• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Suku Bunga

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH ERFA MIRANDA SITEPU (Halaman 50-0)

Agar keuntungan yang diperoleh bank dapat maksimal, maka pihak manajemen bank harus pandai dalam menetukan besar kecilnya komponen suku bunga. Hal ini disebabkan apabila salah dalam menentukan besar kecilnya komponen suku bunga maka akan dapat merugikan bank itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan suku bunga yaitu:

1. Kebutuhan Dana

Faktor kebutuhan dana dikhususkan untuk dana simpanan yaitu, seberapa besar kebutuhan dana yang diinginkan. Apabila bank kekurangan dana, sementara permohonan pinjaman meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar dan tersebut cepat terpenuhi adalah dengan meningkatakan suku bunga simpanan.

Namun peningkatan suku bunga simpanan juga akan meningkatkan suku bunga pinjaman. Sebaliknya apabila dana yang ada dalam simpanan di bank banyak, sementara permohonan pinjaman sedikit maka bung simpanan akan turun.

2. Target Laba yang Diinginkan

Faktor ini dikhususkan untuk bunga pinjaman. Hal ini disebabkan target laba merupakan salah satu komponen dalam menentukan besar kecilnya suku bunga pinjaman. Jika laba yang diinginkan besar maka bunga pinjaman juga besar dan demikian sebaliknya. Namun untuk menghadapi pesaing target laba dapat diturunkan seminimal mungkin.

3. Kualitas Jaminan

Kualitas jaminan juga diperuntukkan untuk bunga. Semakin likuid jaminan (mudah dicairkan) yang diberikan, maka semakin rendah bunga kredit yang dibebankan dan demikian sebaliknya.

4. Kebijaksanaan Pemerintah

Dalam menentukan bunga simpanan maupun bunga pinjaman, bank tidak boleh mlebihi batasan yang sudah ditetapkan oleh

pemerintah. Artinya ada batasan maksimal dan ada batasan minimal.untuk suku bunga yang diizinkan. Tujuannya adalah agar bank dapat bersing sacara sehat.

5. Jangka Waktu

Baik untuk bunga simpanan maupun bunga pinjaman, faktor jangka waktu sangat menentukan. Semakin panjang jangka waktu pinjaman, maka semakin tinggi bunganya. Hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko macet dimasa mendatang. Demikian pula sebaliknya jika pinjaman berjangka waktu pendek, maka bunganya relatif rendah. Akan tetapi untuk bunga simpanan berlaku sebaliknya, semakin panjang jangka waktu maka bunga simpanan semakin rendah dan sebaliknya.

6. Reputasi Perusahaan

Reputasi perusahaan juga sangat menentukan suku bunga terutama untuk bunga pinjaman. Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit sangat menentukan tungkata suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena biasanya perusahaan yang bonafid kemungkinan resiko kredit macet dimasa mendatang relatif kecil dan demikian sebaliknya perusahaan yang kurang bonafid factor resiko kredit macet cukup besar.

7. Produk yang Kompetitif

Produk yang kompetitif sangat menentukan besar kecilnya pinjaman. Kompetitif maksudnya adalah produk yang dibiayai sangat laku di pasaran. Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang diberikan relatif rendah jika dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. Hal ini disebabkan produk yang kompetitif tingkat perputaran produknya tinggi sehingga pembayarannya diharapkan lancar.

8. Hubungan Baik

Biasanya bunga pinjaman dikaitkan dengan factor kepercayaan kepada seseorang atau lembaga. Dalam prakteknya, bank menggolongkan nasabahnya antara nasabah uatam (primer) dan nasabah biasa (sekunder).

9. Persaingan

Dalam kondisi tidak stabil dan bank kekurangan dana sementara maka tingkat persaingan dalam memperebutkan dana simpanan cukup ketat, maka bank harus bersaing ketat dengan bank lainnya.

2.6. Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah 2.6.1. Pengertian Bank Umum Syariah

Menurut Muhammad (2005:1) Bank syariah adalah “bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank Islam atau biasa disebut dengan Bank Tanpa Bunga, adalah lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW”.

Menurut Rodoni (2008:14) Bank syariah yaitu “bank yang dalam aktivitasnya, baik dalam penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah”.

Menurut Mufraini (2008:17) Bank syariah adalah lembaga keuangan yang tata cara beroperasinya dalam penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dana, memberikan dan mengenakan imbalan didasarkan pada tata cara bermuamalat secara Islami atau prinsip syariah, yakni mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Hadits atau dengan kata lain, bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasian disesuaikan dengan prinsip syariah Islam”.

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan Bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam dalam operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam.

2.6.2.Tujuan Bank Umum Syariah

Menurut Sudarsono (2008:43) Bank syariah mempunyai beberapa tujuan diantaranya sebagai berikut :

1. Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk ber-muamalah secara Islam, khususnya muamalah yang berhubungan dengan perbankan, agar terhindar dari praktek-praktek riba atau jenis-jenis usaha/perdagangan lain yang mengandung unsur gharar (tipuan), dimana jenis-jenis usaha tersebut selain dilarang dalam Islam, juga telah menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.

2. Untuk menciptakan suatu keadilan dibidang ekonomi dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana.

3. Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang usaha yang lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada kegiatan usaha yang produktif, menuju terciptanya kemandirian usaha.

4. Untuk menanggulangi masalah kemiskinan, yang pada umumnya merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang. Upaya bank syariah didalam mengentaskan kemiskinan ini berupa pembinaan nasabah seperti: program pembinaan pengusaha produsen, pembinaan pedagang perantara, program pembinaan konsumen, program pengembangan modal kerja dan program pengembangan usaha bersama.

5. Untuk menjaga stabilitas ekonomi moneter, dengan melalui aktivitas perbankan syariah akan mampu menghindari pemanasan ekonomi yang diakibatkan oleh adanya inflasi, menghindari persaingan usaha yang tidak sehat antara lembaga keuangan. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap bank nonsyariah.

2.6.3. Fungsi dan Peran Bank Umum Syariah

Menurut Sudarsono (2008:43) Fungsi dan peran bank syariah yang tercantum dalam pembukuan standar akuntansi yang dikeluarkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organizing for Islamic Financial Institution), yaitu sebagai berikut :

1). Manajer Investasi, bank syariah dapat mengelola investasi dana nasabah.

2). Investor, bank syariah dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya.

3). Penyedia jasa keuangan dan lalu-lintas pembayaran, bank syariah dapat melakukan kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana mestinya.

4). Pelaksanaan kegiatan sosial, sebagai ciri yang melekat pada entitas keuangan syariah, bank Islam juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministrasikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya.

Pada dasarnya tiga fungsi utama perbankan (menerima titipan dana, meminjamkan uang dan jasa pengiriman uang) adalah boleh dilakukan,

kecuali bila dalam pelaksanaan fungsi perbankan tersebut dilarang menurut syariah. Praktek perbankan konvensional yang dikenal saat ini, fungsinya menggunakan sistem bunga dan dapat digolongkan sebagai transaksi riba.

2.6.4. Kelebihan Bank Umum Syariah

Kelebihan bank umum syariah adalah sebagai berikut :

1). Dengan adanya negosiasi antara pihak nasabah dengan pihak bank, tercapai suatu hal yang saling menguntungkan, maka dengan prinsip ini kedua belah pihak akan merasa saling diuntungkan.

2). Dengan menggunakan prinsip jual beli, apabila nasabah hendak menaikan usahanya tetapi kekurangan alat angkut untuk kegiatan produksinya, maka dapat mengajukan pembiayaan, sehingga dapat menerima alat angkut dengan resiko yang lebih rendah dari pada dengan pinjaman kredit ke bank konvensional.

3). Dapat mendorong para pengusaha kecil untuk dapat lebih mengembangkan usahanya dengan baik yaitu dengan adanya bantuan dari pihak bank syariah.

4). Resiko kerugian yang diterima baik nasabah maupun bank dengan menggunakan prinsip jual beli. Hal ini dikarenakan apabila terjadi kerugian, maka kerugian tersebut dibagi menurut perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.

5). Pihak bank akan mendapatkan banyak nasabah dengan menggunakan prinsip jual beli, karena menggunakan prinsip kreditur dan debitur

sehingga bank yang dapat menentukan margin yang akan ditetapkan dan nasabah dapat dijadikan agen.

2.6.5. Perbedaan Bank Umum Syariah dengan Bank Konvensional

Menurut Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, perbankan nasional Indonesia menganut dual banking system yaitu, sistem perbankan konvensional dan sistem perbankan syariah.

Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 2.1

Perbedaan Bank Umum Syariah dan Bank Konvensional

No Bank Syariah

(Sistem Bagi Hasil)

Bank Konvensional (Sistem Bunga) 1 Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat

pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi

Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akda dengan pedoman harus selalu untuk pihak bank 2 Besarnya nisbah bagi hasil berdasarkan

pada jumlah keuntungan yang diperoleh

Besarnya persentase berdasarkan jumlah uang (modal) yang

dipinjamkan 3 Jumlah pembagian bagi hasil meringkat

sesuai dengan peningkatan jumlah 4 Bagi hasil tergantung pada keuntungan

proyek yang dijalankan. Jika proyek itu tidak mendapatkan keuntungan maka

Pihak bank menerima beban pembayaran bunga pada nasabah, walaupun

kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.

kondisi perekonomian tidak stabil.

2.6.6. Deposito Mudharabah

2.6.6.1. Pengertian Mudharabah

Menurut (Nurianto, 2010:35) Deposito adalah bentuk simpanan yang mempunyai jumlah minimal tertentu, jangka waktu tertentu dan hasilnya lebih tinggi daripada tabungan.

Nasabah membuka deposito dengan jumlah minimal tertentu dengan jangka waktu yang telah disepakati, sehingga nasabah tidak dapat mencairkan dananya sebelum jatuh tempo. Produk penghimpunan dana ini biasanya dipilih oleh nasabah yang memiliki kelebihan dana, sehingga selain bertujuan untuk menyimpan dananya, bertujuan pula untuk salah satu sarana berinvestasi

Menurut Siamat (2005:284) Deposito berjangka adalah

“simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian antara nasabah penyimpan dengan bank”.

Menurut Rivai (2007:417) Deposito berjangka adalah

“simpanan pihak ketiga (rupiah dan valuta asing) yang diterbitkan atas nama nasabah pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antar penyimpan dengan bank yang bersangkutan”.

Menurut Antonio (2009:95) “Mudharabah berasal dari kata dharb, berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usahanya”.

Menurut Rivai (2007:471) Mudharabah adalah “sistem kerja sama usaha antara dua pihak atau lebih di mana pihak pertama (shahib al-mâl) menyediakan seluruh (100%) kebutuhan modal (sebagai penyuntik sejumlah dana sesuai kebutuhan pembiayaan suatu proyek), sedangkan nasabah sebagai pengelola (mudharib) mengajukan permohonan pembiayaan dan untuk ini nasabah sebagai pengelola (mudharib) menyediakan keahliannya”. .

Menurut Rodoni dan Hamid (2008:27-28) Mudharabah adalah “bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan”.

Dari beberapa pendapat di atas, maka pengertian deposito smudharabah adalah simpanan masyarakat yang disimpan kepada bank, dapat berupa rupiah ataupun valuta asing dimana penarikannya hanya dapat dilakukan pada jangka waktu yang telah ditentukan dan disepakati antara nasabah dengan pihak bank dalam baik dengan prinsip syariah (bagi hasil) dengan akad

mudharabah. Biasanya memiliki jangka waktu 1, 3, 6 dan 12 bulan.

2.6.6.2. Jenis-jenis Mudharabah

Menurut Nurhayati (2013) Mudharabah memiliki tiga jenis, yaitu mudharabah muthlaqah, dan mudarabah muqayyadah, mudharabah musyarakah berikut ini adalah penjelasan tentang ketiga jenis mudarabah, yaitu :

1. Mudarabah Muthlaqah

Mudharabah Muthalaqah adalah Mudharabah di mana pemilik dananya memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya. Mudharabah ini disebut juga investasi tidak terikat. Jenis mudharabah ini tidak ditentukan masa berlakunya, di daerah mana usaha tersebut akan dilakukan, tidak ditentukan line of trade, line of industry, atau line of service yang akan dikerjakan. Namun kebebasan ini bukan kebebasan yang tak terbatas sama sekali. Modal yang ditanamkan tetap tidak boleh digunakan untuk membiayai proyek atau investasi yang dilarang oleh Islam seperti untuk keperluan spekulasi, perdagangan minuman keras (sekalipun memperoleh izin dari pemerintah), berkaitan dengan riba dan lain sebagainya. Dalam mudharabah muthalaqah, pengelola dana memiliki kewenangan untuk melakukan apa saja dalam pelaksanaan bisnis bagi keberhasilan tujuan mudharabah itu.

Namun, apabila ternyata pengelola dana melakukan kelalaian atau kecurangan, maka pengelola dana harus bertanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkannya, sedangkan apabila terjadi kerugian atas usaha itu, yang bukan karena kelalaian dan kecurangan pengelola dana maka kerugian itu akan di tanggung oleh pemilik dana.

2. Mudharabah Muqyyadah

Mudharabah muqayyadah adalah mudharabah di mana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola antara lain mengenai dana lokasi, cara, dan atau objek investasi atau sektor usaha. Misalnya, tidak mencampurkan dana yang dimiliki oleh pemilik dana dengan dana lainnya, tidak menginvestasikan dananya pada transaksi penjualan cicilan tanpa penjamin atau mengharuskan pengelola dana untuk melakukan investasi sendiri tanpa melalui pihak ketiga.

Mudhrabah jenis ini disebut juga investasi terikat. Apabila pengelola dana bertindak bertentangan dengan syarat-syarat

yang diberikan oleh pemilik dana, maka pemilik dana harus bertanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkannya, termasuk konseksuensi keuangan.

3. Mudharabah Musytarakah

Mudharabah Musytarakah adalah mudhrabah di mana pegelola dana menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama investasi. Diawal kerja sama, akad yang disepakati adalah akad mudharabah dengan modal 100% dari pemilik dana, setelah berjalannya operasi usaha dengan pertimbangan tertentu dan kesepakatan engan pemilik dana, pengelola dana ikut menanamkan modalnya dalam usaha tersebut jenis mudharabah seperti ini disebut mudhrabah musytarakah merupakan perpaduan antara akad mudharabah dan akad musyarakah.

2.6.6.3. Sumber Hukum Akad Mudharabah

Akad mudharabah merupakan akad yang termasuk sering digunakan di dalam kegiatan syariah, dalam akad ini sumber hukum yang mendasari pada akad mudharabah adalah al-quraan dan hadits.

Dalam buku Akuntansi Perbankan Syariah (Salam, 2012:

219) tercantum landasan dasar syari’ah mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Landasannya tersebut terbagi menjadi tiga macam, yaitu :

1. Al-Qur’an

“… dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT …” (al-Muzzammil:

20). “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah SWT …”

(al-Jumu’ah: 10)

Ayat-ayat yang senada masih banyak yang terdapat dalam al-Qur’an yang dipandang oleh para fuqoha sebagai basis dari yang diperbolehkannya mudharabah. Kandungan ayat-ayat di atas mencakup usaha mudharabah karena mudharabah dilaksanakan dengan berjalan-jalan di muka bumi dan ia merupakan salah satu bentuk mencari keutamaan Allah.

2. Al-Hadits

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul Mutholib “jika memberikam dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berdahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah saw. Dan Rasulullah pun membolehkannya.”

(HR Thabrani)Dari Shalih bin Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkatan : jual beli secara tangguh, mudharabah, dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah no. 2280, kitab at-Tijarah).

3. Ijma

Imam Zailai telah menyatakan bahwa para sahabat telah legitimasi pengolahan harta yatin secara mudharabah.

2.6.6.4. Implementasi Prinsip Mudharabah dalam Produk Deposito Menurut Anshori (2007:95) Deposito sebagai “salah

satu produk perbankan dalam perbankan syariah menggunakan skema mudharabah. Hal ini sejalan dengan tujuan dari nasabah menggunakan instrument deposito yakni sebagai sarana investasi dalam memperoleh keuntungan”.

Secara teknis pemakaian prinsip akad mudharabah ke dalam produk deposito sebagai instrument penghimpunan dana dari masyarakat pada bank syariah telah diatur dalam pasal 5 Peraturan Ba nk Indonesia No.7/46/PBI/2005 tentang akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.

Dalam kegiatan penghimpunan dana dalam bentuk tabungan atau deposito berdasarkan mudharabah berlaku persyaratan sebagai berikut:

1. Bank bertindak sebagai pengelola dana dan nasabah bertindak sebagai pemilik dana.

2. Dana disetor penuh kepada bank dan dinyatakan dalam jumlah nominal.

3. Pembagian keuntungan dari penggolongan dan investasi dinyatakan dalam bentuk nisbah.

4. Pada akad tabungan berdasarkan mudharabah, nasabah wajib menginvestasikan minimum dana tertentu yang jumlahnya ditetapkan oleh bank dan tidak dapat ditarik oleh nasabah kecuali dalam rangka penutupan rekening.

5. Nasabah tidak boleh menarik dana diluar kesepakatan.

6. Bank adalah mudharib menutup biaya operasional tabungan atau deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya

7. Bank tidak boleh mengurangi bagian keuntungan nasabah tanpa persetujuan nasabah yang bersangkutan.

8. Bank tidak menjamin dana nasabah, kecuali diatur berbeda dalam perundang-undangan yang berlaku.

Gambar 2.1

Mudharabah pada Penghimpunan Dana

Titip dana Pemanfaat Dana

Bagi Hasil Pemanfaat Dana

NASABAH BANK DUNIA USAHA

Dalam hal ini, Bank Syariah bertindak sebagai mudharib (pengelola dana), sedangkan nasabah bertindak sebagai shahibul mal (pemilik dana).

Menurut Karim (2004:277) “Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, Bank Syariah dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak ketiga “.

Menurut (Karim, 2004:278) Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, Bank Syariah akan membagikan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam mengelola dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalaiannya. Namun, apabila yang terjadi adalah mis management (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.

2.6.6.5. Bagi Hasil (Profit Sharing)

Menurut Perwataatmadja dan Antonio (1999:43)

“Bagi hasil adalah pendapatan dari pembiayaan investasi almudharabah dan al-musyarakah berupa bagi hasil usaha, dari pembiayaan pengadaan barang al murabahah, al-baitsaman ajil, dan al-ijarah berupa mark up dan sewa, dari pemberian pinjaman berupa biaya administrasi, dan dari penggunaan fasilitas berupa fee”.

Menurut Ascarya (2008:214) “Akad berpola bagi hasil pada prinsipnya, merupakan suatu transaksi yang mengupayakan suatu nilai tambah (added value) dari suatu kerja sama antarpihak dalam memproduksi barang dan jasa”.

Menurut Octaviano (2007) “Bagi hasil untuk nasabah adalah tingkat kembalian atas investasi nasabah yang digunakan untuk pembiayaan dalam bentuk pembagian keuntungan yang diperoleh bank”.

Menurut Agustianto (2005:56) bagi hasil adalah

“keuntungan atau hasil yang diperoleh dari pengelolaan dana baik investasi maupun transaksi jual beli yang diberikan nasabah”.

Menurut Arifin (2009:70). Perhitungan bagi hasil disepakati menggunakan pendekatan atau pola sebagai berikut:

1. Revenue Sharing

Perhitungan bagi hasil didasarkan kepada total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Revenue Sharing mengandung kelemahan, karena apabila tingkat pendapatan bank sedemikian rendah maka bagian bank, setelah pendapatan didistribusikan oleh bank, tidak mampu mempunyai kebutuhan operasionalnya (yang lebih besar daripada pendapatan fee) sehingga merupakan kerugian bank dan membebani para pemegang saham sebagai penanggung kerugian.

2. Profit & Loss Sharing

Adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada seluruh pendapatan, baik hasil investasi dana maupun pendapatan

fee atas jasa-jasa yang diberikan bank setelah dikurangi biaya-biaya operasional bank.

Pada saat akad terjadi, wajib disepakati sistem bagi hasil yang digunakan, apakah Revenue Sharing, Profit &

Loss Sharing, atau Gross Profit. Jika tidak disepakati, akad itu menjadi gharar. Pembayaran imbalan bank syariah kepada deposan (pemilik dana) dalam bentuk bagi hasil besarnya sangat tergantung dari pendapatan yang diperoleh oleh bank sebagai mudharib atas pengelolaan dana mudharabah tersebut, apabila bank syariah memperoleh hasil usaha yang besar maka distribusi hasil usaha didasarkan pada jumlah yang besar, sebaliknya apabila bank syariah memperoleh hasil usaha yang sangat kecil.

Indikator tingkat bagi hasil adalah presentase bagi hasil deposito mudharabah yang diterima nasabah terhadap volume deposito mudharabah. Penggunaan tingkat bagi hasil ini dimaksudkan untuk menghindari fluktuasi nominal bagi hasil yang dipengaruhi oleh perubahan saldo deposito mudharabah.

2.6.6.6. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Bagi Hasil

Bank syariah sangat identik dengan system bagi hasil sehingga terkadang masyarakat memahami bahwa bagi hasil adalah system perbankan syariah. Dikarenakan pentingnya system bagi hasil dalam perbankan syariah, maka perlu

dianalisis hal- hal yang mempengaruhi besar kecilnya bagi hasil dikelompokkan menjadi 2, yaitu :

1. Faktor Langsung

Faktor langsung yamg mempengaruhi perhitungan bagi hasil adalah investment rate, jumlah dana yang tersedia, jenis dana dan nisbah bagi hasil (profit sharing ratio).

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

A. Investment Rate

Merupakan persentasi actual dana yang diinvestasikan total dana. Jika bank menentukan investment rate sebesar 80%, hal ini berarti 20% dari total dana yang dihimpun dialokasikan untuk memenuhi likuiditas.

B. Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan.

Merupakan jumlah dana dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan.

C. Nisbah (Profit sharing ratio).

Salah satu cirri utama mudharabah adalah adanya nisbah yang harus ditentukan dan disetujui pada awal perjanjian. Nisbah antara satu bank dengan bank lain dapat berbeda. Nisbah juga dapat account berbeda dari waktu ke waktu dalam satu bank misalnya : deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan. Selain nisbah juga bisa antara satu account dengan account yang

lainnya, sesuai dengan besarnya dana dan jatuh temponya.

2. Faktor Tidak Langsung

Yang mempengaruhi bagi hasil factor tidak langsung

Yang mempengaruhi bagi hasil factor tidak langsung

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH ERFA MIRANDA SITEPU (Halaman 50-0)

Dokumen terkait