DETERMINAN PERNIKAHAN DINI PADA SUKU
JAWA DI DESA PEMATANG JOHAR
KECAMATAN LABUHAN DELI
TAHUN 2013
SKRIPSI
OLEH:
101000332 RUPINA PURBA
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DETERMINAN PERNIKAHAN DINI PADA SUKU
JAWA DI DESA PEMATANG JOHAR
KECAMATAN LABUHAN DELI
TAHUN 2013
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
NIM : 101000332 Rupina Purba
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Medan
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : DETERMINAN PERNIKAHAN DINI PADA
SUKU JAWA DI DESA PEMATANG JOHAR KECAMATAN LABUHAN DELI TAHUN 2013 Nama Mahasiswa : Rupina Purba
Nomor Induk Mahasiswa : 101000332
Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat
Peminatan : Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Tanggal Lulus : 25 Juli 2013
Disahkan oleh Komisi Pembimbing
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. Tukiman MKM
NIP. 19611024 199003 1 003 NIP. 19590713198703 1 001 Drs. Eddy Syahrial, MS
Medan, Juli 2013
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Dekan,
Dr. Drs. Surya Utama, M.S NIP. 19610831 198903 1 001
` ABSTRAK
Maraknya kasus pernikahan dini pada suku Jawa, Pernikahan dini pada umumnya terjadi pada masyarakat menengah ke bawah seperti masyarakat Buruh bangunan. Faktor penyebabnya dimana adanya keyakinan masyarakat tradisional di pedesaan untuk tidak menolak pinangan pertama kepada anak perempuan. Selain itu masih ada persepsi pernikahan usia 14 tahun hingga 18 tahun dianggap wajar. Masyarakat belum paham tentang akibat buruk yang ditimbulkan anak yang menikah dini. Baik dari segi kesehatan maupun dari psikologis.
Hal inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk mengadakan penelitian ini dengan menggunakan studi kualitatif, guna memperoleh bagaimana faktor-faktor pernikahan dini pada suku Jawa di Desa Pematang Johar tahun 2013.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indept interview) terhadap 7 (tujuh) informan yang terpilih, yang terdiri dari 4 (empat) informan pelaku pernikahan dini dan 3 (tiga) informan yang merupakan tokoh masyarakat.
Faktor –faktor pernikahan dini yang diungkapkan informan pelaku pernikahan dini dan tokoh masyarakat pada umumnya sama yakni dalam masyarakat Jawa, seorang anak gadis atau pemula yang sudah akil balik maka orang tua harus mempercepat anaknya untuk berumah tangga atau menikah. Selain itu didukung dengan status ekonomi yang rendah serta ketidakmampuan mereka melanjutkan pendidikan.
Pemerintah diharapkan agar bertindak cepat dalam menanggulangi masalah pernikahan dini. Dan Petugas kesehatan perlu melakukan intervensi kepada masyarakat tentang pernikahan dini karena umumnya masyarakat menikah di usia muda yang banyak menimbulkan dampak baik dari segi mental, sosial dan kesehatan.
ABSTRACT
Rampant cases of early marriage in the Javanese, early marriage usually occurs in the lower middle income people like the building worker Factors also vary in which the traditional beliefs in rural communities to not reject the first proposal to girls. In addition there is the perception of marriage age of 14 years to 18 years is considered normal. Society has not understood about the evils caused early child marriage. Both in terms of psychological health as well.
This is what lies behind the researcher to conduct this research using a qualitative study, in order to obtain how the factors of early marriage in the Javanese in village of Pematang Johar Kecamatan Labuhan Deli in 2013.
The method used in this study are in-depth interviews (indept interview) to 7 (seven) informants were selected, consisting of 5 (five) principal informant early marriage and 2 (two) informant who is a public figure.
These factors are expressed early marriage marriage actors early informants and community leaders are generally the same in the society of Javanese, when in family there is a girl or a beginner who has grown beyond the parents should speed up their children to settle down or get married. Also supported by the low economic status and their inability to continue education to a higher level.
The government is expected to act quickly to tackle the problem by maximizing early marriage age of marriage. And health workers need to intervene to the public about early marriage because most people get married at a young age that a lot of impact in terms of mental, social, and health.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Rupina Purba
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tgl. Lahir : Sinar Gunung, 30 Oktober 1987
Status Perkawinan : Menikah
Anak ke : 2 (dua) dari 3 (tiga) orang bersaudara
Alamat Rumah : Jl.Dwikora pasar 6 Sampali-Medan
Email : [email protected]
Nama Ayah : P. Purba
Nama Ibu : Lena. Sinaga,Spd
Riwayat Pendidikan
1. SD GKPS Sinar Gunung : Tahun 1992-1999
2. SLTP Negeri 4 Percut Sei Tuan : Tahun 1999-2002
3. SMA Negeri 1 Sampali : Tahun 2002-2005
4. AKBID Darmo Medan : Tahun 2006-2009
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
yang telah memberikan nikmat kesehatan serta keselamatan, dan atas berkah dan
kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Determinan
Pernikahan Dini Pada Suku Jawa Di Desa Pematang Johar Kecamatan
Labuhan Deli Tahun 2013”. Dalam penulisan skripsi ini, tidak terlepas dari
dukungan, bimbingan dan saran-saran yang telah diberikan oleh berbagai pihak. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Tukiman, MKM, selaku ketua Departemen Pendidikan Kesehatan dan
Ilmu Perilaku dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan
bimbingan arahan dan meluangkan waktu tenaga serta pikiran selama penyusunan
skripsi ini.
3. Bapak Drs. Eddy Syahrial, MS, selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak
memberi arahan dan bimbingan kepada penulis.
4. Bapak Drs. Alam Bakti Keloko, MKes, selaku Dosen Penguji I yang sangat
5. Ibu Maya Fitria SKM,Mkes, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan kritik,
saran dan masukan kepada penulis.
6. Seluruh staf pengajar di FKM USU dan Dosen PKIP Khususnya yaitu Bapak Dr.
Drs. R. Kintoko Rochadi, MKM., Ibu Namora Lumongga Lubis, MSc, PhD., Ibu
Dr Linda T Maas MPH, Ibu Lita Andayani SKM,MKes dan Ibu Syarifah serta
pegawai di Departemen PKIP Bapak Warsito yang telah banyak membantu penulis
dalam penyusunan skripsi ini.
7. Ibu drh. Hiswani, MKes, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah banyak
memberi masukan, saran, dan dukungan selama penulis kuliah di FKM USU.
8. Buat Suami saya yang tercinta Jumpa Mulia Suranta Sitepu, terima kasih telah
atas dukungan moril, doa, saran, dan nasehat, serta kasih sayang yang telah
diberikan kepada penulis
9. Teristimewa kepada orangtua penulis, Ayahanda yang sangat saya cintai P.Purba
dan Ibunda Lena sinaga S,Pd, serta ke tiga saudara-saudaraku : Lenita Purba
AmKeb. Sardiaman Sinaga dan adik paling kecil kami Bahagia Purba, terima
kasih atas dukungan berupa doa, saran, nasehat, serta kasih sayang yang telah
diberikan kepada penulis.
10. Seluruh sahabatku terkasih dan tersayang : Rini Andriani, Marlina, kak Sriana
purba, Jenni ginting, Jesika, Harto Pratiwi,Kak Yustisia terima kasih atas
dukungan berupa saran, doa, kerjasama dan masukan-masukan dari awal masuk
11. Sahabat – sahabat perjuangan di PKIP : Kak Dina, Mimi, bang Hasbi, Intan, kak
lasma, Kristi, kak Fina, kak Yeni yang telah banyak memberikan dorongan serta
semangat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini
12. Buat teman seperjuangan di kelompok PBL tercinta selama berada di Secanggang
Langkat khususnya Dusun X,Bang Nazaruddin, sulastri Pahpahan, Wati
Sitohang, Mayan, Febri Serta teman seperjuangan kelompok LKP selama berada di
Tuntungan, Kak Dina, Andre, Horas, Yosia yang memberikan
pengalaman-pengalaman luar biasa selama menjalani kuliah lapangan.
13. Semua pihak yang telah membantu, baik bantuan
Penulis sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Baik itu dalam
penulisan kata, penyusunan kalimat dan juga tidak menutup kemungkinan dalam
penyajian data. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis
ucapkan terima kasih. Semoga skripsi ini berguna bagi kita semua. Amin.
Medan, Juli 2013
DAFTAR MATRIKS
Halaman
Matrik 4.1 Distribusi Penduduk Berdasrkan Kelompok Umur Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,………. 37
Matriks 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Etnis Di Desa Pematang
Johar Tahun 2013 ……… 38
Matriks 4.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ……….... 39
Matriks 4.4 Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ………..……...…. 39
Matriks 4.5 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ……….…………. 40
Matriks 4.6 Karakterisitik Informan ……….……… 41
Matriks 4.7 Matriks Pengetahuan Tentang Pernikahan Dini 42
Matriks 4.8 Matriks Pengetahuan Mengenai Usia Bagi Pria dan Wanita
Untuk Menikah ……….……. 44
Matriks 4.9 Matriks Pengetahuan Mengenai Undang Undang Pernikahan
………...……….……. 45
Matrik 4.10 Matriks Pengetahuan Mengenai Faktor Faktor Yang Menyebutkan Seseorang Menikah Dini …..…………..………. 47
Matriks 4.11 Matriks Pengetahuan Mengenai Akibat Pernikahan Dini …….. 49
Matriks 4.12 Matriks Faktor Media (Film/VCD Porno) Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini Pada Informan (Pelaku Pernikahan Dini) ……….……... 51
Matriks 4.13 Matriks Faktor Media (Film/VCD Porno) Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini Pada Informan (Tokoh Masyarakat) ………..…...…...
52
Matriks 4.14 Matrik Budaya Jawa Mengenai Pernikahan Ideal Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini Informan ………….………... 53
Balig Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini PAda Informan… 54 Matriks 4.16 Matriks Budaya Jawa Mengenai Penyebab Pernikahan Dini
Pada Anak ……….……. 56
Matriks 4.17
Matriks4.18
Matriks4.19
Matriks Aspek Budaya Jawa Terhadap Orang Yang Menginginkan Pernikahan Dini ……….………….……...
Matriks Aspek Budaya Jawa Mengenai Tradisi/Kebiasaan Menikah Dini………..
Matriks Aspek Budaya Jawa Mengenai Nilai Anak Bagi Orangtua………...
57
59
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN……… ... i
ABSTRAK……… ... ii
ABSTRACT... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ……….. ... iv
KATA PENGANTAR………. ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR MATRIKS ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan masalah... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.1 Tujuan Umum ... 7
1.3.2 Tujuan Khusus ……… ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Batasan perilaku ... 9
2.1.Determinan Perilaku ... 9
2.2.1 Faktor Predisposing(Predisposing Factors). ... 9
2.2.2 Praktek dan Tindakan(Practice) ... 12
2.3 Teori Lawrence Green . ... 13
2.4.Pernikahan Dini.. ... 14
2.4.1 Pengertian Pernikahan Dini. ... 14
2.4.2 Usia Dini……….. ... 14
2.4.3 Faktor-faktor yang memengaruhi pernikahan dini…… ... 16
2.5 Suku Jawa…. ... 20
2.6 Adat Pernikahan ... 21
2.7 Peranan Umur Dalam Pernikahan…. ... 21
2.7.1 Hubungan Umur dengan Keadaan Psikologis Dalam Pernikahan .. ... 22
2.7.2 Umur Ideal Dalam Pernikahan Dini.. ... 22
2.8 Peran Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi terhadap ... Terjadinya Pernikahan Dini... 24
2.9 Peran Media terhadap Terjadinya Pernikahan Dini ... 24
2.10 Peran Status Sosial Ekonomi terhadap Pernikahan Dini ... 25
2.12 Peran Lingkungan Masyarakat terhadap Pernikahan Dini ... 27
2.13 Dampak Pernikahan Dini ... 29
2.14 Kerangka Pikir Pelitian……… ... 33
BAB III METODE PENELITIAN ... 34
3.1 Jenis Penelitian ... 34
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 35
3.2.2 Waktu Penelitian ... 35
3.3 Informan Penelitian... 35
3.4.Metode Pengumpulan Data……… ... 35
3.4.1 Data Primer………… ... 35
3.4.2 Data sekunder……….. ... 35
3.5 Defenisi Istilah ... 35
3.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN.. ... 37
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian .. ... 37
4.1.1 Letak Geografi di Desa Petang Johar... 37
4.1.2 Demografi…. .. ... 37
4.2 Gambar Informan.. ... 41
4.2.1 Karakteristik Informan ... 41
4.2.2 Matriks Pengetahuan Informan ... 42
1. Matriks Pengetahuan Informan tentang Pernikahan Dini ... 42
2. Matriks Pengetahuan Informan Mengenai Usa Bagi Pria dan Wanita ... Untuk Menikah ... 44
3. Matriks Pengetahuan Informan Mengenai Undang-Undang Pernikahan Dini.. ... ……… 4. ... Matriks Pengetahuan Informan Mengenai Faktor-faktor yang Menyebabkan Seseorang Menikah Dini ... 47
5. Matriks Pengetahuan Informan Mengenai Akibat Pernikahan Dini ... 49
6. Matriks Faktor Media (Film/VCD porno) Yang Memengaruhi Pernikahan Dini Pada Informan .. 51
7. Matriks Budaya Jawa Mengenai Pernikahan Ideal Yang Memengaruhi Pernikahan Dini Informan 53 8. Matriks Budaya Jawa Mengenai Umur Anak Yang Sudah Akil Baligh Yang Memengaruhi Pernikahan Dini Pada Informan ... 54 9. Matriks Budaya Jawa Informan Mengenai Penyebab Pernikahan Dini Pada Informan ... 10. Matriks Aspek Budaya Jawa terhadap orang yang menginginkan pernikahan Dini
11. Matriks Aspek Budaya Jawa Mengenai Tradisi/Kebiasaan Menikah Muda Yang
Memengaruhi Pernikahan Dini Informan ... 59
12. Matriks Aspek Budaya Jawa Mengenai Nilai Anak Bagi Orang Tua informan ... ……. BAB V PEMBAHASAN………. ... 62
5.2 Karakteristik Informan.. ... 63
5.2 Pernikahan Dini ... 66
5.3 Usia Yang Tepat Bagi Pria Dan Wanita Untuk Menikah ... 67
5.4 Undang-Undang Pernikahan Dini ... 69
5.5 Faktor-faktor Yang Menyebabkan Seseorang Menikah Dini ... 71
5.6 Dampak Pernikahan Dini ... 75
5.7.Faktor Media (Film/VCD porno) pada Masyarakat Jawa Yang Memengaruhi Pernikahan Dini 78 5.8 Pernikahan Ideal Pada Masyarakat Jawa ... 78
5.9 Aspek Budaya Jawa Dalam Umur Anak Yang Sudah Akil Baligh ... 80
5.10 Aspek Budaya Jawa terhadap orang yang menginginkan pernikahan Dini... ……... 5.11 Aspek Budaya Jawa Mengenai Pernikahan Dini Dalam Keluarga sudah Menjadi Tradisi/Kebiasaan 84 5.12 Nilai anak Bagi orangtua 86 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN………... 89
6.1 Kesimpulan………. ... 89
6.2 Saran……….. ... 90
DAFTTAR PUSTAKA LAMPIRAN :
Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian dari Fakultas Kesehatam Masyarakat
Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Selesai Melaksanakan Penelitian dari Desa Pematang Johar
Kecamatan Labuhan Deli
DAFTAR MATRIKS
Matrik 4.1 Distribusi Penduduk Berdasrkan Kelompok Umur Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,………. 37
Matriks 4.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Etnis Di Desa Pematang
Johar Tahun 2013 ……… 38
Matriks 4.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Agama Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ……….... 39
Matriks 4.4 Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ………..……...…. 39
Matriks 4.5 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Di Desa Pematang Johar Tahun 2013 ……….…………. 40
Matriks 4.6 Karakterisitik Informan ……….……… 41
Matriks 4.7 Matriks Pengetahuan Tentang Pernikahan Dini 42
Matriks 4.8 Matriks Pengetahuan Mengenai Usia Bagi Pria dan Wanita
Untuk Menikah ……….……. 44
Matriks 4.9 Matriks Pengetahuan Mengenai Undang Undang Pernikahan
………...……….……. 45
Matrik 4.10 Matriks Pengetahuan Mengenai Faktor Faktor Yang Menyebutkan Seseorang Menikah Dini …..…………..………. 47
Matriks 4.11 Matriks Pengetahuan Mengenai Akibat Pernikahan Dini …….. 49
Matriks 4.12 Matriks Faktor Media (Film/VCD Porno) Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini Pada Informan (Pelaku Pernikahan Dini) ……….……... 51
Matriks 4.13 Matriks Faktor Media (Film/VCD Porno) Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini Pada Informan (Tokoh Masyarakat) ………..…...…...
52
Matriks 4.14 Matrik Budaya Jawa Mengenai Pernikahan Ideal Yang Mempengaruhi Pernikahan Dini Informan ………….………... 53
………... Matriks 4.16 Matriks Budaya Jawa Mengenai Penyebab Pernikahan Dini
Pada Anak ……….……. 56
Matriks 4.17
Matriks4.18
Matriks4.19
Matriks Aspek Budaya Jawa Terhadap Orang Yang Menginginkan Pernikahan Dini ……….………….……...
Matriks Aspek Budaya Jawa Mengenai Tradisi/Kebiasaan Menikah Dini………..
Matriks Aspek Budaya Jawa Mengenai Nilai Anak Bagi Orangtua………...
57
59
` ABSTRAK
Maraknya kasus pernikahan dini pada suku Jawa, Pernikahan dini pada umumnya terjadi pada masyarakat menengah ke bawah seperti masyarakat Buruh bangunan. Faktor penyebabnya dimana adanya keyakinan masyarakat tradisional di pedesaan untuk tidak menolak pinangan pertama kepada anak perempuan. Selain itu masih ada persepsi pernikahan usia 14 tahun hingga 18 tahun dianggap wajar. Masyarakat belum paham tentang akibat buruk yang ditimbulkan anak yang menikah dini. Baik dari segi kesehatan maupun dari psikologis.
Hal inilah yang melatarbelakangi peneliti untuk mengadakan penelitian ini dengan menggunakan studi kualitatif, guna memperoleh bagaimana faktor-faktor pernikahan dini pada suku Jawa di Desa Pematang Johar tahun 2013.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (indept interview) terhadap 7 (tujuh) informan yang terpilih, yang terdiri dari 4 (empat) informan pelaku pernikahan dini dan 3 (tiga) informan yang merupakan tokoh masyarakat.
Faktor –faktor pernikahan dini yang diungkapkan informan pelaku pernikahan dini dan tokoh masyarakat pada umumnya sama yakni dalam masyarakat Jawa, seorang anak gadis atau pemula yang sudah akil balik maka orang tua harus mempercepat anaknya untuk berumah tangga atau menikah. Selain itu didukung dengan status ekonomi yang rendah serta ketidakmampuan mereka melanjutkan pendidikan.
Pemerintah diharapkan agar bertindak cepat dalam menanggulangi masalah pernikahan dini. Dan Petugas kesehatan perlu melakukan intervensi kepada masyarakat tentang pernikahan dini karena umumnya masyarakat menikah di usia muda yang banyak menimbulkan dampak baik dari segi mental, sosial dan kesehatan.
ABSTRACT
Rampant cases of early marriage in the Javanese, early marriage usually occurs in the lower middle income people like the building worker Factors also vary in which the traditional beliefs in rural communities to not reject the first proposal to girls. In addition there is the perception of marriage age of 14 years to 18 years is considered normal. Society has not understood about the evils caused early child marriage. Both in terms of psychological health as well.
This is what lies behind the researcher to conduct this research using a qualitative study, in order to obtain how the factors of early marriage in the Javanese in village of Pematang Johar Kecamatan Labuhan Deli in 2013.
The method used in this study are in-depth interviews (indept interview) to 7 (seven) informants were selected, consisting of 5 (five) principal informant early marriage and 2 (two) informant who is a public figure.
These factors are expressed early marriage marriage actors early informants and community leaders are generally the same in the society of Javanese, when in family there is a girl or a beginner who has grown beyond the parents should speed up their children to settle down or get married. Also supported by the low economic status and their inability to continue education to a higher level.
The government is expected to act quickly to tackle the problem by maximizing early marriage age of marriage. And health workers need to intervene to the public about early marriage because most people get married at a young age that a lot of impact in terms of mental, social, and health.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Satu diantara tujuh manusia penduduk dunia yang berjumlah 6,75 miliar ini
adalah remaja, dan 85% diantaranya hidup di negara berkembang. Negara-negara
yang tidak mampu menyediakan peluang bagia anak dan remaja untuk hidup sehat
dan tetap memperoleh pendidikan, di tangan merekalah masa depan sebuah negara,
Akan gagal pula dalam produktivitas generasi mudanya sehingga tidak akan mampu
bertahan dalam era globalisasi. Keputusan-keputusan para remaja menyangkut usia
pernikahan, menyangkut kualitas anak yang akan di lahirkan dan lain-lain juga sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan penduduk di negara tersebut (BPS 2010).
Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 sebanyak 237,6% juta jiwa 26,27%
diantaranya adalah remja, satu per lima dari jumlah penduduk adalah remaja (13-19
tahun) yang berpeluang berprilaku beresiko tanpa mewaspadai akibat jangka panjang
dari perilaku tersebut. Sedangkan jumlah remaja yang berusia antara 10-24 tahun
sangat besar yaitu kurang lebih 64 juta orang. Jumlah tersebut meliputi hampir 27,6%
dari total jumlah penduduk Indoneseia (BPS 2010).
Menurut RISKESDAS 2010 Usia Perkawianan Pertama 10-14 Tahun jumlah
kasus pernikahan dini sebanyak 4,8%. Di Jawa Barat 7,5% Kalimantan Tengah
9,0%, Kalimantan Timur 7,1 % Kalimantan Tengah, 7,0% Banten 6,5%, Sumatera
status ekonomi termiskin, dan kelompok petani/nelayan/buruh. Semakin tinggi
pendidikan persentase usia perkawinan pertama pada usia dini semakin kecil.
Menandakan bahwa pendidikan dapat menunda usia perkawinan pertama pada usia
dini (Riskesdas 2010).
Organisasi kemanusiaan yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan
anak, menyampaikan hasil temuannya mengenai pernikahan dini. Menurut lembaga
kemanusiaan internasional atau Plan mencatat, 33,5 persen anak usia 13-18 tahun
pernah menikah, dan rata-rata mereka menikah pada usia 15-16 tahun. Pernikahan
anak lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki, sekitar
5% anak laki-laki menikah sebelum mereka berusia 19 tahun. Selain itu didapatkan
pula bahwa perempuan tiga kali lebih banyak menikah dini dibandingkan laki-laki
(Sari, 2009).
Menurut kriteria Badan Pusat Statistik (BPS) pengertian perkawinan dini ialah
jika wanita berumur 10-17 tahun yang berstatus kawin dan pernah kawin dengan
umur pertamanya 15 tahun ke bawah. Berdasarkan Susenas 2010 yang dilakukan
BPS, sebesar 1,59% perempuan berumur 10-17 tahun di Indonesia berstatus kawin
dan pernah kawin. Persentase terbesar berada di wilayah Kalimantan Tengah (3,32%)
dan persentase terkecil di Sumatra Barat (0,33%). Seperti yang telah diduga,
persentase perempuan 10-17 tahun yang telah kawin dan pernah kawin di pedesaan
jumlahnya lebih banyak lagi jika dibandingkan dengan perkotaan. Fenomena
menikah dini di wilayah pedesaan pada 2010 mencapai 2,17%, sedangkan di
Meskipun pernikahan anak merupakan masalah dominan di negara
berkembang wanita usia muda di pedesaan lebih banyak yang melakukan perkawinan
pada usia, terdapat bukti bahwa kejadian ini juga masih berlangsung di negara maju
yang orangtua menyetujui pernikahan anaknya berusia kurang dari 15 tahun.
Berdasarkan data dari Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
angka perkawinan usia dini atau kurang dari 18 tahun masih tinggi mencapai 690 ribu
lebih kasus, atau sekitar 34% angka perkawinan usia dini pada tahun 2009. Yang
muncul di permukaan hanya yang terekam oleh media saja, namun jumlah
sebenarnya jauh lebih banyak lagi.
Menurut data laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
tentang pencapaian target Tujuan Pembangunan Millenium Development Goals
(MDGs) Indonesia tahun 2008, sebanyak 34,5% dari 2.049.000 perkawinan yang
terjadi setiap tahun merupakan perkawinan usia dini. Pada tahun 2011 ini terjadi
696.660 kasus perkawinan usia dini, di Jawa Timur angkanya bahkan lebih tinggi dari
angka rata-rata nasional, sampai 39%. Kasus perkawinan usia dini, juga tidak hanya
terjadi pada masyarakat perdesaan tapi jugapada masyarakat wilayah perkotaan yang
tingkat pendidikannya rata-rata lebih tinggi (Darwin, 2012).
Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2007, di beberapa daerah
didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan oleh pasangan
usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta
penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19 tahun. Di Jawa Timur, 39,4%
pernikahan dini. Bahkan di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan
segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama (Sari, 2009).
Menurut data Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Bappenas,
lebih 30 persen pernikahan yang tercatat di Indonesia termasuk dalam kategori
pernikahan dini. Salah satu akibatnya, sering terjadi perceraian Menurut laporan
Badan Perencanaan Pembangunan Bappenas tahun 2008, dari 2 juta lebih pasangan
yang melakukan pernikahan, angka pernikahan dini dibawah 16 tahun mencapai
hampir 35% (Sari, 2009).
Dalam Era Globalisasi saat ini, menikah pada usia muda masih saja menarik
dilakukan kaum muda. Fenomena menikah dini merupakan tren yang terulang dahulu
lumrah. Tahun berganti, makin banyak menentang pernikahan dini, namun saat ini
fenomena terulang kembali lagi kalau dulu orang tua ingin menikah karena berbagai
alasan, kini banyak remaja yang bercita-cita menikah dini, mereka bukan saja remaja
desa namun remaja remaja kota besar juga data tersebut bukan hanya dominasi
remaja perkotaan dan kuliah saja, melainkan sudah merebak ke pedesaan dan
anak-anak SMA dan SMP (Sarwono, 1994).
Perkawinan adalah ikatan batin antara pria dan wanita sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk keluarga/rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasar
Ketuhanan Yang Maha Esa (UU perkawinan No 1 Tahun 1974). Perkawianan usia
muda menurut UU Perkawinan No 1 Tahun 1974 pasal 7 bahwa perkawianan
diijinkan bila laki-laki berumur 19 tahun dan wanita berusia 16 tahun, namun
dalam UU No 10 tahun 1992 yang menyebutkan bahwa pemerintah menetapkan
kebijakan upaya penyelenggaraan keluarga berencana (Anonim 2010).
Menurut Nugroho (2007) perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun
beresiko terkena kangker leher rahim. Pada usia remaja se-sel leher rahim belum
matang, apabila terpapar Human Papiloma Virus (HPV) pertumbuhan sel akan
menyimpang menjadi kanker. Pernikahan dini juga menyebabkan resiko kematian ibu
dan anak, karena organ biologis pada perempuan dibawah usia 20 tahun belum siap
secara penuh untuk lahir. Bayi yang dilahirkannya jika tidak meninggal, bayi lahir
prematur dan cacat.
Menurut (Kolimann dalam Luthfiyati, 2008) menunjukan bahwa pernikahan
dini di bawah 19 tahun banyak di tentukan karena perjodohan orang tua. Anak hampir
tidak punya kewenangan dalam menentukan pasangannya. Hal ini dapat
meningkatkan resiko kematian maternal, yang mencakup 4 terlalu yaitu terlalu muda
untuk melahirkan terlalu tua, terlalu sering dan terlalu banyak melahirkan anak. Umur
ibu yang kurang dari 20 tahun meningkatkan resiko lahirnya bayi “Berat Bayi Lahir
Rendah” (BBLR) dapat juga beresiko terkena kanker leher rahim, karena pada usia
remaja, sel-sel rahim belum matang sehingga pertumbuhan sel akan menyimpang dan
tumbuh menjadi kanker (Anonim, 2012).
Menurut Dadang (2005) banyak kasus perceraian merupakan dampak dari
mudanya usia pasangan ketika memutuskan untuk menikah. Alasan perceraian tentu
saja bukan hanya karena alasan pernikahan dini, melainkan alasan ekonomi dan lain
sebagainya. Hal ini sama juga dikemukan oleh Suryadi bahwa pernikahana dini akan
Karena pada usia tersebut, ego remaja masih tinggi, penyebabnya karena faktor
budaya, ekonomi, pendidikan dan agama. (Maemunah, 2008).
Penelitian (Imariar, 2010) membuktikan bahwa perkawinan pada usia dini
memiliki relasi fungsi terhadap terjadinya perceraian. Masalah dalam keluarga baru,
datang silih berganti seiring masa transisi yang begitu cepat. Penelitian (Hanum,
1997) telah menjadi penegas bahwa pernikahan dini bukanlah pilihan dari pasangan
pengantin. Faktor pengkondisianlah yang menjadi saat menikahi perempuan di bawah
umur (Maemunah, 2008).
Hasil penelitian (Mayassaroh, 2012) menunjukkan bahwa faktor – faktor yang
menjadi frekuensi alasan remaja putri melakukan pernikahan dini adalah faktor
pendidikan (13,5%), hamil sebelum menikah (24,3%), pemahaman agama (8,1%),
ekonomi (37,8%), dan adat budaya (16,2%).
Dari hasil penelitian Helvita tahun 2009 dari dari 21 kecamatan di Kota
Medan terdapat bahwa terdapat 309 kasus orang yang menikah pada umur kurang
dari 18 tahun, 64 kasus remaja yang menikah usia dini di kelurahan Medan Belawan
Kelurahan Bagan Deli khususnya suku Melayu. Berdasarkan data dari Kantor Urusan
Agama dari 5 Desa yang ada di Labuhan Deli, desa Pematang Johar merupakan desa
dengan kasus tertinggi pernikahan dini selama bulan april tahun 2012 terdapat 120
kasus pernikahan dini ditemukan, sedangakan suku Banten 33 remaja, Mandailing 20
remaja, Aceh 20 remaja, Padang 6 remaja, 44 remaja yang usia dini yang menikah
khususnya pada suku Jawa yang merupakan dominan di Desa Pematang johar
Dahlan (2012) menyatakan bahwa sebenarnya pernikahan di usia muda atau
yang biasa disebut pernikahan dini dijaman kemajuan teknologi ini merupakan
setback (mundur) kejaman lampau. Seharusnya pernikahan dini pada saat ini
dihindari mengingat dampak negatif dari pernikahan tersebut yang tidak sedikit.
Budaya Jawa mentradisi bentuk perjodohan oleh orangtuanya. Biasanya mereka
berpegang mitos umum bila anak telah lepas masa menstruasi di usia 12 tahun, maka
sudah waktunya untuk menikah (Dahlan, 2012).
Seperti diungkapkan Suwandi, pegawai pencacat nikah di Tegaldowo Rembang
Jawa Tengah, “ Adat orang Jawa kalau punya anak perempuan sudah ada yang
ngelamar harus diterima, kalau tidak diterima bisa sampai lama tidak laku-laku,’’
suku Jawa juga menganut kalo sudah menikah baiknya mereka tinggal pisah dengan
orang tuanya atau mandiri karena dia sudah punya tanggungan sendiri. Yaitu istrinya.
Selain itu dalam prinsip masyarakat Jawa bahwa yang penting kawin dulu, masalah rezki
nanti belakangan. Karena sudah ada yang mengatur (Yang Maha Kuasa) (Anonim, 2010).
Berdasarkan kondisi diatas maka peneliti merasa tertarik melakukan
penelitian untuk mengetahui determinan pernikahan dini pada suku Jawa di Desa
Pematang Johar Kecamatan Labuhan Deli.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka yang menjadi
perumusan masalah adalah apa determinan pernikahan dini pada suku Jawa di Desa
Pematang Johar Kecamatan Labuhan Deli.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui determinan pernikahan dini pada suku Jawa di Desa
Pematang Johar Kecamatan Labuhan Deli.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Predisposing faktors yaitu umur, jenis kelamin,
pekerjaan, pendidikan, pendapatan orang tua, pengetahuan dan budaya
Jawa yang memengaruhi pernikahan dini.
2. Untuk mengetahui Enabling factors yaitu media yang memengaruhi
pernikahan dini pada suku Jawa.
3. Untuk mengatahui Reinforcing factors yaitu orang tua dan lingkungan
keluarga yang memengaruhi pernikahan dini pada suku Jawa.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan refrensi dalam pengembangan keilmuan khususnya di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
2. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan dalam upaya penyuluhan
kesehatan dimasa yang akan datang
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan pada
instansi terkait ( KUA, DEPAG, DINKES, BkkbN) Sehingga dapat dilakukan
program yang sesuai dalam Pencegahan dan mengatasi dampak – dampak
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Batasan Perilaku
Dari segi biologis menurut Notoatmodjo (2007) perilaku adalah suatu
kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu
dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan,
binatang, sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai
aktivitas masing-masing. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang
diamati langsung maupun yang tidak langsung diamati oleh pihak luar.
2.2 Determinan Perilaku
Faktor penentu atau determinan perilaku sulit dibatasi karena perilaku
merupakan resultan dari berbagai faktor, internal maupun eksternal.
Beberapa teori mengungkapkan determinan perilaku dari analisis faktor-faktor
yang memengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan,
antara lain teori Lawrence Green (2010).
Green mencoba menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan.
Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, faktor
perilaku (behaviour causes) dan faktor luar perilaku (non behaviour cause).
a. Faktor presdiposing (predisposing factors) yang terwujud dalam pengetahuan,
sikap, kepercayaan, ekonomi, tingkat pendidikan dan lain sebagainya.
b. Faktor pendukung (enabling factors) yang terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedia atau tidaknya fasilitas kesehatan.
c. Faktor pendorong (renforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan
perilaku petugas kesehatan atau petugas lain.
2.2.1 Faktor Presdiposing (Presdiposing Factors)
a. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindaraan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan menurut kamus bahasa indonesia disebutkan bahwa
pengetahuan atau tahu merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavioral).
Pengetahuan yang tercakup di dalam domain kognitif mempunyai enam
tingkatan yaitu, yakni:
a. Tahu (Know) sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya
b. Mamahami (Conprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
benar secara objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
c. Aplikasi (Application) yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.
d. Analisis (Analiysis) dalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi suatu objek
kadalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi
tersebut dan saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain.
e. Sintesis (Synhtesis) adalah suatu kemampuan meletakkan atau menghubungkan
bagian–bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dalam arti telah mampu
untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang telah ada.
f. Evaluasi (Evoluation) bahwa seseorang tersebut telah mampu untuk melakukan
justification atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
b. Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya
kesesuaian reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.
Menurut Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2005) menjelaskan sikap itu
mempunyai tiga komponen, yaitu :
a. Kepercayaan (keyakinan) ide dan konsep terhadap suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak.
Ketiga komponen diatas secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh
dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan berfikir, keyakinan dan emosi
memegang peranan penting. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari
a. Menerima (Receiving) artinya bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan oleh objek.
b. Merespon (Responding) yaitu memberikan jawaban apabila di tanya, mengerjakan
dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai (Valuing) mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga (kecenderungan untuk
bertindak).
d. Bertanggung jawab (Responsible) yaitu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
telah dipilihnya dengan segala risiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
2.2.2. Praktek dan Tindakan (Practice)
Semua sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (Overt Behavior)
untuk terwujudnya sikap agar menjadi sesuatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan yang berupa fasilitas. Disamping
itu ada faktor dukungan (support) dari pihak lain didalam praktek atau tindakan
terdapat tingkatan-tingkatan yaitu :
a. Persepsi (Perseption) yaitu mengenal atau memilih berbagai objek sehubungan
dengan tindakan yang akan diambil.
b. Respon terpimpin (Guided Response) dapat melakukan sesuatu sesuaian dengan
tindakan baru.
c. Mekanisme (Mechanisme) apabila seseorang itu telah melakukan sesuatu dengan
d. Adaptasi (Adaptation) suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan
baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan
tersebut.
2.3 Teori Lawrence Green
Perilaku dipandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas
makluk hidup yang bersangkutan. Oleh sebab itu dari sudut pandang biologis semua
makluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu
berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing, ssehingga yang
dimaksud dengan prilaku manusia itu sendiri mempunyai bentangan yang sangat luas
antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja dan sebagainya. Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku manusia
adalah semua kegiatan atau aktiviatas manusia, baik yang diamati langsung maupun
yang tidak dapat diamati dari pihak luar (Notoatmodjo, 2005).
Menurut Lawrence Green (1980) dalam (Notoatmodjo, 2005) perilaku
ditentukan tiga faktor utama yaitu :
a. Faktor Predisposisi (Predisposing Factor)
Faktor-faktor yang dapat mempermudah atau mempredisposisi terjadi perilaku
pada diri seseorang atau masyarakat adalah pengetahuan dan sikap seseorang atau
masyarakat tersebut terhadap apa yang akan dilakukan disamping itu kepercayaan,
tradisi, sistem, nilai dimasyarakat setempat juga menjadi mempermudah (positif) atau
mempersulit (negatif) terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat.
Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana
atau prasara yang mendukung atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang
atau masyarakat. Pengetahuan dan sikap belum menjamin terjadinya perilaku, maka
masih diperlukan sarana atau fasilitas untuk memungkinkan atau mendukung perilaku
tersebut.
c. Faktor penguat (Reinforcing Factors)
Pengetahuan, sikap dan fasilitas yang tersedia kadang-kadang belum menjamin
terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Dalam masyarakat toma (tokoh
masyarakat) merupakan faktor penguat (Reinforcing) bagi yang terjadinya perilaku
seseorang atau masyarakat. Disamping tokoh masyarakat, peraturan, undang–undang,
surat-surat keputusan dari para pejabat pemerintah pusat dan daerah, merupakan
faktor penguat perilaku.
2.4 Pernikahan Dini
2.4.1 Pengertian pernikahan dini
Secara umum pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan untuk
mengikut dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga
(Lutfiyati, 2008).
Menurut Sarwono (1983) dalam Lutfiyanti (2008) mengartikan pernikahan
dini sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seseorang wanita yang masih
remaja dengan tujuan membentuk keluarga.
Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan
seorang wanita, yang umur keduanya masih dibawah minimum yang diatur oleh
2.4.2 Usia Dini
Usia dini merujuk pada usia remaja, WHO memakai batasan umur 10-20
tahun sebagai usia dini. Sedangkan pada undang-undang perlindungan anak (UU PA)
bab 1 pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan usia dini adalah
seseorang yang belum berusia 18 tahun, batasan tersebut diatas jalan menegaskan
bahwa anak usia dini adalah bagian dari usia remaja. Dari segi program pelayanan,
defenisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang
berusia 10-19 tahun belum menikah. Sementara itu menurut Badan Koordinasi
Keluarga Berencana (BkkbN) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.
Remaja adalah suatu masa dimana individu dalam proses pertumbuhannya terutama
fisiknya yang telah mencapai kematangan, dengan batasan usia berada pada usia
11-24 tahun dan belum menikah (Sarwono, 1999).
Pendapat Konopka dan Ingersoll dan Hurlock (1999) mengatakan bahwa scara
umum masa remaja dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu sebagai berikut :
a. Masa remaja awal ( Early Adolesence )
Terjadi pada kurun waktu usia 10-12 tahun. Ciri pada masa ini adalah, remaja
lebih dekat dengan teman sebaya, ingin bebas, lebih banyak memperhatikan keadaan
tubuhnya dan mulai berpikir abstrak.
Terjadi pada kurun usia 13-15 tahun. Ciri pada masa ini adalah remaja mencari
identitas diri, timbul keinginan untuk kencan, mempunyai rasa cinta yang mendalam,
mengembangkan kemampuan untuk berfikir abstrak, berkhayal tentang aktivitas seks.
c. Masa Remaja Akhir ( Late Adolesence)
Yaitu remaja usia 15-19 tahun. Ciri masa ini ditandai dengan pengungkapan
kebebasan diri, lebih selektif dalam mencari teman sebaya, mempunyai citra jasmani
dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, mampu berfikir abstrak.
Pada remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga
seringkali mereka terlihat tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Remaja
diberi kesempatan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh
menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya diri, dan mampu
bertanggung jawab ini yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati diri
positif pada remaja. Kelak remaja akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri
sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih
tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu
sebagai sesorang yang baru, sebagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk
dicobanya ( Lily, 2002 ).
2.4.3 Faktor – faktor yang memengaruhi Pernikahan Dini
Faktor-faktor yang memengaruhi penyebab berlangsungnya pernikahan dini
dapat dikelompokkan ke dalam tiga macam yakni :
Yang bermaksud dalam faktor individu disini meliputi bidang yang amat luas.
Beberapa diantaranya ialah :
a. Faktor perkembangan fisik, mental dan sosial yang dialami seseorang makin cepat
makin perkembangan tersebut dialami, makin cepat pula berlangsungnya pernikahan,
sehingga mendorong terjadinya pernikahan dini.
b. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh remaja. Makin rendah tingkat pendidikan,
makin mendorong cepat berlangsungnya pernikahan dini.
c. Sikap dan hubungan dengan orang tua, pernikahan dini dapat berlangsung karena
adanya sikap patuh dan menentang dari remaja terhadap perintah orang tua.
Hubungan dengan orang tua juga menentukan terjadinya pernikahan dini. Dalam
kehidupan sehari-hari sering di temukan pernikahan dini karena remaja ingin
melepaskan diri dari pengaruh atau lingkungan orang tua.
d. Sebagai jalan keluar untuk lari dari berbagai kesulitan yang dihadapi termasuk
kesulitan ekonomi. Tidak jarang ditemukan pernikahan yang berlangsung dalam
usia yang muda sekali, yang antara lain disebabkan karena remaja tersebut
menginginkan status ekonomi yang lebih tinggi.
2. Faktor Keluarga
Faktor yang termasuk dalam faktor keluarga disinilah peranan orang tua dalam
menemukan pernikahan anak-anak mereka. Secara umum peranan tersebut,
dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni :
a. Sosial Ekonomi Keluarga
Sebagai akibat dari beban ekonomi yang dialami, maka para orang tua
pernikahan tersebut akan diperoleh dua keuntungan. Pertama tanggung jawab
terhadap anak gadisnya tidak lagi berada di tangan keluarga tersebut, melainkan di
tangan suami dan keluarga suami. Kedua berlangsungnya pernikahan, akan diperoleh
tambahan tenaga kerja, yakni menantu yang dengan sukarela selalu bersedia
membantu keluarga istri.
b. Tingkat Pendidikan Keluarga
Tingkat pendidikan keluarga juga memengaruhi terjadinya pernikahan dini,
makin rendah tingkat pendidikan keluarga, makin sering di temukan pernikahan dini.
Peranan tingkat pendidikan disini berhubungan erat dengan pemahaman keluarga
tentang kehidupan berkeluarga, yang dalam banyak hal masih bersifat sederhana
sekali.
c. Kepercayaan dan Adat Istiadat yang Berlaku Dalam Keluarga
Kepercayaan dan adat istiadat yang berlaku dalam keluarga juga menentukan
terjadinya pernikahan dini. Sering ditemukan para orang tua yang menikahkan anak
mereka dalam usia yang muda sekali, antara lain kerena keinginan untuk.
Meningkatkan status sosial keluarga, mempererat hubungan antar keluarga dan untuk
menjaga garis keturunan keluarga.
a. Kemampuan yang Dimiliki Keluarga dalam Menghadapi Permasalah Para
Remaja
Apabila sesuatu keluarga memiliki alternatif lain dalam menghadapi atau
mengatasi masalah remaja, misalnya anak gadisnya terperosok ke dalam perbuatan
mengahadapi rasa malu atau rasa bersalah karena anaknya tidak perawan lagi atau
telah hamil di luar nikah.
3. Faktor Lingkungan Masyarakat
Berbagai faktor yang terdapat dalam lingkungan masyarakat juga berperan besar
dalam pernikahan dini. Secara umum berbagai faktor tersebut dapat atas beberapa
macam yakni :
a. Adat Istiadat
Di banyak daerah di Indonesia ada semacam anggapan jika anak gadis yang
telah dewasa belum berkeluarga dipandang merupakan merupakan aib keluarga.
Untuk mencegah aib tersebut, para orang tua berupaya secepat mungkin menikahkan
anak gadis yang dimilikinya, yang pada akhirnya mendorong terjadinya pernikahan
dini.
b. Pandangan dan Kepercayaan
Banyak daerah masih ditemukan adanya pandangan dan kepercayaan yang salah,
misalnya kedewasaan seseorang dinilai dari status pernikahan, adanya anggapan
bahwa status janda lebih baik dari pada perawan tua, adanya anggapan bahwa
kejantanan seseorang dinilai dari seringnya melakukan pernikahan. Kedalam
pandangan dan kepercayaan ini, termasuk pula interpretasi yang salah terhadap ajaran
agama. Sebagian besar masyarakat dan juga beberapa pemuka agama menganggap
aqil balik apabila telah mendapatkan haid pertama, padahal aqil balik tersebut apabila
anak gadis telah melampui masa remaja.
Sering pula pernikahan dini karena beberapa pemuka masyarakat tentu
menyalahgunakan wewenang atau kekuasaan yang dimiliki yakni mempergunakan
kedudukannya untuk menikah lagi.
d. Tingkat Pendidikan Masyarakat
Pernikahan dini dipengaruhi pula oleh tingkat pendidikan masyarakat secara
keseluruhan. Suatu masyarakat yang tingkat pendidikannya amat rendah, cenderung
menikahkan anaknya dalam usia yang masih muda.
e. Tingkat Sosial Ekonomi Masyarakat
Tingkat sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan juga memengaruhi
terjadinya penikahan dini. Masyarakat yang tingkat ekonominya kurang memuaskan,
sering memilih pernikahan sebagai jalan keluar untuk mengatasi kesulitan ekonomi
tersebut.
f. Tingkat Kesehatan Pendudukan
Jika di suatu daerah tingkat kesehatannya belum memuaskan yang dapat dilihat
dengan masih tingginya angka kematian, maka sering ditemukan pernikahan dini.
g. Perubahan Nilai
Pada daerah perkotaan, sebagai akibat dari pengaruh modernisasi telah terjadi
perubahan nilai berupa makin longgarnya hubungan antara pria dan wanita.
Hubungan yang longgar ini dapat menjadi penyebab terjadinya hubungan kelamin di
luar pernikahan, yang pada akhirnya karena pengaruh karena keluarga ataupun
masyarakat sekitarnya, yang antara lain untuk mencegah rasa malu atau menutup aib
keluarga mendorong terjadinya pernikahan dini.
Peraturan perundang–undangan dalam pernikahan dini cukup besar, apabila
peraturan perundang-undangan tersebut masih membenarkan pernikahan dini, maka
akan banyak ditemukan pernikahan dini tersebut, termasuk pula kesadaran aparat
pelaksanaannya yang apabila tidak patuh terhadap ketentuan yang ada dapat saja
mendorong makin tingginya peristiwa pernikahan dini (Azwar, 1987).
2.5 Suku Jawa
Suku Jawa merupakan suku terbesar di Indonesia, pada budaya Jawa,
pandangan geetz pada budaya Jawa trikotomi yaitu abangan santri prinyayi pada
masyarakat Jawa, suku Jawa pada dasarnya sama, dari leluhur dulu hingga sekarang,
pada masyarakat Jawa ada sebagian memiliki sifat pasrah, menerima saja keadaan.
Seperti pada pertanian suku Jawa pada dasarnya memiliki lahan pertanian yang cukup
luas dan mereka mendapatkan warisan masing-masing tetapi karena sifat pasrah tadi,
mereka hanya menerima tanpa berusaha bagai mana supaya lahan pertanian tersebut
semakian lama semakin luas dan oleh karena mereka tidak mau berusaha lahan
pertanian tersebut semakin lama semakin sedikit dan bahkan semakin banyak sanak
saudara dan lahan pertanian pun tidak milik mereka melainkan menyewa karena
semakin sedikit lahan tetapi orangnya semakin banyak. Dan karena sifat pasrah inilah
pada masyarakat suku Jawa banyak yang menikah dini karena tidak mau mencoba
sesuatu dan pasrah pada keadaan (geetz, 1960) pada masyarakat suku Jawa
mengangap istri adalah konco wingking (teman di belakang) yang artinya derajat
hanyalah melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Sehingga ada pepatah
perempuan hanya di kasur di dapur dan di sumur dan tidak perlu sekolah
tinggi-tinggi. Mengakarnya tradisi pernikahan dini ini terkait dengan masih adanya
kepercayaan kuat tentang mitos anak perempuan. Seperti diungkapkan Suwandi,
‘’Adat orang Jawa kalau punya anak perempuan sudah ada yang ngelamar harus
diterima, kalau tidak diterima bisa sampai lama tidak laku-laku’’(Thomas, 1996).
2.6 Adat Pernikahan
Adat pernikahan masyarakat Jawa dari dulu sudah ada dari leluhur,
Pemahaman masyarakat Jawa berdasarkan garis keturunan serata memakai hukum
kekerabatan parental. Pernikahan bagi masyarakat Jawa bukanlah hanya sekedar
kebutuhan biologi manusia. (Koentjaraningrat, 1990 ).
2.7 Peranan Umur Dalam Pernikahan
Umur merupakan salah satu hal yang memiliki peran besar dalam pernikahan,
sebagaimana yang disampaikan (Walgito, 2002) mengenai beberapa kaitan umur
pasangan dalam keluarga yang terbentuk sebagai akibat dari pernikahan, yaitu.
2.7.1 Hubungan umur dengan keadaan psikologis dalam pernikahan
Umur memiliki kaitan dengan kaitan psikologis seseorang, semakin
bertambah umur seseorang diharapkan akan lebih matang aspek psikologisnya. Anak
wanita umur 16 tahun, belum dapat dikatakan dewasa secara psikologis. Demikian
pula pada pria umur 19 tahun, belum dapat dikatakan bahwa mereka sudah masak
secara psikologis. Pernikahan pada umur yang masih muda akan banyak mengundang
jarang pasangan yang mengalami keruntuhan dalam rumah tangganya karena usia
masih terlalu muda. Berhubungan dengan hal tersebut dalam pernikahan kemasakan
atau kematangan psikologis perlu mendapatkan pertimbangan yang mendalam.
Kawin cerai biasanya terjadi pada pasangan yang umumnya pada waktu kawin relatif
masih sangat muda.
2.7.2 Umur yang ideal dalam pernikahan
Tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan umur yang paling baik dalam
melangsungkan pernikahan, namun untuk menentukan umur yang ideal dalam
pernikahan dapat dikemukakan beberapa hal sebagai bahan pertimbanagan, yaitu :
a. Kematangan Fisiologis atau Kejasmanian
Keadaan kejasmanian yang cukup matang dan sehat diperlukan dalam melakukan
tugas sebagai akibat pernikahan. Wanita umur 16 tahun dan pria yang berumur 19
tahun telah mencapai kematangan.
b. Kematangan Psikologis
Banyak hal yang timbul dalam pernikahan yang membutuhkan pemecahan
masalahnya dari segi kematangan psikologisya. Adanya kebijaksanaan dalam
keluarga menuntut kematangan psikologis dan segi-segi atau masalah-masalah yang
lain. Menurut Walgito (1984), dalam pernikahan dituntut adanya kematangan emosi
agar seseorang dapat menjalankan pernikahan dengan baik. Beberapa tanda
yang baik, dan dapat menerima keadaan dirinya maupun keadaan orang lain seperti
apa adanya kematangan ini pada umumnya dapat dicapai setelah umur 21 tahun.
c. Kematangan Sosial, Khususnya Sosial–Ekonomi
Kematangan sosial, khususnya sosial-ekonomi diperlukan dalam pernikahan
karena hal ini merupakan penyangga dalam memutar roda keluarga akibat
pernikahan. Umur yang masih muda, pada umumnya belum mempunyai pegangan
dalam hal sosial-psikologi, padahal kalau seseorang telah memasuki pernikahan,
maka keluarga tersebut harus dapat berdiri sendiri untuk kelangsungan keluarga
bergantung itu, tidak bergantung kepada pihak lain termasuk orang lain.
d. Tinjauan Masa Depan atau Jangka ke Depan
Umumnya keluarga menghendaki adanya keturunan, yang dapat melangsungkan
keturunan keluarga, disamping itu umur manusia terbatas, pada suatu waktu akan
mengalami kematian. Sejauh mungkin diusahakan bila orang tua telah lanjut usia,
anak- anaknya telah dapat berdiri sendiri, tidak lagi menjadi beban orang tuanya, oleh
karena itu pandangan kedepan perlu dipertimbangkan dalam pernikahan.
e. Perbedaan Antara Perkembangan Pria dan Wanita
Perkembangan antara pria dan wanita tidaklah sama, artinya kematangan pada
wanita tidak akan sama jatuhnya dengan pria, seorang wanita yang umumnya sama
dengan seorang pria, tidak berarti kematangan segi psikologisnya juga sama. Sesuai
dengan segi perkembangan, pada umumnya wanita lebih dahulu mencapai
kematangan dari pada pria.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan mengingat bahwa peranan
untuk melangsungkan pernikahan pada wanita umur 23-24 tahun, sedangkan untuk
pria umur 26-27 tahun, pada rentan umur tersebut pada umumnya telah mencapai
kematangan kejasmanian, psikologis, dan dalam keadaaan normal pria umur sekitar
26-27 tahun telah mempunyai sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga
sebagai akibat pernikahan tersebut (Walgito, 2002).
2.8 Peranan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi terhadap terjadinya pernikahan dini
Nugroho 2007, menyatakan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi
merupakan pengetahuan yang menyangkut cara seseorang bersikap atau bertingkah
laku yang sehat, bertanggung jawab serta tahu apa yang dilakukannya dan akibat bagi
dirinya, pasangannya dan masyarakat sehingga daspat membahagiakan dirinya juga
dapat memenuhi kehidupan seksualnya terjadinya.
2.9 Peran media terhadap terjadinya pernikahan dini
Paparan media massa, baik cetak (koran, majalah, buku-buku porno) dinilai
banyak menguyuhkan serta dan mendormeteri porno dan pornoaksi secara langsung
dan tidak langsung dapat memberikan kesan yang mendalam dan gambaran
psikoseksual yang salah, serta dapat mendorong timbulnya libido seksual remaja,
bahkan meteri pornografi dan pornoaksi dijadikan refrensi oleh remaja untuk
melakukan seksual pranikah.
Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang diperoleh remaja dari media
massa belum digunakan untuk pedoman prilaku seksual yang sehat dan
maupun elektronik) yang cenderung bersifat pornografi dan pornoaksi dapat menjadi
refrensi yang tidak mendidik bagi remaja. Remaja pada periode pingin tahu dan ingin
mencoba, akan meniru apa yang akan dilihat atau didengarnya dari media massa
tersebut. Apalagi VCD-VCD atau bacaan-bacaan porno kini banyak dijual bebas dan
seseorang akan sangat mudah mendapatkanya. Selain itu, maraknya warung-warung
internet semakin memudahkan mengakses gambar-gambar porno. Hal-hal inilah yang
semakin memicu timbulnya berbagai aktivitas seksual yang pada akhirnya berlanjut
kedalam hubungan seksual (Dianawati, 2006).
Pengaruh eksternal, khususnya film VCD porno perlu mendapat perhatian
dewasa ini, kaset VCD porno sudah menjadi barang biasa dan mudah didapatkan
keberadaan VCD porno yang banyak beredar dipasaran belum mendapatkan perhatian
tersediri oleh aparat yang berwenang. Belum ada tindakan proaktif secara konsisten
dan berkelanjutan untuk merazia keberadaan VCD porno itu. Upaya razia segala
bentuk pornografi, baik yang berupa bahan bacaan maupun VCD porno yang
dilakukan oleh pihak yang berwenang, belum berhasil ditegakkan secara konsisten
dan berkesinambungan.
2.10 Peran status sosial ekonomi terhadap terjadinya pernikahan dini
Tingkat sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan memengaruhi
terjadinya pernikahan dini. Masyarakat yang tingkat ekonominya kurang memuaskan,
sering memilih pernikahan sebagai jalan keluarnya untuk mengatasi kesulitan
ekonomi tersebut. Apalagi mengingat mayoritas penduduk indonesia tinggal di
perdesaan dan dalam kelas ekonomi menengah kebawah, terlihat adanya rentang
bagi remaja diantara dua teritori sosial ekonomi, selain itu para orang tua
mempercepat pernikahan anaknya untuk melepaskan beban ekonomi, apalagi
rata-rata satu keluarga memiliki banyak anak (keluarga besar) sehingga tidak heran jika
masih ada orang tua sudah saling menjodohkan anak-anaknya sejak masih balita
(Sofian, 2008).
2.11 Peran lingkungan keluarga terhadap terjadinya pernikahan dini
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak.
Masa remaja merupakan pengembangan identitas diri, ingin mengetahui bagaimana
orang lain menilainya dan mencoba menyesuaikan diri dengan harapan orang lain
(Hurlock 1999).
Proses sosialisasi sangat dipengaruhi oleh pola asuh dalam keluarga. Sikap
otoriter, mau menang sendiri, selalu mengatur, semua perintah harus diikuti tanda
perhatian pendapat dan kemauan anak akan berpengaruh pada perkembangan
kepribadiaan remaja, ia akan berkembang menjadi penakut, tidak memiiki rasa
percaya diri, merasa tidak berharga, sehigga proses sosialisasi menjadi terganggu.
Sikap orang tua ‘’permisif’’(serba boleh tidak pernah melarang selalu menuruti
kehendak anak, selalu memanjakan) akan menumbuhkan sikap ketergantungan
kesulitan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial di luar keluarga.
Sikap orang tua yang berambisi dan selalu menuntut anaknya, akan berakibat
anak cenderung mengalami frustasi, takut gagal dan tidak merasa berharga. Orang tua
yang demokratis akan mengakui keberadaan anak sebagai individu dan makhluk
menimbulkan keseimbangan antara perkembangan individu dan sosial, sehingga anak
akan memperoleh suatu kondisi mental yang sehat (Santrock, 2003).
Hubungan orang tua yang harmonis akan menumbuhkan kehidupan emosional
yang optimal terhadap perkembangan kepribadiaan anak sebaliknya, orang tua yang
sering bertengkar akan menghambat komunikasi dalam keluarga, dan anak akan
melarikan diri dari keluarga. Keluarga yang tidak lengkap. Misalnya karena
penceraian, kematian, dan keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang, dapat
memengaruhi perkembangan jiwa anak (Hurlock, 1999).
Seperti yang dinyatakan oleh Dadang (1995) kasih sayang orang tua kepada
anak dapat menghilangkan kesedihan dan rasa takut anak, dapat menyenangkan anak,
bapak menyenangkan anak, pada saat ia sakit hati. Sehubungan dengan peran penting
pihak orang tua dalam proses pembelajaran reproduksi, seseorang yang melakukan
pernikahan dini menyatakan bahwa dirinya memiliki hubungan yang cukup harmonis
dengan orangtuanya di rumah, Namun ia mengaku tidak pernah membicarakan
masalah reproduksi masalah seksualitas secara khusus dengan orangtuanya.
Menurutnya orangtua tidak pernah membicarakan masalah seksual karena masalah ini
dianggap tabu, pihak orangtua menganggap bahwa remaja akan mengetahui masalah
seksual dengan sendirinya apabila sudah dewasa.
2.12 Peran lingkungan masyarakat terhadap terjadinya pernikahan dini
Dalam era globalisasi dunia menjadi sempit, budaya lokal dan budaya
nasional akan tembus oleh budaya universal, dengan demikian akan terjadi
pengeseran nilai kehidupan, kemajuan ilmu. Pengetahuan dan teknologi sangat
dengan sekejab diketahui oleh seluruh penghuni bumi. Di rumah dan di sekolah,
orang tua dan guru, lebih banyak mengharapkan nilai spiritual menjadi pegangan
remaja, Namun kenyataan memang berbeda membuktikan yang diajarkan berbeda
dengan yang dilihat di luar rumah atau di luar sekolah. Remaja menjadi bingung,
mana yang harus dilakukan. Situasi akan menimbulkan konflik nilai yang dapat
berakibat terjadinya penyimpangan perilaku, seperti yang terlihat di masyarakat,
misalnya waria, pergaulan bebas, mabuk, dan homoseksualitas (Luthfiyati, 2008).
Sebenarnya remaja sadar akan pentingnya kebudayaan sebagai tolak ukur
terhadap tingkah laku sendiri. Kebudayaan memberikan pedoman arah, persetujuan,
pengingkaran, dukungan, kasih sayang dan perasaan aman kepada remaja. Akan
tetapi mereka juga punya inginan untuk mandiri. Inilah yang menyebabkan remaja
membuat tolak ukur mereka sendiri, yang berbeda dari tolak ukur orang dewasa
mereka membuat kebudayaan sendiri yang berbeda dari kebudayaan masyarakat
umumnya. Kebudayaan yang menyimpang inilah yang dikenal sebagai kebudayaan
anak muda (Youth Culture) nilai yang dominan dalam budaya anak muda adalah
keunggulan dalam olah raga, senang hura-hura senang pesta, tidak dianggap
pengecut, dan sebagainya (Azwar, 2001).
Adanya perilaku seksual yang salah satu adanya pernikahan dini di
masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya pernikahan
dini pada remaja. Remaja dapat terjerumus melakukan perilaku seksual yang salah
oleh karena melihat lingkungan sekitarnya sehingga mereka menjadi ingin tahu, ingin
coba-coba atau dapat kerena bujukan, paksaan orang-orang disekitarnya baik sebaya
yang salah dianggap mereka benar ataupun hal tersebut memang sudah umum terjadi
di masyarakat sekitarnya.
Jika dilingkungan masyarakat terdapat kasus pernikahan dini bukan tidak
mungkin hal ini menyebabkan remaja lainnya terdorong untuk melakukannya juga
baik karena ingin coba-coba, alasan sudah cinta, alasan seks pranikah atau kehamilan.
Selain itu keluarga orang tua juga dapat mendorong mereka untuk melakukan hal
tersebut oleh karena melihat fenomena tersebut dimasyarakat. Bukan tidak mungkin
pernikahan dini yang terjadi di masyarakat juga dapat menyebabkan hal ini menjadi
budaya pada akhirnya sepertinya yang terjadi di desa-desa.
Hal lainnya yang berhubungan dengan pengetahuan adalah jika masyarakat
sekitar remaja mempunyai pengetahuan mengenai remaja, seksualitas dan kesehatan
reproduksi yang kurang atau salah, hal ini dapat menyebabkan perilaku seks yang
salah bagi remaja. Kurangnya pengetahuan mengenai remaja, seksualitas dan
kesehatan reproduksi pada masyarakat akibat masih dianggap tabu tentang hal
tersebut untuk dibicarakan juga dpat menyebabkan terjadinya pernikahan dini di
masyarakat pada awal akhirnya kembali lagi menimbulkan berbagai akibat seperti
diatas yang mendorong remaja melakukan pernikahan dini (Depkes, 2005).
2.13 Dampak pernikahan dini
Adapun dampak pernikahan dini begitu banyak. Ada yang berdampak bagi
kesehatan, adapun yang berdampak bagi psikis dan kehidupan keluarga remaja
Perempuan yang menikah dibawah umur 20 tahun beresiko terkena kanker leher
rahim. Pada usia remaja, sel-sel leher rahim belum matang. Kalau terpapar human
papiloma virus atau HPV pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker
Leher rahim ada dua lapisan epitel, epitel skuamosa san epiter kolumner, pada
sambungan kedua epitel terjadi pertumbuhan yang aktif, terutama pada usia muda.
Epitel koluner akan berubah menjadi epitel skuamosa. Perubahannya disebut
metaplasia, kalau ada HPV menempel, perubahan penyimpangan menjadi diplasia
yang merupakan awal dari kangker. Pada usia lebih tua, di atas 20 tahun, sel-sel
sudah matang, sehingga resiko makin kecil (Lutfiyati, 2008).
2. Kesehatan Maternal dan Bayi
Kehamilan remaja memiliki dampak signifikan pada kesehatan anak dan
meternal. Anak yag lahir dari ibu remaja cenderung untuk memiliki berat badan lahir
rendah, cedera saat lahir, dan dihubungkan dengan komplikasi persalinan yang
berdampak pada tingginya mortalitas. Peningkatan resiko kematian bayi pada ibu
remaja juga dihubungkan dengan imaturitas kehamilan dan pengalaman minimal.
Penelitian menunjukkan kehamilan remaja kurang dari 20 tahun beresiko
kematian ibu dan bayi 2-4 kali lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada berusia
20-35 tahun (Azwar, 2001).
Dari segi fisik dan biologis remaja itu belum kuat, tulang panggulnya masih
terlalu kecil sehingga bisa membahayakan proses persalinan, selain itu remaja banyak
menderita enemi selagi hamil dan melahirkan, mengalami masa reproduksi lebih
panjang, sehingga memungkinkan banyak peluang besar untuk melahirkan dan
dilakukan pada usia 20-30 tahun. Idealnya menikah itu pada saat dewasa awal yaitu
sekira 20 sebelum 30 tahun untuk wanitanya, sementara untuk pria 25 tahun. Karena
secara biologis dan psikis sudah matang untuk memiliki keturunan, artinya resiko
melahirkan anak cacat atau meninggal tidak besar (Maemunah, 2008).
3. Neoritis Depresi
Depresi berat atau neoritis depresi akibat pernikahan dini, bisa terjadi pada
kondisi kepribadian yang berbeda. Pada pribadi yang tertutup akan membuat
pendiam, tidak mau bergaul, bahkan menjadi seorang yang schizopremia atau dalam
bahasa awam yang dikenal dengan sebutan orang gila, sedang depresi berat pada
pribadi terbuka sejak masih kecil si remaja terdorong melakukan hal-hal aneh untuk
melampiaskan amarahnya. Seperti, anak dicekik dan sebagainya. Dengan kata lain
secara psikologis kedua bentuk depresi sama-sama berbahaya.
Dalam pernikahan dini sulit membedakan apakah remaja laki-laki atau remaja
perempuan yang biasanya mudah mengendalikan emosi. Situasi emosi mereka jelas
labil, sulit kembali pada saat situasi normal. Sebaiknya, sebelum ada masalah lebih
baik diberi prevensi dari pada mereka diber