• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Internal dan Eksternal dalam Pengelolaan Hutan Lindung Karakelang Selatan Resort Talaud

JENIS LAINNYA YANG BERNILAI EKONOMIS

G. Pendapatan Anggota Kelompok Tani HLK

4.6 Faktor Internal dan Eksternal dalam Pengelolaan Hutan Lindung Karakelang Selatan Resort Talaud

123 sekaligus dapat menjadi potensi masalah apabila tidak dikordinasikandengan baik. Keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan HLKakan menguntungkanapabila koordinasi berjalan dengan baik didukung pemahaman dan persepsi para pihakyang sama terhadap tujuan pengelolaan HLK.

4.6 Faktor Internal dan Eksternal dalam Pengelolaan Hutan Lindung

124 Selanjutnya, untuk melihat hasil analisis dari keempat pakar telah memberikan nilai pada tabel matriks perbandingan berpasangan sesuai 16 Indikator pada tabel 4 pada masing-masing kelompok SWOT.Dari 16 indikator yang didapatkan kemudian diolah lalu dibuatkan matriks gabungan perbandingan.Pada dasarnya sangat baik untuk memperhitungkan sebanyak mungkin faktor, namun jumlah perbandingan berpasangan dalam AHP akan meningkat secara eksponensial dengan jumlah faktor. Oleh karena itu, untuk menjaga agar perbandingan berpasangan tidak terlalui banyak, peneliti hanya menggunakan tiga sampai lima faktor pada masing-masing kategori SWOT.

S1 Kelembagaan KPHL Sitaro resort talaud Kuat

• Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82,tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737)

• Peraturan Gubernur Sulawesi Utara No. 98 Tahun 2016 dan Peraturan Gubernur Sulawesi Utara Nomor 52 Tahun 2017 / 14/11/2016

• SK.729/MENLHK/SETJEN/PLA.0/12/2017

125 S2 Potensi dan keragaman luasan tutupan lahan, keragaman hayati, resapan air dan daerah penting bagi kehidupan burung Untuk pengelolaan hutan lindung, HLKselatanmasihmemiliki keaneka-ragaman hayati baik flora maupun fauna. HLK yang dahulu di tunjuk sebagai Taman Buru masih menyimpan beberapa keunikan fauna seperti Burung Sampiri, kadal dan ular, masih merupakan kekuatan yang memilikiperingkat tertinggi sebagai tujuan wisata bagi wisatawandomestik maupun mancanegara. Burung sampiri hidup secara berkelompok besar (koloni). Satu koloni sampiri terdiri dari ratusan ekor burung. Seratus tahun yang lalu para peneliti alam menggambarkan pohon-pohon yang berubah warna menjadi merah sebagai pemandanganyang mengesankan karena banyaknya jumlah burung sampiri yang tidur secara berkelompok hingga mencapai ribuan ekor, namun dalam tahun-tahun terakhir ini jumlah sampiri dalam satu pohon tidur hanya berkisar 250 individu (Lee et al., 2001).

126 Tabel 19. Matriks Interaksi Faktor Internal dan Faktor Eksternal dalam Pengelolaan Hutan Lindung Karakelang Selatan Resort Talaud

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses)

1. Kejelasan Status kelembagaan KPHL resort Talaud yang kuat 2. Sarana dan Prasaran yang

mendukung

3. Adanya dukungan dari pemda Kab. Kepulauan Talaud

4. Potensi keanekaragaman hayati mencakup flora,fauna dan ekosistem yang potensial 5. Keberadaan nilai-nilai adat yang

masih di pegang teguh oleh beberapa masyarakat di sekitar HLK

1. Kebijakan dan regulasi pengelolaan HLK belum ada temu gelang 2. Kuantitas dan kualitas

SDM dalam mengelola HLK masih terbatas 3. Fungsi Koordinasi

dengan Stakeholder lain belum optimal 4. Masih adanya illegal

SDA di HLK Selatan 5. Belum ada blok

pengelolaan dan pembentukan HKm 6. Belum tersentuh

teknologi

7. Pengetahuan tentang peraturan perundangan kehutanan masih kurang

Peluang (Opportunities) Strategi SO (Kekuatan & Peluang)

Strategi WO (Kelemahan vs Peluang)

1. Dukungan pihak

pemerintah dalam bentuk anggaran yang dialokasikan melalui APBD setiap Tahun baik.

2. Adanya dukungan

masyarakat terhadap status Hutan lindung dengan pembentukan HKm 3. Keterlibatan Stakeholder

terhadap pengelolaan HLK cukup baik

1. Mengoptimalkan struktur kelembagaan yang kuat. Dengan memanfaatkan dukungan Pemerintah.

2 Meningkatkanproses pembangunan sarana dan prasarana. Dalam rangkapengembangan HL berbasis masyarakat.

3. Mengoptimalkan dukungan pimpinan, untuk membangun kerja sama dengan masya-rakat, guna menjalankan kegiatan perlindungan hutan pada kawasan HL Karakelang Selatan

1. Mengoptimalkan dukungan pemerintah, untuk meningkatkan kuantitas aparatur serta melakukan kegiatan formal demi

meningkatkan kualitas SDM aparatur, sehingga dapat menciptakan efektifitas kerja yang optimal.

2. Mengoptimalkan fungsi koordinasi antara instansi, dalam rangka pengem-bangan HKm pada kawasan hutan lindung Selatan . 3. Membuat PERDA

dengan memanfaatkan DukunganPemerintah dan masyarakat

Ancaman (Threats)

Strategi ST (Kekuatan & Ancaman)

Strategi WT (Kelemahan &

Ancaman) 1. Kebakaran, banjir,

tanah Longsor 2. Illegal Logging 3. Pembukaan kebun

untuk masyarakat

1. Meningkatkan

pengetahuan masyarakat, melalui pelatihan sosial oleh bidang terkait, pada organisasi dinas

2. Meningktkan kuantitas dan kualitas SDM pada dinas pertanian dan

127 yang cukup tinggi

4. Tumpang tindih kewenangan

5. Permintaan SDA tidak terkendali

kehutanan.

2. Mengoptimalkan fungsi koordinasi antara instansi, untuk membuat tapal batas permanen.

3. Mengoptimalkan kebijakan pimpinan yang

mendukung, dengan melakukan kegiatan perlindungan hutan pada kawasan Hutan Lindung Karakelang Selatan, guna meningkatkan

pengetahuan masyarakat.

kehutanan untuk melakukan kegiatan melalui pelatihan sosial, guna

meningkatkan pengetahuan masyarakat.

3. Meningkatkan fungsi koordinasi antara instansi, untuk melakukan kegiatan.

4. Membuat PERDA, untuk menjadi legalitas kawasan hutan, sehingga dapat

meminimalisir tingkat

pembukaan kebun masyarakat yang cukup tinggi

Gambar 18. Burung Nuri Talaud (Burung Sampiri)

128

• Luas HLK ± 1.801,3747 hektar atau sekitar 17,3% total 10.516,015 hektar RTH. HLK merupakan bagian dari kawasan lindung Karakelang Selatan II meliputi Kecamatan Pulutan dan Kecamatan Melonguane Timur.

Gambar 19. Hutan Lindung Karakelang Selatan

S3 Adanya partisipasi masyarakat dan lembaga formal

• Lembaga informal yang relevan dengan pengembangan kehutanan di Kepulauan Talaud antara lain adalah kelompok-kelompok masyarakat petani hutan yang terbagi menjadi HKm dsb. Menurut Laporan Tahunan Dinas Kehutanan Manado (2015), di Kabupaten Kepulauan Talaud tercatat ada 7 kelompok Hkm yang telah mendapat izin pengelolaan hutan.Kelompok tersebut mempunyai hak mengelola hutan untuk diambil hasilnya dengan jumlah 3 kelompok selama 4 tahun, 3 kelompok sudah berjalan selama 2 tahun dan tahun ini penetapan dari pihak BPSKL Sulawesi.

129 S4 Dukungan kuat dari Pemda baik melalui aturan maupun kebijakan

• Komitmen Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud menyatakan bahwa Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai Kabupaten Suaka Margasatwa

• Dinas Kehutanan Manado, yang berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 52 Tahun 2017/ 14/11/2016bertugas untuk melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan azas otonomi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan di bidang kehutanan.

S5 Keberadaan Nilai-nilai Adat yang masih di pegang oleh masyarakat sekitar Hutan Lindung Karakelang

• Adanya larangan membuang air besar atau kecil di sembarang tempat, etika seperti menghormati tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat desa, serta kepercayaan terhadap sesuatu seperti kepercayaan terhadap roh nenek moyang lewat penyembahan berhala di pohon Nunu( beringin) dan Goa Weta yang dipercaya sebagai tempat tinggal para Arwah nenek moyang terdahulu.

• Masyarakat umumnya jika tiba musim panen durian,pala,cengkeh dan kelapa akan tinggal di rumah hutan selama 1bulan. Hal ini dikarenakan banyak orang lain yang biasa dengan seenaknya mengambil yang bukan milik mereka,sehingga saat tidur di hutan akan menjaga hutan dari orang-orang yang ingin merusak hutan.

W1 Kebijakan dan Regulasi dalam pengelolaan HLK yng diatur oleh perda belum kuat, Koordinasi dengan Stakeholder lain belum optimal

• Peraturan Gubernur dan SK menteri yang mengikat keberadaan KPHL sebagai pengelola HLK Selatan dan Utara,sehingga perlu kedepannya dibuatkan SK bupati atau perda yang sifatnya permanen dalam rangka pengelolaan HLK secara lestari

130

• Sektor kehutanan yang baru dikembangkan baru Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas (yang masih menjadi lahan tak terpakai namun open acces).

• Belum ada sinergisitas antar sektoral baik antar dinas maupun instansi vertikal : PKHL dengan Dinas Kehutanan Propinsi, Dinas Kehutanan dengan Dinas Terkait, Dinas Kehutanan dengan Polri, TNI, dan Kejaksaan (belum optimal kerjasama dan koordinasi dari aspek penegakkan hukum)

• Usaha pengembangan/diversifikasi hasil hutan non kayu belum optimal dikembangkan

W2 Rendahnya Kuantitas dan kualitas SDM serta Rendahnya sarana dan prasarana kehutanan

• Pelatihan dan kursus di bidang kehutanan masih sangat jarang dilakukan selama didirikan KPHL Sitaro. Resort Talaud tidak memiliki polisi kehutanan karena semuanya telah ditarik dan ditempatkan di KPHL Sangire Tahuna dan Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Utara.

• KPHL Sitaro resort Talaud belum memiliki gedung atau kantor yang permanen dikarenakan pemerintah menarik semua pegawai yang dulunya bekerja di kabupaten sekarang pindah dan bekerja di kantor Dinas kehutanan Propinsi.

W3 Ketergantungan terhadap hutan masih tinggi (PAD bersumber dari hutan dan social budaya masyarakat banyak mengandalkan dari hutan),belum tersentuh teknologi

• Luas lahan yang dapat dibududayakan sebesar 45% sehingga ketergantungan terhadap hutan tinggi

• Belum lagi hampir 60% petani mempunyai kebun di hutan lindung

131

• Dalam pengelolaan Hasil Hutan baik Hasil Hutan kayu maupun HHBK, masyarakat msh menggunakan alat tradisional dalam memanen dan mengolah,cengkeh, kelapa, melinjo dan pala.

O1 Adanya alokasi dana APBD setiap tahun dari pemda

• Dana yang diterima di buatkan kegiatan seperti pelatihan dan bantuan kepada KTH yang sudah terbentuk yaitu KTH Manaha, Piapi, Sanggaloma

O2 Regulasi dan dukungan pemerintah dan masyarakat melalui kegiatan HKm

• Program Hkm sudah berjalan 5 tahun lalu di Kabupaten Kepulauan Talaud, tetapi khusus di Desa Tule,Pulutan dan Daran sudah terbentuk 3 tahun lalu dan pada November 2019 Desa Kiama dan daran Utara telah verifikasi oleh pihak BPSKL Sulawesi bersama Dinas Kehutanan Manado untuk dibentuk HKm juga.

O3 Diversifikasi usaha dan pendapatan

• Optimalisasi kegiatan Hasil Hutan Bukan kayu (HHBK) :Pala, Melinjo, Kelapa dan Kenari

T1 Tingginya gangguan hutan dan Degradasi lingkungan SDA : Kebakaran, tanah longsor, banjir, illegal loging, Perambahan dan perburuan burung liar

• Masih terdapat penebangan liar, perambahan dari tahun 2008 sampai 2011,namun tahun 2013 sampai sekarang sudah kurang karena pihak Polhut bekerjasama dengan BKSDAE Talaud Karakelang Selatan turun mengamankan lokasi yang telah diklaim bahkan telah di tanami tanaman cengkeh oleh masyarakat sekitar hutan

132

• Masih adanya pengusahaan hasil hutan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti membeli kayu masyarakat yang tidak memiliki Izin Pemanfaatan Kayu Tanah Masyarakat (IPKTM)

• Perdagangan burung Sampiri biasanya di jual oleh penduduk dengan harga Rp. 25.000 – Rp 50.000 per ekor. Atau bisa juga dilakukan dengan sistem barter, yakni ditukar dengan panci alumunium, penggorengan, sangkur, dan minuman keras (Tanduay, London Gin, dan minuman berakohol lainnya).

Sedangkan para nelayan setiba di Filipina akan menjualnya kembali dengan harga yang berlipat-lipat.Action Sampiri (2009) melaporkan bahwa kegiatan penangkapan dan perdagangan nuri talaud mulai marak sekitar akhir 1980-an. Adanya pesanan dari Jakarta dalam jumlah besar (sekitar 2500 ekor) yang konon katanya untuk taman burung di Taman Mini Indonesia Indah, telah memicu kegiatan penangkapan Nuri Talaud secara besar-besaran. Sementara kedatangan kapal ikan Filipina dan interaksinya dengan masyarakat di pesisir Timur Karakelang telah memberi peluang bagi perdagangan Nuri Talaud menjadi bisnis yang memiliki pasar luar negeri. Setiap tahunnya, ribuan ekor Nuri Talaud dijual ke luar wilayah kepulauan Talaud dalam kurun waktu antara 2008-2015.

T2 Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat yang sebagian besar miskin dan berpendidikan rendah

• Pendidikan masyarakat sekitar hutan masih rendah bahkan ada yang tidak mengecam bangku pendidikan. Data dari pusat Statistika tahun 2015 menunjukkan bahwa 18,39% penduduk kabupaten kepulauan Talaud tidak bersekolah,56,37%

masyarakat talaud yang tamat SD dan SLTP. Sedangkan 25,24%

133 merupakan data masyarakat yang yang menempuh pendidikan sampai SLTA bahkan ada yang kuliah dan lulus Sarjana.

• Kurang lebih 10,09% penduduk miskin di kepulauan talaud dan 90% menetap di sekitar kasawan hutan

• Peningkatan pendidik masyarakat akan berpengaruh terhadap peningkatan pola hidup sehat.

T4 Konflik kepentingan pemanfaatan SDA

• Masih berlangsungnya konflik masyarakat dengan Negara seputar tata batas, masyarakat dengan masyarakat lain, masyarakat dengan satwa, kabupaten dengan kabupaten lain, dan kabupaten dengan pusat.

• Maraknya kasus tanah Negara yang diklaim oleh masyarakat dan memiliki sertifikat.

4.7 EVALUASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL (SWOT)