• Tidak ada hasil yang ditemukan

JENIS LAINNYA YANG BERNILAI EKONOMIS

G. Pendapatan Anggota Kelompok Tani HLK

4.3.8 Permasalahan pada Pengelolaan HLK Resort Talaud

Penyusunan strategi pengelolaan HLK Resort Talaud dilakukan terlebih dahulu dengan mengetahui akar permasalahan yang menghambat dalam pengelolaan HLK Resort Talaud.Olehnya itu, dilakukan analisis sebab – akibat dengan menggunakan SWOT analisys.

Diagram tersebut disusun berdasarkan data primer yang diperoleh dari lapangan dan analisis data – data sekunder berupa laporan hasil kajian, studi pustaka, dan aturan perundang-undangan serta informasi yang diperoleh dari para pemangku kepentingan seperti ketua kelompok tani, aparatur desa, pendamping HLK dari Dinas Kehutanan Manado yang di peroleh dari BPSKL dan pendamping HLK dari LSM DML . Selanjutnya, permasalahan - permasalahan yang diperoleh setelah menganalisis kondisi biofisik, sosial-ekonomi, dan kelembagaan KTH HLK yaitu:

1) Permasalahan pada Kondisi Biofisik

95 Hasil analisis yang telah dilakukan pada kondisi biofisik diperoleh bahwa salah satu permasalahan dalam pengelolaan HLK yaitu tingkat dominasi yang cukup tinggi pada tanaman perkebunan yakni tanaman Pala yang ditandai dengan jumlah individu jenis pala yang paling banyak ditemukan pada kategori pertumbuhan tiang, pancang, dan semai, serta nilai INP tertinggi pada pertumbuhan tiang juga pada jenis Pala . Hal ini didukung dengan hasil wawancara yang dilakukan dan menyebutkan bahwa kurangnya minat menanam kayu oleh petani disebabkan oleh penebangan kayu yang tidak boleh pada kawasan HLK yang merupakan hutan lindung sehingga tidak memberikan keuntungan ekonomi bagi mereka, sedangkan disisi lain kebutuhan rumah tangga semakin meningkat sehingga petani cenderung untuk mengembangkan tanaman pertanian yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Hal tersebut kemudian menjadi faktor pendorong yang kuat untuk memanfaatkan lahan kawasan HKm secara maksimal dengan mengembangkan tanaman Pala yang secara sosial-budaya memberikan pengaruh yang signifikan bagi petani.

Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan menjadi sumber pendapatan petani, budaya memakan manisan Pala pada acara adat merupakan budaya masyarakat Talaud yang telah dilakukan sejak dulu, bahkan daerah ini dikenal secara meluas dengan PalaTalaud dengan kualitas kelas 1.

96 Selain itu, kayu masih rentan ditebang oleh petani karena kelompok tani berupaya untuk memperluas ruang kelola pada petak areal kerja HKm untuk memperoleh manfaat ekonomi yang sebesar – besarnya.Kelompok tani lebih memilih untuk mengembangkan tanaman yang dapat dipanen dengan cepat dan memberikan manfaat ekonomi sehingga mereka menebang pohon secara ilegal ataupun mematikan pohon. Hal ini disebabkan karena petak areal kerja yang sempit bagi mereka yang hanya berkisar 0,5 – 2 ha per anggota kelompok tani. Pada penelitian Suhendang (1999) dalam Mukhtar (2010) menyebutkan bahwa semakin meningkatnya nilai hasil hutan non kayu yang dapat diperoleh dari hutan, keberadaan pohon sering kali ditafsirkan menjadi tidak penting dalam suatu ekosistem hutan.

Wilayah HLK yang telah dikelola oleh masyarakat bahkan sebelum keluarnya izin HKm di wilayah HLK dan telah dikelola secara turun-temurun menganggap tanaman kayu yang berada di dalam kawasan hutan di tanam oleh nenek moyang mereka sehingga paradoks mengenai

“kita yang menanam, kita yang pelihara, dan kita dapat memetik hasilnya”

masih berlaku dan juga merupakan salah satu faktor pendorong yang membuat masyarakat masih melakukan penebangan pohon, namun dalam jumlah yang sedikit yang biasanya digunakan untuk membangun dan memperbaiki rumah mereka.

97 2) Permasalahan pada Kondisi Sosial-Ekonomi

Setelah melakukan analisis kondisi sosial-ekonomi masyarakat maka diperoleh beberapa permasalahan yakni pada kondisi sosial, tingkat pendidikan petani masih tergolong rendah.Hal ini mengindikasikan bahwa petani memiliki keterbatasan pengetahuan dalam pengelolaan HLK sehingga perlu adanya pelatihan dan pendampingan yang dilakukan dalam pengelolaan HLK.Namun, hasil wawancara yang dilakukan menemukan bahwa pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh stakeholder terkait masih sangat kurang.Bahkan, di beberapa daerah khususnya wilayah HLK yang belum keluar izin IUPHKmnya yakni di Kiama dan Desa Daran utara kegiatan pendampingan ke masyarakat belum berjalan.Selain itu, hal ini berdampak pada kelembagaan KTH HLK.Salah satu kondisi sosial yang juga mempengaruhi pengelolaan HLK yakni akses menuju lokasi HLK yang sulit dijangkau sehingga mengurangi produktivitas kerja petani.

Selain pada kondisi sosial, beberapa permasalahan juga ditemukan setelah menganalisis kondisi ekonomi masyarakat.Rata – rata jumlah pendapatan petani yang diperoleh dari pengelolaan HLKpada taraf cukup yakni sebesar sebesar Rp 6.215.800 – Rp 8.513.166 per tahun.

Sedangkan yang tidak masuk dalam kelembagaan KTH HLK pendapatan mereka dibawah UMR Sulawesi Utara yaitu sekitar RP 1.200.050,-. Hal ini berbanding terbalik dengan tingginya tingkat kebutuhan petani yang diindikasi melalui banyaknya jumlah tanggungan keluarga yang berada

98 pada katogori tinggi yakni sebanyak 3-6 orang (84,69%). Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dipengaruhi oleh jumlah hasil produksi yangrendah yang disebabkan karena ruang kelola terbatas dan nilai jual hasil produksi masyarakat rendah karena hasil komoditi masih dijual dalam bentuk mentah. Selain itu, ketidakjelasan pasar karena kurangnya ketersediaan informasi sehingga petani tidak mampu untuk memasarkan hasil produksinya secara optimal.Hanya 1-2 orang saja yang berinisiatif mengumpulkan hasil produksi dari hutan dan kemudian di bawa dengan menggunakan truk untuk di jual ke manado karena harga jual di manado masih tinggi dan Hasil wawancara menunjukkan bahwa yang dihasilkan oleh masyarakat hanya dijual di depan rumah mereka, bambu hanya dijual jika ada konsumen yang datang ke desa mereka, hasil pertanian hanya dijual pada tengkulak ataupun di bawah ke pasar terdekat. Permasalahan pada kondisi sosial-ekonomi juga merupakan efek tidak berjalannya secara optimal fungsi kelembagaan KTH HLK yang telah dibentuk untuk mengorganisir pengelolaan HKm.

3) Permasalahan Pada Kearifan Lokal

Kearifan lokal yang terdapat di HLK telah diturunkan sejak turun menurun oleh nenek moyang sejak zaman dahulu kala.Seiring dengan kemajuan zaman seperti masuknya teknologi modern seperti internet dan telepon genggam, pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, tingkat pendidikan yang rendah, serta kurangnya peranan pemerintah membuat kearifan lokal tersebut semakin menurun.Pengaruh modernisasi sangat

99 jelas terlihat dengan bentuk bangunan yang sebagian besar telah menggunakan beton serta genteng yang terbuat dari genteng.Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu penyebab yang sangat berpengaruh terhadap keberadaan kearifan lokal.

Pertumbuhan penduduk yang pesat serta semakin meningkatnya tingkat kebutuhan mengakibatkan sebagian masyarakat kurang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan sehingga tak jarang melakukan hal-hal yang dapat menurunkan fungsi hutan.Meskipun kearifan lokal tidak mengenal istilah konservasi atau perlindungan, secara turun-temurun ternyata mereka sudah mempraktekkan aksi pelestarian terhadap tumbuhan dan hewan yang cukup mengagumkan.Misalnya masyarakat menentukan suatu kawasan hutan atau situs yang dikeramatkan secara bersama-sama.Kearifan lokal seperti itu telah terbukti ampuh menyelamatkan suatu kawasan beserta isinya dengan berbagai bentuk larangan yang disertai dengan sanksi adat bagi yang melanggarnya.Sanksi adat biasanya berupa memberikan makan kepada satu kampong sebagai efek jera agar tidak lagi melalukan pelanggaran.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Pattinama (2009), kearifan lokal akan menjamin keberhasilan karena didalamnya mengandung norma dan nilai-nilai sosial yang mengatur bagaimana seharusnya membangun keseimbangan antara daya dukung lingkungan alam dengan gaya hidup dan kebutuhan manusia.

100 Pada zaman dahulu gotong royong merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat kepulauan Talaud karena suatu pekerjaan selalu dikerjakan secara bersama-sama.Kegiatan gotong royong di kenal dengan istilah “Mamanara Suadio”. Kegiatan Mamanara suadio yang terkenal dan sering dilakukan adalah”Malintukku Wualan”

atau menurunkan benih/bibit yang mengandung makna permohonan kepada Yang Maha Esa agar bibit yang ditanam bertumbuh dengan baik;

Manimbullah Sasuanna atau mengasapi/menyehatkan tanaman yang merupakan upacara adat agar tanaman tumbuh dengan subur. Mallano Sasuanna atau memohon doa agar tanaman terhindar dari penyakit; dan Sawakka (Manawakka) atau upacara selesai panen sebagai suatu ucapan syukur kepada Tuhan Penguasa atas perolehan hasil panen.

Sebelumnya, mengawali pelaksanaan kegiatan perladangan para pemimpin adat memberi nasehat-nasehat pada para petani dengan diawali doa bersama permohonan restu memulai pekerjaan (mangimpalukka) doa biasanya dipimpin oleh pendeta, pastor, atau penggantinya jika berhalangan, yakni Penatua atau ketua Wilayah Rohani.

Dalam beberapa kasus pemimpin adat bisa juga berfungsi sebagai pembawadoa jika pemimpin agama tidak ada. Kemudian dilanjutkan dengan menurunkan bibit (Aimpalukku Malintukku Wualana), kegiatan ini dilaksanakan setelah lahan/kebun selesai dibersihkan dan siap ditanami.

Upacara dilakukan oleh para pemimpin adat seperti pada pelaksanaan

101 awal, dimana sambil memegang bibit yang hendak ditanam pemimpin adat membawakan doa.

Doa syukur hasil panen (manawakka) dilakukan saat pengambilan hasil panen. Manawakka dibawakan oleh pemimpin adat dengan mempunyai tujuan menyatakan rasa hormat dan kasih kepada Tuhan atas hasil yang diperoleh, juga karena para pekerja atau petani sudah dipelihara selama bekerja.Berbagai upacara yang dilaksanakan mulai pada saat membuka lahan sampai pada saat panen, memiliki maknasimbolik agar masyarakat terhindar dari konflik.pemimpin adat di kenal dengan istilah “ratumbanua”.Ratumbanua ini sangat berpengaruh, seperti menjalankan tradisi upacara-upacara dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (pertanian, menangkap ikan, perkawinan, kematian, berbagai macam selamatan, penjemputan tamu, dan sebagainya).Bahkan pemimpin adat juga berperan dalam upacara-upacara menghalau berbagai bentuk malapetaka yang dipercayai oleh masyarakat mengganggu ketenteraman warga.pimpinan adat, pimpinan formal serta pimpinan agama senantiasa melakukan interaksi dan koordinasi untuk mengimplementasikan berbagai program, baik yang berasal dari pemerintah maupun yang berasal dari adat-istiadat.

4) Permasalahan pada Kondisi Kelembagaan

Hasil analisis pada kondisi kelembagaan KTH HLK di wilayah desa objek penelitian menunjukkan permasalahan dalam kelembagaan KTH yakni kurangnya input modal dan input produksi bagi petani sehingga

102 produktivitas hasil dari pengelolaan HKm petani rendah yang berdampak pada pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat. Selain itu, tidak adanya usaha tani yang dikembangkan oleh KTH.Hasil wawancara yang dilakukan menemukan bahwa kurangnya pendampingan dan pelatihan kewirausahaan dalam pengembangan usaha tani salah satu faktor yang menyebabkan tidak adanya usaha tani yang dikembangkan oleh KTH HLK.

Selain itu, permasalahan yang terdapat pada salah satu unsur kelembagaan KTH HLK yakni ketersediaan informasi bagi mereka.

Sebagai masyarakat yang memiliki keterbatasan akses informasi melalui media komunikasi, akses informasi hanya dapat diperoleh dari para pendamping KTH HLK baik dari LSM, maupun instansi pemerintah terkait sehingga keterbatasan akses informasi merupakan salah satu permasalahan dalam kelembagaan KTH HLK.

Setelah menganalisis permasalahan-permasalahan yang diperoleh dari hasil analisis kondisi biofisik, sosial-ekonomi, dan kondisi kelembagaan KTH HLK, maka dapat disimpulkan bahwa ketiga aspek tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat diabaikan dalam menyusun strategi pengelolaan HLK yang dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat tanpa mengesampingkan kondisi ekologis.

5) Kebijakan Daerah, Undang – Undang atau PERPU

Pelimpahan pengelolaan hutan lindung kepada pemerintah daerah tidak diikutidengan perubahan aturan-aturan yang diberlakukan

103 sebelumnya, sehingga sampai saat ini peraturan yang digunakan masih mengacu kepada Undang-undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan PP no 34 tahun 2001 tentang dimana pemanfaatan hutan lindung hanya dibatasi pada hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan, sedangkan kewenangan dan tanggung jawab daerah dalam pengelolaan hutan lindung belum tersirat. Dari hasil wawancara di lapangan; diketahui bahwa belum ada kesiapan pihak Pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten dalam hal pendanaan, SDM dan Perda yang mendukung pelimpahan kewenangan pengelolaanhutan lindung.Penegakan hukum kurang tegas terutama dalam penyelesaian terhadap pelanggaran yang terjadi misalnya penebangan liar atau perambahan di hutan lindung.Hal ini disebabkan karena perangkat hukum yang ada tidak memadai seperti undang-undang dan PP belum dijabarkan lebih jelas dalam SK maupun Perda. Di samping itu diperlukan adanya keinginan politik yang sangat tinggi karena hal ini akan dapat menciptakan ekosistem global yang baik dan mendukung sector lainnya.

Adapun kebijakan atau perundangan yang terkait dalam pengelolaan hutan lindung meliputi:

1. Undang-undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Pemerintah atau Pemerintah Daerah yang dalam Undang-undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dinyatakan sebagai Pengelola, diamanatkan menyusun Rencana yang berkaitan denganpembentukan Unit dan pengelolaan Unit. Unit dibentuk di semua fungsi pokok hutan, di hutan

104 produksi disebut Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP);

dihutan lindung atau Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHL);

dan di hutan konservasi atau Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK). Prosedurpembentukan KPHP diatur dalam keputusan Menhut No 230/Kpts-II/2003,sedangkan KPHL baru dalam tahap konsep yang belum diatur dalam suatu kebijakantertentu (Anonim, 2005).

2. Undang-undang No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Pada Pasal dinyatakan bahwa “...Pendayagunaan sumberdaya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi” ditangani oleh Pemerintah Pusat, sedangkan pada Pasal 10 dinyatakan bahwa

“Daerah berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung-jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuaidengan peraturan perundang-undangan”. Kata “mengelola”

dalam Pasal 10 harus diartikan lebih luas yang artinya kegiatan dalam mengelola mencakup: perencanaan, pelaksanaan, pembinaan/

pengendalian dan pengawasan (Heranata dan Veranda, 2005).

3. PP No. 62 tahun 1998 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di BidangKehutanan kepada Daerah. Pada pasal 5 yaitu Kepada Daerah Tingkat II diserahkansebagian urusan pemerintahan di bidang kehutanan yang meliputi : penghijauan dankonservasi tanah dan air, persuteraan alam; perlebahan; pengelolaan hutanmilik/hutan rakyat;

pengelolaan hutan lindung.

105 4. PP No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi Sebagai DaerahOtonom. Pasal 3 : Penyelenggaraan penunjukan dan pengaman batas hutan produksidan hutan lindung. Pedoman penyelenggaraan tata batas hutan, reknostruksi danpenataan batas kawasan hutan produksi dan hutan lindung.

5. PP 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan,Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan.

Khusus untuk HLK Selatan II kebijakan daerah di atur dalam Perda No.

1 Tahun 2014, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kab.Kepulauan Talaud Tahun 2014 – 2034 Bab IV Paragraf 1pasal 29 tentang kawasan lindung. Pasal 28 huruf c menjelaskan bahwa Desa Kiama, Pulutan, Daran dan daran Utara masuk kedalam zona Kawasan Resapan air seluas ± 12.603 Ha. Sedangkan Desa Tule masuk ke dalam zona kawasan Sempadan Sungai dengan luas 3.718 Ha dengan ketentuansepanjang tepian sungai selebar 50 meter di kanan-kiri sungai besar dan kawasan selebar 25 meter di kanan-kiri sungai kecil.

7) Otonomi Daerah

Otonomi daerah memberi dampak pada pengalihan sebagian wewenang pemerintah kepada pemda.Pengelolaan hutan lindung adalah salah satu kewenangan yang dilimpahkan ke daerah.Kewenangan pengelolaan hutan lindung di Kepulauan Talaud diserahkan kepada Pemprov.Pemprov mengatur kejelasan status HLK sebagai salah satu

106 bagian dari tata ruang yang dipertahankan dalam RTRW 2030.KPHLSitaro tunjuk sebagai pengelola HLK dengan membentuk Resort Talaud di kabupaten Kep.Talaud.KPHL merupakan unsur pelaksana otonomi daerah di bidang kehutanan, Secara khusus, pelimpahan tugas pengelolaan hutan didelegasikan kepada Resort Talaud. Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) bidang kehutanan diatur dalam Peraturan Daerah No. 1 tahun 2014 tentang rencana tata ruang Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2014 – 2034(tupoksi tersebut diantaranya adalah menyusun bahan kebijakan teknis bidang kehutanan dan pembinaan kawasan hutan, hutan kota, dan kawasan hijau lainnya.Hutan lindung dikategorikan sebagai bagian dari kawasan hijau lindung.

8) Desentralisasi

Pengelolaan hutan yang sebelumnya telah dilaksanakan secara sentralistikdianggap merugikan pihak daerah, baik dari segi politik, ekonomi, budaya dan efisiensi maupun efektivitas. Kebijakan politik, ekonomi, hingga kebijakan bidang kehutanan Kajian Kebijakan Pengelolaan Hutan ...Elvida Yosefi Suryandari & Sylviani lebih bersifat top down, sehingga tidak sesuai untuk diterapkan di daerah.Seiring dengan digulirkannya otonomi daerah, mulailah diterapkan yang disebut dengan kebijakan bidang kehutanan dengan azas desentralisasi.Kebijakan desentralisasi kehutanan diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan pada berbagai

107 tingkat.Sehingga terbentuk kesamaan pemahanan dan tindakan tentang desentralisasi kehutanan dalam rangka mewujudkan pengelolaan hutan lestari. Termasuk kesamaan dalam perbedaan pandangan tentang kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, pembagian peran antara pihak-pihak termasuk dalam pengelolaan hutan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga monitoring.

Pasal 66 UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan mengamanatkan, bahwa dalam rangka penyelenggaraan kehutanan, pemerintah menyerahkan sebagian kewenangan kepada pemerintah daerah, untuk meningkatkan efektifitas pengurusan hutan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Menurut Nurrochmat (2008), sesungguhnya UU 41 Tahun 1999 dibuat mengarah pada penerapan asas dekonsentrasi, karena sebenarnya proses pembuatan UU tersebut telah berjalan bertahun-tahun sebelumnya, jauh sebelum UU No 22 tahun 1999 ditetapkan, sehingga secara subtansial semangat desentralisasi tidak tercermin dalam UU No 41 Tahun 1999.

Hutan Lindung Karakelang Selatan sendiri merupakan Desantralisasi dibawah naungan KPHL Sitaro yang mana Berdasarkan PP No 38 Tahun 2007, beberapa kewenangan pengelolaan hutan produksi dan hutan lindung didesentralisasikan kepada pemerintah kabupaten, sehingga pengelolaan hutan dalam bentuk KPH juga harus mencerminkan asas desentralisasi. KPH merupakan salah satu wujud nyata bentuk desentralisasi sektor kehutanan karena organisasi

108 KPHL dan KPHP adalah organisasi perangkat daerah. KPHL berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Kehutanan, Gubernur dan Bupati, sedangkan pembinaannya dilakukan oleh masing-masing Eselon I lingkup Kementerian dengan perincian sebagai berikut:

pengelolaan hutan (Ditjen BPK), penyiapan kemantapan wilayah dan organisasi KPH (Badan Planologi Kehutanan), rehabilitasi hutan dan lahan (Ditjen RLPS), kegiatan penelitian (Badan Litbang) dan pembinaan administratif dilakukan oleh Sekretaris Jenderal.Satuan Kerja Sementara KPH Model mempunyai tugas melaksanakan kewenangan operasional dalam pengelolaan hutan di wilayahnya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dan berdasarkan peraturan perundangan yangberlaku.

HLK mempunyai luas ± 1.801,3747 hektar atau 17,13% dari total 10.516,015 hektar RTH. HLK merupakan bagian dari kawasan lindung Karakelang Selatan II meliputi Kecamatan Pulutan dan Kecamatan Melonguane Timur. Menurut Keppres 32/1990 dan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UU 26/2007), kawasan lindung adalah adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Posisi HLK terletak melingkar mengelilingi lautan dan mengapit kawasan budidaya (pemukiman).BLHD Kepulauan Talaud (2012) merilis data tutupan kawasan hutan pada HLK hanya sekitar 22,69% Hutan Lindung Kering Sekunder, selebihnya sebagai

109 pemukiman dan lahan pertanian lahan kering . artinya 77,19% kawasan HLAK tidak bervegetasi (rusak). Memahami situasi seperti ini, Pemprov membuka ruang bagi setiap stakeholderyang ingin berpartisipasi untuk menghijaukan kembali HLK dengan kegiatan rehabilitasi Hutan dan lahan.HLK belum dikelola berdasarkan zonasi pengelolaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan, dan Penggunaan Kawasan Hutan (PP 34/2002). Peraturan tersebut menyatakan bahwa kegiatan tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan dilakukan pada semua kawasan hutan, termasuk hutan lindung.Pengelolaan HLK berdasarkan bloknya memberi arahan yang jelas pada setiap unit pengelolaan. Dengan demikian pada tiap unit kelola akan mendapat perlakuan dan prioritas yang berbeda sesuai dengan karakteristiknya.Kawasan hutan sebaiknya berupa area yang utuh dalam satu hamparan (kompak). Areal hutan yang demikian akan menghasilkan ekosistem utuh dan tidak terpisah-pisah. Sedangkan areal hutan terfragmentasi cenderung berpotensi mengalami gangguan lebih besar bila dibandingkan dengan areal yang kompak.

Partisipasi masyarakat adalah salah satu faktor kunci kesuksesan pengelolaan HLK.Masyarakat adalah penerima langsung dari semua dampak yang terjadi akibat dari pengelolaan HLK.Dengan demikian, partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam mendukung setiap langkah dalam pengelolaan kawasan. Menurut Santoso (2011), partisipasi

110 pengelolaan masyarakat terhadap Hutan Lindung masih rendah karena dukungan serta kesadaran masyarakat meningkatkan pengelolaan kawasan Lindung masih kurang. Pada umumnya, imbalan uang menjadi motivasi masyarakat dalam berpartisipasi pada kegiatan rehabilitasi Hutan Lindung melalui kegitan RHL.

4.4 Analisis Deskriptif Pengelolaan Hutan Lindung