• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uji analisis data yang diuraikan sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

a. Hampir sebagian (45,71%) santri memiliki mastery goal orientation, dan

hampir sebagian lainnya (40,95%) santri memiliki performance goal

orientation, hanya 13,33% santri yang memiliki orientasi seimbang antara

mastery dan performance goal. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa lebih banyak santri yang memiliki mastery goal orientation adalah

yang paling banyak.

b. Pada umumnya (81,9%) santri memiliki self-efficacy sedang, hanya

11,42% santri yang memiliki self-efficacy yang tinggi, dan 6,6% santri

yang memiliki self-efficacy rendah. Maka dapat disimpulkan bahwa pada

umumnya santri Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut memiliki

self-efficacy sedang.

c. Sebagian besar (58,09%) santri memiliki prestasi belajar sedang, hanya

(20,09%) santri memiliki prestasi belajar tinggi, dan juga hanya 20,09% santri yang memiliki prestasi belajar rendah. Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar santri Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut memiliki prestasi belajar rendah.

d. Ada perbedaan prestasi belajar antara santri yang tergolong miliki

performance goal orientation dengan santri yang tergolong memiliki

mastery goal orientation. Dalam hal ini santri dengan mastery goal orientation memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada santri

dengan performance goal orientation.

e. Tidak ada hubungan yang signifikan self-efficacy dengan prestasi belajar

santri Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut.

f. Goal orientation dan self-efficacy hanya memberikan kontribusi sebesar 0,7% terhadap variabel prestasi belajar santri Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut.

5.2 Diskusi

Penelitian ini bertujuan untuk melihat klasifikasi goal orientation, tingkatan

self-efficacy, dan tingkatan prestasi belajar santri Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar

santri yang memiliki orientasi performance dengan santri yang memiliki orientasi

mastery, hubungan self-efficacy dengan prestasi belajar, dan seberapa besar

kontribusi goal orientation dan self-efficacy terhadap prestasi belajar pada santri

Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut.

Dari hasil penyebaran instrumen goal orientation dilketahui bahwa lebih

banyak santri dengan mastery goal orientation dari pada santri dengan

performance goal orientation. Ini berarti lebih banyak santri yang berorientasi untuk menguasai materi secara mendalam dan menggali sebanyak-banyaknya

pengetahuan dari apa yang telah diajarkan oleh guru di kelas. Meskipun mereka tetap berpacu untuk berprestasi lebih, namun hal tersebut bukanlah tujuan utama dari kegiatan belajar mereka.

Santri dengan mastery goal orientation tersebut akan cenderung lebih

menyukai tantangan baru dan terus berusaha untuk meningkatkan kompetensi

yang dimiliki. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Dweck (dalam Arias, 2004)

bahwa mastery goal memungkinkan individu mencari peluang untuk meningkatkan kompetensi dan menguasai tantangan baru.

Sedangkan santri dengan performance goal orientation akan lebih fokus

pada citra diri, nilai tinggi dan selalu menjadi yang terdepan seperti yang

dikemukakan Santrock (2007) bahwa Performance orientation lebih memperhatikan

hasil dari pada proses. Bagi siswa yang berorientasi kinerja atau prestasi, kemenangan atau keberhasilan itu penting dan kebahagiaan dianggap sebagai hasil dari kemenangan atau keberhasilan

Berdasarkan hasil uji perbedaan juga mendukung dugaan bahwa memang

ada perbedaan prestasi belajar antara santri dengan mastery goal orientation

dengan santri dengan performance goal orientation. Dari kedua dimensi tersebut,

santri yang dengan dimensi mastery memiliki prestasi yang lebih tinggi dari pada

santri dengan dimensi performance. Hasil ini senada dengan penelitian Mattern

(2005: 30) yang menunjukkan bahwa siswa dengan mastery goal orientation memiliki

level prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada siswa dengan performance goal orientation. Siswa yang mengejar mastery goal lebih cenderung mencari tantangan, menggunakan strategi pembelajaran efektif yang lebih tinggi, termasuk strategi metakognitif, pelaporan dan sikap terhadap sekolah yang lebih positif, dan memiliki

tingkat self-efficacy yang lebih tinggi (kepercayaan pada kemampuan diri untuk berhasil dalam situasi tertentu) daripada orang-orang yang mengejar performance goal.

Meskipun demikian, perbedaan orientasi belajar pada santri Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut bisa disikapi dengan bijaksana. Ke arah manapun orientasi mereka dalam belajar, santri tetap perlu dibimbing untuk mendapatkan prestasi yang bagus. Dipungkiri atau tidak bahwa prestasi belajar tinggi dapat memuaskan individu dan orang-orang yang berada disekitarnya. Terlebih lagi saat ini prestasi belajar telah menjadi tolak ukur keberhasilan belajar seseorang. Meskipun demikian akan lebih baik bila santri dapat lebih diarahkan untuk memiliki mastery goal orientation agar selain untuk memperoleh prestasi tinggi, santri juga terpacu untuk menguasai pelajaran dan mencapai kompetensi.

Hasil korelasi antara self-efficacy dengan prestasi belajar menunjukkan

bahwa tidak ada hubungan yang signifikan. Namun bila dilihat dari hasil

persentase prestasi belajar dan self-efficacy mengungkapkan bahwa sebagian besar

sampel memiliki tingkat self-efficacy sedang dengan persentase yang cukup besar,

yaitu 81,9% dan berdasarkan hasil persentase variabel prestasi belajar, sebagian besar santri juga memiliki prestasi belajar yang sedang.

Apabila semua perangkat penelitian telah sesuai prosedur, tidak adanya

korelasi positif antara self-efficacy dengan prestasi belajar dapat menjadi suatu

fakta baru bahwa tidak selalu self-efficacy yang tinggi diikuti dengan prestasi

belajar yang tinggi, dan sebaliknya self-efficacy rendah tidak selalu diikuti oleh

prestasi belajar rendah pula. Dapat dimungkinkan sebagian besar prestasi belajat

yang tinggi tersebut dipengaruhi oleh variabel lain selain self-efficacy.

Menurut peneliti, banyak hal yang menjadikan hipotesis tersebut tidak berkorelasi terutama pada variabel prestasi belajar. Peneliti tidak membuat sendiri instrument pengukuran untuk prestasi belajar, sehingga memungkinkan adanya error yang tidak dapat dikontrol oleh peneliti. Error tersebut diantaranya:

1. Faktor prestasi belajar

• Peneliti tidak membuat soal-soal atau alat ukur prestasi belajar sehingga

peneliti tidak dapat melihat apakah item-item yang diujikan kepada santri telah sesuai dengan ketentuan tepat atau tidaknya alat ukur.

• Peneliti tidak terjun langsung memberikan soal-soal uji prestasi belajar

sehingga peneliti tidak tahu kondisi lingkungan saat soal-soal tersebut diberikan. Apakah berada pada ruang yang kondusif dan nyaman, atau berada pada suasana yang tidak tenang.

• Peneliti tidak mengawasi jalannya ujian secara langsung dan tidak

mengetahui bagaimana proses pengawasan tersebut dilakukan oleh guru sehingga dimungkinkan adanya perilaku cheating atau hal lainnya yang dapat membuat santri mengisi soal tidak berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.

• Peneliti tidak mengetahui apakah ada nilai subjektif guru dalam proses

penilaian hasil ujian tersebut. Dipungkiri atau tidak, sedikit atau banyak, terkadang nilai subjektif terhadap siswa dapat terjadi. Meskipun guru tidak menyadarinya, hal tersebut dapat membuat hasil belajar tidak sesuai dengan kemampuan siswa seharusnya.

2. Faktor Self-efficacy

Tidak menutup kemungkinan adanya social disability ketika sampel

mengisi skala self-efficacy yang diberikan. Sampel dapat melakukan facking

good atau mengisi tidak sesuai kenyataan pada diri. Hal ini dimungkinkan

karena ada perasaan tidak ingin terlihat buruk setelah hasil penelitian didapatkan.

Masih banyak hal lain yang dapat mempengaruhi tidak adanya hubungan

pada hipotesis tersebut. Misalnya instrumen pengukuran self-efficacy yang

kurang bagus atau kurang mewakili dimensi self-efficacy seharusnya atau karena

banyaknya faktor lain yang mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar.

Self-efficacy santri di pesantren persatuan Islam Tarogong Garut tidak terlalu berpengaruh terhadap prestasi belajar sehingga menghasilkan hubungan yang tidak signifikan.

Sementara penelitian lainnya seperti penelitian Mutiah (2006) menyatakan

bahwa Semakin tinggi self-efficacy siswa, maka semakin tinggi kekuatannya

untuk mengerjakan tugas. Begitu pula dengan hasilnya akan menunjukkan kearah yang lebih baik. Penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan

antara self-efficacy dengan prestasi belajar. Perbedaan hasil penelitian ini ini bisa

dijadikan bahan pertimbangan untuk peneliti selanjutnya.

Bila dilihat secara keseluruhan, variabel goal orientation dan self-efficacy

memiliki kontribusi yang tidak terlalu besar terhadap variabel prestasi belajar, yaitu sebesar 0,7%. Hal ini menunjukkan bahwa banyak variabel lain yang mempengaruhi prestasi belajar santri Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut.

Hasil ini dapat menjadi bahan rujukan untuk peneliti prestasi belajar selanjutnya

bahwa salah satu variabel yang berkontribusi terhadap prestasi belajar adalah goal

orientation dan self-efficacy meskipun dalam persentase yang tidak terlalu besar.

5.3 Saran

Setelah melihat hasil-hasil penelitian, peneliti mengajukan beberapa saran yang kiranya dapat menjadi pertimbangan untuk pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini, atau untuk peneliti selanjutnya. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut:

5.3.1 Saran teoritis

a. Peneliti selanjutnya hendaknya lebih memahami literatur yang ada agar

dapat membuat instrument yang lebih baik dari penelitian sebelumnya.

b. Bila akan diadakan penelitian lanjutan tentang prestasi belajar, dianjurkan

agar peneliti membuat instrumen pengukuran prestasi belajar dan mengujikannya secara langsung kepada sampel, tidak mengambil dari hasil prestasi yang sudah tersedia di lembaga atau individu yang dijadikan sampel. Karena dengan membuat instrumen pengukuran sendiri, peneliti dapat mengontrol item-item yang diberikan agar sesuai dengan target prestasi yang diharapkan dalam penelitian tersebut. Pengujian instrumen

secara langsung dapat meminimalisir adanya error lain, seperti cheating,

kondisi sampel, kondisi ruangan, dan lain sebagainya.

5.3.2 Saran praktis

a. Pihak lembaga Pesantren Persatuan Islam Tarogong Garut hendaknya

memahami goal orientation dan self-efficacy yang dimiliki oleh santri.

Pemahaman yang baik tentang diri santri dapat membantu pihak pesantren untuk meningkatkan prestasi belajar, menjalankan proses kegiatan belajar mengajar yang lebih sesuai, dan memberikan tindak lanjut yang tepat untuk hasil belajar yang telah ada. Pihak lembaga hendaknya lebi memperhatikan kebutuhan dan pemahaman santri terhadap materi, tidak hanya memenuhi tuntutan kurikulum saja.

b. Pihak Pesantren lebih memperhatikan cara belajar santri agar potensi dan

kemampuan yang mereka miliki dapat dikembangkan dengan lebih baik.

Bila santri akan diarahkan untuk memiliki goal secara mastery, maka

santri harus diberikan metode belajar yang sesuai dengan cara belajar yang cocok untuk mereka. Dengan memberikan perhatian lebih pada cara belajar santri, dengan demikian pihak Pesantren telah membantu agar santri memcapai prestasi yang lebih baik.

Begitu juga apabila para santri mengetahui apa itu self-efficacy. Persepsi

diri santri harus diluruskan pada sesuatu yang sidatnya lebih realistis. Tidak menuntut diri terlalu tinggi, memahami bahwa semua adalah proses, dan menyerahkan hasilnya pada Allah SWT. Hal ini mesti diarahkan karena ada kemungkinan mereka menuntut diri terlalu keras dan terlalu ideal sehingga hasil yang sudah memadai pun dianggap belum cukup.

87

Dengan diarahkannya persepsi diri santri menjadi lebih real, santri akan mulai berpikir lebih realistis dan dapat menerima hasil yang diperoleh.

c. Untuk orang tua dan keluarga hendaknya memberi dukungan penuh dan

menciptakan suasana yang kondisif untuk kegiatan belajar anak. Karena dukungan penuh dan lingkungan belajar yang kondusif dapat membuat anak lebih nyaman dalam belajar sehingga dimungkinkan adanya peningkatan prestasi belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. (2004). Psikologi kepribadian. Malang: UMM Press

Arias, J.F. (2004). Recent perspectives in the studi of motivation: goal orientation theory. Electronic journal of research in educational psychology:. Departement of developmental psychology and education universidad de Almeria.

Bandura, A. (1986). Social Foundations of thought and action: a social cognitive theory. New Jersey: Prentice Hall

Brown, J.D. (1998). The self. United States of America: The Mcgraw-hill Companies, inc.

Djiwandono, S.E.W. (2006). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.

Ford, J.K., Smith, E.M., Weissbein, D.A. & etc. (1998). Relationship of goal orientation, metacognitive activity, and practice stategies with learning outcomes and transfer. Journal of educational psycholagy.

Friedman, Howard S., & Schustack, Miriam W. (2006). Kepribadian teori klasik dan riset modern. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hawadi, R.A., & Yahrini, E.K. (2008). Jurnal keberbakatan dan kreatifitas. Gifted review. Pusat Keberbakatan: Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Depok.

Lane, J., Lane, A.M., & Kyprianou, A. (2004). Social behavior and personality: self-efficacy, self-esteem, and their impact on academic performance.

Society for personality research: UK.

Mattern, R.A. (2005). College student's goal orientations and achievement.

International journal of teaching and learning in higher education:. USA: University of Delaware

Matuga, J. M. (2009). Self-Regulation, goal orientation, and academic achievement of secondary students in online university courses.

Educational technology & society: Bowling Green State University, Bowling Green Ohio, USA

Mutiah, D. (2006). Hubungan self-efficacy dengan prestasi belajar akademik mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Penelitian individual. Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nazir, M. (2003). Metode penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. Eds.k-5. Nisa, Y.F. (2008). Diktat psikologi eksperimen. Jakarta: Fakultas Psikologi UIN

Jakarta.

Pintrich, P.R. (2000). Multiple goals, multiple pathways: the role of goal orientation in learning and achievement. Journal of educational psycholagy.

Pintrich, P.R. & Schunk, D.H. (1996). Motivation in education: theory, research, and applications. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

Prastiti, S.D., & Pujiningsih, S. (2009). Pengaruh faktor preferensi gaya belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa akuntansi. Jurnal ekonomi bisnis. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

Roebken, H. (2007). The influence of goal orientation on student satisfaction, academic engagement and achievement. Electronic Journal of research in educational psychology. Departement of Education, University Of Oldenburg.

Santrock, J. W. (2007). Psikologi pendidikan, edisi kedua. Jakarta: Kencana Self-Brown, S.R. & Mathews, S. II.. (2003). Effects of classroom structure on

student achievement goal orientation. University of west florida. Vol. 97 (no. 2).

Stipek, D. (2002). Motivation to learn integrating theory and practice. Boston: Allyn and Bacon.

Sukandarrumi. (2004). Metodologi penelitian: petunjuk praktis untuk peneliti pemula. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Cet.k-2.

Suprayogi, M.N. (2007). Jurnal of psychology. Tazkiya. Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Syah, M. (1999). Psikologi belajar. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.

Umar, J., Muchtar, D.Y., Dewi. M.S., Luthfi, I., & Miftahuddin. (2009). Analysis of determinants of learning outcomes using data from the trends in

international mathematics and science study (timss). Jakarta: Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional.

Dokumen terkait