• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor Yang Menyebabkan Seseorang Menikah Dini

BAB IV HASIL PENELITIAN

12. Matriks Aspek Budaya Jawa Mengenai Nilai Anak Bagi Orang Tua informan

5.5 Faktor-faktor Yang Menyebabkan Seseorang Menikah Dini

Pada dasarnya masyarakat Jawa menganut sistem patreneal, dimana kedudukan pihak laki-laki tidak sama perempuan, begitu juga halnya dengan pendidikan, namun karena pengetahuan yang rendah dari orang tua yang tidak mengubah anaknya untuk memperoleh pendidikan yang tinggi karena alasan ekonomi dan menganggap pendidikan tidak begitu penting.menurut Penelitian (Imariar, 2010) membukt ikan bahwa perkawinan pada usia dini memiliki relasi fungsi terhadap terjadinya perceraian.

Hasil peneliti di Desa Pematang Johar, orang tua lebih sering mengajak anak mereka terutama anak laki-laki untuk mencari uang dimana pada liburan sekolah anak ikut juga menjadi kenek bangunan, sehingga anak remaja malas sekolah dan mengikuti jejak orang tuanya dari pada harus sekolah. Dengan penghasilan tersebut mereka dapat membeli apa yang mereka ingin beli seperti rokok, karena senangnya bekerja pendidikan terabaikan dengan sendirinya. Sedangkan pada anak perempuan

lebih melihat pada budaya dan lingkungan sekitar yang sudah menjadi tradisi menikah dini, sehingga pendidikan tidak begitu penting, mereka khwatir tidak mendapatkan jodoh dikarenakan temannya sudah pada menikah, selain itu bila umurnya sudah 20 tahun, anak gadis yang masih belia sudah menganggapnya perawan tua karena temannya sudah memiiki anak sudah tidak mau berteman lagi dengannya serta menjadi bahan ejekan warga. seperti yang disampaikan informan dibawah ini :

“Ya…udah suka sama suka kak…klo sekolah mau lanjut ga ada biaya…ya kayak mana lagi kak…rata-rata tamat SD disini udah kawin…awak ga tamat

pun..kawan awak pun udah ga ada lagi kak…udah kawin semuanya…jadi kawin lah kak…nanti dibilang perawan tua kak…umur 20 udah dibilang perawan tua disini kak…udah ga ada lagi kawannya…anak gadis udah ga mau

lagi berkawan sama dia kak…ya…memang kayak gitulah kak disini”. Anggapan remaja desa lebih memungkinkan untuk menikah di usia muda karena menurut hasil penelitaan Subiyantoro (2002) Bahwa perempuan dalam pernikahan didasarkan pada mitos ”Perawan Tua” persoalan mendasar dari seorang anak perempuan, ketika dia telah memasuki usia dewasa, banyak orang tua menginginkan anaknya untuk tidak lama menikah. Menjadi perawan tua bagi kebanyakan masyarakat dianggap sebagai bentuk kekurangan yang terjadi pada diri perempuan. Untuk itu, dalam bayangan ketakutan yang tidak beralasan banyak orang tua yang menikahkan anaknya pada usia muda. Kondisi itulah yang menjadikan timbulnya persepsi bahwa remaja desa akan lebih dulu menikah dari pada remaja kota.

“Banyak alasan sebenarnya anak menikah muda ini...dari materi,pendidikan... semuanya kurang mampu...dari ekonomi sendiri...memang tidak ada biaya...untuk makan sehari-haripun mereka susah...pendidikan rendah...bisa dihitung pake jari yang melanjutkan sekolah...lantaran biaya tadi...dan mereka

lebih memilih menikah...karena sudah tidak sekolah lagi...dan bagi laki-laki setelah menikah mereka bisa bekerja buruh pabrik...dan lagi yang selalu dikwatirkan orang tua karena anak mereka terlalu sering pacaran...dan dari lingkungan sendiri...kawannya sudah kawin semuanya...dan dianggap perawan

tua...bila sudah umur 20 tahun...ya..klo suku Jawa ini sebenarnya suku yang taat dan patuh...tapi karena minimnya hidup tadi....alasan-alasan ini yang dipakai masyarakat sini...saya sangat tidak setuju sekali...sebenarnya...tapi

karena keadaan masyarakat sendiri seperti ini”.

Hal diatas sesuai dengan pernyataan Walgito (2002) bahwa pernikahan dini umumnya terjadi pada masyarakat golongan menengah kebawah. Biasanya berasal dari ketidakmampuan mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Terkadang mereka hanya bisa melanjutkan sampai sekolah menengah saja atau bahkan tidak mengenyam pendidikan sama sekali, sehingga menikah seakan-akan menjadi solusi dari kesulitan yang mereka hadapi terutama bagi kaum hawa.

Pada persoalan ekonomi, tingginya pernikahan dini berada pada daerah-daerah miskin. Hal ini berhubungan dengan beban orang tua yang tidak sanggup lagi membiayai keberlangsungan hidup keluarga. Maka sebagai solusi singkat untuk mengakhiri masalah tersebut, dinikahkanlah anak-anak mereka yang sudah dianggap dewasa. (Dianawati, 2006).

Hasil penelitian (Mayassaroh, 2012) menunjukkan bahwa faktor – faktor yang menjadi frekuensi alasan remaja putri melakukan pernikahan dini adalah faktor pendidikan, hamil sebelum menikah pemahaman agama ekonomi dan adat budaya.

Dilihat dari corak pergaulan remaja saat ini telah banyak menyimpang dari norma-norma yang ada, terutama norma agama. Pernikahan dianggap sebagai sebuah solusi atas apa yang seringkali ditimbulkannya. Zina misalkan, sehingga tanpa disadari pernikahan hanya dijadikan sebagai justifikasi aktivitas seksual mereka. Hal ini berkaitan dengan kondisi seksualitas pada remaja.

Terkadang ambisi menjadi sebuah alasan suatu pernikahan. Namun, tidak jarang ambisi menjadi salah satu faktor adanya pernikahan dini. Keinginan mereka untuk segera merasakan kehidupan berumah tangga membuat mereka mengambil keputusan yang terkadang tanpa dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan yang bijak (Fatawie, 2008).

Informan lain mengatakan :

“Namanya udah biasa kak kawin muda…suka sama suka ya udah…daripada terjadi sesuatu…kayak awak dah kecelakaan duluan…lagipula udah biasa disini kak…umur-umur belasan udah bisa kawin…klo umur 20 dah tua lah itu…mana ada lagi kawannya kak…perawan tua udah…klo sekolah jarang disini…tamat SD pun udah itu kak…biaya yang mau lanjut pun ga ada kak”.

Dari hasil ungkapan informan diatas jelas dengan apa yang disampaikan Walgito (2002), bahwa faktor yang selama ini identik dengan pernikahan dini tidak jarang ketika orang mendengar tentang pernikahan dini, asumsi pertama yang muncul MBA adalah penyebabnya. Dan memang fenomena yang seringkali kita dapati, hamil diluar nikah kerap jadi alasan remaja zaman sekarang melakukan pernikahan dini. Banyak generasi yang gagal membangun hidupnya hanya dikarenakan kesalahan mereka dalam memilih apa yang seharusnya mereka lakukan.

Dari pernyataan-pernyataan diatas jelas bahwa faktor-faktor pernikahan dini terjadi karena faktor budaya yang merupakan faktor dominan pada masyarakat Jawa, karena masih adanya anggapan “perawan tua” tidak hanya faktor budaya, tetapi ekonomi, pendidikan, juga merupakan faktor-faktor pernikahan dini pada mayarakat Jawa. Bisa dilihat dari rendahnya ekonomi dan pendidikan informan yang menjadi dasar pertimbangan masyarakat untuk menikah dini.

5.6 Dampak Pernikahan Dini

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 7 informan 4 orang informan mengatakan akibat pernikahan dini dari pengalaman yang mereka rasakan sendiri, dimana mereka tersebut sering bertengkar dengan suaminya atau istrinya selain itu juga sulit untuk beradaptasi dengan keluarga terutama kepada mertua dikarenakan belum mapan dan bergantung kepada orang tua dan masih tinggal serumah dengan mertua, Hanya 1 informan saja yang mengatakan akibat dari pernikahan dini tidak ada dan keluarganya baik-baik saja. 5 informan mengatakan akibat pernikahan dini pada kesehatan adalah kanker rahim. Seperti yang dikatakan informan dibawah ini :

“Apa…ya…ini…sering berantem terus…klo laki awak ga pergi kerja… Hmm…apa ya…o..ini kak…klo kesehatan...bisa kanker rahim… kata bidan

…gitu katanya kak…karena masih muda…tapi kayak manalah awak dah kawin duluan…baru tau awak…karena periksa ma bidan itu lah kak tau”.

Pernikahan yang dilakukan di bawah 20 tahun secara emosi si remaja masih ingin bermain-main dengan teman, menemukan jati dirinya seperti remaja setelah menikah dan mempunyai anak, sebagai seorang istri harus melayani suami dan suami tidak bisa ke mana-mana karena harus bekerja untuk belajar tanggung jawab terhadap

masa depan keluarga. Ini yang menyebabkan gejolak dalam rumah tangga sehingga terjadi perceraian, dan pisah rumah (Luthfiyati, 2008).

Menurut Fatawie (2008) ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi keharmonisan keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negative.

Perempuan mendapat tekanan yang tinggi untuk segera melahirkan anak segera setelah pernikahan yang mana menempatkan perempuan pada risiko tinggi kematian ibu. Anak usia 15-19 tahun lebih besar kemungkinan mengalami komplikasi selama kehamilan dan persalinan termasuk fistula obstetric. Mereka juga lebih mungkin untuk memiliki anak dengan berat lahir rendah, kurang gizi dan anemia. Ibu yang menikah usia dini ini juga lebih mungkin untuk menderita kanker serviks nantinya.

Nugroho (2007) mengungkapkan bahwa Perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun beresiko terkena kanker leher rahim. Pada usia remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Kalau terpapar human papiloma virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker.

Hal yang sama juga dikatakan informan lain :

“Ya…akibatnya…banyak…masih masa puber…belum bisa beradaptasi sama keluarga…belum matang tadi lah...sama mertua…akibatnya sering berantem…dia kan masih muda...belum ada kerja…ya…masih bergantung

orang itu…sama orang tuanya… klo kesehatan...Akibatnya…bisa kanker rahim…karena terlalu cepat kawin…ya taunya dari bidan…sama baca buku juga…di TV kan juga ada acara tentang kesehatan…ya kanker rahim itu kata

Dari hasil ungkapan diatas jelas bahwasanya permasalahan yang menimpa pasangan yang sudah menikah biasanya jauh lebih kompleks dibandingkan permasalahan yang menimpa pada seseorang yang masih sendiri. Untuk itu dibutuhkan kematangan psikologis yang cukup sebelum menyongsong kehidupan baru. Untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda dibutuhkan kematangan psikologis, apalagi jika kemudian hadir anak-anak yang dihasilkan dari seks yang dilakukan. Keadaan psikis orang tua yang belum matang akan sangat mempengaruhi cara mereka mengasuh anak-anak yang dilahirkan nantinya.

Dimana mendidik anak itu perlu pendewasaan diri jadi harus ada kematangan dan pemahaman diri untuk dapat memahami anak. Kalau masih kekanak-kanakan maka sang ibu tidak dapat mengayomi anaknya. Yang ada hanya akan merasa terbebani karena di satu sisi masih ingin menikmati masa muda dengan teman-teman dan di sisi lain dia harus mengurusi keluarganya (Fatawie, 2008).

Dari pernyataaan informan diatas dapat dilihat bahwa sebenarnya masyarakat sudah mengetahui akan dampak pernikahan dini dari bidan saat periksa kehamilan yang ada di posyandu, namun karena kurangnya promosi kesehatan antara petugas kesehatan dan masyarakat, sehingga dampak tersebut kurang dipahami oleh masyarakat sendiri, padahal bila dilihat masih banyak masyarakat yang tidak paham akan dampak pernikahan dini tersebut, apalagi bila dilihat dari pendidikan masyarakat yang rendah yang membuat semakin meningkatnya pernikahan dini pada masyarakat Jawa Di Desa Pematang Johar.

5. 7 Faktor Media (Film/VCD porno) pada Masyarakat Jawa Yang

Dokumen terkait