kegagalan, mereka menafsirkan peristiwa tersebut sebagai kurangnya

Dokumen terkait