HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Faktor fisik-kimia perairan
Hasil pengukuran Faktor fisik-kimia perairan di Sungai Peusangan, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini.
Tabel 4.4 Faktor Fisik-Kimia Perairan di Sungai Peusangan, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh
Stasiun I : Desa Bale Atu, Kecamatan Lut Tawar Stasiun II : Desa Kayu Kul, Kecamatan Pegasing Stasiun III : Desa Lenga, Kecamatan Bies
Stasiun IV : Desa Semelit Mutiara, Kecamatan Silih Nara 4.4.1 Suhu
Suhu pada setiap stasiun penelitian berkisar antara 23,7-25,3oC. Suhu tertinggi diperoleh pada stasiun 3 sebesar 25,3oC, sedangkan suhu terendah diperoleh pada stasiun 2 sebesar 23,7oC. Perbedaan suhu pada setiap stasiun dipengaruhi oleh intensitas cahaya, arus, dan kedalaman. Menurut Barus (2004) suhu dapat dipengaruhi oleh musim, ketinggian dari permukaan laut, sirkulasi udara, arus, intensitas cahaya dan kedalaman. Temperatur di suatu ekosistem air berfluktuasi baik
harian maupun tahunan terutama mengikuti pola temperatur udara lingkungan sekitarnya. Fluktuasi temperatur air sungai akan mengikuti aliran air mulai dari hulu menuju hilir sungai.
Menurut Kenconojati et al. (2016) suhu untuk pertumbuhan ikan berkisar antara 20-30oC. Perbedaan suhu siang dan malam pada daerah tropis cenderung lebih kecil sebesar <5oC.
4.4.2 Intensitas cahaya
Intesitas cahaya tertinggi diperoleh pada stasiun 4 sebesar 380 × 100 Candella dan yang terendah pada stasiun 1 sebesar 314 × 100 Candella. Perbedaan intensitas cahaya pada stasiun penelitian dipengaruhi oleh vegetasi yang terdapat di sekitar aliran sungai. Menurut Barus (2004) vegetasi yang ada di sepanjang aliran air dapat mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk ke dalam air, karena tumbuh-tumbuhan tersebut juga mempunyai kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya matahari.
Bagi organisma air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisma tersebut dalam habitatnya. Organisma air yang mempunyai aktivitas maksimum pada siang hari disebut diurnal dan yang aktif pada malam hari disebut nocturnal. Perbedaan ini akan mengurangi kompetisi antar spesies dalam memperebutkan bahan makanan yang tersedia (Barus, 2004).
4.4.3 Penetrasi cahaya
Penetrasi cahaya tertinggi diperoleh pada stasiun 1 sebesar 1,8 m dan terendah pada stasiun 3 sebesar 1,2 m. Perbedaan penetrasi cahaya disebabkan jumlah padatan terlarut di dalam perairan. Pada stasiun 3 terdapat aktivitas pertanian yang menyebabkan aliran air yang mengandung padatan terlarut yang berasal dari sawah mengalir ke sungai. Menurut Suin (2002) penetrasi cahaya dipengaruhi oleh jumlah padatan terlarut yang berada di dalam perairan. Sungai atau badan air dengan padatan terlarut yang tinggi menyebabkan air menjadi keruh sehingga penetrasi cahaya berkurang.
Menurut Barus (2004) kedalaman penetrasi cahaya akan berbeda pada setiap ekosistem air yang berbeda. Pada batas akhir penetrasi cahaya konsentrasi karbondioksida dan oksigen berada dalam keadaan konstan.
32
4.4.4 Kecepatan arus
Kecepatan arus tertinggi terdapat pada stasiun 4 dengan nilai 0,47 m/s dan kecepatan arus terendah terdapat pada stasiun 2 dengan nilai 0,24 m/s. Perbedaan kecepatan arus sangat dipengaruhi oleh perbedaan topografi pada tiap stasiun.
Menurut Barus (2004) kecepatan arus di suatu ekosistem berflukuasi dari waktu ke waktu tergantung dari fluktuasi debit dan aliran air serta kondisi subtrat yang ada.
Menurut Suin (2002) kecepatan arus mempengaruhi organisme yang berada di dalam perairan. Organisme harus mempunyai adaptasi morfologis yang spesifik untuk dapat berthan hidup pada habitat yang berarus. Umumnya ikan memiliki bentuk tubuh streamline untuk hidup pada perairan yang berarus. Menurut Barus (2004) organisma air akan mencari perlindungan untuk menghindarkan diri dari ancaman hanyut, terutama pada subtrat batuan
4.4.5 pH
Berdasarkan Tabel 4.4 derajat keasaman (pH) pada setiap stasiun relatif sama berkisar antara 7,19 – 7,57. Perbedaan pH ini dapat dipengaruhi oleh kandungan senyawa organik yang berada di dalam perairan. pH yang diperoleh pada stasiun penelitian tergolong netral dan dapat menunjang kehidupan ikan di dalam perairan.
Menurut Barus (2004) organisme air dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai basa lemah.
Menurut Kristanto (2002) nilai pH pada suatu perairan dipengaruhi oleh kandungan organik di dalam perairan. Nilai pH akan semakin rendah menuju asam ketika jumlah bahan organik di dalam perairan meningkat. Perubahan keasaman pada air, baik ke arah alkali (pH naik) maupun ke arah asam (pH turun) akan sangat mengganggu kehidupan ikan dan hewan air.
4.4.6 Dissolved Oxygen (DO)
Oksigen terlarut (DO) pada setiap stasiun berkisar antara 5,8 – 6,6 mg/L. DO tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan terendah terdapat padat stasiun 3. Perbedaan kelarutan oksigen dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya perbedaan suhu pada kedua stasiun. Pada stasiun 2 suhu perairan lebih rendah sehingga DO lebih
tinggi. Oksigen merupakan senyawa yang sangat penting bagi kehidupan organisme terutama untuk proses pernafasan, metabolisme, dan fotosintesis. Keberadaan oksigen terlarut di perairan menjadi faktor penting untuk kelangsungan hidup semua organisme. Menurut Kenconojati et al. (2016) kadar DO yang baik bagi pertumbuhan ikan adalah di atas 5 mg/L. Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mengakibatkan ikan-ikan dan binatang air mati. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga akan mengakibatkan pengkaratan semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam.
Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara, dan dari proses fotosintesis. Selanjutnya air kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari semua organisma air. Konsumsi oksigen bagi organisma air berfluktuasi dan akan meningkat pada proses reproduksi (Barus, 2004).
4.4.7 Biochemical Oxygen Demand (BOD)
Berdasarkan Tabel 4.4 nilai BOD5 tertinggi terdapat pada stasiun 3 sebesar 2,8 mg/L dan BOD5 terendah terdapat pada stasiun 1 sebesar 1,4 mg/L.Perbedaan ini disebabkan kandungan senyawa organik yang berasal dari limbah domestik dan pertanian. Menurut Santoso (2018) BOD juga menyatakan jumlah bahan organik mudah terurai (biodegradable organics) yang ada di perairan. Nilai BOD dipengaruhi jumlah TSS dan zat organik yang terlarut. Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II, nilai baku mutu untuk BOD adalah sebesar 3 mg/L.
Menurut Kristanto (2002) nilai BOD yang masih dapat menunjang kehidupan organisma air berkisar antara 1-3 ppm. Nilai BOD >5 ppm dikhawatirkan tidak dapat menunjang kehidupan organisma. Nilai BOD yang tinggi disebabkan oleh kandungan organik yang tinggi yang berasal dari limbah domestik maupun limbah pabrik.
Faktor-faktor yang dapat memengaruhi pengukuran BOD adalah jumlah senyawa organik yang akan diuraikan, tersedianya mikroorganisme aerob yang mampu menguraikan senyawa organik tersebut dan tersedianya oksigen.
34
4.4.8 Kejenuhan oksigen
Berdasarkan Tabel 4.4 kejenuhan Oksigen pada setiap stasiun relatif sama berkisar antara 71-79%. Perbedaan kejenuhan oksigen dipengaruhi limbah organik serta organisme yang berada di dalam perairan. Menurut Patty (2018) kejenuhan oksigen dipengaruhi oleh aktivitas metabolisme serta fotosintesis di dalam perairan.
Badan air dianggap memiliki kejenuhan oksigen yang rendah jika nilai kejenuhan oksigen dibawah 100% begitu pula sebaliknya.
Pengukuran kejenuhan oksigen bertujuan untuk mengetahui apakah kelarutan oksigen di dalam perairan sudah maksimum atau tidak. Kehadiran senyawa organik akan menyebabkan terjadinya proses penguraian secara aerobik, artinya mikroorganisme membutuhkan oksigen dan akan mengurangi kandungan oksigen di dalam perairan. Kondisi ini menyebabkan defisit oksigen sehingga kejenuhan oksigen tidak lagi mencapai 100% (Barus, 2004).
4.4.9 Nitrat (NO3)
Berdasarkan Tabel 4.4 kadar NO3 (Nitrat) pada setiap stasiun berkisar antara 0,1 – 0,4 mg/L. Kadar Nitrat tertinggi pada stasiun 3 dan terendah pada stasiun 2 disebabkan aktivitas disekitar stasiun penelitian seperti kegiatan pertanian yang dapat memengaruhi kadar nitrat pada perairan. Menurut Kenconojatiet al. (2016) kadar nitrat dalam suatu perairan menandakan kesuburan perairan tersebut. Nitrat yang terbentuk akan digunakan oleh fitoplankton dan tumbuhan air untuk asimilasi makanan. Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II, nilai baku mutu untuk NO3 adalah sebesar 10 mg/L.
Nitrogen sebagai sumber nitrat terbanyak terdapat di udara, yaitu sebesar 78% volume udara. Hanya sedikit organisme yang dapat langsung memanfaatkan nitrogen udara. Pengubahan dari nitrogen bebas di udara menjadi nitrat dapat dilakukan secara biologis maupun kimia. Kandungan nitrogen yang terlalu tinggi di dalam air akan mengakibatkan pertumbuhan ganggang yang tidak terkontrol (Kristanto, 2002).
4.4.10 Fosfat (PO43-)
Berdasarkan Tabel 4.4 kadar PO4 (Fosfat) tertinggi terdapat pada stasiun 2 sebesar 4,87 mg/L dan terendah pada stasiun 4 sebesar 0,03 mg/L. Nilai fosfat yang sangat tinggi pada stasiun 2 disebabkan oleh limbah domestik dari rumah tangga, pasar, serta perternakan yang dibuang langsung ke dalam perairan. Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Kelas II, nilai baku mutu untuk PO4 adalah sebesar 0,2 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa kadar fosfat pada stasiun 2 cenderung melebihi baku mutu air.
Menurut Mustofa (2015) kadar fosfat yang tinggi menandakan suatu perairan yang eutrofik (subur).
Fosfat dan Nitrat di dalam perairan berasal dari perairan itu sendiri yaitu melalui dekomposisi tumbuh-tumbuhan dan dan sisa-sisa organisme mati. Selain itu dapat pula berasal dari daratan di sekitar perairan yang menyumbangkan limbah yang mengandung senyawa organik (Patty et al., 2015).