• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Determinan Kematian Neonatus

2.4.2. Faktor Ibu

Umur dan paritas ibu berkaitan dengan risiko meningkatnya masalah pada neonatus, seperti Intrauterine Growth Restriction (IUGR), prematuritas, dan kematian neonatus.42

Pola kematian bayi dihubungkan dengan usia ibu, ditunjukkan dengan grafik berbentuk huruf “U” dimana kematian bayi tertinggi terjadi pada kelompok ibu yang berusia <18 tahun dan yang berusia > 35 tahun.42,43

Beberapa penelitian melaporkan terjadi peningkatan risiko kelahiran prematur dan kematian neonatus pada ibu yang lebih muda. Penyebab meningkatnya

risikokematian bayi pada ibu yang berusia <18 tahun disebabkan oleh pertumbuhan panggul yang belum sempurna.43

Risiko kematian neonatus meningkat dua kali pada Nulipara yang berusia < 18 tahun ( Nulipara : wanita yang belum pernah melahirkan sama sekali, atau wanita yang belum pernah melahirkan bayi hidup).Risiko terjadinya retardasi pertumbuhan intrauterin, kematian janin, dan gawat janin yang terdapat pada golongan ibu hamil yang sangat muda. Risiko ini terutama pada kehamilan pertama.Mortalitas neonatus yang rendah justru ditemukan pada ibu golongan umur 20 – 30 tahun.42

Umur perkawinan pertama ibu merupakan salah satu faktor kematian bayi dan anak.44 Penelitian yang dilakukan di Jakarta dan Indonesia tentang deferensial kematian bayi dan anak menemukan bahwa bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menikah muda memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.43 Semakin muda usia seorang ibu dalam perkawinan, maka ibu akan mengalami masa reproduksi yang panjang karena semakin lama rentang antara usia subur dengan usia tidak subur yang dapat menghasilkan kehamilan, sehingga memungkinkan untuk melahirkan lebih dari satu anak.44

Kehamilan pada ibu yang berusia > 40 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap kematian neonatus, maupun komplikasi obstetrik, dan risiko ini di pengaruhi oleh paritas. Sebuah studi yang dilakukan di Turki menemukan insiden Pre-eklamsia, DM Gestasional, Plasenta Previa, kematian janin, Abruptio Placentae, kelahiran prematur, dan IUGR lebih tinggi terjadi pada ibu yang berusia > 40 tahun dibanding ibu yang berusia 20 – 30 Tahun.45

Ibu hamil dengan usia > 35 tahun meningkatkan risiko kelahiran prematur. Kelahiran prematur dapat dikaitkan terhadap insiden kelainan kromosom atau kelainan kongenital yang lebih tinggi.39Selain masalah sosial ekonomi, di negara berkembang ibu-ibu yang sudah berumur lebih dari 35 tahun umumnya mempunyai anak yang lebih banyak.43

Ibu yang melahirkan dengan umur di atas 35 tahun sering dijumpai faktor penyulit dalam persalinan dan mempunyai risiko komplikasi kehamilan terutama disebabkan karena adanya proses menua jaringan reproduksi dan jalan lahir. Pertambahan usia juga ikut mempengaruhi organ vital seperti sistem kardiovaskular dan ginjal. Ibu yang melahirkan pertama kali di atas usia 35 tahun terdapat penyulit karena kekakuan jaringan panggul yang belum pernah dipengaruhi oleh kehamilan dan persalinan.43

b. Paritas

Paritas merupakan jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup, yaitu kondisi yang menggambarkan kelahiran sekelompok atau beberapa kelompok wanita selama masa reproduksi.46

Paritas telah terbukti memiliki hubunganterhadap gangguan kesehatan ibu baik saat hamil maupun bersalin, di mana faktor tersebut akan turut berpengaruh pula pada kesehatan bayi yang dilahirkan (neonatus).47

Ditinjau dari tingkatannya, paritas dikelompokkan menjadi 3, yaitu ; paritas rendah meliputi nulipara yaitu wanita yang belum pernah melahirkan sama sekali, atau wanita yang belum pernah melahirkan bayi hidup, dan primara yaitu wanita yang

pada wanita hamil dan bersalin dua sampai empat kali. Paritas tinggi atau grande multipara adalah ibu hamil dan melahirkan 5 kali atau lebih.48

Sebuah penelitian menunjukkan ibu yang merupakan Nulipara ( Nulipara : wanita yang belum pernah melahirkan sama sekali, atau wanita yang belum pernah melahirkan bayi hidup) dan berusia < 18 tahun serta ibu yang memiliki paritas > 3 dan berusia > 35 tahun meningkatkan risiko kematian neonatus.42 Hal ini sejalan dengan SKRT 2001 yang menyatakan bahwa kematian neonatus banyak terjadi pada ibu dengan paritas > 3.47

Nuliparajuga berhubungan terhadap risiko komplikasi selama kelahiran, seperti partus macet, sedangkan paritas tinggi juga meningkatkan risiko Hipertensi, Placenta Previa, dan Uterine Rupture.42

Grande multipara merupakan faktor risiko dimana komplikasi kehamilan dan persalinan lebih sering terjadi setelah ibu mengalami kelahiran di atas empat kali dan bayi yang dilahirkan setelah mempunyai risiko lebih tinggi untuk dilahirkan prematur atau mati perinatal.43

Kondisi kesehatan ibu karena melahirkan lebih dari empat kali akan mempengaruhi kondisi kehamilan selanjutnya dan akan memberikan risiko tidak saja kepada ibu sendiri, tetapi juga kepada bayi yang dilahirkannya. Sedangkan pada paritas 2 – 3 merupakan paritas paling aman terhadap kematian dan kesakitan baik pada anak maupun pada ibunya, selanjutnya risiko meningkat pada setiap kehamilan berikutnya.43

c. Komplikasi Obstetrik

Risiko kematian neonatus meningkat 81% pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang memiliki riwayat komplikasi selama persalinan, seperti pendarahan, demam, dan kejang. Pada bayi dengan ukuran lebih kecil dibanding ukuran normal, risiko meninggal berkisar 2,8 kali dibanding bayi yang lahir dengan ukuran normal.49

Dalam sebuah studi di perkotaan Pakistan menemukan bahwa komplikasi obstetrik yang paling sering menyebabkan kematian neonatus yaitu, persalinan prematur (34%), asfiksia intrapartum (21%), dan pendarahan antepartum (9%).50

Penelitian di pedesaan Kenya melaporkan bahwa komplikasi persalinan sebagairisiko utama untuk kematian bayi. Komplikasi seperti pendarahan antepartum, partus lama/macet, eklamsia, persalinan prematur dan ketuban pecah dini meningkatkan risiko kematian perinatal 6 – 62 kali, dan 53% kematian perinatal dikaitkan pada komplikasi persalinan.. Kematian perinatal 60 kali berisiko pada wanita dengan pendarahan antepartum dibanding wanita tanpa pendarahan (OR = 61,9; CI 95% = 13,9 – 274,2) dan kematian perinatal 8 kali berisiko pada wanita dengan partus lama/ malpresentasi ( OR= 7,9; CI 95% = 39,2 – 15,94) serta kematian perinatal 13 kali berisiko pada wanita yang pecah ketuban dini / persalinan prematur (OR= 13,6; CI 95% = 5,2 – 35,7).51

Menurut Depkes RI, riwayat obstetrik dikatakan buruk bila gravid > 4, pernah abortus, pernah mengalami persalinan dengan tindakan (forceps, vacuum extractcy, section caesaria), status bayi yang dilahirkan ( lahir mati, bayi besar, BBLR, dan prematur) dan riwayat kehamilan ganda.43

Dokumen terkait